Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Ledakan itu melempar tubuh Arlan ke tumpukan palet kayu yang sudah lapuk. Cahaya api menyambar langit malam dengan warna oranye yang sangat pekat. Telinga Arlan hanya menangkap suara denging panjang yang menutupi seluruh kebisingan di gudang itu.
[Sistem: Integritas Fisik Menurun ke 45%]
[Peringatan: Keracunan Karbon Monoksida Dimulai dalam 120 Detik]
Arlan mencoba menggerakkan ujung jarinya yang tertutup abu hitam. Kakinya terasa sangat berat, terkubur di bawah pecahan kaca kantor yang hancur berantakan.
"Arlan! Kamu masih hidup?" teriak Siska dari balik gerbang besi yang terkunci.
Arlan tidak bisa menjawab dengan suara keras. Dia hanya bisa merayap perlahan sambil mencari sisa-sisa tenaga di otot lengannya. Dia menoleh ke arah balkon yang kini sudah runtuh sepenuhnya. Pak Wirawan menghilang di balik kobaran api yang membesar.
"Mbak Siska, jangan masuk! Hubungi pemadam sekarang!" teriak Arlan dengan suara yang parau.
"Aku tidak bisa diam saja! Ibu Tegar masih ada di dalam sana!" sahut Siska sambil mencoba menghantam gembok gerbang dengan batu besar.
Arlan memaksakan tubuhnya untuk berdiri tegak. Dia melihat sebuah bayangan yang terperangkap di bawah reruntuhan tangga besi. Itu adalah seorang wanita paruh baya yang mengenakan daster batik lusuh.
"Ibu... tolong..." rintih Bu Ratna, ibu kandung Tegar, dengan suara yang hampir habis.
Arlan melangkah mendekat dengan napas yang semakin pendek. Dia melihat kaki Bu Ratna terjepit oleh balok beton yang sangat besar.
[Sistem: Menghitung Gaya Angkat yang Diperlukan]
[Analisis: Membutuhkan pengungkit dengan rasio 1 berbanding 10 untuk mengangkat beton tersebut]
"Tunggu di sini, Bu. Saya akan mencari alat pengungkit di sudut gudang," kata Arlan sambil menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya.
Arlan menemukan sebuah pipa besi panjang di dekat tumpukan ban bekas. Dia menyelipkan pipa itu di bawah beton dengan sangat hati-hati. Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya saat dia mulai menekan pipa itu dengan seluruh berat tubuhnya.
"Satu... dua... angkat!" teriak Arlan sambil mengerahkan seluruh kekuatannya.
Beton itu bergerak naik beberapa sentimeter. Bu Ratna berhasil menarik kakinya keluar dengan sisa tenaga yang dia miliki. Arlan segera merangkul wanita itu dan membawanya menjauh dari pusat api.
Tiba-tiba, suara deru mobil yang sangat halus terdengar mendekati area gudang. Sebuah sedan mewah berwarna perak berhenti tepat di depan gerbang. Pak Pratama turun dari mobil itu dengan tenang, tanpa ada raut cemas sedikit pun di wajahnya yang bersih.
"Arlan, kamu benar-benar pahlawan yang sangat merepotkan," ucap Pak Pratama sambil menatap kobaran api dengan tangan yang masuk ke dalam saku celana.
Arlan meletakkan Bu Ratna di tanah yang berdebu. Dia menatap Pak Pratama dengan mata yang penuh dengan api kebencian.
"Bapak benar-benar membayar orang untuk meledakkan kantor saya?" tanya Arlan dengan nada yang sangat rendah namun tajam.
Pak Pratama tersenyum tipis sambil menyesuaikan letak kacamata emasnya.
"Itu hanya langkah pembersihan aset yang sudah tidak produktif, Arlan. Kamu seharusnya berterima kasih karena aku sudah melenyapkan Wirawan untukmu," sahut Pak Pratama dengan suara yang sangat tenang.
"Tapi ada nyawa manusia di dalam sana! Maya hampir mati karena ambisi Bapak!" teriak Arlan sambil melangkah maju ke arah pagar.
"Di dunia logistik, variabel manusia adalah risiko yang bisa dikompensasi dengan angka asuransi yang tepat," kata Pak Pratama sambil memberikan kode kepada ajudannya untuk membuka gerbang.
Ajudan Pak Pratama memotong gembok itu dengan alat pemotong hidrolik dalam waktu beberapa detik saja. Pak Pratama melangkah masuk ke dalam area gudang yang masih membara.
"Sekarang, berikan rekaman asli Wirawan itu kepadaku. Kamu tidak ingin ibumu di desa mendapatkan tamu tambahan malam ini, kan?" tanya Pak Pratama dengan nada yang penuh dengan ancaman terselubung.
[Sistem: Mendeteksi Transmisi Data Ilegal dari Perangkat Pak Pratama]
[Status: Pak Pratama sedang mencoba menghapus cadangan data Arlan Corp melalui satelit]
Arlan mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Dia menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan monster yang jauh lebih licin daripada Wirawan.
"Rekaman itu sudah saya unggah ke server luar negeri dengan protokol kunci mati, Pak," kata Arlan sambil menunjukkan layar ponselnya yang retak.
Pak Pratama menghentikan langkahnya tepat satu meter di depan Arlan. Dia menatap layar ponsel itu dengan alis yang bertaut.
