Radit hanyalah pecundang yang hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan, sampai sebuah Sistem Misterius memberikan kunci menuju takdir yang gelap. Mengambil identitas sebagai sang Topeng Putih, ia merayap dari titik terendah menuju puncak tertinggi dunia bawah. Kekuasaan dan darah menjadi makanannya sehari-hari, hingga kehadiran Rania menyuntikkan kembali setitik cahaya di hatinya.
Namun, dunia tak membiarkannya bahagia. Tragedi berdarah di kampus menghancurkan dunianya dan merenggut Rania. Saat air mata berubah menjadi api, Radit melepas kemanusiaannya untuk meratakan dunia dengan dendam. Kini, setelah badai pembalasan mereda, Radit melangkah pergi meninggalkan singgasana berdarahnya. Ia memulai pencarian terakhir: menemukan kembali kepingan cintanya yang hilang, meski ia harus melawan takdir itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Dr. Arma pradewa
Wakil ketua BPKN.
Ranah : Grandmaster Tengah.
Ahli analisis pola kekuatan dan prediksi eskalasi.
Seorang Wanita berseragam hitam menyilang kan tangan.
" Ada satu variabel yang tidak tercatat." Kata nya dingin.
" Seseorang yang menghabisi regu Falcon tanpa meninggalkan aura."
Mayjen Laksmi Candrani ketua divisi intervensi khusus .
Ranah : Grandmaster Tengah .
Julukan : Pedang Negara.
Di sisi lain, seorang pria muda dengan rambut beruban sebagian tersenyum tipis.
"Menarik." Kata nya.
"Falcon memburu sesuatu... Dan negara ikut terlibat ."
Rendra Mahisa, kepala intelejen energi nasional.
Ranah : Grandmaster Awal.
Pengumpul data entitas tersembunyi dan ranah tak terklarifikasi. Sosok terakhir tidak bersuara sejak awal, ia membuka mata perlahan, udara di ruangan mengeras.
" Ada satu kemungkinan." Kata nya pelan .
" Variabel itu ... Bukan milik keluarga besar , bukan Falcon, dan bukan sistem negara. "
Semua menoleh , Satria Wijaksana pengawas netral keseimbangan .
Ranah : Grandmaster Akhir.
Di kenal sebagai hakim senyap.
" Jika ia tumbuh tanpa pengawasan." Lanjut Satria. " Maka setiap pihak yang menyentuh nya akan memicu perang terbuka. "
Ketua BPKN mengangguk pelan.
" Karena itu " ucap Wiratma.
" BPKN tidak akan memburu." Semua terdiam.
" Kita mengamati." Lanjut nya.
" Dan kita membatasi Falcon.". Mayjen Laksmi berdiri.
" Tim bayangan siap di kerah kan." Kata nya.
" Jika Falcon melanggar garis merah."
" Maka negara akan memotong sayap nya".
Sambung Rendra, keputusan di ambil tanpa tanda tangan, tanpa dokumen namun seluruh negeri merasakan nya.
Di luar kota — Kael Noctyra berhenti melangkah . Ia menoleh ke langit.
" Menarik..." Gumam nya.
" Bahkan negara ikut mengintip.''
Di kamar sederhana dekat kampus, sistem kembali berbunyi.
Notifikasi :
Otoritas keseimbangan tingkat Nasional mulai memasuk kan pengguna ke dalam kategori variabel tidak tercatat. Radit tersenyum tipis.
" Jadi ." Kata nya pelan.
" Sekarang kita semua saling mengawasi."
Di balik pintu , Rania menahan napas. Ia tidak tahu detail nya , namun satu hal yang ia yakini dunia Radit kini terlalu besar untuk kembali di sembunyikan sepenuh nya.
Malam turun perlahan di wilayah Barat. Gedung pusat PT AR ADITYA PUTRA tampak tenang dari luar. Lampu lampu kantor masih menyala.namun aktivitas telah berkurang drastis .
Di ruang direksi paling atas, udara bergetar pelan . Sosok berjubah hitam berdiri di depan kaca besar .
Topeng putih menutupi wajah nya sepenuh nya. Topeng Putih— tak satu pun staf tahu kapan ia masuk, atau dari mana ia datang . Ia mengangkat tangan nya.
" Sistem." Ucap nya pelan.
Cahaya transparan muncul di hadapan nya. Akses dikonfirmasi — otoritas pemilik.i
Laporan perusahaan PT. AR ADITYA PUTRA, cabang wilayah Barat total investasi aktif : 5 triliun — cabang Wilayah Timur total investasi aktif : 4,2 Triliun— cabang wilayah Selatan total investasi aktif : 6 Triliun— Cabang Wilayah Utara total investasi aktif : 7,5 Triliun.
Angka-angka bergerak , Grafik keuntungan stabil , Tidka mencolok, tidak mencurigakan, namun sempurna untuk bersembunyi.
Topeng putih mengangguk kecil.
" Total modal berjalan." Gumam nya.
" 5 Triliun."
Sistem berbunyi lagi . Konversi poin kekuatan aktif — Rasio : 1 poin \= 1 juta uang yang di habis kan.
Angka mulai di hitung ulang, total dana yang telah di putar dan di habis kan : 22.700.000.000.000.
Total poin kekuatan yang diperoleh : 22.700.000 poin.
