Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Pertemuan Dengan Mahendra
Senin pagi di apartemen Nadinta dimulai bukan dengan alarm, melainkan dengan rentetan notifikasi ponsel yang tak henti-henti. Nadinta membuka matanya, meraih ponsel di nakas, dan menemukan deretan foto pamer dari Maya yang sedang berlibur di Labuan Bajo.
Layar ponselnya menampilkan foto Maya yang berpose dengan bikini di atas kapal pinisi mewah, memegang gelas koktail dengan latar belakang laut biru yang jernih.
"Morning, Beb! Gila, view di sini pecah banget! Kamu jangan iri ya kerja mulu di Jakarta. Nanti aku bawain oleh-oleh pasir pantai deh, hehe," tulis Maya dengan emoji hati yang bertebaran.
Nadinta menatap layar datar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang dingin. Di kehidupan lalu, pesan seperti ini akan membuatnya merasa kecil hati, iri, dan buru-buru membalas dengan pujian tulus demi menjaga persahabatan.
Kini, ia hanya melihatnya sebagai bukti betapa Maya menikmati hidup di atas penderitaan orang lain—termasuk menggunakan uang pinjaman Arga untuk tiket pesawat itu.
"Nikmati selagi bisa, May," gumam Nadinta, lalu menggeser notifikasi itu tanpa membalas.
Ia beralih ke kontak Arga. Ia menekan tombol panggil, berharap tunangannya itu ingat janjinya untuk mengantar kerja di hari pertama Nadinta masuk setelah sakit.
Nada sambung terdengar panjang, monoton, dan kosong. Tidak ada jawaban.
Nadinta mengecek status WhatsApp pria itu: Last seen today at 03:34.
Nadinta mendengus pelan. "Begadang main game lagi? Atau chatting-an sama Maya?"
Ia melempar ponselnya ke kasur dan berjalan menuju lemari pakaian. Hari ini, ia tidak akan menjadi Nadinta yang memakai kemeja kebesaran untuk menutupi tubuhnya. Ia menarik sebuah blus sutra berwarna cream yang lembut dan rok pensil navy berpotongan tegas yang memeluk pinggangnya dengan sempurna.
Nadinta mematut diri di cermin, memoles lipstik merah maroon tipis di bibirnya.
"Kamu berdiri di atas kakimu sendiri, Nadinta. Jangan harapkan laki-laki itu," bisiknya pada bayangannya sendiri.
Tanpa menunggu Arga, ia memesan taksi online premium.
Taksi berhenti tepat di lobi utama Gedung Lumina Group. Pagi itu lobi sangat padat, dipenuhi gelombang karyawan yang bergegas mengejar absen.
Ketika pintu taksi terbuka dan kaki jenjang Nadinta yang berbalut stiletto hitam menapak aspal, seolah ada magnet yang menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Nadinta keluar dengan dagu terangkat. Dia melepas kacamata hitamnya perlahan, menyisipkan tangkainya ke saku tas, menampilkan sorot mata yang tajam dan percaya diri.
Angin pagi menerbangkan sedikit rambutnya yang ditata wavy, menyebarkan aroma parfum rose yang elegan dan dewasa. Beberapa staf pria dari divisi lain yang biasanya mengabaikannya, kini menoleh dua kali, terperangah melihat sosok yang mereka kira karyawan baru atau klien VIP. Bahkan satpam lobi yang biasanya hanya mengangguk malas, kali ini membukakan pintu kaca dengan senyum lebar dan sapaan hormat.
"Selamat pagi, Bu Nadinta."
"Pagi, Pak," balas Nadinta singkat namun tegas.
Langkah kakinya mengetuk lantai marmer dengan irama tak-tak-tak yang konstan dan berwibawa, membelah kerumunan manusia yang sedang mengantre di depan gate. Ia tidak lagi berjalan menunduk, ia berjalan seolah ia memiliki tujuan yang tidak bisa dihalangi oleh siapa pun.
Namun, momentum langkahnya terhenti saat ia tiba di depan area lift.
Situasinya kacau. Tiga dari enam lift umum sedang dalam perbaikan, menyebabkan antrean mengular panjang hingga ke dekat resepsionis. Keluhan, desah napas kesal, dan decak lidah terdengar dari para karyawan yang cemas melihat jam.
Nadinta berhenti, menilai situasi. Dia tidak akan membuang waktu mengantre di sana.
