NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:718
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: BELENGGU EMAS SANG PENGUASA

​Suara pintu kamar yang terbanting ke dinding bergema seperti letusan senjata api di telinga Ghea. Adrian masuk dengan langkah yang berat, menyeret hawa dingin malam yang masih menempel di pakaiannya. Wajahnya tidak merah karena marah; sebaliknya, ia tampak sangat tenang, sebuah ketenangan yang jauh lebih mengerikan karena menandakan hilangnya sisa-sisa kesabaran.

​Adrian melempar dua kepingan plastik perak ke atas meja rias. Itu adalah kartu akses cadangan yang Ghea curi, kini telah patah menjadi dua.

​"Kau melihat ini, Ghea?" suara Adrian rendah, nyaris berbisik. "Ini adalah kepercayaan yang kau patahkan. Aku memberimu dansa, aku memberimu pelukan, dan kau membalasnya dengan mencopetku seperti penjahat jalanan."

​Ghea terduduk di tepi ranjang, bahunya bergetar. Sisa air mata karena melihat Bi Inah ditodong senjata masih membasahi pipinya. "Kau yang memaksaku, Adrian! Kau mengurungku! Apa kau pikir aku akan diam saja?"

​Adrian berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat Ghea semakin menciut. Pria itu berdiri tepat di depan Ghea, lalu mencengkeram dagunya, memaksanya mendongak. "Aku tidak mengurungmu. Aku menyelamatkanmu. Tapi kau terus bersikap seolah-olah gerbang di luar sana adalah pintu menuju surga, padahal itu adalah pintu menuju liang lahatmu sendiri."

​Adrian merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah benda yang berkilau di bawah lampu kamar. Sebuah rantai tipis yang terbuat dari emas murni, berkilau indah namun memiliki pengunci baja yang kokoh di ujungnya.

​"Karena kau tidak bisa berjalan dengan benar, maka aku harus memastikan kau tidak tersesat lagi," ujar Adrian dingin.

​"Apa yang akan kau lakukan? Adrian, jangan!" Ghea mencoba memberontak, namun Adrian dengan mudah menekan bahu Ghea hingga ia terbaring di kasur.

​Dengan gerakan yang sistematis dan terlatih, Adrian meraih pergelangan kaki kanan Ghea. Ghea menendang, mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Adrian di betisnya seperti catut besi. Tanpa ragu, Adrian melingkarkan borgol emas itu di pergelangan kaki Ghea.

​Klik.

​Bunyi logam yang terkunci itu terdengar final. Rantai itu tidak terlalu pendek; panjangnya sekitar tiga meter, terhubung pada struktur ranjang kayu jati yang tertanam di lantai. Rantai itu memungkinkan Ghea bergerak ke kamar mandi atau ke meja rias, tapi tidak akan pernah membiarkannya mencapai pintu kamar.

​"Emas untuk ratuku," bisik Adrian sambil mengusap bekas kemerahan di pergelangan kaki Ghea akibat borgol tersebut. "Indah, bukan? Ini adalah janji bahwa kau tidak akan pernah bisa meninggalkanku lagi."

​Ghea menatap kakinya dengan rasa mual yang meluap. "Kau monster... kau benar-benar gila."

​"Mungkin," jawab Adrian pendek. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. "Besok adalah hari pernikahan kita. Bi Inah akan membawakan makananmu ke sini. Kau tidak akan keluar dari kamar ini sampai kau mengenakan gaun pengantinmu lusa nanti. Anggap ini sebagai masa pingitan."

​Adrian berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak. "Dan Ghea? Jangan mencoba melepasnya. Sensor pada rantai ini terhubung langsung ke ponselku. Jika kau mencoba memotongnya, alarm di seluruh villa akan berbunyi, dan aku tidak menjamin keselamatan Bi Inah di pos penjaga."

​Begitu pintu tertutup dan dikunci, Ghea meledak dalam tangis. Ia memukul-mukul kasur dengan tinjunya, meratapi kegagalannya yang begitu telak. Ia merasa sangat bodoh. Ia merasa lemah. Rantai emas itu terasa panas di kulitnya, seolah-olah logam itu sedang menyerap harga dirinya sebagai seorang manusia dan seorang detektif.

​Beberapa jam berlalu dalam kegelapan. Ghea hanya menatap langit-langit, mendengarkan denting rantainya setiap kali ia menggerakkan kaki. Bunyi itu adalah ejekan bagi setiap insting pelariannya.

​Namun, di tengah keputusasaan itu, jemarinya yang meraba-raba sprei secara tidak sengaja menyentuh bantal utama. Ada sesuatu yang keras di dalamnya.

​Ghea tersentak. Ia segera merogoh jahitan rahasia di bantal tersebut. Kunci Titanium.

​Adrian—dalam amarahnya yang buta semalam—hanya fokus pada kartu akses. Ia tidak memeriksa bantal Ghea. Senjata kecil yang sudah diasah Ghea hingga setajam silet itu masih ada di sana. Ghea mengeluarkan kunci itu, menatap pantulan cahaya bulan pada permukaannya yang mengilap.

​Logam itu kecil, tapi tiba-tiba terasa sangat berat di tangannya. Ghea menyadari satu hal yang sangat pahit: Pelarian fisik sudah mustahil.

​Gerbang terkunci, kartu akses hancur, kakinya dirantai, dan nyawa Bi Inah dipertaruhkan. Selama ia mencoba melawan Adrian secara terang-terangan, ia akan selalu kalah. Adrian selalu selangkah lebih maju karena pria itu mengendalikan medan pertempuran.

​"Jika aku tidak bisa keluar dari sini..." bisik Ghea, matanya yang sembab kini menajam dengan binar yang menakutkan. "Maka aku harus memastikan kau yang ingin melepaskanku, Adrian."

​Ghea teringat salah satu buku psikologi kriminal yang diberikan Adrian. Stockholm Syndrome dan manipulasi emosional. Ia menyadari bahwa satu-satunya kelemahan Adrian adalah obsesinya yang gila pada "cinta" Ghea. Adrian haus akan validasi. Adrian ingin dicintai sebagai pahlawan, bukan ditakuti sebagai penculik.

​Ghea menggenggam kunci titanium itu erat-erat hingga telapak tangannya sedikit tergores.

​"Kau ingin aku mencintaimu? Baiklah," desis Ghea pada kegelapan. "Aku akan menjadi pengantin yang paling patuh. Aku akan membuatmu percaya bahwa kau telah menang. Aku akan membuatmu merasa begitu aman sampai kau sendiri yang akan melepas rantai ini."

​Rencana Ghea berubah total. Ia bukan lagi seorang detektif yang mencoba lari. Ia berubah menjadi seorang aktris yang sedang mempersiapkan panggung untuk sebuah pengkhianatan besar. Ia akan menghancurkan Adrian dari dalam. Ia akan memanfaatkan obsesi pria itu untuk membuatnya lengah.

​Setiap ciuman yang akan ia berikan, setiap senyuman manis yang akan ia tunjukkan, adalah racun yang ia siapkan untuk melumpuhkan pertahanan Adrian.

​Ghea kembali menyelipkan kunci titanium itu ke dalam bantal, tapi kali ini ia meletakkannya di posisi yang paling mudah dijangkau. Ia kemudian berbaring, menutup matanya, dan mulai berlatih mengekspresikan wajah "penyesalan" di dalam pikirannya.

​"Pernikahan lusa akan menjadi awal dari akhirmu, Adrian," gumam Ghea sebelum akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan emosional, sementara rantai emas di kakinya berdenting pelan mengikuti detak jantungnya yang kini dingin dan penuh dendam.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!