Mata di balik topeng menyipit.
" Lumayan ." Kata nya datar.
Namun layar belum berhenti.
Bonus efisiensi investasi : + 300.0000 poin — Bonus stabilitas wilayah : +200.000 poin— bonus pengaruh ekonomi ( tersembunyi ) : +500.000 poin.
Total akhir 23.200.000 poin kekuatan.
Keheningan menyelimuti ruangan. Angka yang — jika di ketahui keluarga kelas satu akan membuat mereka gila . Jika di ketahui Falcon pusat, akan memicu pemburuan tanpa akhir.
Topeng putih memalingkan wajah ke arah jendela. Lampu kota berkilau seperti bintang palsu.
" Dan ini baru permulaan." Kata nya pelan.
Sistem menampil kan opsi.
Opsi tersedia : ★ Penguatan Ranah
★ Pembelian Teknik Tingkat Tinggi
★ Pembukaan Fitur sistem Lanjutan
★ Penyimpanan Poin ( mode Pasif )
Topeng putih mengangkat tangan.
" Belum." Kata nya singkat.
" Simpan semua."
Perintah di konfirmasi seluruh poin masuk ke mode Pasif aman.
Tekanan di ruangan langsung mereda seolah sistem itu sendiri menyembunyikan keberadaan nya lebih dalam .
Dan di kampus Radit duduk di bangku biasa , memakai jaket sederhana, mendengar kan Rania bercerita tentang tugas kuliah. Tak ada yang menyangka bahwa di balik ketenangan itu, topeng putih baru saja menghitung kekuatan yang cukup untuk mengguncang negara.
Ruang itu tidak berada di Wilayah mana pun. Bukan Utara, bukan selatan, bukan timur atau barat. Sebuah zona netral yang hanya muncul ketika negara dan keluarga besar perlu berbicara tanpa saksi.
Empat kursi telah terisi, di sisi Utara duduk ketua keluarga Guntara, aura dingin tertahan rapat. Di selatan ketua keluarga Dewantara, tenang seperti danau tak berteriak .Di Timur , Keluarga Kusuma, tatapan nya tajam dan waspada . Di barat , Ketua keluarga William, tersenyum tipis namun penuh perhitungan.
Pintu terbuka tanpa suara. Lima sosok BPKN masuk. Langkah mereka selaras.
Di depan — Jenderal Purn. Wiratma Suryalaga ketua BPKN.
Tidak ada salam berlebihan.
" Kita langsung ke inti." Kata nya datar.
" Falcon pusat telah menurun kan petinggi ranah Grandmaster ."
Ruangan hening sekejap. Ketua William berbicara pertama.
" Kami sudah merasakan nya." Kata nya tenang.
" Namun mereka belum menyentuh wilayah kami."
" Belum." Sahut Wiratama.
" Karena mereka sedang mencari."
Ketua Dewantara mengangkat alis.
" Mencari siapa ? " Tanya nya.
Wiratma tidak langsung menjawab, ia memberi isyarat. Dr. Arman Pradewa mengaktifkan layar. Satu titik cahaya muncul tanpa nama.
" Hilang nya satu regu Falcon." Jelas Arman. " Di ikuti kemunculan tekanan yang tidak terklarifikasi ranah.
Keluarga Guntara mengepal kan tangan.
" Bukan keluarga besar. " Kata nya tegas.
" Benar." Sambung Satria Wijaksana, yang sejak tadi diam.
" Dan bukan pula milik negara ."
Semua mata tertuju pada nya.
" Artinya..." Lanjut Satria pelan. " Ada variabel baru yang tumbuh di antara kita."
Ketua Kusuma tertawan kecil.
" Menarik ." Kata nya.
" Biasa nya negara datang untuk menekan kami, sekarang ... Negara juga waspada."
Mayjen Laksmi Candrani melangkah maju.
" Kami tidak datang untuk mengambil alih." Kata nya dingin.
" Kami datang untuk mencegah Falcon menjadikan wilayah kalian Medan perang."
Ketua Dewantara menatap lurus.
" Dan apa yang kalian minta sebagai imbalan ?"
Wiratma menjawab tanpa ragu.
" Kerja sama diam-diam ." Semua terdiam.
" Tidak ada pengerahan terbuka." Lanjut nya.
" Tidak ad perang antar keluarga . Jika Falcon bergerak melampaui batas. BPKN yang akan memotong."
Ketua William menyipit kan Mata.
" Dan variabel itu?" Tanya nya.
" Jika dia tumbuh di luar kendali ?"
Satria menatap meja kosong di tengah ruangan.
" Maka kami akan mengujinya ." Kata nya pelan .
" Bukan menghancur kan, bukan merekrut."
" Hanya memastikan ." Lanjutnya.
" Bahwa dia tidak akan menjadi ancaman nasional."
Keheningan panjang menyelimuti ruangan. Akhir nya— Ketua Keluarga Guntara mengangguk.
" Kami akan mengamati." Katanya.
. Bersambung.....
alurnya lambat,terlalu Datar dan tidak jelas disetiap babnya.
tidak ada ruang disetiap bab yg membuat pembaca berimajinasi.
yg patut ditunggu apakah akhir dari skenario film ini happy end atau malah sad end.
Ku baca pelan" , Jdi radit emng g mudah.. 😥😭