Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng di Balik Perayaan Dan Zeno
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah sempit di kamar sayap utara, menciptakan garis-garis debu yang menari di atas sprei sutra. Elena terbangun dengan sisa-sisa aroma lembap dari bawah tanah yang masih melekat di ujung indra penciumannya. Tidur bukanlah pilihan semalam; setiap kali kelopak mata terpejam, wajah Marcella yang pucat dan suara rendah Matteo yang penuh ancaman selalu datang menghantui.
Di atas meja rias, telah tersaji sebuah gaun pesta berwarna biru gelap yang terbuat dari bahan beludru kelas satu. Di sampingnya, sebuah topeng perak berbentuk wajah rubah tergeletak dengan angkuh, dikelilingi oleh perhiasan berlian yang berkilau tajam. Matteo tidak memberikan pilihan; Elena harus tampil sebagai tamu kehormatan dalam perayaan Sagra di San Zeno—sebuah kedok sempurna untuk menyusup ke jantung kota tanpa memancing kecurigaan Isabella atau para musuh keluarga Valenti.
Pintu kamar diketuk tiga kali secara teratur. Seorang pelayan wanita muda masuk dengan kepala tertunduk, membawa nampan berisi sarapan dan sepucuk surat kecil tanpa amplop.
"Tuan Matteo menunggu Anda di aula dalam satu jam," suara pelayan itu nyaris tidak terdengar, ketakutan tampak jelas pada getaran tangannya.
Elena mengambil surat itu. Hanya ada satu baris tulisan tangan yang tajam dan miring: “Jadilah Moretti yang mereka takuti, bukan Moretti yang mereka kasihani.”
Senyum pahit muncul di bibir Elena. Matteo sangat pandai memainkan peran sebagai dalang. Pria itu tahu bahwa untuk menghancurkan musuh-musuh mereka di pesta nanti, Elena tidak boleh terlihat seperti tawanan. Ia harus terlihat seperti pemenang yang bangkit dari kematian.
Satu jam kemudian, kaki Elena melangkah menuruni tangga utama Palazzo. Gaun biru tua itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan mistis sekaligus elegan. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan gelombang alami, dihiasi jepit rambut perak yang serasi dengan topengnya. Di kaki tangga, Matteo sudah menunggu. Pria itu mengenakan tuksedo hitam yang dijahit dengan presisi tinggi, membuatnya tampak seperti pangeran kegelapan yang siap menaklukkan dunia.
Matteo tidak mengatakan sepatah kata pun saat Elena mendekat. Pria itu hanya mengulurkan lengannya, sebuah gerakan formal yang terasa seperti jebakan bagi Elena.
"Kau tampak... memadai untuk misi ini," ucap Matteo singkat, meski tatapannya yang tertuju pada leher jenjang Elena mengatakan hal yang sebaliknya. Ada kilatan kekaguman yang coba dipadamkan dengan paksa di balik mata kelam itu.
"Jangan memberikan pujian yang tidak kau maksudkan, Matteo," sahut Elena sambil menyampirkan tangannya di lengan pria itu. "Katakan padaku, siapa saja yang akan hadir di pesta itu? Berapa banyak orang yang ingin melihatku mati hari ini?"
Matteo membimbingnya menuju mobil limusin yang sudah menunggu di depan gerbang. "Hampir semua anggota dewan kota. Dan yang terpenting, perwakilan dari keluarga D’Angelo. Mereka adalah pihak yang paling vokal menyebut ayahmu sebagai pengkhianat. Jika mereka melihatmu bersamaku, mereka akan mulai meragukan langkah mereka sendiri. Kebingungan adalah sekutu terbaik kita saat ini."
Perjalanan menuju pusat kota Verona diiringi oleh suara riuh rendah dari warga yang merayakan festival. Jalanan dipenuhi dengan dekorasi bunga mawar dan bendera-bendera berwarna-warni. Namun, di dalam mobil, suasana tetap sedingin es.
"Mengapa kau harus melakukan ini secara rahasia?" tanya Elena, menatap profil samping wajah Matteo yang keras. "Jika kau adalah penguasa Verona, bukankah kau bisa mengambil apa pun yang kau mau dengan kekerasan?"
Matteo menoleh, menatap Elena dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Kekuasaan yang didapat dengan kekerasan hanya akan melahirkan pemberontakan yang lebih besar. Aku membutuhkan legitimasi. Dan Gema Verona adalah kunci hukum yang mutlak. Dengan daftar itu, aku bisa menghancurkan mereka tanpa melepaskan satu peluru pun. Aku ingin mereka hancur secara terhormat, dalam keheningan yang mematikan."
Mobil berhenti di depan gedung perpustakaan pusat yang bersejarah, yang malam ini disulap menjadi tempat pesta topeng paling eksklusif di Italia. Musik orkestra mulai terdengar dari kejauhan, bercampur dengan tawa palsu para bangsawan.
Matteo merapatkan tubuhnya ke arah Elena, tangannya merapikan sedikit helai rambut di bahu wanita itu. Jarak mereka begitu dekat hingga Elena bisa merasakan detak jantung Matteo yang stabil—kontras dengan jantungnya sendiri yang berdegup liar.
