Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
28
Malam itu, Langit diselimuti oleh kesunyian yang mencekam. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, menggoyangkan dahan-dahan pohon jati di belakang rumah Anjeli, hingga menimbulkan suara gesekan yang menyerupai bisikan rahasia. Di dalam rumah, Anjeli sedang merapikan pakaian Ayah dan Aris ke dalam tas kain. Besok adalah hari penentuan, hari di mana mereka akan kembali menginjakkan kaki di gedung pengadilan untuk mendengar putusan akhir sang hakim.
"Semuanya sudah siap, Nak?" tanya Ayah dari ambang pintu kamar.
Anjeli menoleh, mencoba menyunggingkan senyum meski hatinya diliputi kecemasan. "Sudah, Ayah. Baju batik Ayah sudah Anjeli setrika sampai licin. Sepatu Aris juga sudah anjeli bersihkan. Hufft…Kita hanya tinggal berangkat besok pagi, Yah."
Pak Burhan berjalan mendekat, duduk di tepi tempat tidur dengan gerakan yang kini jauh lebih luwes. Ia menatap putrinya dengan tatapan yang dalam. "Nak, Ayah tahu kamu khawatir. Dan Ayah juga sama khawitrnya. Tapi ingat, apa yang dikatakan petugas sosial kemarin? Mereka melihat kebenaran di sini. Hakim pasti akan mempertimbangkan itu."
Anjeli mengangguk, namun perasaannya tidak tenang. Sejak senja tadi, ia merasakan getaran aneh dari cincin di jarinya, yang memberikan sebuah sensasi dingin yang menjalar, seolah-olah tanaman di kebunnya sedang berteriak minta tolong.
Tengah malam, saat Ayah dan Aris sudah terlelap, Anjeli terbangun oleh suara gemerisik yang tidak wajar dari arah kebun belakang. Bukan suara angin, melainkan suara langkah kaki yang dipaksakan untuk pelan di atas tanah kering.
Anjeli menyambar senter bambunya dan melangkah keluar melalui pintu dapur. Saat ia mengarahkan cahaya senter ke arah barisan tanaman buncis yang sedang ranum-ranumnya, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di sana, di bawah bayang-bayang pohon jati, terlihat dua sosok bayangan sedang menaburkan serbuk putih dalam jumlah banyak ke atas dedaunan buncis dan selada Anjeli. Bau tajam zat kimia seperti tawas bercampur belerang langsung menyerang hidungnya.
"Siapa di sana?!" teriak Anjeli dengan suara yang gemetar karena amarah.
Kedua bayangan itu tersentak. Mereka menjatuhkan wadah plastik yang mereka bawa dan berlari tunggang langgang menembus pagar belakang yang belum sempat diperkuat mawar di sudut terjauh. Anjeli tidak mengejarnya, fokusnya langsung tertuju pada tanaman-tanamannya.
"Tidak, Hiks…jangan sekarang! Hiks…," bisik Anjeli dengan air mata yang mulai mengalir.
Ia mendekat dan melihat serbuk putih itu menyelimuti daun-daun buncis yang hijau. Zat itu bersifat korosif dan dalam hitungan menit saja daun-daun yang terkena zat itu mulai mengerut dan berubah warna menjadi kecokelatan. Ini adalah sabotase. Seseorang ingin merusak bukti kebun yang subur tepat sebelum sidang putusan.
Anjeli segera menutup matanya sambil terisak dan memutar cincin di jarinya. "Tolong aku…Hiks..Hikss.. jangan biarkan mereka menang dengan cara kotor mereka ini," pintanya dalam hati.
Ia pun masuk ke Ruang Ajaib dalam sekejap mata. Di sana, ia tidak mencari benih, melainkan berlari menuju sumur kristal. Ia mengambil ember besar dan mengisinya dengan Air Rohani murni tanpa campuran. Kembali ke dunia nyata, ia segera menyiramkan air itu ke seluruh permukaan daun buncis dan selada yang terkena racun.
Ajaib. Saat Air Rohani menyentuh serbuk kimia itu, terjadi reaksi yang menenangkan. Serbuk itu melarut dan terserap ke dalam tanah, namun alih-alih merusak akar, Air Rohani tersebut menetralkan racunnya dan justru memberikan nutrisi tambahan secara instan. Daun-daun yang tadinya layu perlahan kembali tegak, warnanya menjadi lebih hijau pekat dari sebelumnya.
Anjeli terduduk di antara bedengan, napasnya memburu. Ia tahu siapa pelakunya tanpa perlu melihat wajah mereka. Kecemburuan Bu Sumi dan kepicikan orang kota telah bersatu untuk menghancurkan harapan terakhirnya. Namun, bumi dan keajaiban yang ia miliki jauh lebih kuat.
