NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Kenangan Kecil

Hari libur sekolah seharusnya berarti tidur lebih lama. Tapi bagi Kiara, itu berarti berdiri di depan cermin jam delapan pagi dengan hoodie, ransel kecil, dan ekspresi seperti orang yang akan melakukan sesuatu yang sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya.

“Ini bukan kencan,” gumam Kiara pada bayangannya sendiri.

Sky berdiri di dekat pintu kamar, menyilangkan tangan dengan senyum yang terlalu cerah.

“Sayang sekali. Aku sudah siap mental.”

“Jangan sok romantis.”

“Aku hantu. Boleh dong menikmati hidup kedua.”

Kiara mengambil kunci motor. “Kita fokus cari petunjuk. Bukan rekreasi.”

“Oke, Bu Detektif.”

Mereka mulai dari area yang sesuai dengan potongan ingatan Sky. Jalan besar. Lampu lalu lintas. Trotoar yang basah karena hujan semalam. Suara klakson yang masih ramai walau siang.

Sky berjalan di samping Kiara, wajahnya serius… selama lima menit.

Lalu ia berhenti.

Kiara melangkah dua langkah, baru sadar Sky tidak di sampingnya lagi.

“Kamu kenapa berhenti?”

Sky menunjuk ke lapangan kecil di pinggir jalan. Sekelompok remaja sedang main basket, teriak-teriak, saling ejek, suara sepatu berdecit di aspal.

“Mereka keren,” kata Sky kagum.

“Kita bukan mau nonton basket.”

“Tapi itu kelihatan seru.”

“Kita cari ingatanmu, bukan nostalgia olahraga.”

Sky mengangguk, lalu… masih berdiri.

Kiara memutar badan. “Sky.”

“Iya.”

“Jalan.”

“Oke.”

Lima detik kemudian.

Sky masih melirik ke belakang.

Kiara menghela napas. “Kamu ini kayak anak kecil.”

Sky nyengir. “Aku kan nggak tahu terakhir kali aku lihat orang main basket kapan.”

Mereka lanjut.

Tidak sampai sepuluh menit, Sky berhenti lagi.

Kali ini karena pasangan muda yang berjalan sambil bergandengan tangan, tertawa kecil, kepala saling mendekat.

Sky menatap mereka dengan ekspresi campur aduk antara kagum dan… iri.

“Kamu lihat itu?” tanya Sky.

“Apa?”

“Mereka kelihatan bahagia.”

“Banyak orang kelihatan bahagia,” jawab Kiara datar. “Itu bukan petunjuk.”

Sky terdiam sebentar. “Aku nggak ingat pernah pegang tangan siapa pun.”

Kalimat itu membuat langkah Kiara melambat sedikit.

“Fokus,” katanya, tapi nadanya tidak setegas sebelumnya.

Mereka hampir sampai ke area yang lebih ramai ketika suara musik, lampu warna-warni, dan teriakan anak-anak menarik perhatian.

Karnaval kecil.

Ada balon. Permainan lempar gelang. Stand makanan. Dan satu hal yang langsung membuat Sky berhenti total.

Biang lala.

Sky menatapnya dengan mata membesar.

“Itu.”

“Jangan bilang ‘itu’,” kata Kiara curiga.

“Itu tinggi.”

“Dan?”

“Itu muter.”

“Sky.”

“Itu kelihatan seru.”

Kiara menatap jam. “Kita di sini buat cari petunjuk.”

“Sebentar aja,” pinta Sky dengan wajah memelas. “Aku pengen lihat dari atas.”

“Kamu hantu. Kamu bisa terbang.”

“Itu beda,” protes Sky. “Naik biang lala itu… pengalaman.”

Kiara memijat pelipis. “Kamu salah fokus parah.”

Sky menatapnya dengan ekspresi sangat tidak adil. Mata biru itu dibuat-buat lebih besar.

“Lima belas menit?”

Kiara menghela napas panjang. Sangat panjang.

“Sepuluh.”

“Deal!”

Kiara membeli dua tiket. Satu secara teknis sia-sia.

