Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Astra...Kantin bareng mau gak?"
Astra mengangguk dan tanpa percakapan mereka pun berjalan ke kantin.
Sebenarnya Astra cukup penasaran dan bingung, mengapa kebanyakan siswa-siswi di sekolah ini memiliki isi. Dia jadi ragu, apakah ini sekolah hantu seperti di film-film atau sekolah biasa pada umumnya yang dia inginkan.
"Riel, lo tau dia siapa?" Tanya Astra menunjuk seseorang yang berjarak cukup jauh namun cukup mencolok.
"Ohh, itu Monica. Kelas 11 A, yang di samping kiri dan kanan nya antek-anteknya."
"O-ohhh..."
"Hati-hati ya, katanya dia suka bully orang. Menurut aku sih, dia orang nya sok cantik sama sok berkuasa."
Astra mengangguk dalam hatinya, lalu menanyakan lagi beberapa orang yang menarik perhatiannya.
"Itu Kak Bastian, Ketua Voli. Umurnya udah 18 tahun. Tapi dia masih kelas 11, katanya telat masuk sekolah."
"Yang itu kak Fino, wakil ketua MPK. Dia emang populer karena ganteng sama kaya, dia juga suka ikut banyak lomba jadi cukup terkenal di kalangan guru-guru."
"Itu Kak Mei, dia kelas 11 juga. Dia ketua Karate, baik banget orang nya."
"..."
Sepanjang jalan menuju kantin, Astra cukup cermat mendengarkan ucapan Riel. Setelah mendapatkan tempat kosong dan memesan, perbincangan masih berlanjut.
"Dari tadi lo cerita tentang kelas 10 sama 11 terus, emang gak ada kelas 12 nya?"
"Kelas 12 emang beda gedung sama kelas 10 dan 11, dia gedung kelas 12 juga ada kantin nya. Jadi kelas 12 jarang jajan ke sini"
Makanan datang, "silahkan non.". Dua mangkuk mie Ayam dan es susu tersaji di meja mereka.
"Btw mata kamu hebat banget sih bisa nangkep orang-orang yang populer dan berpengaruh di sini."
"Ah... Gak tau, mungkin karena mereka cukup berbeda."
Riel mengangguk-angguk sambil memakan mie nya. Sementara Astra kini mulai mengerti, jika penjelasan Riel benar. Mereka, orang-orang yang memiliki isi atau pelindung itu adalah orang-orang dari keluarga berpengaruh, atau juga dari golongan menengah ke atas.
Namun, hal apa yang membuat mereka memiliki nya? Maksud Astra inikan sekolah gitu, mengapa bisa gitu.
Tak...Tak...
Seseorang mengetuk meja tempat Astra makan dengan jari. Astra dan Riel sontak mendongak.
"Lo anak baru," sosok perempuan itu duduk dengan di ikuti seorang teman nya. "Gue peringatin sama lo, jangan genit-genit ke Arka, Arka punya gue!"
Perempuan yang Astra lihat di kelas tadi itu berbicara dengan menunjuk-nunjuk muka Astra, membuat Riel mengerutkan kening menatap tak suka. Setelah memberikan peringatan dia pergi, namun teman perempuan nya berbicara dengan datar kepada Astra sebelum pergi mengikuti perempuan yang menunjuk-nunjuk Astra sebelumnya.
"Lo natap Arka lebih dari tiga detik waktu perkenalan di depan kelas tadi." Ucapnya lalu ikut pergi.
"Apasih, gak jelas. Dia pikir emang Arka itu punya dia apa? Sampe segitunya, hih!" Gerutu Riel tak suka.
Sementara Astra terlihat nge-blank dengan mata berkedip bingung, otaknya berputar pada kejadian waktu di kelas tadi.
'ANJ!'
Umpatnya dalam hati, ada juga orang kaya gitu? Suka sama cowok sampe segitunya? Gila-gila...
Riel melihat Astra yang dalam pikirannya dia syok, "Udah ya jangan di pikirin, si Greta emang gila. Dari dulu sikapnya gak pernah berubah."
Astra mengubah wajahnya yang terlihat bengong seperti biasa, lalu menoleh kepada Riel. "Siapa Arka?"
"Dia cowo---"
"Gue" ucap seseorang yang tiba-tiba duduk di hadapan mereka (masih satu meja).
"Jangan di dengerin ucapan Greta, dia emang gak waras." Ucap Arka ramah.
Astra mengangguk dan melihat wajahnya sekilas, seperti mesin scan yang cukup melihat sekali untuk di hindari. Arka menatap sebentar wajah cantik face Astra yang terlihat cuek dan bodo amat, dia jadi penasaran Astra dari keluarga mana.
"Lo Astra ka---"
"Kamu ngapain duduk di sini!" Riel menatap Arka dengan pandangan tak suka yang tidak di sembunyikan.
"Cuma datang karena tadi kalian bahas gue, sekalian gak enak karena Greta udah labrak Astra." Ucap Arka dengan alasan yang logis namun terasa aneh, memang nya telinganya telinga kucing?
"Sekarang,, udah kan? Sana pergi."
Arka melihat reaksi Astra yang biasa saja terkesan tidak peduli dia pun hanya tersenyum dengan rasa sedikit canggung. Sebelum dia menjawab lagi Riel sudah berbicara lagi.
"Lagian ya, dengan kamu ngedatengin ke sini. Aku yakin si Greta itu bakalan semakin meng- gak waras."
"Hish! Iya iya, bawel banget sih lo anak Surya" Ucap Arka lalu pergi.
"Kamu!" Pelotot Riel, "Anak HENDRA CUCU HENDAR!" Teriak Riel pada Arka yang sudah kembali ke tempat duduk nya bersama geng-nya.
Astra menatap Riel kemudian menatap Arka di meja sebrang dengan ekor matanya. Namun dari arah meja itu matanya bersitatapan dengan mata dingin dari salah satu pemuda di sana.
Satu, dua, tiga, empat, limaa...
Astra memutuskan pandangan dengan mata memutar seolah malas menatap nya. Matanya kembali terfokus kan pada mie ayam, seolah mie ayam lebih menggoda daripada tatapan nya dengan pria tampan di meja sana.
Di meja sebrang.
"Lo gak seharusnya datengin tuh anak baru. Nanti si Greta cewek gila lo itu makin gila. Untung tuh cewek gila udah gak ada di kantin." Ucap cowok bermata biru itu, berbicara seolah perhatian. Namun sebenarnya ini hanyalah script nya saja di Novel ini.
Arka tersenyum dan dengan santai menyeruput kopi di hadapan nya. "Kayaknya dia juga gak sesederhana itu," Arka menoleh melihat Samuel, laki-laki yang jarang berbicara namun sekalinya bicara suka membawa musibah.
Namun siapa sangka Samuel yang biasanya selalu diam cuek bebek, kini menyahut. "Benar"
Membuat ketiga temannya termasuk Arka membeku, "Gue natap dia dengan niat, tapi dia biasa aja"
***
Like, komentar yang banyak 💗
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