NovelToon NovelToon
Ditempat Dimana Salju Berhenti

Ditempat Dimana Salju Berhenti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Yuh! No!

Sinopsis


Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.


Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.


Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.


Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Hal-Hal yang Tidak Pernah Pergi

(POV: Alice)

Api di perapian berderak pelan, satu-satunya suara yang berani memecah keheningan malam. Di luar, badai salju kembali menggila. Angin menghantam dinding villa seperti makhluk hidup yang marah karena tidak diundang masuk.

Alice duduk memeluk lututnya, foto lama itu masih berada di tangannya.

Foto seorang pria tua—kakeknya—dan seorang anak kecil yang tersenyum canggung di depan Villa Blackwood. Anak itu adalah dirinya. Versi dirinya yang sudah lama ia kubur dalam-dalam, bersama kenangan yang tidak ingin ia sentuh lagi.

“Aku tidak menyangka foto itu masih ada,” katanya pelan.

Noah duduk di kursi seberang, menyandarkan siku di lututnya. Api memantulkan cahaya ke wajahnya yang serius, membuat garis-garis lelah di wajahnya tampak lebih jelas.

“Kau pernah ke sini sebelumnya,” katanya, bukan bertanya.

Alice mengangguk. “Waktu aku sepuluh tahun. Musim dingin juga.”

Dia menutup mata, membiarkan ingatan itu naik ke permukaan.

“Kakekku… Edward Blackwood… adalah satu-satunya orang di keluargaku yang tidak menganggapku sebagai aset. Dia tidak peduli dengan nama besar, reputasi, atau pernikahan politik.” Alice tersenyum getir. “Baginya, aku hanya cucunya. Anak kecil yang suka berlarian di salju dan takut pada suara petir.”

Noah tidak menyela. Dia hanya mendengarkan.

“Kami tinggal di sini selama hampir satu bulan,” lanjut Alice. “Ibuku sudah meninggal saat itu.

Ayahku menikah lagi tidak lama kemudian. Rumah di ibukota… tidak pernah terasa seperti rumah sejak saat itu.”

Alice membuka mata. “Di sinilah terakhir kali aku merasa aman.”

Kata aman itu terasa berat. Noah merasakan sesuatu mengencang di dadanya.

“Lalu kenapa kau tidak pernah kembali?” tanyanya.

“Kakek meninggal setahun kemudian,” jawab Alice lirih. “Villa ini dijual. Ayahku tidak pernah menyukainya. Terlalu terpencil, katanya. Terlalu suram. Terlalu penuh kenangan yang tidak menguntungkan.”

Dia tertawa kecil tanpa humor. “Ironis, bukan? Sekarang aku justru lari ke tempat yang katanya tidak layak huni.”

Noah menatap api. “Kadang tempat yang paling tidak nyaman adalah satu-satunya yang jujur.”

Alice menoleh padanya, terkejut. “Kau terdengar seperti orang bijak.”

“Nope,” Noah mendengus. “Aku hanya terlalu sering salah memilih tempat.”

(POV: Noah)

Malam itu panjang.

Bukan karena badai, tapi karena pembicaraan yang akhirnya terjadi.

Alice mulai bercerita. Tentang hidupnya di ibukota.

Tentang tunangannya—seorang pria sempurna di mata publik, dingin dan penuh perhitungan di balik pintu tertutup. Tentang ayahnya yang tidak pernah benar-benar mendengarkan. Tentang hidup yang telah direncanakan sejak ia masih remaja.

“Aku tidak pernah memilih apa pun,” katanya.

“Sekolahku, lingkaran sosialku, bahkan siapa yang boleh kucintai… semuanya sudah diputuskan.”

“Dan sekarang?” tanyaku.

“Sekarang aku memilih untuk lari,” jawabnya jujur.

“Dan aku tahu itu pengecut.”

Aku menggeleng. “Tidak semua orang yang pergi itu pengecut. Ada yang pergi karena bertahan berarti mati pelan-pelan.”

Alice menatapku lama. Terlalu lama. Ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak nyaman—dan juga sulit berpaling.

“Kau selalu bicara seolah tahu banyak tentang hal itu,” katanya pelan.

Aku menghela napas. Aku tidak pernah berniat membicarakan hidupku. Tapi malam ini… villa ini… salju yang menutup semua jalan keluar… semuanya seolah memaksaku.

“Ayahku pemabuk,” kataku akhirnya. “Ibuku pergi saat aku masih kecil. Meninggalkan kami dengan alasan ingin hidup lebih baik.”

Alice terdiam.

“Norden adalah kota mati bagiku,” lanjutku. “Tapi juga satu-satunya tempat yang kupunya. Aku terjebak di sini, sama sepertimu terjebak di dunia yang terlalu mewah.”