Pagi harinya, Pak Burhan terkejut melihat Anjeli sudah berada di kebun dengan mata sembab namun wajah yang teguh.
"Nak? Kamu sudah bangun?" tanya Ayah yang baru saja keluar menghirup udara pagi.
"Ya, Ayah. Ada tamu tak diundang semalam, Ayah. Tapi…jangan khawatir ya, kebun kita lebih kuat dari yang mereka kira," jawab Anjeli singkat. Ia tidak ingin membebani pikiran Ayahnya sebelum sidang.
Setelah sarapan sederhana, mereka bertiga berjalan menuju jalan raya desa. Kali ini, warga desa yang biasanya sinis tampak lebih diam. Beberapa dari mereka menatap Pak Burhan dengan pandangan hormat saat melihat pria itu berjalan tegak menuju halte bus.
Bus antar kota membawa mereka membelah debu-debu jalanan menuju pusat kota. Aris duduk di dekat jendela, matanya berbinar melihat gedung-gedung tinggi, namun tangannya terus menggenggam tangan Anjeli dengan erat.
"Kak, nanti kalau kita ketemu Ibu lagi, Aris boleh tidak mau dipeluk?" tanya Aris pelan.
Anjeli mengelus pipi adiknya. "Aris lakukan apa yang menurut Aris nyaman. Kalau Aris belum siap, Aris cukup bersikap sopan saja."
Sesampainya di gedung Pengadilan Agama, suasana terasa jauh lebih berat. Gani dan Pak Hendra sudah menunggu di sana. Gani membawa kamera yang dikalungkan di lehernya, sementara Pak Hendra tampak sibuk berbicara dengan Pak Surya, pengacara mereka.
"Anjeli, Pak Burhan," sapa Pak Surya dengan raut wajah serius. "Saya baru saja mendapat kabar. Pihak Ibu Anita mencoba memasukkan bukti tambahan pagi ini. Mereka membawa laporan dari beberapa warga desa yang menyatakan bahwa pertanian kalian menggunakan cara-cara mistis yang membahayakan lingkungan."
Anjeli mengepalkan tangannya. "Itu pasti ulah Bu Sumi."
"Jangan khawatir," sahut Gani menenangkan. "Saya juga membawa bukti tandingan. Saya sudah mewawancarai Pak RT dan beberapa warga lain yang merasa terbantu oleh keberadaan kebunmu. Kita tidak akan membiarkan mereka memutarbalikkan fakta."
Tiba-tiba, suara langkah sepatu hak tinggi yang tajam terdengar di lorong marmer. Anita datang dengan setelan jas formal berwarna krem. Ia tampak lebih pucat dari biasanya, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Di belakangnya, pengacara berwajah dingin itu terus berbisik di telinganya.
Anita berhenti tepat di depan Aris. Ia berjongkok, mencoba menyentuh tangan putranya. "Aris... ikut Ibu ya? Ibu sudah siapkan kamar baru dengan banyak mainan robot."
Aris tidak lari, namun ia menarik tangannya perlahan dan bersembunyi di belakang kaki Pak Burhan. "Aris mau sama Ayah saja, Bu. Di rumah ada kebun buncis. Di kota tidak ada tanah buat menanam."
Anita tersentak. Kalimat jujur dari anak sekecil itu tampaknya lebih menyakitkan daripada argumen hukum mana pun. Ia berdiri kembali, menatap Pak Burhan dengan amarah yang tertahan. "Kamu pasti sudah mencuci otaknya kan, Burhan!"
"Aku tidak mencuci otaknya, Anita. Aku hanya membiarkannya tumbuh bersama alam. Sesuatu yang seharusnya kamu pahami jika kamu tidak terlalu sibuk dengan egomu," jawab Pak Burhan dengan suara tenang yang berwibawa.
Pintu ruang sidang terbuka. Mereka semua masuk dan duduk di posisi masing-masing. Hakim Subroto masuk dengan wajah yang lebih santai daripada sidang sebelumnya. Ia memegang sebuah map hijau dan laporan dari petugas sosial Doni dan Sari yang mengunjungi rumah Anjeli minggu lalu.
"Sidang hari ini adalah untuk membacakan putusan akhir mengenai hak asuh anak atas nama Aris Putra Burhanudin," buka Hakim.
Pengacara Anita mencoba melakukan interupsi terakhir. "Yang Mulia, kami memiliki pernyataan dari warga sekitar mengenai ketidakstabilan lingkungan di sana..."
"Cukup, Saudara Pengacara," potong Hakim dengan tegas. "Saya sudah membaca laporan lengkap dari petugas lapangan saya. Laporan itu menyatakan bahwa rumah Bapak Burhanudin adalah salah satu lingkungan paling sehat dan penuh kasih sayang yang pernah mereka tinjau. Bahkan, mereka mencatat adanya dampak positif bagi kesehatan fisik Tergugat yang pulih secara alami."
