NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pizza

Lampu perpustakaan pusat mulai meredup di beberapa sudut, namun meja di pojok kanan itu masih terang benderang oleh lampu belajar portabel milik Viona. Di sekelilingnya, tumpukan jurnal manajemen dan buku tebal tentang strategi bisnis internasional tampak seperti benteng yang mengurung tubuh mungilnya.

Viona memijat pangkal hidungnya. Otaknya yang terbiasa berpikir tentang struktur beton dan estetika ruang kini dipaksa memproses kurva ekonomi dan manajemen risiko. Ini adalah tantangan yang ia pilih sendiri, namun terkadang rasa lelah membuatnya ingin menyerah.

Tap. Tap.

Suara langkah sepatu pantofel yang sangat ia kenali terdengar mendekat. Noah, yang baru saja menyelesaikan kelas malamnya, muncul dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Wajahnya tampak lelah, namun matanya langsung berbinar saat menemukan sosok yang dicarinya.

"Belum selesai juga?" tanya Noah lembut. Ia membungkuk, menyandarkan lengannya di sandaran kursi Viona dan mengusap puncak kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang.

Viona hanya bergumam, matanya tetap terpaku pada layar laptop. "Belum ah... lo ke sana aja Noah, gue mau fokus. Jangan ganggu, grafik ini bikin gue pusing," kata Viona tanpa menoleh, mencoba tetap pada mode profesionalnya.

Noah terkekeh pelan. Ia tidak tersinggung dengan pengusiran halus itu. "Wah! Oke... oke... tapi makan dulu ini pizza. Gue tahu lo belum makan malam dari tadi," ujar Noah sembari meletakkan kotak pizza hangat di area meja yang masih kosong.

"Oke nanti gue makan, taruh aja ya," jawab Viona singkat, jemarinya kembali menari lincah di atas keyboard.

Noah menatap Viona sejenak, ada rasa bangga sekaligus iba melihat ambisi istrinya. Sebelum melangkah pergi, ia mengambil sebuah sticky notes kuning dari tasnya, menuliskan sesuatu dengan cepat, dan menempelkannya di atas tutup kotak pizza tersebut.

Viona benar-benar tenggelam dalam dunianya. Ia bahkan tidak menyadari Noah yang sempat berdiri lama menatapnya sebelum akhirnya benar-benar keluar dari perpustakaan. Ia juga tidak menyadari pesan singkat yang ditulis tangan dengan rapi oleh Noah:

"Jangan diforsir banget otaknya, Vio. Kapan pun lo selesai, gue tungguin di parkiran ya. Gue nggak bakal pulang duluan tanpa lo."

Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Perpustakaan semakin sepi hingga menyisakan Viona dan petugas kebersihan di kejauhan. Saat Viona akhirnya meregangkan otot lehernya yang kaku, tangannya tidak sengaja menyentuh kotak pizza yang kini sudah mendingin.

Ia tertegun saat melihat pesan kuning itu. Viona segera bangkit dan berlari menuju jendela perpustakaan yang menghadap ke area parkir bawah. Di sana, di bawah lampu merkuri yang remang, mobil SUV hitam milik Noah masih terparkir rapi dengan lampu kabin yang menyala samar, menandakan pria itu benar-benar menunggunya di sana, mungkin sambil mengoreksi tugas mahasiswa atau ikut tertidur karena kelelahan.

Viona tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. Ternyata, di tengah ambisinya yang meledak-ledak, ada satu titik pulang yang tidak pernah bergeser sejengkal pun.

———

Udara dingin malam di parkiran kampus langsung lenyap begitu Viona menutup pintu mobil. Di dalam kabin yang kedap suara itu, hanya ada hembusan AC yang tenang dan aroma pizza yang bercampur dengan parfum maskulin khas Noah.

Noah yang tadinya tampak mengantuk, kini sepenuhnya terjaga. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Viona dengan tatapan yang sulit diartikancampuran antara gemas, lelah, dan rasa sayang yang meluap.

"Makasih ya suami udah nungguin gue," ucap Viona dengan nada manja yang jarang ia keluarkan. Suaranya yang agak serak karena terlalu lama diam di perpustakaan justru terdengar sangat seksi di telinga Noah.

Noah tersenyum miring, sebelah tangannya bertumpu pada kemudi. "Apa hadiah buat gue? Nungguin lo dua jam lebih di sini itu butuh kompensasi yang setimpal, Vio."

Viona terkekeh kecil, ia meletakkan kotak pizza itu di pangkuannya. "Gue ada dua hadiah. Satu bakal gue kasih sekarang, yang satu lagi... rahasia," goda Viona.

Ia mengambil satu potong pizza yang sudah tidak lagi panas, namun aromanya masih menggoda. Bukannya memberikan potongan itu pada Noah, Viona justru menggigit salah satu ujungnya dan membiarkan sisi yang lain menggantung di mulutnya. Ia menatap Noah dengan mata yang mengerling jahil, menantang suaminya untuk mengambil "bagiannya".

