Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Desa Qinghe
Dua hari berlalu, di tengah perjalanan mereka bertemu rombongan pengungsi dari Desa lain. Mereka tidak begitu heran, karena Desa Suning memiliki kereta kuda. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, terlihat letih, lesu dengan tubuh kurus kering.
Desa Qinghe, warganya lebih sedikit dari Desa Suning. Banyak yang saling kenal, karena kedua Desa tersebut saling bertetangga, jaraknya sekitar 20 menit berjalan kaki, dan Kepala Desanya adalah Adik dari Kakek Ji.
Mata Kakek Ji berkaca-kaca melihat saudaranya yang bertubuh kurus, wajahnya tampak lebih tua darinya. Kakek Ji membayangkan, jika tidak ada Aruna yang menolong mereka, sudah dipastikan, kondisi warga Suning tak lebih jauh seperti mereka.
"Ji Qu ( Ji Daquan/ Ji Qu - nama kecil ) " Kepala Desa Qinghe menyapa Kakek Ji. Dia hanya tersenyum kecut, melihat saudaranya menatapnya dengan rasa kasihan.
"Ya, tak disangka kita bisa bertemu di sini!" ujarnya dengan haru, adiknya Ji Mo dari kecil selalu mengikutinya, katanya—Kakaknya adalah panutannya. Di masa lalu, saat mengetahui Kakaknya akan menjadi kepala Desa, dia meminta dicarikan istri di Desa tetangga agar dia juga bisa menjabat sebagai Kepala Desa, kebetulan dia seorang sarjana, jadi tak perlu takut untuk bersaing.
Keduanya hanya mengobrol sebentar, dan sepakat untuk berbincang setelah makan malam. Ji Mo dan warganya sangat heran, melihat rombongan Desa Suning tampak sangat sehat, tak seperti para pengungsi lainnya. Belum lagi, mereka memiliki kereta kuda, apakah Desa Suning sekaya itu?
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka terlihat tidak kekurangan makanan?" ucapnya dengan suara pelan.
"Ya, mereka terlihat sangat sehat!"
"Benar juga, anak-anak Desa Suning tampak ceria, bukannya beristirahat, mereka malah bermain kejar-kejaran!"
"Hmm, mungkin mereka memiliki banyak perbekalan!"
"Ck, itu tidak tidak mungkin, kita bertetangga, dan kita saling tau kondisi satu sama lain."
"Ya, betul juga. Tapi, yang kita lihat sekarang, mereka tidak kekurangan, seperti kita."
"Mungkin dalam kereta itu ada banyak perbekalan!" kata seseorang dengan pikiran liciknya.
Kepala Desa Qinghe, tentu mendengar semua bisikan warganya. Tapi, dia hanya bisa berpura-pura tidak mendengar, dia juga sama, dia sangat penasaran apa yang terjadi dengan Desa Suning. Padahal, sehari sebelum dia memulai perjalanan, dia pergi berpamitan ke rumah saudaranya, tapi kondisi mereka saat itu tidak seperti yang dia lihat sekarang, pasti telah terjadi sesuatu, dan dia akan mengetahuinya nanti malam.
"Kepala Desa!" seseorang menyapanya.
"Ya ada apa?"
"Demam Yeyuan belum turun, bagaimana kalau kita meminta bantuan Tabib Gu?" Tanyanya dengan penuh harap. Tabib Gu sudah terkenal di beberapa desa, karena namanya juga Tabib Desa, tarifnya lebih murah daripada Tabib yang ada di kota.
Kepala Desa Qinghe langsung beranjak, dia hampir lupa akan hal itu, dengan adanya Tabib Gu, warganya yang dalam kondisi kurang sehat bisa melakukan pemeriksaan, mereka sudah dua hari tidak melanjutkan perjalanan karena banyak yang sakit.
"Ya, tunggu beberapa menit lagi. Mereka baru tiba, pasti dia masih lelah!" ucapnya.
"Baik" Akhirnya, doanya terkabul. Dia sangat takut, dia hanya punya satu anak. Sebelumnya, ada anak kecil yang mati karena kelaparan.
