" Sah..."
Kanaya tertegun mendengar kata sakral yang keluar dari mulut seseorang pria yang dia rindu kan selama ini.
matanya menatap nanar sepasang pengantin yang tersenyum bahagia.
Apa ini???....bukankah dia yang seharusnya duduk di sana,bukankah seharusnya namanya yang di sebut dalam janji suci itu,bukankah gaun pengantin itu seharusnya dirinya yang memakainya, itu adalah gaun pilihannya.
Apa ini?... Sandiwara apa ini?....lelucon apa ini?...
Di tempat lain seorang pria duduk di sebuah restoran yang berkelas, ia tersenyum bahagia menatap kotak kecil yang ada ditangannya.
" Aisar...naura sudah berangkat ke luar negeri pagi tadi " mendengar itu pria yang dipanggil Aisar itu sontak melempar kotak kecil yang di pegangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Mia. t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TWINS
Kanaya berjalan perlahan memasuki kamar kakaknya, ia melihat gaun putih yang selama ini ia mimpi kan untuk dipakai di acara pernikahannya.
matanya nanar melihat gaun itu, ia menyentuhnya dan meraba gaun impiannya itu, airmatanya kembali mengalir.
" Kalian tega menyakiti aku seperti ini, kalian memperlakukan aku tidak adil, ayah ibu aku juga anakmu, aku juga memiliki perasaan, aku juga bisa sakit hati " kanaya mengeluarkan gunting yang di bawanya, ia merusak gaun itu dengan gunting, ia memotong gaun itu menjadi beberapa bagian.
Ia menatap gaun yang sudah tidak berbentuk lagi, ia menghela nafasnya dan kemudian ia pergi dari kamar kakaknya, kanaya kembali ke kamarnya dan mengambil tasnya lantas ia keluar dan mengunci kamarnya dari luar.
kanaya berjalan melewati para tamu yang ada di ruangan itu, karena hanya ada satu akses pintu keluar masuk di rumah itu terpaksa kanaya harus terlihat tegar saat melewati mereka semua.
Ia berhenti sejenak dan menatap kakaknya yang duduk di atas pelaminan bersama dengan tunangannya, ia menghela nafasnya, dan kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.
Para tamu menatap kanaya penuh dengan rasa iba tapi mereka tak bisa berbuat apa apa.
Farrel yang melihat kanaya pergi, ia hendak menyusulnya, tapi tangan kamila menahannya
" Biarkan saja, jangan membuat malu, masih banyak tamu undangan, nanti juga dia kembali " kata kamila dan akhirnya farrel hanya bisa menatap punggung kanaya yang semakin menjauh.
Kanaya melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya, ia ingin pergi, sakit sekali hatinya melihat semuannya, bahkan jika mengingat bagaimana ayah dan ibunya berpihak, bahkan seperti tak ada rasa kasihan sedikit pun padanya.
Kini kanaya duduk di sebuah taman dekat dengan tempat kerjanya, awalnya ia akan pergi ke tempat kerjanya, ia berfikir ia akan bekerja saja untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya, dan fikiran fikiran yang membuat kepalanya pusing.
Tapi saat melihat sebuah taman dan sebuah danau buatan di sana, ia meminta berhenti pada drivernya, dan di sinilah ia berada.
Entah sudah berapa lama dia duduk di situ, kini matahari sudah mau tenggelam, kanaya menghela nafasnya dan kemudian ia berdiri dan melangkahkan meninggalkan tempat itu.
matanya menyipit saat melihat dua anak kecil bergandengan dan hendak menyeberang di lalu lintas yang ramai.
kanaya menoleh kekiri dan ke kanan mungkin ada orang tuanya yang mengawasi, tapi kanaya tak melihat ada orang di d3kat situ.
kanaya berlari saat melihat dua anak itu hendak melangkah kan kakinya dan terlihat darì arah sebelah kanan terlihat sebuah kendaraan melaju kencang.
" Hei bocah berhenti, awas bahaya " teriak kanaya dan langsung menarik kedua bocah itu, naas karena tubuhnya tak seimbang hingga ia terjatuh dengan memeluk dua bocah itu. sehingga kedua bocah itu berada di atas tubuh nya.
terdengar tangisan kencang dari anak perempuan yang berada di atas kanaya, beberapa orang yang dari jauh melihat mereka langsung berlarian untuk menolong mereka.
" Ibu dan anak ibu nggak papa ?" tanya seseorang yang Mencoba membangun kan kanaya dan mengangkat kedua anak itu dari atas tubuhnya.
" tidak apa-apa pak terimakasih " kanaya langsung duduk dan menatap dua anak yang baru saja di Tolong nya itu"
" sini...." naya memanggil anak gadis yang menangis itu dan mengecek tubuh anak gadis itu.
