Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kejutan
SELAMAT MEMBACA!
Lelaki itu benar-benar terbawa emosi. Ia mengendarai motornya dengan sangat cepat, membelah jalanan aspal tanpa tempat tujuan. Namun, ia mempunyai alasan untuk itu. Mencari keberadaan sang istri, yang jelas tak diketahui olehnya.
Dino sudah lelah karena hari semakin malam. Dia memutuskan berhenti di sebuah toko yang sedang tutup. Lalu, ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya untuk menghubungi seseorang. "Lo ke sini, sekarang!" ucap Dino, kepada seorang lelaki di seberang sana.
Dino mengirimkan sebuah lokasi kepada Hamid. Seharusnya, ia bertanya dengan lengkap rencana mereka terlebih dahulu tadi. Namun, Dino malah pergi bersama emosinya hingga ia tidak mempersempit tempatnya mencari sang istri.
Di bawah langit malam itu, Dino memainkan ponselnya untuk mengecek lokasi Dara, tetapi ia tidak mempunyai keahlian melacak. Di tengah tempat dengan pencahayaan remang, sorot lampu motor mendekat membuat Dino menyipitkan mata.
Itu adalah Hamid dengan motornya. Lelaki itu segera membuka helm dan menghampiri Dino. Hamid tidak berani membuka suara, ia menunduk setelah melihat Dino menatapnya tajam. "Kalian sembunyiin Dara di mana?" tanya Dino.
Hamid mendongak, memberanikan diri menatap Dino yang memasang wajah datar. Hamid melakukan ini untuk membuat Dino yakin. "Di gedung tua yang kelihatan dari rooftop," jawab Hamid.
"Siapa yang bawa Dara?"
"Mahen sama Darwin, No."
Dino menghela napas berat. "Harusnya lo bawa lebih banyak anak buat keselamatan Dara. Kalau kayak gini, gimana, Mid?" Suara Dino terdengar parau. Matanya memerah karena sempat menangis tadi.
Hamid menundukkan kepala, ia menghela napas berat. "Sorry, No."
"Lo hubungin Mahen, suruh dia ke sini!" pinta Dino. Ia menyandarkan tubuhnya yang sudah lemas ke dinding. Wajah lelaki itu terlihat lelah, matanya hampir tidak terlihat karena menyipit. Kepala Dino sudah sangat berat.
Hamid mengeluarkan ponselnya. Pandangan lelaki itu mengedar ke segala arah. Ia menatap sejenak langit tanpa bintang malam ini. "No, kayaknya kita cek langsung di gedung itu, deh," ujar Hamid. Dino mengangkat kepala, melihat Hamid berjalan mendekat. "Kita ketemu Mahen sana Darwin di sana."
Lagi-lagi helaan napas panjang terdengar dari mulut Dino. Lalu, dia berdiri dari sana. "Semuanya gak becus. Sebanyak itu, cari satu orang aja gak mampu," gerutu Dino, berjalan ke motornya. "Buruan!" Dia memakai helm.
Hamid mematung sejenak, melihat Dino yang pergi meninggalkannya. Motor Dino hilang ditelan kegelapan dengan cepat. Lalu, Hamid segera memasang pengaman kepala. "Marah banget lagi," seloroh Hamid, takut melihat kemarahan Dino seperti itu.
Bangunan tua itu terlihat jelas retakannya. Cahayanya sangat minim, membuat pengelihatan harus lebih tajam untuk mencapai jalan yang benar. Dino dan Hamid memarkirkan motornya di depan gedung bertingkat tersebut. Semak dan rumput panjang menyelimuti, membuat suasana sedikit mencengkram.
Dino menganggukkan kepala, meyakinkan Hamid untuk masuk.
Dua motor terlihat juga terparkir di sekitar sana, membuat Dino yakin bahwa itu adalah milik Mahen dan Darwin.
Tanpa menunggu lama, Dino melangkahkan kaki memasuki gedung dengan yakin meski cahaya di sana sangat terbatas. Hamid berjalan di belakang Dino karena dia takut.
Dino mengerutkan keningnya melihat hal yang tidak wajah di tempat ini. Ada buket bunga mawar yang terletak di atas meja kecil, membuat Dino menajamkan matanya. "Mahen!" panggil Dino, berteriak. "Lo jangan ngerjain gue!"
Tidak ada sahutan. Dino menjadi heran dengan keadaan seperti ini. Lalu, ketika ia menoleh untuk mengecek Hamid, lelaki itu hilang dari tempatnya tadi. Dino menjadi parno karena ini. "Mid! Lo di mana, bangsat!" Dino tetap melangkah kecil, mengedarkan pandangannya.
"SURPRISE!" Suara teriakan dan ledakan petasan di depan Dino membuat cowok itu kaget. Dino hampir melompat karena petasan menyala dengan cahayanya.
"SELAMAT ULANG TAHUN, PAK BOS!" teriak anak-anak Ultimate Phoenix bersamaan.