Hakim kemudian menatap Anita. "Ibu Anita, kekayaan memang bisa menjamin fasilitas, tapi kekayaan tidak bisa menjamin kehadiran. Dari fakta-fakta yang ada, Anda telah meninggalkan anak-anak ini dalam kondisi yang sangat kritis selama dua tahun penuh. Jika bukan karena keberanian Saudari Anjeli dalam mengolah tanah, mungkin hari ini kita tidak akan melihat keluarga ini berdiri di sini."
Anjeli merasakan air mata mulai menggenang. Ia melihat Ayahnya menunduk, bahunya bergetar pelan karena haru.
"Berdasarkan bukti kesehatan, ekonomi dari kontrak pertanian yang sah, dan keinginan tulus dari anak yang bersangkutan, maka Pengadilan Agama memutuskan bahwa Hak asuh penuh atas Aris jatuh kepada Bapak Burhanudin dengan hak kunjungan yang diatur bagi Ibu Anita."
Tok! Tok! Tok!, palu Di ketuk ketua hakim sebagai keputusan final. Dan bunyi palu itu seolah menjadi akhir dari badai panjang yang menghantam rumah kecil mereka. Aris langsung memeluk Ayahnya dengan erat. Pak Burhan menangis tanpa suara, mencium puncak kepala Aris berkali-kali.
Anjeli berdiri, ia merasa seluruh tenaganya terkuras namun hatinya terasa sangat ringan. Ia menoleh ke arah ibunya. Anita tampak terduduk lemas di kursinya, air mata mengalir membasahi pipinya yang ber-make-up tebal. Kali ini, Anjeli tidak merasa benci. Ia merasa kasihan pada wanita yang memiliki segalanya di kota, namun kehilangan hal yang paling berharga karena menganggap remeh kekuatan tanah dan cinta.
Saat mereka keluar dari gedung pengadilan, matahari siang menyengat kulit, namun rasanya begitu hangat dan menyenangkan. Pak Hendra menjabat tangan Pak Burhan dengan antusias.
"Selamat, Pak! Ini awal baru. Kontrak kita akan segera berjalan penuh. Saya akan mulai mengirim armada untuk mengambil hasil panenmu secara rutin," ujar Pak Hendra.
Gani mendekati Anjeli, ia mengarahkan kameranya dan mengambil satu foto Anjeli yang sedang tersenyum lebar di depan gedung pengadilan. "Foto ini akan menjadi penutup yang sempurna untuk artikel lanjutanku, Njel. Judulnya: Kemenangan dari Akar."
Anjeli tersenyum pada Gani. "Terima kasih, Mas Gani. Tanpa bantuan Mas, suara kami mungkin tidak akan terdengar sampai ke sini."
Mereka berjalan menuju halte bus untuk pulang. Debu-debu jalanan kota yang tadinya terasa menyesakkan, kini terasa seperti saksi bisu atas perjuangan mereka. Saat bus melaju kembali menuju desa, Anjeli menatap ke arah luar jendela. Ia tahu, di Desa masih ada Bu Sumi dengan kecemburuan dan rasa iri nya dan tantangan-tantangan lainnya. Namun, sekarang ia tidak takut lagi.
Ia memiliki Ayah yang sudah berdiri tegak, adik yang ceria, dan bumi yang selalu memberikan keajaibannya bagi mereka yang mau merawatnya dengan hati.
"Ayah," panggil Anjeli pelan di tengah deru mesin bus.
"Iya, Nak?"
"Sampai di rumah nanti, bolehkah kita tanam pohon jati baru di depan rumah? Sebagai tanda kalau keluarga kita sudah punya akar yang kuat sekarang."
Pak Burhan tersenyum, menggenggam tangan Anjeli dan Aris secara bersamaan. "Bukan cuma satu pohon, Sayang. Kita akan buat rumah kita jadi hutan kecil yang paling bahagia di dunia."
Anjeli memejamkan matanya, merasakan getaran cincin yang kini terasa hangat dan damai. Perjalanan mereka masih panjang, masih ada ratusan bab kehidupan yang harus mereka tulis. Namun hari ini, di atas bus tua yang berdebu, mereka telah memenangkan hal yang paling penting: kebersamaan.
______________🌹❤️
Terimah kasih telah membaca cerita ini
Jangan lupa di like dan komen ya🙏🏻
Jangan lupa dikasih 👉⭐️🌟
Kalau ada Point saweran boleh di sawer 🌹
Hehehe☺️😅….lanjut ceritanyaaaa
semangat updatenya 💪💪