Noah tidak butuh undangan kedua. Ia mendekat, memangkas jarak hingga hidung mereka bersentuhan. Dengan perlahan, Noah menggigit sisi lain pizza tersebut. Mereka saling menatap, mata mereka bicara lebih banyak daripada kata-kata, hingga akhirnya potongan pizza itu habis dan bibir mereka bertaut secara alami.

Kecupan itu awalnya terasa manis dan malu-malu, sampai Viona menarik diri dengan wajah memerah.

"Mau cium gue aja gengsi banget, pake acara lewat pizza segala," gerutu Noah dengan suara rendah yang berat. Ia menatap bibir ranum Viona yang kini terlihat sedikit mengkilap.

"Dih, kan itu biar estetik kayak di film-film!" bela Viona sambil memalingkan wajah.

"Sini gue contohin gimana cara yang bener," kata Noah tanpa memberi kesempatan Viona untuk membantah.

Tangan Noah bergerak cepat ke belakang tengkuk Viona, menariknya dengan lembut namun dominan. Kali ini tidak ada pizza yang menghalangi. Noah mematikan lampu kabin mobil, membuat suasana semakin intim di bawah remang cahaya lampu parkiran. Ia melumat habis bibir istrinya, menyalurkan semua rasa rindu dan rasa protektif yang ia tahan sejak tadi pagi.

Viona melingkarkan tangannya di leher Noah, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama. Di dalam mobil yang terparkir sunyi itu,

"Pulang sekarang?" bisik Noah dengan suara serak yang sangat berat.

Viona tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk pelan sembari menyandarkan kepalanya di bahu Noah, mencoba mengatur napasnya yang berantakan.

Perjalanan dari kampus menuju rumah terasa jauh lebih singkat dari biasanya. Begitu pintu rumah tertutup rapat di belakang mereka, Noah tidak lagi membiarkan ada jarak. Ia langsung menarik pinggang Viona, menyatukan kembali bibir mereka dengan intensitas yang lebih dalam, seolah-olah waktu yang mereka habiskan secara terpisah seharian ini adalah sebuah siksaan.

Ciuman itu tidak berhenti di ruang tamu. Dengan langkah yang terburu-buru namun penuh perlindungan, Noah membimbing Viona menuju kamar utama mereka di lantai atas.

Lampu kamar yang temaram menciptakan bayangan yang bergerak estetik di dinding. Viona melepaskan tasnya begitu saja ke lantai, matanya menatap Noah dengan keberanian yang baru ia temukan malam ini.

"Noah... hadiah keduanya," bisik Viona saat mereka sampai di tepi ranjang.

Noah berhenti sejenak, menatap istrinya dengan dahi berkerut halus. "Judul tesis lo?"

Viona menggeleng pelan. Ia meraih kerah kemeja Noah, menarik pria itu mendekat hingga tidak ada lagi udara di antara mereka. "Bukan. Hadiah keduanya... gue. Seluruhnya buat lo malam ini."

Kalimat itu menjadi pemantik terakhir yang meruntuhkan seluruh pertahanan diri Noah. Ia tidak pernah menyangka bahwa wanita ambisius yang biasanya keras kepala ini bisa menyerahkan kerentanannya sedalam itu.

"Lo yakin?" tanya Noah memastikan, jemarinya mengusap rahang Viona dengan sangat lembut, memberikan kesempatan bagi istrinya untuk mundur jika ia mau.

"Gue yakin. Karena nggak ada tempat lain yang lebih aman buat gue selain di dekat lo," jawab Viona mantap.

Malam itu, di balik pintu kamar yang terkunci, status mereka bukan lagi sekadar dosen dan mahasiswi, bukan pula sekadar sahabat yang terjebak dalam perjodohan. Mereka adalah dua jiwa yang akhirnya memutuskan untuk saling memiliki seutuhnya. Noah memperlakukan Viona dengan segala pemujaan yang ia punya, membuktikan bahwa meski ia sering bersikap dingin di depan umum, cintanya untuk Viona adalah api yang tidak akan pernah padam.

1
deeRa
haii... I found ur story, accidentally 😊
Vha Evha
karya yg bagus porsi nya pas cwe nya gk trlalu lebay dan menye" dan cwo nya meskipun bucin tpi gk kehilangan cool nya, smoga panjang crita nya
Nihayatuz Zain
lanjut kk
Nihayatuz Zain
wah karya bagus kok nggk ketauan pembaca ya
kurang promosi nih
atau judulnya kurang bar bar kk, biyar pada penasaran terus mmpir baca
Sunshine: Wahh makasihh ya kak udah suka karya aku❤️ maybe aku pikirkan dulu judul yg menarik lagi, terima kasih sarannya kak❤️❤️
total 1 replies
Nihayatuz Zain
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!