“Kau bisa pergi,” katanya cepat.

Aku tersenyum pahit. “Dengan apa? Uang? Harapan?”

Keheningan kembali turun, kali ini lebih berat. Tapi tidak canggung. Hanya… jujur.

Di luar, badai mulai mereda.

(POV: Alice)

Malam itu, Alice tidak langsung tidur.

Dia berdiri di depan jendela kamar, memandang dunia yang tertutup salju. Villa Blackwood berdiri kokoh, seperti benteng tua yang melindunginya dari dunia luar.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Alice?” suara Noah terdengar ragu. “Maaf… aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”

Alice membuka pintu sedikit. Noah berdiri di sana, mengenakan sweater tua yang jelas bukan

miliknya—mungkin milik penghuni lama villa ini.

“Aku tidak bisa tidur,” kata Alice jujur.

Noah mengangguk. “Aku juga.”

Hening lagi.

“Kau mau teh?” tawarnya.

Alice tersenyum kecil. “Aku pikir kau hanya minum kopi pahit dan rokok.”

“Itu stereotip yang menyakitkan,” jawab Noah datar. “Ayo.”

Mereka duduk di dapur, minum teh hangat dalam diam. Lampu dapur temaram, menciptakan suasana yang hampir domestik. Terlalu normal untuk dua orang asing yang baru saling mengenal.

“Apa kau takut?” tanya Noah tiba-tiba.

Alice menatap cangkirnya. “Ya.”

“Pada apa?”

“Pada kenyataan bahwa aku mungkin tidak bisa kembali ke hidup lamaku. Dan pada kemungkinan bahwa… aku mungkin tidak ingin kembali.”

Noah tidak langsung menjawab. Kata-kata itu berbahaya. Terlalu jujur.

“Kadang,” katanya perlahan, “yang paling menakutkan bukan kehilangan sesuatu. Tapi menyadari bahwa kita tidak membutuhkannya lagi.”

Alice mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. Jarak di antara mereka terasa menyempit, meskipun mereka tidak bergerak.

Untuk sesaat, Alice berpikir Noah akan menyentuh tangannya.

Tapi dia tidak melakukannya.

Dan anehnya, itu membuat segalanya terasa lebih nyata.

(POV: Noah)

Keesokan paginya, aku menemukan jejak kaki di salju.

Jejak baru.

Bukan milikku. Bukan Alice.

Jejak sepatu pria, besar dan rapi, mengarah ke gerbang villa—lalu berhenti.

Seseorang telah datang. Dan pergi.

Aku merasakan hawa dingin yang tidak berasal dari udara.

Aku masuk kembali ke dalam villa dengan cepat.

Alice sedang menyiapkan sarapan sederhana.

“Alice,” kataku tegas. “Kau harus melihat ini.”

Wajahnya berubah saat melihat jejak itu.

“Mereka menemukanku,” bisiknya.

“Siapa?”

“Orang-orang ayahku. Atau tunanganku.” Dia menutup mulutnya dengan tangan. “Aku tahu ini akan terjadi.”

Aku menatap ke luar jendela. “Mereka belum masuk. Mungkin hanya memeriksa.”

“Belum,” ulang Alice, suaranya gemetar. “Tapi mereka akan kembali.”

Aku menarik napas panjang. Inilah bagian yang tidak kusukai. Bagian di mana masalah orang lain menjadi masalahku.

“Kau punya pilihan,” kataku. “Kau bisa pergi sekarang, sebelum mereka benar-benar datang.”

Alice menatapku. “Dan ke mana? Dunia di luar sana masih sama.”

Aku terdiam.

“Bagaimana denganmu?” tanyanya pelan. “Apa kau akan membiarkanku pergi?”

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya.

Aku memalingkan wajahku. “Aku bukan orang yang tepat untuk diminta membuat keputusan hidupmu.”

“Tapi kau satu-satunya orang di sini,” katanya.

Dan itu benar.

Di tempat di mana salju berhenti, hanya ada kami berdua. Dua orang yang sama-sama melarikan diri dari sesuatu. Dua orang yang belum tahu apakah mereka sedang menuju kebebasan… atau hanya bentuk penjara yang berbeda.

Aku menatap Alice. Benar-benar menatapnya.

“Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapa pun,” kataku akhirnya. “Tapi aku juga tidak akan menjanjikan hal yang tidak bisa kuberi.”

Alice mengangguk. Air mata menggenang di matanya, tapi tidak jatuh.

“Itu sudah lebih dari cukup,” katanya.

Di luar, salju mulai mencair perlahan.

Dan aku tahu—apa pun yang terjadi setelah ini, tidak ada lagi jalan kembali seperti semula.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!