- Berawal dari benci -
Akhh!
"Lo, kalau jalan pakai mata! "
"Maaf, kak "
"Ck, cewek gendut kaya lo mending pergi deh dari sini! "
" Baik ka! "
"Gendut amat sih! "
- berakhir di pelaminan -
"Apa nikah sama dia?, what! "
" Dewa bangun! "
" Akh, mama dewa ngga bisa nikah sama dia! "
" Harus bisa! "
- love 100 kg -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 4 Masa kritis
"Dewa! " Pekikan tersebut menggantung di udara. Lambat laun kedua pelupuk dewa. Tertutup hingga tidak merasakan apapun, itu hanyalah angin yang menyejukan raganya,
"Dewa! " Alex dan irsyad, langsung menghampas motor mereka. Lalu berlari ke arah dewa yang sudah tergeletak dengan. Motor nya yang sudah, Rusak mental ke dekat pohon palem tersebut. "Dewa!, bangun wa! " Alex melengkung kan punggung nya. Mengecek urat nadi lelaki tersebut, darah melumuri pelipis dan kepalanya. Irsyad menyipitkan matanya, kala melihat wanita yang tergeletak tidak jauh dari lokasi dewa terjatuh,
"Lex, ada wanita pingsan. Apakah dia korban kecelakaan juga? " Tanya irsyad membuat alex, menoleh ke arahnya. " Ya sudah, kamu Liat sana aku, mau telefon Ilona sama Bunga dulu untuk. Telefon ambulans " Sahut alex segera. Menjauh untuk menghubungi teman-teman mereka di arena balapan tersebut,
Sementara itu, di arena balapan. Ilona dan bunga misuh-misuh ketika menunggu ketiga lelaki tersebut tidak, muncul - muncul. Agatha selaku panitia balapan tersebut. Menghampiri mereka " Woi, mereka kenapa ngga dateng- dateng? Ya? "Tanya Agatha di landa kepanikan bunga menggeleng kan kepalanya. Ia mengigit jemarinya " Coba, lo bila. Tha ke ketua balapan! Lo kan Asisten nya " Sahut bunga
" Tunggu! " Agatha segera. Menghampiri ketua panita balapan. Bernama silva bunga dan Ilona hanya bisa menelan ludah pahit mereka, yang berada di tenggorokan apalagi para penonton sudah. Teriak-teriak seolah tidak terima karena keterlambatan ketiga lelaki yang balapan tersebut,
Drrrt!
"Bang, irsyad nelepon " Bunga langsung memberitahu. Agatha langsung menyambar ponsel bunga, lalu mengaktifkan loudspeaker
"𝗟𝗼 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮?, 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮 𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗯𝗮𝗹𝗶𝗸 𝗸𝗲 𝘀𝗶𝗻𝗶? " Agatha langsung mencecarnya. Dengan sebuah pertanyaan " 𝗱𝗲𝘄𝗮, 𝗸𝗲𝗰𝗲𝗹𝗮𝗸𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗸 𝘁𝗶𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗸𝗮𝘁 𝗺𝗮𝗹𝗹 . 𝗠𝗲𝗻𝗱𝗶𝗻𝗴 𝗹𝗼 𝗯𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲 𝗸𝗲𝘁𝘂𝗮 𝗽𝗮𝗻𝗶𝘁𝗶𝗮 𝘀𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗯𝗮𝘄𝗮 𝗮𝗺𝗯𝘂𝗹𝗮𝗻𝘀, 𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗱𝗲𝘄𝗮 𝗻𝗮𝗯𝗿𝗮𝗸 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗮𝗴𝗶! "
"𝗪𝗵𝗮𝘁, 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗯𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗲𝘄𝗮 𝗻𝗮𝗯𝗿𝗮𝗸? "cecar bunga dengan suara, di landa kepanikan " 𝗣𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴, 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗻𝗴𝗮. 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝘀𝘁𝗶 𝗸𝗿𝗶𝘁𝗶𝘀 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗮𝗮𝗻 dewa"cetus alex
"𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗯𝗮𝗸𝗮𝗹 𝗱𝗮𝘁𝗲𝗻𝗴, 𝗹𝗼 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘁𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗱𝗶𝘀𝗮𝗻𝗮! " Ujar ketua panitia balapan. Lalu irsyad mematikan telefon nya,
Irsyad, berjalan menuju wanita berbobot besar yang pingsan tersebut. Ia menghela napas kala melihat pelupuk mata, tersebut tertutup
"Mbak!, mbak!.. Bangun mbak! " Irsyad dengan ragu, Menggoyangkan tubuh wanita tersebut. Namun tidak membuka matanya, "mbak! " Panggil irsyad berusaha membangunkan, wanita tersebut namun tidak membuka matanya. Dengan ragu Irsyad mengecek urat nadinya, " Normal" Gumam irsyad,
Wiue.. Wiue.. Wiuee...