***
Aruna sempat terkejut mendengar jika Kepala Desa Qinghe adik dari Kakek Ji. Tapi perhatiannya teralihkan dengan kondisi mereka, dia merasa dejavu. Di tahun 3000, kondisi seperti ini baru terjadi setelah satu tahun terjadinya kiamat.
"Kakek, apa yang terjadi? Kenapa mereka masih di sini?" tanya Aruna, jika ada pengungsi lain, pasti warga Suning tidak ingin terlihat menonjol.
"Kakek juga tidak tau, tapi mereka sudah dua hari di sini" jelasnya dengan suara lirih.
Mata Aruna menyipit, dia tentu tau perasaan Kakek Ji yang langsung berubah. Siapa yang tidak bersedih melihat kondisi saudaranya yang tidak baik-baik saja. "Pasti ada masalah!"
"Ya, nanti Kakek tanyakan. Kakek juga penasaran!" Ucapnya dengan menghela nafas berat. Apalagi yang terjadi, jika bukan kelaparan. "Oh iya, bagaimana kalau malam ini kita makan roti kering saja!"
Aruna sebenarnya tidak ingin, tapi melihat tatapan Kakek yang memohon, dia hanya mengangguk setuju. Bukan dia tidak ingin membantu, tapi dia juga punya prinsipnya sendiri. Apalagi sekarang adalah masa sulit, dia tidak ingin orang lain memanfaatkannya. Berbeda dengan Desa Suning, yang dari awal sudah menolongnya, dan sikap mereka juga sangat tulus. Tapi jika ada yang membuatnya kecewa, jangan harap bantuannya lagi.
Mereka akhirnya mendirikan tenda, yang jaraknya sekitar 1 km dari Desa Qinghe. Aruna berbincang dengan Nenek Suyu, sesekali bertanya hubungan Kakek Ji dengan Adiknya, bukan ingin ikut campur urusan orang lain, tapi dia perlu informasi tersebut, agar dirinya tau, bagaimana dia harus bertindak.
Tiba-tiba terdengar keributan dari rombongan Desa Qinghe. Seseorang terlihat berlari ke arah mereka, orang itu tak lain adalah Kepala Desa Qinghe.
Dengan raut wajah cemas dan penuh lelah Ji Mo bertanya dengan suara serak. "Di mana Tabib Gu? Tolong,,, tolong. Wargaku ada yang sakit, bisa dia datang untuk melihatnya.?
Tabib Gu yang berada dalam tenda segera keluar, mendengar ada yang sakit, jiwa altruismenya sebagai Tabib langsung bangkit, dia ingat-ingat setelah melakukan perjalanan pengasingan, dia tak pernah melakukan pemeriksaan.
"Aku di sini. Ayo kita pergi melihatnya!" ucapnya dengan serius.
Ji Mo berbalik, dia melihat Tabib Keluar dari tenda, dia segera berkata. "Ah Tabib Gu, maaf mengganggu istirahat Anda. Tapi saat ini, banyak wargaku yang jatuh sakit."
"Hmm, tidak masalah." balasnya dengan santai. Dia dengan Ji Mo adalah teman bermain semasa kecil.
Saat tiba, Tabib Gu bisa melihat kondisi mereka dengan jelas. Tapi fokusnya lebih ke arah anak kecil sedang tidak sadarkan diri "Biarkan aku memeriksanya"
Wajah Tabib Gu berubah, nadi anak kecil itu sudah sangat lemah. Dia hanya bisa menggeleng mendengar penjelasan, bahwa dia sudah demam dua hari yang lalu. Ibunya sudah memberikan obat penurun panas, tapi panasnya malah makin parah.
Dia belum pernah menangani pasien seperti ini, anak kecil itu bukan hanya demam biasa. Dengan raut wajah cemas, Tabib Gu segera berkata. "Ji Mo, cepat pargi panggil Cucuku!"
Kepala Desa Qinghe segera berlari kembali menuju rombongan Desa Suning, tapi dia baru tersadar, Tabib Gu tidak memiliki seorang cucu, cucunya sudah meninggal sejak lama. Apakah dia mengambil seorang cucu?
"Ji Qu!" panggilnya dengan nafas tak beraturan.
"Eh Ji Mo, ada apa? Kenapa kamu berlari seperti itu?" tanya Kakek Ji dengan heran.