Seorang gadis yang membuatnya gila seperti ini, mendadak muncul dengan kue di tengah-tengah. Dia berjalan dan bernyanyi lagu ulang tahun, sambil tersenyum lebar.
Anggota Ultimate Phoenix bernyanyi untuk Dino sambil bertepuk tangan. Perasaan Dino tidak karuan, antara kesal dan senang.
"Selamat ulang tahun."
"Selamat ulang tahun."
"Selamat ulang tahun, Pak Bos!"
"Semoga panjang umur!"
Dara tersenyum lebar di depan Dino. Ia lihat wajah suaminya yang tidak memasang ekspresi. "Kejutan, Nono!" kata Dara. "Gimana?"
Dino tidak menjawab, ia hanya diam mantap Dara. Kakinya gemetar karena senang. Kejutan pertama dari gadis yang ia cintai. Lalu, sentilan yang cukup keras mendarat di kening Dara membuat gadis itu memekik. "Sakit, No!" tegur Dara.
"Impas," seloroh Dino. Ia sungguh kesal, marah sekali. Dia sudah sangat panik dengan menghilangnya istri tercinta. Namun, ternyata ini semua ada rencana dari mereka. "Jahat banget lo, Ra." Dino menarik Dara ke dalam pelukannya, membuat Dara membulatkan mata.
"Auw! So sweet banget," pekik Mahen, merekam momen mengharukan yang lucu itu. Lalu, seluruh anggota Ultimate Phoenix itu bertepuk tangan dengan riuh, serta cuitan menggoda ketua mereka.
Suasana merinding di gedung yang terlihat mengerikan itu, berubah menjadi tawa lepas. Namun, Dino masih memasang ekspresi kesalnya.
"Kita cuma nurutin Bu Bos, loh," ujar Darwin, agar tidak mendapat amukan yang hebat dari lelaki itu.
"Iya, cuma ngikutin. Tapi, kapan lagi," sambung Derwan.
"Gue dapet amukannya Dino," ungkap Hamid, memasang wajah melas.
Dino menoleh, tersenyum tipis. Ia sudah melakukan kekerasan terdapat anak itu. "Wajarlah," celetuk Dino, membalas ungkapan Hamid.
Hamid menggerutu, merasa kesal dengan perlakuan yang menurutnya tidak adil itu.
Malam yang tidak terduga. Dino harus menghabiskan air mata untuk istrinya yang menyebalkan itu. Tentu saja Dino mempunyai niat membalas perlakuan Dara.
Senyuman Dara terukir lebar sejak tadi. Ia puas sekali dengan rencananya yang berjalan lancar. Dia cengengesan menatap Dino dari samping. Mereka berjalan keluar gedung. Lalu, Dara mengintip Dino. "Gimana, No? Keren, kan?" ucap Dara.
"Iya, keren. Gue pikir lo bener-bener diculik," jawab Dino. "Gue udah nangis loh, Ra." Dia membuang muka, berpaling dari gadis itu.
"Serius, No?" Dara membulatkan mata. "Berarti ... kita udah pantes buat jadi aktor?" katanya.
"Pantes banget dong, Kak!" sahut Mahen, berdiri di samping Dara. "Gue cocok banget jadi antagonis, hahaha!"
"Gak pantes! Lo cengeng soalnya," celetuk Aga.
"Gak!" bentak Mahen, melotot pada Aga.
Mata Dino tidak bisa berbohong, maniknya benar-benar terlihat merah. Dara menjadi sedikit merasa bersalah melihatnya. "Abis ini langsung pulang ya, No?" kata Dara.
Dino menganggukkan kepala. Meski merasa kesal, ia tetap senang karena hari kelahirannya tidak dilupakan. Padahal, Dino sendiri lupa bahwa ini adalah ulang tahunnya. Jika Dino tahu, mungkin ia sudah bisa menebak.
Dino mengacak-acak rambut Dara yang digerai. "Lo cantik banget malem ini," bisik Dino, di telinga Dara. Lalu, dia menarik pergelangan tangan Dara dan menariknya pergi.
...🦋...
"Sebenarnya rencana awalnya gak kayak gitu." Dara meletakkan sebuah kotak di meja, membuat Dino mengangkat wajahnya dari ponsel. "Karena kamu kelihatan curiga, jadi rencananya diubah," katanya, kemudian duduk di samping Dino.
Dino menatap kotak di depannya, kemudian beralih pada Dara. "Gak tahu kamu suka atau nggak. Tapi, aku harap kamu terima buat menghargai pemberian aku," tutur Dara, sambil tersenyum tipis.
Lelaki itu tersenyum tipis tanpa sadar. "Makasih." Lalu, Dino mengambil kotak itu dan memangkunya. "Gue buka, boleh?" tanya Dino, dibalas anggukan riang oleh Dara.
Dino membuka tutup kotak itu dengan perlahan. Jantungnya berdebar kencang. Dia berusaha semaksimal mungkin untuk menahan bibirnya agar tidak tersenyum. Namun, lelaki itu malah memperlihatkan barisan giginya hingga membuat Dara ikut senyum.
...🦋...