"Apa maksudmu dengan protokol kunci mati?" tanya Pak Pratama dengan suara yang mulai kehilangan ketenangannya.
"Jika detak jantung saya berhenti, atau jika saya tidak memasukkan kode verifikasi setiap dua jam, seluruh bukti keterlibatan Bapak akan dikirimkan secara otomatis ke dewan direksi global Megantara Group," jawab Arlan dengan senyum tipis di bibirnya.
Siska yang berdiri di belakang Arlan tampak menahan napas mendengar keberanian Arlan melakukan gertakan sebesar itu.
"Kamu pikir kamu bisa memeras saya?" tanya Pak Pratama sambil memberikan isyarat kepada ajudannya untuk mendekat.
"Ini bukan pemerasan. Ini adalah bentuk perlindungan diri untuk Arlan Corp," sahut Arlan sambil membantu Bu Ratna untuk berdiri kembali.
Suara sirine mobil pemadam kebakaran dan polisi mulai terdengar sangat dekat di jalanan desa. Pak Pratama melihat ke arah jalan raya, lalu kembali menatap Arlan dengan tatapan yang sangat dingin.
"Kamu baru saja menjadikan dirimu sendiri target utama bagi banyak orang besar, Arlan Dirgantara," ucap Pak Pratama sebelum berbalik menuju mobilnya.
"Saya sudah terbiasa menjadi target sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Megantara, Pak," kata Arlan sambil melihat Pak Pratama masuk ke dalam mobil.
Mobil sedan perak itu melesat pergi meninggalkan area gudang tepat saat truk pemadam kebakaran pertama sampai di depan gerbang. Tegar berlari keluar dari salah satu mobil polisi dengan wajah yang hancur karena air mata.
"Ibu! Arlan, di mana Ibu saya?" teriak Tegar sambil mencari di antara tumpukan barang.
"Ibumu aman, Tegar. Dia ada di sini," sahut Arlan sambil menunjuk ke arah Bu Ratna.
Tegar langsung memeluk ibunya dengan sangat erat. Dia kemudian menoleh ke arah Arlan dengan tatapan yang sangat kompleks, antara malu, bersyukur, dan penuh dengan rasa bersalah.
"Arlan... aku tidak tahu harus bilang apa. Paman Wirawan benar-benar sudah gila," kata Tegar dengan suara yang lirih.
"Pamanmu sudah tidak ada, Tegar. Sekarang kamu harus memutuskan siapa yang akan kamu ikuti selanjutnya," ucap Arlan sambil berjalan menuju Siska.
Arlan melihat ambulans kedua datang dan petugas medis mulai menangani Bu Ratna. Siska mendekati Arlan dan menyandarkan kepalanya di pundak Arlan yang berbau abu pembakaran.
"Kita sudah kehilangan kantor, Arlan. Semua infrastruktur kita di desa ini hancur total," bisik Siska dengan nada yang sangat sedih.
"Kantor itu hanya bangunan, Siska. Jaringan kita masih ada di dalam sini," jawab Arlan sambil menunjuk ke arah pelipisnya.
Tiba-tiba, ponsel Arlan kembali bergetar. Sebuah pesan singkat muncul dari nomor yang tidak dikenal, namun pesannya membuat Arlan mendadak terdiam membeku di tempatnya.
[Nomor Tak Dikenal: Jangan percaya pada Siska. Dia adalah informan yang dikirim langsung oleh Pak Pratama sejak hari pertama kamu masuk ke Megantara.]
Arlan perlahan menoleh ke arah Siska yang masih memegang lengannya dengan sangat lembut. Siska menatap Arlan dengan mata indahnya yang tampak sangat tulus, namun Arlan melihat ada sebuah kilatan aneh di dalam sana.
"Ada apa, Arlan? Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Siska dengan wajah yang penuh dengan kebingungan.
Arlan menjauhkan tangan Siska dari lengannya secara perlahan. Dia menatap layar ponselnya sekali lagi, lalu menatap hamparan puing-puing kantor Mitra Desa yang masih membara. Di balik kegelapan malam, Arlan menyadari bahwa pengkhianatan yang sesungguhnya mungkin baru saja dimulai tepat di sampingnya.
"Tidak ada apa-apa, Mbak Siska. Saya hanya ingin memastikan satu hal saja," kata Arlan sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku.
"Memastikan apa?" tanya Siska sambil melangkah maju satu langkah.
"Memastikan bahwa besok pagi, Arlan Corp akan terlahir kembali dengan cara yang tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh siapa pun," jawab Arlan dengan nada suara yang sangat misterius.
Arlan melangkah pergi meninggalkan Siska sendirian di tengah kerumunan orang yang sedang sibuk memadamkan api. Di dalam kepalanya, sistem panduan karier itu mendadak memberikan sebuah misi baru yang memiliki warna ungu gelap, warna yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
[Misi Rahasia: Membongkar Topeng Sang Penolong]
[Deskripsi: Cari tahu identitas asli Siska dan hubungannya dengan struktur internal Pratama Holdings]
[Hadiah: Kendali Mutlak atas Saham Arlan Corp]
Arlan berjalan menyusuri jalanan desa yang sepi menuju rumah ibunya. Namun, di tengah jalan, sebuah bayangan hitam melompat dari balik pohon besar dan menghantam tengkuk Arlan dengan sangat keras hingga dunianya menjadi gelap seketika.