"Ingat rencana kita," bisik Matteo tepat di telinga Elena, embusan napasnya membuat bulu kuduk Elena meremang. "Kau akan berdansa dengan Count D’Angelo. Alihkan perhatiannya selama sepuluh menit. Jangan biarkan dia melepaskan pandangannya darimu. Saat itulah aku akan masuk ke ruang bawah tanah perpustakaan."
"Sepuluh menit untuk mempertaruhkan nyawaku dengan pria yang membenci keluargaku?" Elena mendongak, menatap mata Matteo dengan keberanian yang menantang.
"Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu," balas Matteo, suaranya kini berubah menjadi sangat dalam dan protektif. "Bukan hanya karena kau adalah kuncinya, Elena. Tapi karena Verona tidak akan seindah ini tanpa bayanganmu."
Sebelum Elena sempat membalas, pintu mobil dibuka oleh penjaga. Matteo keluar terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Elena. Saat kaki Elena menyentuh karpet merah, ribuan mata tertuju pada mereka. Bisik-bisik mulai menyebar seperti api yang ditiup angin.
"Siapa wanita itu?"
"Mungkinkah... Moretti yang hilang?"
Elena menegakkan punggungnya, dagunya terangkat tinggi. Ia mengenakan topeng peraknya dengan mantap. Di balik topeng itu, ia bukan lagi gadis yang ketakutan. Ia adalah pemangsa yang siap mengambil kembali apa yang telah dicuri darinya.
Langkah kaki mereka memasuki aula besar yang diterangi ribuan lilin kristal. Di atas sana, langit Verona tampak begitu luas dan tak terjangkau, menyimpan ribuan gema yang malam ini, akan mulai mendapatkan suaranya kembali.
Aula utama Perpustakaan Pusat Verona malam ini tidak lagi berbau kertas tua dan tinta kering. Ruangan itu telah bertransformasi menjadi sarang kemewahan yang menyesakkan. Aroma lili putih yang menyengat bercampur dengan uap sampanye mahal dan parfum mawar dari para tamu yang berdesakan. Cahaya dari lampu gantung kristal bergetar mengikuti irama musik orkestra, memantulkan ribuan titik cahaya pada topeng-topeng emas dan perak yang menutupi wajah-wajah penuh kepalsuan.
Matteo Valenti berjalan dengan langkah yang tak tergoyahkan, tangannya melingkar di pinggang Elena dengan posesif. Kehadiran pria itu cukup untuk membuat kerumunan terbelah seperti air laut. Setiap pasang mata mengikuti gerakan mereka, mencari tahu identitas wanita misterius dalam gaun biru gelap yang tampak begitu serasi bersanding dengan sang predator Verona.
"Jangan menunduk, Elena," bisik Matteo, kepalanya condong ke arah Elena seolah sedang membisikkan kata cinta, padahal nada suaranya sekeras baja. "Tunjukkan pada mereka bahwa darah Moretti tidak pernah benar-benar mati. Biarkan mereka bertanya-tanya apakah kau datang untuk memaafkan, atau untuk membalas dendam."
Elena mengencangkan genggamannya pada lengan Matteo. Ia bisa merasakan tatapan tajam dari sudut ruangan. Di sana, berdiri seorang pria paruh baya dengan topeng singa emas—Count D'Angelo. Pria itu adalah orang yang paling vokal merampas aset keluarga Moretti sepuluh tahun lalu.
"Targetmu ada di arah pukul dua," Matteo memberikan instruksi terakhir saat musik beralih ke irama waltz yang lebih lambat. "Ingat, sepuluh menit. Jangan kurang, jangan lebih. Jika keadaan memburuk, cari Luca di dekat pintu keluar sayap timur."
Tanpa peringatan, Matteo melepaskan pegangannya dan menghilang ke dalam kerumunan dengan gerakan yang sangat halus, meninggalkan Elena sendirian di tengah lantai dansa yang luas.
Elena menarik napas panjang, membiarkan keberanian yang nekat mengambil alih. Ia melangkah menuju Count D’Angelo, setiap langkahnya adalah tarian di atas ladang ranjau. Saat pria itu melihatnya mendekat, ada kilatan pengenalan yang bercampur dengan ketakutan di balik lubang topeng singanya.
"Bolehkah saya mendapatkan dansa ini, Count?" suara Elena terdengar merdu namun dingin, seperti denting es di dalam gelas kristal.
D'Angelo tampak ragu, namun harga dirinya sebagai seorang bangsawan tidak mengizinkannya menolak di depan umum. Ia mengulurkan tangan yang sedikit gemetar. "Sebuah kehormatan, Signorina...?"
"Sebut saja saya sebagai hantu dari masa lalu Anda," balas Elena saat mereka mulai bergerak mengikuti irama musik.
Sambil berdansa, Elena bisa merasakan kegelisahan pria itu. Ia menggunakan setiap detik untuk memancing informasi, sementara di tempat lain, di kedalaman fondasi gedung ini, Matteo sedang mempertaruhkan segalanya untuk membuka brankas Gema Verona.