Tiba-tiba, seorang petugas keamanan senior melambaikan tangan, mencoba memecah kepadatan. "Mohon maaf, lift umum penuh! Sebagian silakan masuk ke lift VIP di ujung kanan agar tidak menumpuk! Khusus pagi ini dibuka!"
Nadinta, yang posisinya strategis di pinggir, melihat celah itu. Tanpa ragu, ia melangkah cepat, memotong kerumunan, menuju lift khusus eksekutif itu sebelum pintu tertutup.
Ia berhasil masuk di detik terakhir.
Pintu lift menutup perlahan, memisahkan kebisingan lobi dari kesunyian di dalam kotak besi berlapis cermin emas itu.
Di dalam, hanya ada empat orang. Seorang staf HRD wanita yang tampak panik dan sibuk membedaki wajahnya yang berminyak, seorang kurir dokumen yang memeluk paket erat-erat di dada, Nadinta, dan satu sosok menjulang di sudut belakang.
Nadinta melirik sekilas lewat pantulan cermin.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap charcoal dengan potongan tailor-made yang memeluk bahu tegapnya tanpa cela. Kemeja putihnya licin, tanpa dasi, namun kancing teratasnya tertutup rapi.
Dia tidak sibuk dengan ponsel seperti kebanyakan orang. Dia hanya berdiri diam, kedua tangan tersimpan di saku celana, matanya menatap pantulan angka lantai yang berganti dengan sorot datar, dingin, dan sedikit bosan.
Nadinta mengenali aura itu.
Mahendra Abimanyu. Direktur Operasional yang baru kembali dari Singapura. Sosok yang digadang-gadang akan merombak total manajemen Lumina.
Nadinta tidak menoleh atau mencoba mencari perhatian seperti staf HRD yang curi-curi pandang dan merapikan rambutnya. Nadinta berdiri tenang di dekat panel tombol, menjaga jarak profesional, matanya lurus ke depan menatap pintu baja.
Lift meluncur naik dengan mulus. Lantai 5... 10... 15...
Namun, tepat di antara lantai 18 dan 19, sesuatu terjadi.
GREK!
Terdengar suara gesekan logam yang kasar dari atas poros lift, diikuti oleh sentakan keras yang tak terduga.
Kotak besi itu berguncang hebat seolah ditarik paksa oleh tangan raksasa, lalu—dalam hitungan sepersekian detik—terjun bebas beberapa meter sebelum sistem pengereman darurat bekerja.
BRAK!
Guncangan itu melempar tubuh mereka. Nadinta berpegangan pada railing besi dengan kuat. Si kurir terjatuh. Staf HRD menjerit.
Lampu utama padam seketika.
Kegelapan total menelan mereka.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Hanya ada suara napas yang tertahan dan detak jantung yang memburu di kegelapan itu. Lalu, lampu darurat berwarna merah remang-remang menyala di sudut atas, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mencekam dan mengubah wajah-wajah di dalam lift menjadi topeng ketakutan berwarna merah.
"Aaaaaa!" Staf HRD itu menjerit histeris, tubuhnya merosot ke lantai sambil memeluk tasnya. "Tolong! Tolong! Kita jatuh! Saya nggak mau mati!"
Si kurir dokumen ikut panik, dia bangkit dan menggedor-gedor pintu baja yang tertutup rapat dengan kepalan tangannya. "Buka! Woy, buka! Ada orang di dalam! Tolongin kita!"
Suara gedoran dan teriakan itu memantul di ruang sempit, menciptakan kakofoni kepanikan yang menyesakkan dada. Udara yang tadinya dingin karena AC kini mulai terasa berat, lembap, dan menipis.
Di tengah kekacauan itu, Nadinta tidak bergerak.
Dia berdiri tegak, punggungnya menempel pada dinding lift. Dia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam melalui hidung, dan menghembuskannya perlahan melalui mulut.
Jantungnya berpacu, tentu saja. Itu reaksi biologis. Tapi pikirannya jernih.
Ingatannya melayang pada rasa sakit saat tulang punggungnya remuk di kehidupan lalu. Rasa sakit yang nyata, dingin, dan mematikan. Dibandingkan dengan kematian yang sunyi di tangga darurat itu, terjebak di lift hanyalah jeda iklan yang tidak nyaman.