"Itu,, Tabib Gu memintaku untuk memanggil cucunya." ujarnya,
Kakek Ji langsung mengerti, jika Aruna harus turun tangan, pasti Tabib Gu tidak bisa menangani orang sakit itu. "Baik, aku akan memanggilnya.
Ji Mo makin heran dan penasaran, ternyata Tabib Gu benar-benar memiliki seorang cucu. Setelah menunggu beberapa menit, dia melihat saudaranya keluar dari tenda dengan seorang gadis yang sangat cantik.
Dia baru tersadar setelah Kakek Ji menepuk pundaknya. "Ehh,, Ayo kita ke sana sekarang!" katanya dengan canggung.
Aruna mengikutinya, tadi dia baru saja selesai mandi di ruangnya. Saat mendengar Tabib Gu memanggilnya, dia memakai baju secepat kilat.
Melihat kondisi warga Desa Qinghe, Aruna hanya bisa terdiam, raut wajahnya tak berubah sama sekali. Dia berjalan sesuai arahan Kepala Desa Qinghe.
Melihat wajah cantik Aruna, para warga Qinghe hanya mematung dengan tatapan terpana, sejak kapan Desa Suning memiliki kembang Desa?
"Kakek, kamu memanggilku! Ada apa?" Tanya Aruna yang masih berdiri di belakang Tabib Gu.
"Oh Nak, cepat sini! Kakek tidak bisa memastikan adik kecil ini sakit apa!" Ujarnya sambil menghela nafas, meski tidak bisa tau dengan pasti, tapi dia yakin, anak kecil itu dalam kondisi kritis.
"Bagaimana kondisinya?"
"Nadinya sangat lemah, suhu tubuhnya sangat panas, kulitnya merah dan kering," ujar Tabib Gu.
"Pusing, mual, muntah, kejang, dan sekarang tidak sadarkan diri!" Aruna melanjutkan.
Semua tertegun, bagaimana bisa Aruna bisa menebaknya dengan benar. "Ya, itu terjadi kemarin, dan baru sekarang tidak sadarkan diri." jelas Tabib Gu.
"Tabib Gu, siapa gadis cantik ini?" tiba-tiba seseorang bertanya.
Dengan penuh rasa bangga, Tabib Gu menjawab. "Dia cucuku, ilmu pengobatannya lebih tinggi dariku! Jika kau percaya, cucuku bisa membantumu, tapi jika tidak itu terserah kau juga. Tapi kali ini, aku tidak bisa membantu banyak, aku hanya bisa memberikannya penurun panas." dia menatap Ibu anak itu.
Suasana jadi hening, ternyata selama ini Tabib Gu menyembunyikan cucunya, tapi tindakan itu sangat wajar, karena Aruna sangat cantik, belum lagi, dia juga seorang Tabib.
Ibu Yeyuan tanpa ragu langsung berkata. "Aku percaya,, tolong nona Tabib selamatkan anakku,!" wajahnya dipenuhi dengan tatapan memohon, Tidak mungkin juga Tabib Gu berbohong di depan banyak orang.
Aruna membuka kotak obatnya dan mengambil obat yang berada dalam botol kecil. "Bibi, jika kamu percaya, minumkan ini pada anakmu!"
Ibu Yeyuan mengambil obat itu, dia sedikit bingung, karena obat yang diberikan Aruna sangat berbeda dengan obat yang sering mereka gunakan. Obat itu berbentuk bulat kecil, apakah obat kecil ini bisa menyembuhkan?
"Itu obat yang sudah dipadatkan, jadi bentuknya seperti pil. Bibi jangan buang-buang waktu, badannya semakin lemas!"
"Oh baik-baik. Maafkan Bibi yang tidak tau apa-apa ini!" katanya dengan sesal. Bagaimana bisa dia meragukan keahlian seorang Tabib.
Tanpa ragu dia membuka mulut Anaknya, tapi sebelum obat itu masuk, seseorang menghentikannya. "Bibi hentikan! Apa yang kamu lakukan?" nada suaranya terdengar sangat marah.
