Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, mengusir sisa-sisa kabut yang menyelimuti Kuil Awan Tua. Setelah beristirahat sejenak dan memulihkan tenaga dalam yang terkuras, Liang Shan memutuskan untuk segera berangkat.
Lauw Bun memberikan sebuah peta kuno dan beberapa keping emas untuk bekal perjalanan.
"Berhati-hatilah, Tuan Muda," pesan Lauw Bun sambil menjura sekali lagi. "Wilayah Selatan bukan hanya indah pemandangannya, tapi juga penuh dengan rawa-rawa beracun dan jebakan tersembunyi,"
"Perguruan Bulan Sabit terkenal dengan ilmu langkahnya yang aneh. Jika kau bertemu dengan seseorang yang menggunakan senjata sabit perak, besar kemungkinan dia memiliki hubungan dengan mereka."
Liang Shan mengangguk mantap. Dengan bimbingan Han Xiang dan Yue Niang, mereka memulai perjalanan panjang menuju Selatan.
Meskipun tahu perjalanannya akan berliku, tapi Liang Shan tidak akan pernah berhenti.
Sebab dirinya tahu bahwa seorang pendekar sejati bukanlah dia yang tidak pernah jatuh, melainkan dia yang setiap kali jatuh, tapi mampu bangkit dengan tekad yang lebih membara, meskipun raga didera duka dan luka.
Perjalanan itu memakan waktu berminggu-minggu. Mereka melewati pegunungan yang terjal dan hutan belantara yang dihuni binatang buas, hingga akhirnya tiba di perbatasan wilayah Provinsi Henan yang berbatasan dengan daerah Selatan yang lembap.
Selama perjalanan, Han Xiang tidak henti-hentinya mencari tanaman obat di pinggir jalan untuk meramu jamu guna menekan hawa beracun dari Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang di tubuh Liang Shan.
Suatu sore, mereka tiba di sebuah kedai teh di persimpangan jalan menuju Kota Hengyang. Kedai itu tampak sederhana, hanya terdiri dari bangunan kayu dengan atap rumbia.
Di depan kedai, berkibar sebuah bendera lusuh bertuliskan Kedai Teh Bambu Hijau.
Saat mereka masuk, suasana kedai mendadak sunyi. Di sudut ruangan, duduk empat orang pria bertampang garang dengan senjata golok besar di samping mereka.
Keempatnya mengenakan pakaian seragam berwarna kuning tanah.
"Pelayan! Berikan kami teh terbaik dan tiga porsi bakpao," ujar Liang Shan tenang sambil memilih meja di pojok, sengaja menjauh dari kerumunan pria itu.
Namun, takdir Jianghu (dunia persilatan) jarang membiarkan seorang pendekar beristirahat dengan tenang. Salah satu pria berbaju kuning itu, yang memiliki bekas luka melintang di pipinya, menatap tajam ke arah Han Xiang dan Yue Niang.
"Heh, kawan-kawan! Lihat, ada dua kuntum bunga cantik di tempat terpencil seperti ini," seru si pria berbekas luka dengan tawa mesum.
"Satu terlihat lembut seperti bidadari, yang satunya membawa kecapi seperti dewi musik. Sungguh beruntung nasib kita hari ini!"
Tiga rekannya tertawa terbahak-bahak. Mereka berdiri dan menghampiri meja Liang Shan. Pria yang bicara itu adalah pemimpin kelompok Empat Harimau Kuning, sekumpulan perampok yang sering mengacau di wilayah perbatasan.
"Anak muda, tinggalkan kedua gadis ini dan pergilah selagi kau masih punya nyawa," ancamnya sambil menggebrak meja Liang Shan.
Han Xiang mengerutkan kening, sementara Yue Niang sudah meletakkan tangannya di atas dawai kecapi, siap melepaskan serangan suara.
Namun, Liang Shan hanya mengangkat cangkir teh dan menyesapnya perlahan sebelum berkata dengan suara rendah.
"Aku sedang tidak ingin mencari keributan. Pergilah sebelum tehku mendingin."
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau bicara begitu kepada ketua kami!" salah satu anak buahnya marah dan langsung melayangkan pukulan Telapak Pasir Besi ke arah bahu Liang Shan.
Liang Shan tidak bergeming. Saat tangan itu hampir menyentuhnya, ia melakukan gerakan yang sangat cepat, menepis tangan lawan dan mengirimkan totokan ke titik di dada musuhnya.