Nadinta membuka mata. Dia melirik arloji di pergelangan tangannya di bawah cahaya merah. Pukul 08.45. Dia punya waktu lima belas menit sebelum briefing pagi dengan Pak Rudi. Keterlambatan bukan opsi, apalagi di hari pertamanya 'bangkit'.
"Diam," suara bariton yang berat dan dingin membelah kepanikan.
Mahendra melangkah maju dari sudutnya. Wajahnya di bawah lampu merah tidak menunjukkan ketakutan, hanya kekesalan karena waktunya terbuang. Dia menekan tombol interkom darurat berulang kali dengan jari telunjuknya.
Hening. Hanya suara statis kresek-kresek yang terdengar dari speaker.
"Interkom mati," gumam Mahendra, nadanya datar seolah sedang melaporkan cuaca. Dia mengeluarkan ponselnya, mengangkatnya tinggi-tinggi mencari sinyal. "Tidak ada sinyal. Struktur beton gedung ini terlalu tebal."
"Kita bakal mati kehabisan napas!" Staf HRD itu mulai hiperventilasi, napasnya memburu cepat dan pendek, wajahnya pucat pasi. "Saya... saya punya asma... tolong... sesak..."
Mahendra menatap wanita itu dengan kening berkerut dalam. Dia tampak bingung, canggung, dan sedikit terganggu. Sebagai eksekutif yang terbiasa mengurus angka dan strategi, menghadapi ledakan emosi manusia secara langsung bukanlah keahliannya. Dia terlihat hendak membentak agar wanita itu diam, tapi menahannya.
Melihat kepanikan yang tidak produktif itu, Nadinta memutuskan untuk bergerak.
Dia tidak mencoba menjadi pahlawan. Dia hanya ingin situasi terkendali agar dia bisa berpikir dan tidak terlambat.
Nadinta berjongkok di depan staf HRD itu, mensejajarkan tingginya, menghalangi pandangan wanita itu dari pintu yang tertutup rapat.
"Mbak," panggil Nadinta. Suaranya rendah, tenang, dan memiliki otoritas yang aneh di tengah kekacauan. "Lihat mata saya."
Wanita itu masih tersedu, tapi dia menatap Nadinta.
"Gedung ini Grade A. Sistem rem darurat mekanisnya sudah mengunci otomatis di rel. Kita tidak akan jatuh bebas," ucap Nadinta dengan nada faktual, menjelaskan teknis seolah dia teknisi lift, bukan staf pemasaran. "Tapi kalau Mbak terus teriak dan hiperventilasi, Mbak akan pingsan karena keracunan karbondioksida Mbak sendiri, bukan karena liftnya."
Kalimat itu terdengar dingin, tapi efektif menembus kabut kepanikan wanita itu. Logika seringkali lebih ampuh daripada simpati kosong.
Nadinta membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebotol air mineral yang belum dibuka. Dia memutar tutupnya hingga segelnya terbuka.
"Minum ini. Tarik napas empat hitungan, tahan dua hitungan, buang empat hitungan. Ikuti tempo saya. Satu... dua... tiga... empat."
Nadinta mempraktikkannya dengan sabar. Wanita itu, entah karena terhipnotis oleh ketenangan Nadinta atau karena memang butuh arahan, mulai mengikuti. Isak tangisnya mereda. Napasnya mulai teratur.
Nadinta kemudian berdiri, merapikan roknya yang sedikit kusut. Dia beralih menatap si kurir yang masih memegang pintu dengan tangan gemetar.
"Jangan digedor, Mas," kata Nadinta datar. "Itu hanya membuang tenaga dan oksigen kita. Petugas keamanan di panel kontrol pasti sudah melihat lampu indikator merah menyala di sistem mereka. Mereka sedang bekerja."
Ruangan lift kembali hening. Hanya terdengar suara dengungan halus lampu darurat dan napas mereka.
Di samping panel tombol, Mahendra Abimanyu berdiri diam. Namun kali ini, matanya tidak lagi menatap layar angka yang mati. Matanya, yang gelap dan tajam mengobservasi, terkunci sepenuhnya pada sosok Nadinta.
Dia telah melihat banyak karyawan menghadapi krisis. Sebagian besar hancur, menangis, mencari kambing hitam, atau menunggu diselamatkan. Tapi dia belum pernah melihat seseorang yang begitu... taktis di tengah bahaya.