" Apa ada yang sakit sayang " gadis cilik itu menggeleng dan masih menangis.
" mungkin mereka terkejut bu " kata orang lain yang ada di situ.
kanaya mengangguk dan menatap anak laki-laki yang sedari tadi diam dan menatapnya.
" Terimakasih bapak ibu, kami tidak apa apa" kata kanaya dan akhirnya mereka pergi meninggalkan mereka bertiga,
kanaya berusaha berdiri dari duduknya, tapi ia merasa kakinya sakit.
" Tante tidak apa-apa?" tanya anak laki-laki yang sedari tadi menatap nya, kanaya tersenyum tipis.
" mungkin kaki tante terkilir, tapi gak apa gak sakit kok, ayo kita duduk si sana " kata naya dan tangannya menuntun gadis kecil yang kini terisak dan di ikuti oleh anak laki-laki .
mereka bertiga duduk di bangku panjang taman.
" ini hampir malam ,kalian mau kemana? dan dimana orangtua kalian?"
" kami mau kabul dali lumah, daddy dak tayang lagi cama kami " kanaya tersentak mendengar penjelasan gadis kecil itu .
" kok kabur, nanti kalau ada orang jahat gimana, nanti kalau di culik gimana"
kedua bocah kecil itu saling berpandangan.
" Siapa nama kalian? ".
" Aku Abiyaksa tante dan ini adik aku anindita "
" kalian kembar?" Abi mengangguk.
Kanaya tersenyum " rumah kalian di mana biar tante antar pulang " keduanya langsung menggeleng.
" No aunty, kami dak mau pulan ,daddy nakal, daddy cuka malah malah cama kita" kata anin dengan nada yang masih cadel.
Kanaya tersenyum dan mengelus rambut gadis itu dengan lembut.
" Daddy marah itu tandanya daddy sangat sayang sama kalian, daddy tidak sampai memukul kalian kan" keduanya menggeleng.
" tuh, pasti daddy sayang sama kalian, kalau tante boleh tahu kenapa daddy marah sama kalian " keduanya saling berpandangan.
" Daddy bohon telus, kata na mau kacih mommy , tapi mommy na dak datan datan, Kita malu di ledekin telus cama teman teman kalna gak puna mommy " kata anin dengan mengusap airmatanya.
kanaya langsung memeluk anin dan kemudian menatap dan mengusap airmatanya.
Kanaya tersenyum tipis dan mengusap pipi gembul anin, Abi terus memperhatikan interaksi keduanya, dan ia pun tersenyum tipis.
" mungkin daddy belum menemukan mommy yang baik untuk kalian, kalian tidak boleh buru buru minta mommy nya, harus sabar, kalau buru buru trus daddy dapat mommy yang nggak baik gimana?" Anin menatap kanaya dengan mata yang dikedip kedip kan, dan terlihat lucu di mata kanaya, sehingga naya reflek mencium kepala anin.
" Tante...." panggil Abi.
" iya ..."
" emm...kami lapar " kata abi dengan malu malu.
Kanaya langsung terkejut dan menatap keduanya.
" Sejak kapan kalian pergi dari rumah "
" Tadi pagi waktu di antar sekolah, kami tak masuk kelas " kata Abi.
" Yaa Alloh...Ayo kita cari makan " kata kanaya.
Abi yang melihat kanaya berjalan dengan pincang berhenti sejenak.
" tante kakinya sakit " kanaya tersenyum dan menggeleng.
" Gak apa nanti juga sembuh, ayo kita makan tante juga sudah lapar, tapi janji ya habis makan kalian harus pulang "
" Apa tidak bica kita ikut aunty caja" kata anin dengan mata lucunya, kanaya tersenyum dan menggeleng .
" No ...nanti kalau aunty bawa kalian pulang, nanti aunty di tangkap polisi, karena aunty bawa kalian tanpa izin " kata kanaya sambil berjalan mengandeng keduanya.
" Jadi kalau izin daddy dulu boleh kita tinggal dengan aunty " kata Anin.
kanaya bingung harus jawab apa, akhirnya dia mengalihkan pertanyaan anin.
" tuh ada warung, kita makan di sana ya " kata kanaya dan menununjuk sebuah warung bergambar ayam dan bebek .
" Horee...kita makan ayam goreng, kakak ayo kita makan pelut anin cudah berbunyi " .
*****
" Kenapa mereka sampai hilang, apa kamu nggak lihat mereka sampai masuk kedalam " kata Aisar dengan intonasi tinggi.
" Maafkan kami tuan " kata sopir dan suster yang biasa mengantar dan menemani twins.
" Cari mereka lagi, kalau terjadi apa-apa pada mereka jangan harap kalian bisa bernafas "
#####
Assalamualaikum
HAPPY READING
jangan lupa di tekan tombol likenya ya readers, vote juga boleh.