Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bekerja sama
"Jadi kau yang membunuh orangtua Theor? kenapa?." Elena penasaran.
"Demi keseimbangan Bumi, kau tidak perlu tau terlalu banyak. Setelah hari itu, Theor hidup menjadi pewaris Grand Duke dan terpaksa menjadi anjing putra mahkota karena jika tidak, dia akan dianggap pemberontak dan dihukum pancung." Ucap Bumi.
"Jadi semua orang tau jika Theor terlahir dengan cara aneh seperti itu? lalu memangnya orang-orang tidak curiga dengan kematian mendadak orangtua Theor?." Bingung Elena.
"Tentu saja mereka gempar. Ayah Theor adalah ksatria kuat yang bahkan bisa setara Kaisar, dia adalah pangeran yang gagal dalam suksesi dan mendapatkan pangkat Grand Duke. Sayangnya karena dia tidak juga memiliki keturunan, pamornya mulai turun dan di lupakan orang-orang penting. Tidak ada yang tau tentang asal-usul Theor, mereka hanya tau Theor lahir saat usia orangtuanya sudah hampir senja. Dan kematian orangtua Theor di yakini karena serangan hewan buas karena jazadnya sama sekali tidak di temukan." Ucap Bumi panjang lebar.
"Kasihan, kau jahat sekali." Ucap Elena simpati.
"Bagaimana lagi? jika aku membiarkan mereka hidup maka kehidupan manusia akan musnah. Kau pikir Bumi bisa menahan kekuatan Dewa? membiarkan Theor hidup saja sudah keputusan yang sangat berat untukku." Ucapnya.
"Jadi intinya apa?." Bingung Elena.
"Kau harus merubah alurnya, kau harus membuat Theor bahagia. Dia harus hidup selayaknya manusia pada umumnya, jika dia tetap hidup seperti alurnya maka aku akan musnah." Ucap Bumi, terlihat banyak pikiran.
"Jadi kau melakukan ini karena takut musnah?." Elena mengerti.
"Tentu saja, memangnya kau sendiri mau musnah? meskipun nantinya aku masih bisa menjadi bintang, tetap saja aku sudah nyaman menjadi Bumi." Ucap Bumi sedih.
"Jadi aku hanya perlu membuat Theor hidup bahagia dan menjalani hidup normal, seperti manusia pada umumnya?." Ucap Elena, dia menyimpulkan.
"Tidak semudah itu lohhh." Lirik Bumi penuh arti.
"Hmmm.. benar juga, kalau begitu aku menolak." Ucap Elena.
"Yakkkk apa-apaan jawabanmu itu. Kau harus mau, kau pasti bisa merubah alur karena sudah tau garis besarnya." Ucap Bumi kelabakan.
"Heyy.. kenapa memaksa." Elena menatap Bumi datar.
"Begini saja, aku akan mengabulkan satu permintaan mu sebagai gantinya. Bagaimana? kau mau kan?." Bumi menyogok.
Elena terdiam, dia berpikir dengan otaknya yang hanya sekecil ubi cilembu. Dia harus memikirkan permintaan apa yang tidak akan merugikan dan sangat membantunya. Dia tidak bisa terburu-buru, karena dia juga ingin mendapatkan kebahagiaan dan cinta.
"Aku ingin semua permintaanku di kabulkan." Ucap Elena.
"Satu saja." Bumi melotot.
"Itu tadi permintaan ku." Ucap Elena polos.
Krik.. Krik... Krik...
Bumi tercengang, dia baru saja di bodohi oleh anak bodoh yang bahkan tidak pernah sekolah seumur hidup nya. Bumi berteriak frustasi, padahal dia sudah berpikir akan mudah menghasut Elena yang polos. Tapi ternyata tidak semudah itu, Bumi kalah telak.
"Kau harus menepati janjimu kan." Ucap Elena.
"..........ya, mulai sekarang semua permintaan mu akan di kabulkan." Bumi menggigit jarinya kesal.
"Hihihi terimakasih Bumi, aku akan memastikan kau tidak akan musnah. Kita akan hidup berdampingan selamanya." Ucap Elena tersenyum riang.
Bumi yang mendengar itu terharu, dia tersenyum tipis dan menghela nafas perlahan. Mungkin memberikan hak istimewa pada Elena tidak akan merugikan, semoga saja taruhan nya kali ini akan berhasil.
"Baiklah sudah saatnya kau pergi." Ucap Bumi.
"Sebentar, saat aku hidup di sana. Lalu kau ada dimana? bagaimana aku bisa bicara denganmu untuk meminta sesuatu?." Ucap Elena.
"Katakan saja dalam hati." Ucap Bumi.
"Wow kau sehebat itu, benar-benar seperti peri di dalam buku dongeng." Puji Elena berbinar.
