NovelToon NovelToon
Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Anime / Harem / Action / Romantis / Fantasi
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Hutan di sekitar terasa semakin sunyi, seolah seluruh makhluk hidup menahan napas. Angin berhembus pelan, membawa aroma besi yang menusuk hidung, pertanda bahaya yang semakin dekat.

Langkah Wakasa terhenti lebih dulu. Matanya menyipit, menatap lurus ke depan.

“Berhenti…,” ucapnya pelan namun tegas.

Di kejauhan, di balik kabut tipis yang bergulung di antara pepohonan, tampak sebuah sosok raksasa. Awalnya hanya bayangan gelap yang samar, namun setiap langkah yang mereka ambil membuat wujud itu semakin jelas. Tanah bergetar perlahan, dedaunan berguguran, dan suara napas berat menggema seperti dentuman genderang perang.

“Itu… besar sekali,” bisik Diana, senyum usilnya lenyap untuk pertama kalinya.

Kabut terbelah, dan muncullah Spinokiller.

Tubuh monster itu menjulang seperti menara, menyerupai spinosaurus raksasa dengan sisik keras berlapis duri tajam. Aura merah pekat menyelimuti seluruh tubuhnya, berdenyut seperti api yang hidup, membuat udara di sekitarnya bergetar dan terasa panas. Matanya menyala merah darah, menatap mereka seakan mangsa yang tak mungkin lolos.

Starla tanpa sadar merapat ke sisi Wakasa, jemarinya mencengkeram ujung mantel pria itu.

“Jadi… inikah target misi peringkat A kita,” katanya, berusaha terdengar tenang meski suaranya sedikit bergetar.

Wakasa melangkah setengah langkah ke depan, posisinya jelas melindungi Starla. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.

“Tenang saja,” ujarnya pelan, “selama aku di sini, aku tidak akan membiarkan apa pun menyentuhmu.”

Diana melirik mereka berdua dan terkekeh kecil meski keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Romantisnya nanti saja, ya. Sepertinya si merah besar itu mulai tidak sabar.”

Seolah memahami ucapan Diana, Spinokiller mengangkat kepalanya dan mengeluarkan raungan mengerikan yang mengguncang hutan. Aura merahnya meledak lebih kuat, membuat tanah retak di bawah kakinya.

Diana kembali melangkah maju, pedangnya terhunus rendah, ujung bilahnya menggores tanah dan memercikkan bunga api kecil. Aura merah Spinokiller memantul di permukaan pedang itu, membuat bayangannya tampak bergoyang liar. Tanpa ragu, Diana mempercepat langkahnya, seolah seluruh dunia di sekitarnya tak lagi berarti.

“DIANA! HENTI!” teriak Wakasa keras, suaranya memecah kesunyian hutan.

Namun teriakan itu terlambat. Starla hanya bisa terpaku, napasnya tercekat ketika jarak Diana dan Spinokiller tinggal beberapa langkah lagi. Tekanan aura monster itu begitu kuat hingga membuat lututnya hampir gemetar.

Spinokiller mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Rahangnya terbuka lebar, dan cahaya merah menyala di dalam mulutnya. Aura di sekeliling tubuhnya tersedot masuk, berputar semakin cepat hingga membentuk sebuah bola api raksasa yang berdenyut ganas.

“Tidak mungkin…” bisik Diana, matanya membelalak.

Bola api itu ditembakkan.

Udara meledak oleh suara gemuruh. Panas membakar kulit, pepohonan di jalur serangan langsung hangus. Diana berdiri terpaku, nalurinya menjerit untuk bergerak, tetapi tubuhnya menolak—ia hanya bisa menatap kematian yang melaju lurus ke arahnya.

Dalam sepersekian detik—

Wakasa muncul di sisinya.

Dengan satu gerakan cepat, ia meraih Diana dan menariknya mundur. Tubuh mereka melesat kembali ke arah Starla, tepat saat bola api menghantam tanah di tempat Diana berdiri sebelumnya.

“Duarr—!!”

Ledakan besar mengguncang hutan. Gelombang kejut menyapu segalanya, tanah terangkat, api dan asap membumbung tinggi. Starla refleks menutup wajahnya, gaunnya berkibar diterpa angin panas.

Wakasa menjejakkan kakinya kuat-kuat di tanah. Matanya menyala tegas.

“Skill aktif… Seven Layer of Protection!”

Di hadapan mereka, tujuh lapisan penghalang cahaya muncul berurutan—satu demi satu—membentuk dinding transparan berkilau. Ledakan api menghantam lapisan pertama dan pecah, namun sisanya segera menyusul. Setiap lapisan retak, bergetar, lalu hancur, tetapi kekuatannya terus teredam hingga akhirnya lapisan ketujuh menahan sisa ledakan itu sepenuhnya.

Asap perlahan menghilang.

Starla menatap Wakasa dengan mata bergetar, campuran kagum dan cemas.

“Kau… kau menyelamatkan kami…”

Diana terdiam, menggenggam pedangnya lebih erat, wajahnya kali ini tanpa senyum.

“Maaf… aku terlalu ceroboh.”

Di kejauhan, Spinokiller kembali menggeram, matanya menyala lebih terang dari sebelumnya. Aura merahnya bergolak, menandakan amarah yang belum terlampiaskan.

Wakasa melangkah ke depan, berdiri tegak di antara kedua rekannya dan monster itu.

“Mulai sekarang,” katanya dingin namun penuh tekad, “tidak ada yang maju sendirian. Kita hadapi ini bersama"

“Starla, gunakan sihirmu untuk menyerangnya,” ucap Wakasa dengan nada tegas namun terukur. “Diana, kau maju setelah aku mengikat monster itu.”