Mereka masuk ke dalam kabin kecil. Kiara duduk. Sky berdiri sebentar, lalu ikut duduk… dan hampir menembus kursi sebelum mengatur dirinya.

“Kamu jangan jatuh tembus,” gumam Kiara.

“Ini lebih sulit dari kelihatannya,” jawab Sky serius.

Biang lala mulai bergerak naik.

Lampu kota terlihat dari atas. Angin sepoi-sepoi masuk lewat celah jendela.

Sky menatap keluar dengan ekspresi kagum seperti anak kecil yang pertama kali melihat laut.

“Indah,” katanya pelan.

Kiara meliriknya. “Lumayan.”

“Kamu dingin.”

“Aku realistis.”

Saat kabin bergoyang sedikit, Sky refleks mengulurkan tangan.

Secara otomatis, Kiara juga menggerakkan tangannya.

Tangan mereka… tidak bersentuhan.

Tapi jaraknya sangat dekat.

Terlalu dekat.

Kiara sadar wajah Sky kini hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.

Mereka saling membeku.

Kiara bisa melihat detail mata Sky. Biru terang. Terlalu hidup untuk sesuatu yang seharusnya sudah mati.

Jantung Kiara berdetak lebih cepat.

“Sky,” bisiknya.

“Iya?” suara Sky juga lebih pelan.

“Kamu terlalu dekat.”

“Oh.” Sky tidak langsung menjauh. “Maaf.”

Tapi tidak ada yang langsung bergerak.

Kabin terus naik. Lampu-lampu berputar di luar. Dunia terasa mengecil.

Kiara menelan ludah. “Kamu bikin aku nggak nyaman.”

“Dalam arti buruk?”

“…Dalam arti membingungkan.”

Sky tersenyum kecil. “Aku juga bingung.”

Beberapa detik kemudian, Sky akhirnya memalingkan wajah, menatap keluar.

Lalu...Wajahnya berubah.

Dari kagum menjadi kosong.

Lalu tegang.

Lalu… jauh.

Dalam benaknya, dunia bergeser. Bukan lagi kabin biang lala. Bukan lagi Kiara.

Sebuah taman muncul.Hijau. Terang. Indah.

Langit cerah. Udara hangat.

Dan di sana....Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berdiri.

Itu dirinya.

Tangannya ditarik oleh seorang anak perempuan kecil, mungkin tujuh tahun. Rambutnya dikuncir, gaunnya sederhana. Wajahnya buram. Tidak bisa terlihat jelas.

Tapi senyumnya.

Senyumnya sangat jelas.

Hangat. Cerah. Penuh percaya.

Gadis kecil itu menarik tangannya, tertawa, seolah mengajaknya berlari.

Sky kecil menoleh padanya.

Ada perasaan yang kuat di dadanya.

Bukan takut.

Bukan sakit.

Tapi… bahagia.

Lalu bayangan itu pecah seperti kaca.

Sky tersentak.

Napasnya terasa berat, walau seharusnya ia tidak perlu bernapas.

Kiara menoleh cepat. “Sky? Kamu kenapa?”

Sky menatapnya. Wajahnya lebih pucat dari biasanya.

“Aku ingat… seseorang.”

“Siapa?”

“Anak kecil. Perempuan. Di taman.”

“Namanya?”

Sky menggeleng. “Aku nggak bisa lihat wajahnya. Tapi aku ingat senyumnya.”

Kiara terdiam.

“Itu penting,” kata Kiara pelan.

Sky mengangguk. “Dia penting buat aku. Aku yakin.”

Biang lala mulai turun.

Sepuluh menit yang seharusnya cuma hiburan.

Berubah jadi petunjuk paling emosional sejauh ini.

Dan tanpa mereka sadari...

Hari itu, yang dimulai sebagai pencarian logis.

Mulai berubah jadi sesuatu yang jauh lebih personal.

Bukan cuma soal menemukan jawaban.

Tapi soal menemukan seseorang yang pernah membuat Sky merasa… hidup.

Dan soal Kiara...Yang kini tidak lagi sekadar membantu.

Tapi mulai terikat.

Pada hantu yang seharusnya tidak bisa membuat jantungnya berdebar.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!