Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Nam Tok Sathu(Air terjun penyuci)
Fajar masih jauh ketika Freen dan Nam check-out dari hotel. Nam sudah menyewa mobil SUV lagi, kali ini yang lebih kecil dan tidak mencolok, agar mereka mudah bergerak di jalan pegunungan. Freen membawa koper yang berisi Cermin Kuno, tidak mau melepaskannya barang sejenak pun.
"Nam Tok Sathu, tiga jam perjalanan," gumam Freen, memeriksa peta di dashboard.
"Semoga jalanan di sana masih bisa dilalui mobil."
Mereka meninggalkan kota pantai yang ramai, perlahan memasuki jalanan yang berkelok dan menanjak ke arah pedalaman. Semakin jauh mereka berkendara, semakin lebat hutan di sekitar mereka.
****
Selama perjalanan, Freen merasakan kehadiran Cermin itu. Meskipun terbungkus kain dan terkunci, energi dingin artefak Sriwijaya itu terus merembes keluar, membuat udara di dalam mobil terasa sejuk dan aneh. Freen memegang Mustika Merah Delima di sakunya, menggunakan energinya untuk menekan pengaruh Cermin.
"Aku merasa seperti membawa sebuah bom spiritual di bagasi, Nam," bisik Freen.
"Aku tahu, Freen. Aku terus-menerus memantau GPS dan peta spiritual yang aku buat," jawab Nam, pandangannya tegang. "Lokasi Air Terjun Sathu ini sangat terpencil. Seharusnya aman untuk melakukan ritual penenggelaman."
Setelah dua jam lebih berkendara, jalan aspal berubah menjadi jalan setapak berbatu yang menantang. Freen harus mengemudi dengan sangat hati-hati.
Mereka akhirnya tiba di ujung jalan yang bisa dilalui mobil. Di sana, hanya ada sebuah plang kayu tua bertuliskan "Nam Tok Sathu" dan jalur setapak yang menanjak curam ke dalam hutan.
Mereka memarkir mobil, mengambil tas ransel, dan yang paling penting, Freen mengangkat koper berisi Cermin Kuno itu.
"Ini mendaki, Freen," kata Nam, melihat jalur setapak itu.
"Tidak ada pilihan, Nam. Ayo," jawab Freen.
Mereka berjalan mendaki. Freen memikul koper berat itu, sementara Nam membawa tas ransel dan peralatan ritual. Udara pagi yang sejuk di pegunungan sangat kontras dengan energi Cermin yang dingin dan mematikan. Freen bersyukur karena kekuatan dari Mustika Merah Delima sedikit membantunya mengatasi beban fisik yang berat.
Setelah sekitar tiga puluh menit mendaki, mereka mulai mendengar suara gemuruh air yang keras. Mereka telah tiba.
Air Terjun Sathu adalah pemandangan yang mengagumkan. Airnya jatuh dari ketinggian tebing, menciptakan kabut air yang dingin dan menyegarkan. Di dasarnya, terdapat kolam alami yang tampak gelap dan sangat dalam.
Namun, Freen melihat lebih dari sekadar pemandangan. Mata batinnya melihat aura suci yang kuat memancar dari air terjun itu—aura pemurnian yang murni dan tak terkalahkan.
"Ini dia, Nam. Air Terjun Pembersihan," kata Freen.
Freen meletakkan koper itu di atas batu datar. Ia menarik napas dalam-dalam, mengambil sebilah parang kecil yang mereka bawa untuk membersihkan jalur.
"Nam, kau awasi sekeliling. Aku harus melakukan ini sendirian. Kita akan membuka Cermin itu di sini," ujar Freen.
Dengan tangan gemetar, Freen membuka koper. Ia perlahan membuka lapisan kain tebal yang membungkus Cermin Kuno itu.
Begitu Cermin itu terbuka, aura dingin dan berat memenuhi area air terjun. Freen melihatnya—permukaan Cermin itu, meskipun tertutup lumut laut, masih memancarkan pantulan yang aneh, seolah menampilkan bayangan dari dimensi yang berbeda. Freen harus cepat.
Freen mengangkat Cermin itu, yang terasa sangat berat. Ia membawanya ke bawah air terjun, tempat air mengalir paling deras.
Saat Cermin Kuno itu tersentuh oleh air suci yang mengalir deras, terjadi reaksi yang dahsyat.
Air di sekitar Cermin itu mendesis, dan kabut spiritual muncul. Dari permukaan Cermin itu, Freen melihat kilatan cahaya cepat—bayangan jiwa-jiwa, wajah-wajah ketakutan dan putus asa, yang terekam atau tersimpan di dalam artefak itu.
"Tidak! Aku tidak akan dihancurkan!" Sebuah bisikan kolektif, dingin dan putus asa, menyerang pikiran Freen. Itu adalah suara dari jiwa-jiwa terikat dan entitas yang dipanggil Cermin itu.
Freen memejamkan mata, memegang Cermin itu erat-erat di bawah derasnya air. Ia mulai merapal mantra perlindungan dan pemurnian yang ia ketahui, memfokuskan energi Mustika Merah Delima ke dalam Cermin.
"Pergilah! Temukan kedamaianmu! Segelmu berakhir di sini!" teriak Freen, melawan desakan spiritual itu.
Air terjun itu seolah membantu Freen. Deraian air suci yang murni membersihkan energi jahat yang terakumulasi di Cermin itu. Perlahan, bayangan-bayangan di permukaan Cermin menghilang.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam-jaman penyiksaan spiritual, Cermin Kuno itu berhenti melawan. Ia terasa pasif, dingin, dan berat—semua energi ancamannya telah dinetralkan.
