Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.7
...MALAM PERTAMA YANG ANEH...
Malam turun tanpa aba-aba. Tidak ada senja yang romantis. Tidak ada langit jingga yang indah untuk difoto. Matahari seolah jatuh begitu saja di balik pepohonan, meninggalkan desa dalam gelap yang terlalu cepat. Perubahan itu terasa tidak wajar. Seperti ada tangan besar yang mematikan sakelar langit. Beberapa menit sebelumnya, mereka masih bisa melihat detail daun dan batang pohon di sekitar posko. Serat kayu di pagar, tanah yang retak, bahkan debu di ujung sepatu masih tampak jelas. Kini, semua berubah menjadi siluet. Hitam. Rapat. Menekan. Pepohonan di sekitar posko tidak lagi terlihat seperti pohon. Mereka menjelma jadi barisan bayangan tinggi yang berdiri terlalu dekat, terlalu diam, seolah sedang mengawasi. Bayangan itu bergerak hanya jika angin membuat daun gemerisik, tapi bahkan suara itu terdengar seperti bisikan menakutkan dari dunia lain.
“Cepet banget gelapnya,”
gumam Susi sambil menepuk-nepuk lengannya sendiri, bukan karena dingin, tapi karena perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba muncul tanpa izin. Kulitnya meremang tanpa sebab jelas. Udara tidak sedingin itu, tapi tubuhnya bereaksi seolah ada sesuatu yang berubah. Setiap helaan napas membuatnya merasa seperti ada mata yang mengikuti dari balik kegelapan.
Lampu posko akhirnya menyala, satu-satunya sumber cahaya di rumah tua itu. Cahayanya kuning, redup, dan tidak sepenuhnya stabil. Kadang terasa terang, kadang seperti ragu ingin tetap hidup. Lampu itu berdengung halus. Bunyi tipis yang nyaris tidak terdengar, tapi cukup membuat kepala terasa penuh jika terlalu lama diperhatikan. Bayangan mereka menari di dinding. Panjang, Kurus, Bengkok. Setiap gerakan kecil langsung berubah jadi sesuatu yang tampak asing. Mengangkat tangan sedikit saja membuat bayangan tampak seperti lengan orang lain. Membungkuk sebentar membuat siluet terlihat terlalu tinggi, terlalu tidak manusiawi.
Beberapa dari mereka refleks berhenti bergerak. Beberapa yang lain menunduk, berharap bayangan itu lenyap. Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan.
Tik… tok… tik… tok…
Bunyi itu terdengar terlalu keras di tengah keheningan. Setiap detik seolah dipukul masuk ke kepala, mengingatkan bahwa waktu tetap berjalan, meski suasana terasa berhenti.
“Jamnya nyala?” tanya Ani.
Ia menatap jam itu dengan kepala sedikit miring, seolah tidak yakin benda itu seharusnya berfungsi.
“Nyala,” jawab Moren. “Ajaib juga.”
Ia mendekat sedikit, tapi tidak cukup dekat untuk menyentuhnya. Perlahan, tangannya bergeming di udara, seperti takut jika jemarinya menyentuh kaca jam itu, mereka akan tersedot ke dalam dunia lain.
“Kenapa ajaib?”
“Karena listriknya aja setengah niat.”
Beberapa orang mengangguk setuju. Pengalaman stopkontak yang “tidak niat” tadi masih segar di ingatan.
Moren berdiri dekat jam itu, memperhatikan kabel kecil yang terhubung seadanya ke stopkontak tua. Isolasinya mengelupas di beberapa bagian. Colokannya miring, seolah tidak benar-benar ingin menancap. Ia tidak yakin jam itu seharusnya bisa hidup. Tapi ia juga tidak yakin ingin tahu kenapa jam itu hidup. Jam itu bukan jam baru. Kayunya kusam, kacanya sedikit buram, dan detiknya bergerak dengan kecepatan yang tidak konsisten—kadang normal, kadang terasa terlalu lambat, seolah ragu untuk melanjutkan waktu.
Beberapa detik terasa seperti satu menit. Lalu tiba-tiba bergerak normal lagi, tanpa peringatan. Moren menahan napas setiap kali jarum detik “menunda” gerakannya, merasa seolah-olah waktu menertawakannya dari balik kaca buram itu. Makan malam berlangsung sederhana. Tidak ada meja makan. Tidak ada kursi. Tidak ada piring yang serasi. Semuanya hasil kompromi antara apa yang dibawa dan apa yang tersisa. Posko ini terlihat seperti dapur lapangan yang dilewati film horor komedi: kucing hitam akan melintas di sudut jika ada kamera, dan tentu saja, aroma bawang berpotensi jadi senjata biologis.
Anang bergerak di dapur dengan keyakinan orang yang percaya bahwa makanan adalah solusi dari hampir semua masalah, termasuk rasa takut. Tangannya cekatan, wajahnya serius, seperti sedang mengikuti kompetisi memasak dengan juri tak kasatmata. Sesekali, ia menoleh ke Palui yang berdiri terlalu dekat. Palui berdiri tepat di belakangnya seperti satpam anggaran negara. Tangannya terlipat di dada. Matanya mengawasi setiap gerakan, setiap bumbu yang masuk, setiap siung bawang yang berkurang.