"Hmph tentu saja!! sudahlah, ingat ya apapun yang akan kau lakukan harus di pikirkan baik-baik. Meskipun aku bisa mengabulkan semua permintaanmu, tetap saja ada beberapa hal yang tidak bisa aku lakukan. Contohnya menghidupkan orang mati, jadi jangan sampai kau mati karena jika itu terjadi maka semuanya sia-sia." Ucap Bumi.
"Ya! tapi katakan dulu, saat ini sudah sampai mana ceritanya berjalan? setidaknya aku harus memiliki bekal." Ucap Elena teringat.
"Benar juga, kau baru saja di bawa kembali ke rumah Duke Denilen. Mungkin sudah sekitar 5 bulan kau hidup menjadi bangsawan, sebelumnya kau pernah di culik saat bayi dan hidup sebagai rakyat biasa sampai berusia 15 atau 16 tahunan. Intinya kau jadi susah diatur karena perbedaan culture antara bangsawan dan rakyat biasa. Mungkin kau perlu mengubah sifatmu dulu sebelum melakukan hal lainnya." Ucap Bumi.
"Hmmm jadi suara yang sempat aku dengar tadi." Gumam Elena, merasa familiar.
"Benar, kau baru saja di hukum karena melakukan kesalahan yang kesekian kalinya. Kau sudah mengerti kan? kalau begitu saatnya pergi. Sampai jumpa lagi asetku yang berharga, kau harus berhasil ya~~." Suara Bumi yang sangat riang, melambai dengan senyum lebar pada Elena.
Elena hanya mendengus geli, dia membalas lambaian tangan Bumi dan tersenyum hangat. Lalu dia merasa matanya berkabut jadi dia mengusap matanya, entah kenapa akhir-akhir ini matanya jadi sering buram.
Mata Elena mengerjap beberapa kali, tapi dia sudah berpindah tempat. Dia sedang rebahan di kasur empuk dan mewah, ada banyak furniture mewah dan klasik, kamarnya berdinding putih dan sangat tinggi dengan lampu gantung berlian di atasnya.
"W-wow... apa ini kamar Elena?." Batin Elena kampungan.
Elena duduk perlahan, merasa kepalanya pusing berdenyut. Dia bersandar dengan nyaman, melihat ke sekitar ruangan yang sangat mewah namun terasa sepi dan dingin.
Setelah merasa lebih baik, Elena beranjak dari tidurnya dan berjalan ke arah cermin besar di sisi ruangan. Pantulan wanita cantik, tinggi, putih dan sangat menawan sekali. Elena tertegun, merasa kagum dengan fisiknya di kehidupan ini.
Rambut hitam panjang lurus, kulit seputih susu dan sangat halus. Tinggi tubuh yang jauh diatas dirinya dulu, wajah yang sangat rupawan dan anggun.
"Benar.. aku bahkan lagi Elena. Sekarang aku adalah Elena Van Denilen." Batin Elena.
"Di buku "THEOR" semua cerita di mulai saat aku meminta bertunangan dengan putra mahkota. Artinya kau harus menjauhi plot itu, aku harus memperbaiki hubunganku dengan keluargaku dulu." Gumam Elena, berpikir cepat dengan otaknya yang minimalis.
"Ah aku tidak bisa berpikir, Bumi tolong buat aku menjadi pintar, cerdas dan anggun." Pinta Elena.
Tiba-tiba Elena mendapatkan bayangan banyak rencana yang bisa di pilih dalam otaknya, Elena merasa otaknya encer dan segala hal yang memusingkan hilang seketika. Elena tersenyum gembira, dia bersenandung dan memilih mandi terlebih dahulu.
"Kau sudah bangun dasar nona palsu."
Suara julid menyapa Elena, Elena menoleh dan heran karena seorang pelayan bisa begitu berani pada nona nya. Elena memperlihatkan wajah datar, dia harus berubah dan menjadi lebih anggun dan pintar dari sebelumnya.
"Ulangi ucapanmu." Ucap Elena tegas.
"Nona palsu!! kau sudah membuat Tuan dalam masalah. Apa setelah ini kau akan bernasib baik, aku bertaruh kau akan segera di usir dan kembali menjadi gelandangan." Ucap pelayan itu.
Plakk
Plakk
Srakkk
Srakk
Elena menampar dan menjambak rambutnya sendiri, dia menarik gaun tidurnya sampai robek lalu menggores kulit mulusnya dengan sisir. Lalu membuat banyak lebam di tubuhnya, si pelayan merasa terkejut dan heran dengan kelakuan Elena saat ini.
"Apa kau gil__
AAAAKKKKHHHHHHHHHHH
AMPUN!!! AYAHHHHH
TOLOOOOONGGGGGGGGGG
Elena berteriak dan menangis meraung, dia benar-benar bertingkah seperti sedang dianiaya oleh si maid itu. Ini adalah cara efektif agar memutar pandangan orang tentangnya, dia harus menumbalkan maid tidak tau diri ini.
semangat othorrrr....moga sehat selalu 😘😘