Diana dan Starla saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk bersamaan.

“Baik,” ucap mereka serempak.

“Ayo… kita mulai.”

Starla melangkah ke depan, rambutnya berkibar diterpa panas aura merah Spinokiller. Ia mengangkat kedua tangannya, mata birunya bersinar terang.

“Firestorm!”

Langit di atas Spinokiller seketika memerah. Pusaran api raksasa terbentuk, berputar liar sebelum menghantam tubuh monster itu dengan ledakan beruntun. Api menyambar sisik-sisiknya, mengirimkan raungan kesakitan yang mengguncang hutan.

Di saat yang sama, Wakasa menghentakkan kakinya ke tanah. Suhu di sekitar mereka turun drastis.

“Ice Chain!”

Dari tanah yang membeku, rantai-rantai es raksasa muncul dan melesat cepat, melilit kaki, tubuh, hingga lengan Spinokiller. Dengan dentuman keras, monster itu kehilangan keseimbangan dan ambruk, membuat tanah retak dan pepohonan di sekitarnya tumbang.

“Sekarang!” teriak Starla.

Namun tiba-tiba aura merah Spinokiller kembali bergolak. Meski tubuhnya terbakar dan terikat, monster itu masih hidup. Dengan raungan penuh amarah, ia memaksa rahangnya terbuka. Cahaya merah kembali terkumpul di dalam mulutnya—bola api yang sama, lebih padat dan lebih berbahaya dari sebelumnya.

“Dia masih bisa menyerang!” seru Diana.

“Belum selesai!” balas Wakasa. Dengan satu ayunan tangan, ia kembali mengaktifkan sihirnya.

“Ice Chain!”

Rantai es baru melesat cepat, langsung melilit rahang Spinokiller dan membekukannya. Mulut monster itu terkunci paksa, bola api di dalamnya padam dengan suara desis marah. Spinokiller meraung frustasi, tubuhnya memberontak, tetapi ikatan es semakin menguat.

“DIANA, SEKARANG!” teriak Wakasa.

Tanpa ragu, Diana berlari sekuat tenaga. Aura merah menyelimuti tubuh dan pedangnya, membentuk gelombang energi yang berdenyut liar. Setiap langkahnya menghantam tanah seperti dentuman perang.

Ia melompat tinggi, mengangkat pedangnya ke atas kepala.

“RED AURA SLASH!!”

Tebasan merah menyala membelah udara, memotong kabut, api, dan aura monster sekaligus. Dalam satu ayunan bersih, kepala Spinokiller terpenggal dan terlempar jauh, menghantam tanah dengan dentuman berat.

Tubuh raksasa itu terdiam.

Aura merah perlahan memudar, api padam, dan hutan kembali sunyi—terlalu sunyi.

Diana mendarat dengan napas terengah, pedangnya masih bergetar. Starla menurunkan tangannya perlahan, sementara Wakasa mengendurkan posisinya, tetap waspada beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang.

“…Selesai,” ucap Wakasa pelan.

Starla tersenyum lelah namun lega.

“Kita benar-benar berhasil.”

Diana menyeringai, menancapkan pedangnya ke tanah.

“Heh… kerja tim yang sempurna.”

Starla menurunkan bahunya perlahan, napasnya masih sedikit tersengal. Ia menatap tubuh Spinokiller yang tak lagi bergerak, lalu memalingkan wajahnya ke arah Wakasa.

“Benar-benar… sudah berakhir, ya?”

Wakasa mengangguk pelan, masih berjaga beberapa detik sebelum akhirnya menyarungkan senjatanya.

“Ya. Auranya sudah benar-benar hilang. Monster itu tidak akan bangkit lagi.”

Diana duduk di atas batu terdekat, pedangnya ia sandarkan di bahu. Ia tertawa kecil, meski keringat dan bekas jelaga masih terlihat di wajahnya.

“Hahaha… misi peringkat A memang tidak pernah mengecewakan. Tapi harus kuakui, tanpa kalian berdua, aku mungkin sudah jadi abu.”

Starla melirik Diana dengan ekspresi setengah kesal, setengah lega.

“Kau tahu betapa takutnya aku saat kau maju sendirian tadi?”

Diana menggaruk pipinya, tersenyum canggung.

“Ya… maaf soal itu. Sepertinya aku terlalu percaya diri.”

Wakasa mendekat, menatap Diana dengan serius.

“Keberanian itu penting. Tapi jangan lupa, kita bertarung sebagai tim. Jangan ulangi lagi ya.”

Diana mengangguk mantap.

“Aku janji.”

Starla tersenyum tipis melihat mereka, lalu menatap Wakasa.

“kau… selalu saja muncul di saat yang tepat ya wakasa-kun.”

Wakasa terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.

“haha ,Itu tugasku.”

Diana menyipitkan mata, senyum jahil kembali muncul.

“Oho~ tugasku hanya menebas, tapi tugasmu melindungi, ya? Romantis sekali.”

Starla langsung memalingkan wajah, pipinya sedikit memerah.

“Diana!”

Wakasa hanya menghela napas kecil, namun sorot matanya melembut.

“Ayo. Kita laporkan misi ini ke Sakura. Setelah itu… istirahat.”

Diana berdiri dan meregangkan tubuhnya.

“Setuju. Aku butuh makan besar setelah ini.”

Starla tertawa pelan.

“Setidaknya, kali ini kita pulang bersama.”

Di tengah hutan yang kembali tenang, ketiganya melangkah pergi—lelah, namun dengan ikatan yang semakin kuat setelah pertempuran itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!