“Pake bawang berapa siung?” tanya Palui curiga.
“Empat.”
“EMPAT?” Nada Palui meninggi seperti mendengar pengumuman kenaikan pajak mendadak. Beberapa kepala langsung menoleh.
“Itu masak buat empat belas orang.”
“Bawang mahal.”
“Ini demi rasa.”
“Ini demi dompet.”
Anang berhenti mengaduk. Palui berhenti bernapas. Dua pria itu saling menatap. Sendok kayu menggantung di udara. Wajan mendesis pelan, seperti ikut menyaksikan konflik. Akhirnya disepakati tiga setengah siung, kompromi paling menyakitkan dalam sejarah kuliner. Anang memotong satu siung jadi dua, lalu menatapnya lama. Tatapan penuh perenungan, seolah sedang menentukan nasib bangsa.
“Ini setengahnya gede banget,” gumamnya.
“Itu psikologis,” jawab Palui cepat.
“Psikologis dompetmu.” Palui berpura-pura tidak dengar.
Di sudut lain, Susi mencoba membantu menata piring seadanya. Tapi setiap kali tangannya menyentuh piring, terdengar bunyi “krek” yang membuat beberapa orang menahan napas. Susi mengangkat alisnya sendiri, seolah membayangkan piring itu tiba-tiba menjerit.
“Tenang, ini cuma piring tua,” katanya pelan, tapi suaranya terdengar seperti bisikan di kuburan.
Palui menatapnya dengan mata setengah curiga, setengah yakin kalau piring itu memang berjiwa. Sementara itu, Ani duduk di lantai, memeluk lutut, menatap dinding seolah menunggu bayangan itu berbicara padanya. Kadang, bayangan pintu terlihat mencondong sedikit ke arahnya, seakan mengintip. Ani menelan ludah, berharap imajinasinya tidak salah. Di luar, angin malam berdesir menembus sela-sela jendela tua. Bunyi ranting patah terdengar seperti langkah raksasa, tapi saat mereka menoleh, tidak ada apa pun. Hanya gelap. Gelap yang berat. Gelap yang membuat setiap langkah terasa seperti memasuki gua. Moren, yang duduk paling dekat lampu, berbisik pada dirinya sendiri,
“Kenapa rasanya semua benda di sini punya rahasia?”
Anang menatap adonan yang sedang dimasak. Uapnya berputar seperti spiral, dan dalam cahaya kuning redup, bayangan uap itu seolah berubah menjadi sosok yang menari di udara. Ia bergidik, lalu menepuk tangan seakan ingin menaklukkan ilusi itu. Susi, yang mencoba menenangkan diri, tertawa kecil.
“Ah, ini pasti cuma efek lampu.”
Tapi begitu ia menoleh ke bayangan lengannya sendiri, yang memanjang terlalu tinggi di dinding, ia tercekat. “Lampu… atau… sesuatu yang lain?” gumamnya sambil melompat sedikit, menginjak sendok kayu yang jatuh. Suara itu menggema menakutkan di ruang sempit. Palui, yang berdiri di belakang Anang, tidak kehilangan kesempatan untuk menakut-nakuti. Ia melangkah perlahan, membungkuk ke arah Anang, lalu bersuara rendah,
“Kalau ada yang tiba-tiba muncul, jangan salahkan aku, ya.”
Anang menoleh, sendok di tangannya nyaris jatuh. Wajan di kompor mendesis, seolah ikut bersorak, dan sebagian orang menahan tawa, sebagian menahan napas. Malam itu berlanjut. Bayangan terus menari, lampu terus berdengung, jam terus berdegup setengah ragu. Aroma bawang menyebar, membuat beberapa orang meringis. Palui sesekali mengendus udara, seolah waspada terhadap serangan aroma bawang dari sudut yang gelap. Di saat-saat sepi, terdengar suara-suara aneh: langkah kaki di lantai atas, ketukan tipis di dinding, dan bunyi seperti gesekan kain tua. Kadang seseorang berpikir ia melihat sosok melintas di jendela, tapi ketika semua menoleh, hanya ada pepohonan dan gelap.
“Ini rumah atau panggung film horor?” tanya Ani setengah berbisik.
“Kalau iya, aku nggak dapat bayaran,” balas Susi, suaranya bergetar tapi mencoba terdengar lucu.
Malam pertama itu berakhir dengan semua orang duduk di lantai, menatap lampu, jam, bayangan, dan satu sama lain. Gelak tawa kecil muncul di sela ketegangan—kadang karena hal konyol, kadang karena rasa takut yang absurd. Dan di luar, kegelapan malam tetap menunggu, seperti penonton diam yang menikmati pertunjukan komedi horor yang mereka sendiri tidak tahu kapan berhenti.
...🍃🍃🍃...
Bersambung....