Aruna melihat seorang gadis, tubuhnya kurus, tapi masih punya energi, kulitnya putih, tapi kering, wajahnya lumayan bagi orang Desa.
"Bibi, kamu tidak boleh percaya begitu saja! Selama ini, kita sudah tau jika Tabib Gu hanya tinggal sendiri, kanapa sekarang malah memiliki seorang cucu?" dia bertanya dengan raut wajah bingung.
Aruna menahan tawa, aktingnya sangat buruk. "Oh, jadi kau ingin mengatakan, kalau Tabib Gu sedang berbohong?" Tanya Aruna dengan wajah kecewa, kalau cuman akting, dia juga bisa.
"Bu— bukan begitu. Maksudku, kami harus tau asal usulmu. Mau bagaimanapun, kita semua baru pertama kali melihatmu!" Dia agak gugup.
"Kurang ajar, berani-beraninya kau!" bentak Ji Mo, dia sangat marah mendengar ucapan gadis itu. Mereka bertetangga, dan sudah mengenal siapa Tabib Gu. Tapi, seseorang malah meragukannya, benar-benar mencari mati.
"Kepala Desa, kenapa Anda marah? Saya mengatakan yang sebenarnya, kita baru pertama kali melihatnya, berhati-hati kepada orang asing bukanlah tindakan yang salah!"
"Hmm, apa yang kau katakan memang benar. Kalian tidak boleh percaya begitu saja kepada orang baru." Aruna berkata sambil sedikit mengangguk.
Mendengar Aruna yang setuju dengan apa yang dia katakan, membuatnya semakin percaya diri.
"Memang benar, kalian baru melihat cucuku hari ini. Tapi tidak denganku, apakah aku juga tidak bisa dipercaya lagi?"
"Kakek sudahlah, ayo kita pergi!" Ajaknya, dia tak perlu menjelaskan apapun lagi. "Bibi obat itu sudah di tanganmu, jadi terserah Bibi, mau percaya atau tidak.
"Bibi percaya!" ucapnya cepat, dan langsung meminumkan obat itu kepada Anaknya.
"Hmm, Ji Mo Aku pergi dulu." ucapnya dengan dingin..
Kepala Desa hanya mengangguk, dia menguncapkan terimakasih dan tak lupa minta maaf.
"Kepala Desa tak perlu minta maaf! Bukan Anda yang salah" kata Aruna sambil menatap gadis itu. "Tapi, karena dia tidak mepercayai Kakekku, maka kedepannya, dia dan keluarganya tidak boleh datang berobat!"
Semua langsung diam, tak menyangka Aruna menyerang balik. "Nak, jika kami tidak datang kepada Tabib Gu, kemana lagi kami harus pergi? Tabib di kota,, maksudku Ibu kota pasti sangat mahal!"
"Hanya dia dan keluarganya saja!" Tabib Gu yang menjawab. Dia langsung setuju, dia sangat tidak suka dengan orang seperti itu.
Kepala Desa menatap gadis itu dengan datar, "Terima kasih, dan sekali lagi saya minta maaf!"
"Hmm"
Aruna dan Tabib Gu keluar dari tenda, ada banyak warga yang berkumpul di luar. Kejadian di dalam tenda tentu mereka mendengarnya. Dan semua sangat marah, saat Tan Lin Lin meragukan cucu Tabib Gu.
Aruna memberikan obat bagi yang mau dan percaya kepadanya. Dia mengatakan, jika mereka semua sedang dehidrasi, jika dibiarkan, kondisi akan separah Yeyaun. Tanpa ragu, mereka meminumnya, karena badan mereka sudah sangat lemas. Hanya perlu beberapa menit saja, efeknya sudah terasa.
Yang meragukan Aruna langsung menyesal, terutama Tan Lin Lin dan keluarganya. Sebenarnya dia hanya iri melihat wajah Aruna yang sangat cantik, kedatangannya membuat semua orang terpesona, padahal sebelumnya, semua perhatian itu hanya untuknya. Dia sudah terbiasa dengan julukannya sebagai kembang Desa, bahkan di Desa Suning, tak ada yang mengalahkan kecantikannya, dan sekarang Aruna malah datang dan semua perhatian langsung beralih kepadanya.
lanjut thorr💪💪💪