Wanita di depannya ini tidak hanya tenang. Dia efisien. Seolah terjebak di dalam kotak besi yang menggantung di ketinggian puluhan meter hanyalah sebuah masalah administrasi yang perlu diselesaikan dengan prosedur standar.
"Kamu," suara Mahendra memecah keheningan, ditujukan langsung pada Nadinta.
Nadinta menoleh. Dia menatap Mahendra tepat di mata, tanpa rasa intimidasi yang biasanya ditunjukkan bawahan pada atasan, namun tetap sopan.
"Ya, Pak?"
"Kamu tidak takut?" tanya Mahendra. Pertanyaan itu terdengar ganjil keluar dari mulutnya yang kaku, seolah dia benar-benar penasaran dengan anomali di depannya.
Nadinta tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya, namun cukup sopan untuk etika kantor.
"Panik tidak akan membuat teknisi bekerja lebih cepat, Pak. Itu hanya akan membuang energi yang saya butuhkan untuk bekerja nanti," jawab Nadinta diplomatis.
Mahendra terdiam sejenak, mencerna jawaban pragmatis itu. Sudut bibirnya berkedut sedikit, seolah tertarik.
"Siapa namamu?"
"Nadinta," jawabnya singkat. Dia tidak menambahkan embel-embel 'Saya dari divisi anu' atau 'Salam kenal Pak'. Dia hanya menyebutkan namanya sebagai sebuah identitas yang utuh.
"Bu Nadinta," ulang Mahendra pelan, seolah menguji rasa nama itu di lidahnya. "Divisi?"
"Pemasaran. Di bawah Pak Rudi."
Alis Mahendra terangkat sebelah mendengar nama Rudi. Sebuah ekspresi jijik yang sangat halus dan cepat melintas di wajahnya—ekspresi yang hanya berlangsung sepersekian detik, namun Nadinta yang jeli berhasil menangkapnya.
Ah, jadi Direktur baru ini juga tidak menyukai si benalu itu. Informasi yang sangat berharga, batin Nadinta.
Belum sempat percakapan berlanjut, lift tersentak sekali lagi.
Clang!
Lampu utama menyala terang, menyilaukan mata mereka yang sudah terbiasa dengan keremangan merah. Kipas angin kembali berputar, membawa udara segar.
Perlahan, lift bergerak turun—bukan naik—dan pintu terbuka di lantai 18 dengan bunyi ding yang melegakan.
Tim keamanan dan teknisi sudah menunggu di depan pintu dengan wajah panik, siap dengan peralatan.
"Pak Mahendra! Bapak tidak apa-apa?" Kepala Keamanan langsung menyerbu masuk, mengabaikan penumpang lain, fokus pada aset terpenting perusahaan.
Mahendra melangkah keluar dengan anggun, merapikan jasnya seolah ia baru saja keluar dari mobil mewah, bukan dari lift rusak.
"Saya baik-baik saja," jawab Mahendra dingin, wibawanya kembali penuh. "Urus staf yang syok di dalam. Dan pastikan vendor lift dipanggil hari ini juga. Saya tidak mau dengar alasan."
Mahendra kemudian berbalik badan. Matanya mencari sosok Nadinta di antara kerumunan kecil itu. Dia ingin mengatakan sesuatu, mungkin terima kasih, atau mungkin sekadar mengangguk.
Namun, Nadinta sudah tidak ada di sana.
Wanita itu sudah melangkah pergi, menyelinap cepat dan efisien di antara kerumunan orang-orang yang menonton. Dia berjalan menuju tangga darurat untuk turun satu lantai ke divisinya, mengejar waktu.
Dia tidak menunggu ucapan terima kasih. Dia tidak menunggu pengakuan. Dia punya misi yang lebih penting daripada sekadar basa-basi dengan Direktur.
Mahendra menatap punggung Nadinta yang menjauh dan menghilang di balik pintu tangga darurat. Punggung yang tegak, langkah yang pasti, dan aura misterius yang tertinggal.
"Nadinta," gumam Mahendra pelan.
Untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke Jakarta, Mahendra menemukan sesuatu yang menarik di gedung ini. Sesuatu yang bukan berupa angka di laporan keuangan, melainkan sebuah anomali hidup bernama Nadinta.
Sementara itu, di tangga darurat, Nadinta tersenyum miring.
Sekarang, saatnya menghadapi monster level rendah di lantai 15: Rudi dan tumpukan pekerjaan yang akan dia jadikan senjata makan tuan.