"Aduh!" pria itu terjungkal ke belakang, tubuhnya mendadak kaku dan tidak bisa digerakkan.
Melihat rekannya roboh dengan satu gerakan, pemimpin Empat Harimau Kuning marah besar.
"Serang dia! Cincang sampai lumat!"
Ketiga perampok itu menghunus golok mereka secara serentak. Liang Shan berdiri, Golok Sunyi Mengoyak Langit miliknya masih terbungkus kain di punggungnya.
Dia tidak ingin menghunus senjata utamanya untuk lawan sekecil ini. Liang Shan menggunakan teknik tangan kosong untuk melayani mereka.
Pertarungan berlangsung singkat namun seru. Liang Shan bergerak seperti naga di tengah awan, menghindar dengan langkah jurus Langkah di Atas Awan yang sangat lincah.
Setiap tangkisannya mengandung tenaga dalam yang cukup kuat untuk membuat lengan lawan kesemutan.
Namun, di tengah pertarungan, Liang Shan mendadak merasakan hawa dingin yang menusuk di dadanya. Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang beraksi! Gerakannya sedikit melambat dan wajahnya memucat.
Melihat celah itu. Pria dengan bekas luka langsung membabatkan goloknya ke arah leher Liang Shan.
"Mampus kau!"
TINGG!!!
Sebuah suara dentingan nyaring memecah udara. Bukan Liang Shan yang menangkis, melainkan Yue Niang yang memetik dawai kecapinya.
Sebuah gelombang suara yang kasat mata meluncur dan menghantam bilah golok hingga terpental dari tangan si perampok.
Han Xiang tidak tinggal diam. Ia melemparkan beberapa butir jarum perak yang mengandung obat tidur.
Jarum-jarum itu menancap di leher para penjahat tersebut, dan dalam sekejap mereka roboh pingsan ke lantai.
"Terima kasih, Yue Niang, Xiang-er," bisik Liang Shan sambil memegangi dadanya.
Han Xiang segera menghampiri dan memeriksa denyut nadi Liang Shan.
"Kau terlalu memaksakan diri. Tenaga dalammu belum pulih benar untuk menghadapi hawa dingin itu." katanya mengingatkan.
Tiba-tiba, dari arah belakang kedai, terdengar tepuk tangan pelan. Seorang kakek berpakaian compang-camping namun bersih, dengan caping menutupi wajahnya, berjalan keluar sambil membawa sebuah bumbung bambu berisi arak.
"Luar biasa ..., ilmu totokan yang rapi, petikan kecapi yang mengandung tenaga kosong, dan lemparan jarum yang akurat. Jarang sekali aku melihat tiga orang muda dengan bakat seperti kalian," ujar kakek itu dengan nada jenaka.
Liang Shan menajamkan pendengarannya. Kakek ini melangkah tanpa suara, tanda bahwa ia memiliki gin-kang ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat sempurna.
"Siapakah Senior?" tanya Liang Shan sambil menjura hormat.
Kakek itu mengangkat capingnya sedikit dan memperlihatkan mata yang bersinar jenaka.
"Hanya seorang tua yang gemar minum arak dan benci melihat perampok yang mengganggu waktu minumnya."
Orang tua itu langsung duduk satu meja dengan Liang Shan setelah memesan satu botol arak.
"Kalau aku tidak salah lihat, kau pasti adalah Liang Shan, Pendekar Golok Sunyi yang belakangan ini sedang ramai diperbincangkan?" tanyanya sambil menatap Liang Shan.
"Namaku memang Liang Shan, Senior. Tapi terkait julukan yang kau sebut itu, aku tidak bisa membenarkannya. Sebab aku sendiri tidak tahu," jawab Liang Shan dengan jujur.
"Hahaha ..., itu sudah pasti benar. Sebab sekarang, namamu sedang naik daun. Sebagian menyebutmu sebagi orang yang membawa luka lama. Sebagiannya lagi menganggapmu sebagai pembawa bencana,"
"Biarlah mereka menyebutku sebagai apa. Karena aku tidak pernah peduli dengan hal-hal semacam itu,"
"Bagus, bagus sekali. Memang harusnya seperti itu. Kalau hidupmu terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting, maka selamanya kau tidak akan pernah merasa bebas,"