Freen membawa Cermin yang kini sepenuhnya bersih itu ke tepi kolam. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Ini adalah tempat peristirahatanmu," bisik Freen.
Freen melemparkan Cermin Kuno, artefak Sriwijaya yang berbahaya itu, ke tengah kolam air terjun yang dalam.
Byurr!
Cermin itu tenggelam ke dasar mata air suci. Begitu Cermin itu menghilang di kedalaman, Freen merasakan kelegaan yang luar biasa. Ancaman spiritual yang dibawa artefak itu telah berakhir.
Freen ambruk di tepi kolam, napasnya tersengal. Misi penonaktifan Cermin Kuno Sriwijaya telah berhasil.
Freen terbaring di tepi kolam, basah kuyup oleh air terjun, napasnya tersengal. Kelelahan spiritual yang menusuk terasa jauh lebih dalam kali ini, seolah seluruh jiwanya terkuras habis untuk menahan tekanan dari Cermin Kuno.
Nam segera bergegas mendekat. Ia membantu Freen duduk, membalutnya dengan handuk kering yang ia siapkan.
"Freen! Kau baik-baik saja? Kau pucat sekali!" tanya Nam panik, memeriksa dahi Freen.
"Aku... aku baik-baik saja, Nam," bisik Freen, suaranya lemah. "Hanya kelelahan total. Cermin itu menyimpan begitu banyak jiwa, begitu banyak energi yang terikat. Air terjun ini benar-benar memurnikannya. Sekarang, Cermin itu akan beristirahat di dasar mata air suci, terkunci selamanya dari dimensi kita."
Freen menatap kolam Air Terjun Sathu yang kini tampak tenang. Aura suci yang kuat dari tempat itu terasa damai dan menenangkan.
"Kita sudah selesai," kata Freen, tersenyum lemah. "Ancaman sudah diatasi. Artefak dikembalikan ke tempat suci. Tidak ada yang terikat, tidak ada yang hilang."
Nam menghela napas lega, menyandarkan punggungnya ke batu. "Aku akan membersihkan peralatan dan kita kembali ke mobil. Kau harus makan dan tidur, Freen. Kita pulang hari ini juga."
Mereka menghabiskan waktu sekitar satu jam di air terjun, membiarkan Freen memulihkan energinya sedikit demi sedikit. Nam merapikan peralatan dan mengabadikan pemandangan air terjun yang indah, menandai lokasi itu sebagai situs pemurnian spiritual yang penting.
Saat mereka berjalan kembali menuruni jalur setapak, Freen mulai merasakan kekuatannya kembali. Mustika Merah Delima di lehernya kini terasa hangat dan nyaman, sebuah tanda bahwa misi telah berhasil dan energi negatif telah tereliminasi.
****
Perjalanan kembali ke kota pantai terasa lebih mudah. Freen dan Nam langsung menuju terminal bus, memutuskan untuk kembali ke Nonthaburi melalui jalur darat yang lebih santai dan memakan waktu lebih lama, memberikan Freen kesempatan untuk beristirahat penuh.
Di dalam bus, Freen menyandarkan kepala di bahu Nam, memejamkan mata.
"Kita harus mengubah strategi keuangan kita, Nam," gumam Freen, setengah tertidur.
"Mulai sekarang, misi amal dan restorasi kuil harus kita biayai dari uang pribadi kita, bukan dari dana operasional misi. Kita hampir bangkrut lagi karena Cermin dan Kuil Pha Rakam."
"Sudah aku catat, Bos," jawab Nam, tertawa.
"Kita harus mencari kasus dengan klien yang tidak butuh restorasi kuil, hanya butuh bayaran cepat. Mungkin kasus hantu di rumah elit atau apartemen mewah."
Freen tertidur pulas.
****
Mereka tiba kembali di rumah Nam pada malam hari. Malam itu dihabiskan dengan tidur yang nyenyak tanpa gangguan, bebas dari tekanan spiritual.
Keesokan paginya, Freen duduk di dapur, menikmati kopi. Ia mengambil handphone-nya. Tidak ada pesan dari Mae Nakha.
"Akhirnya, istirahat yang sesungguhnya," kata Freen, merasa sangat lega.
Namun, saat Freen meraih sepotong roti, handphone Nam yang berada di meja tiba-tiba bergetar, menampilkan notifikasi pesan dari nomor tak dikenal.
Freen dan Nam saling pandang. Mereka berdua tahu.
Nam meraih handphone-nya dan membaca pesan itu. Wajah Nam perlahan berubah dari santai menjadi terkejut, lalu menjadi sedikit ngeri.
"Freen... ini bukan Mae Nakha," bisik Nam, suaranya tegang. "Pesan ini... ini dari klien langsung."
Nam membalik handphone-nya, menunjukkan pesannya kepada Freen:
Pesan: "Saya butuh Anda. Anak saya, jiwanya tertukar. Ritual yang salah di rumah tua. Datanglah ke [Alamat di pinggiran kota Bangkok]. Uang tidak masalah. Tolong selamatkan anak saya sebelum terlambat."
Freen menatap alamat itu, lalu pada kata-kata "jiwa tertukar."
Freen Sarocha, sang Paranormal Gadungan, kini dicari langsung oleh klien yang berhadapan dengan fenomena spiritual paling mengerikan: Pertukaran Jiwa. Libur mereka resmi berakhir.