Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 : Kabar Dari Timur
Perjalanan pulang dari Gunung Qingyun terasa jauh lebih singkat karena mereka memacu kuda tanpa henti. Debu jalanan menempel di jubah hitam Wu Lian yang kini menyelimuti tubuh Qinqin. Sepanjang jalan, Qinqin terus mendekap bungkusan Akar Naga Putih itu seolah-olah nyawanya sendiri ada di dalam sana.
Sesampainya di kediaman, suasana tampak berbeda. Para pelayan berlarian dengan wajah pucat, Huo Lu segera menghampiri pelayan itu dan kemudian beralih menghadap Wu Lian dengan sepucuk surat berselubung lilin merah---tanda pesan darurat dari kekaisaran atau keluarga bangsawan tinggi.
"Jenderal, surat ini datang dari wilayah Timur dua jam yang lalu. Pembawa pesannya pingsan karena kelelahan," lapor Huo Lu singkat.
Qinqin, yang baru saja turun dari kuda dengan kaki yang masih agak kaku, langsung menyambar surat itu sebelum Wu Lian sempat menyentuhnya. Ia melihat stempel keluarga Xu.
"Hei! Itu surat untukku atau untukmu?" protes Wu Lian, namun ia tidak merebutnya kembali saat melihat wajah Qinqin yang mendadak berubah serius.
Qinqin merobek amplop itu. Isinya singkat, namun sanggup membuat darahnya mendidih:
"Xu Manchu kritis. Hak waris dan segel keluarga akan dipindahkan ke putra Nyonya Bai dalam tujuh hari. Jika kau ingin melihat ayahmu untuk terakhir kalinya, datanglah sendiri tanpa melibatkan militer Barat."
"Cih, jebakan murahan," gumam Qinqin. Ia meremas kertas itu hingga lecek. "Nyonya Bai benar-benar sudah tidak sabar ingin jadi janda kaya."
Qinqin tak menyangka bahwa Nyonya Bai akan secepat ini membunuh ayah nya.
Wu Lian merebut kertas itu dan membacanya. Alisnya bertaut. "Tujuh hari? Dengan kecepatan kuda biasa, butuh sepuluh hari untuk sampai ke Timur. Ini bukan sekadar surat. Ini pengumuman kematian."
"Tidak kalau aku yang berangkat," sahut Qinqin mantap. Ia menatap Wu Lian dengan tatapan yang menantang. "Jenderal, kau bilang kau punya kuda tercepat di kandangmu, kan? Aku pinjam satu. Dan aku butuh kau memberikan izin padaku untuk pergi sekarang juga."
Wu Lian menatap Qinqin dengan tajam. "Kau baru saja turun dari gunung, tubuhmu memar, tanganmu terluka. Kau pikir kau bisa bertahan menempuh perjalanan ribuan mil sendirian?"
Qinqin maju satu langkah, menepuk dada baju zirah Wu Lian. "Jenderal, dengerin ya. Aku sudah melewati tebing jiwa yang isinya hantu-hantu galak. Masa cuma lawan ibu tiri yang hobi dandan aku harus takut? Aku akan berangkat, dengan atau tanpa izinmu."
Melihat kekerasan kepala istrinya, Wu Lian menghela napas panjang. Ia berbalik ke arah Huo Lu. "Siapkan dua kuda Windchaser. Dan siapkan satu unit pasukan bayangan untuk mengikuti dari jarak aman. Kita berangkat dalam satu jam."
Qinqin tertegun. "Kita? Maksudmu... kau ikut?"
Wu Lian menoleh, senyum tipis---hampir tak terlihat---muncul di wajahnya yang kaku. "Aku punya urusan militer yang harus diperiksa di perbatasan Timur. Lagipula, jika aku membiarkanmu pergi sendiri dan kau mati, siapa yang akan mengacaukan dapurku setiap pagi?"
Qinqin tertawa lepas, rasa tegangnya sedikit berkurang. "Modus ya? Bilang saja kau takut rindu padaku, Jenderal."
***
Sebelum berangkat, Qinqin menyempatkan diri masuk ke dapur. Ia mengambil ramuan "Bunga Pemutus Mimpi" yang tersisa dan memberikannya kepada Xue.
"Xue, selama aku pergi, pastikan Ibu mertua tetap 'bermimpi indah' setiap malam. Tapi kurangi dosisnya, aku tidak mau dia gila sebelum aku pulang," perintah Qinqin sambil mengedipkan mata.
"Nona... tolong berhati-hatilah. Timur adalah tempat yang kejam," bisik Xue penuh kekhawatiran.
"Tenang saja, Xue. Aku akan membawa Ayah kembali ke sini, atau aku yang akan mengambil alih seluruh kekayaan keluarga Xu di sana. Jaga dirimu baik-baik."
Satu jam kemudian, gerbang Kediaman Jenderal terbuka lebar. Wu Lian dan Qinqin melesat keluar bagaikan dua bayangan hitam di bawah sinar bulan. Qinqin merasakan angin menerpa wajahnya. Ia memegang kendali kuda dengan mantap, belati perak di pinggangnya berkilat.
Nyonya Bai, siapkan teh terbaikmu, batin Qinqin. Karena Xu Qinqin yang sekarang tidak akan datang untuk menangis, tapi untuk merobohkan singgasana plastikmu.
Di tengah perjalanan, Wu Lian yang memacu kuda di sampingnya berteriak melawan angin, "Kenapa kau tersenyum? Kita sedang menuju bahaya!"
Qinqin menoleh, rambut emasnya berkibar indah. "Karena menurutku, menghancurkan rencana penjahat itu jauh lebih seru daripada cuma duduk diam di paviliun, Jenderal!"
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