"Dewa, kenapa kamu bisa seperti ini nak? Kenapa? " Jerit hana ketika mendapatkan kabar sang anak, di larikan ke rumah sakit ia mendorong-dorong brankar. Sang anak lalu brankar tersebut masuk, ke ruangan UGD semuanya terdiam wajahnya bersimbah peluh ketika melihat teman mereka. Masuk UGD
"Tante, aku tahu.. Ini berat tapi, aku yakin bang dewa akan baik-baik saja! " Ujar bunga menenangkan ia mengusap punggung. Hana membuat hanya tersenyum hambar, matanya memerah "sayang, kamu benar Dewa akan baik-baik saja! " Sahutnya dengan suara parau
"Kita duduk, ya tante! " Ajak agatha seraya, merangkul bahu hana. Menyuruh nya duduk Ilona menggeser tempat duduk nya, jadi ke dekat alex " Sebenarnya, dewa kenapa sih? Kenapa dia bisa celaka kaya gini? "Tanya Ilona dengan suara pelan takut kedengar oleh Hana,
Alex, menghela napas lalu menyeka peluh yang membajiri wajah tampannya. " Gue, ngga tahu .. Gue sama irsyad datang. Dia udah kaya gini" Sahut alex dengan suara berat bunga bergetar tangannya. Ruangan UGD adalah ruangan kiamat baginya, "aku ke toilet dulu ya! " Pamit bunga beranjak dari duduknya.
"Tante, aku susul bunga dulu! " Agatha bangkit dari duduknya. Alex yang melihat itu langsung bangkit, ia menghalangi jalan bunga yang akan pergi, " Gue tau, lo ngga bisa liat itu semua nga. Sabar dewa akaan baik-baik aja! " Bisik alex bunga mengigit bibirnya, tampangnya sangat gelisah Agatha mengusap pelan tubuh gadis itu bergetar. "Nga, it's okay! "
"Guys, i'm fine okay!. Gue ke toilet bentar ya! " Bunga mempercepat langkahnya. Yang terasa berat sekali namun mereka, sangatlah tahu kalau di balik perkataan bunga. Tersimpan segala ketakutan gadis tersebut,
" Aura, ya tuhan... Kamu ngga apa-apa sayang? "Tanya rianti sangat cemas kala. Menerima telefon dari rumah sakit, aura tersenyum ia sudah sadar dari lima menit yang lalu. " Ma aku, ngga apa-apa kok. Hanya kaget aja tadi" Sahut aura dengan sebuah senyuman hangat.
Rianti, menghela napas panjang mendengarnya " Sayang. Mama sangat khawatir sekali, kala dengar kamu masuk rumah sakit sayang ! " Rianti memeluk sang anak dengan penuh kasih sayang,
"Ka, lo kenapa bisa ke di larikan ke rumah sakit sih? " Tanya Aira yang sedari tadi. Ada di ruang rawat tersebut, " Hm, tadi gue ngga liat-liat pas nyebrang ada balapan liar. Mau nabrak gue untungnya, pembalap itu banting stang ke kanan sampe gue ngga kena" Jelas aura
"Alhamdulillah, tuhan masih sayang sama kamu sayang!. Mama benar-benar mau minta maaf sama keluarga yang terkena musibah, untung dia banting stang ke arah lain. Kalau tidak pasti terjadi sesuatu sama kamu" Ujar rianti dengan suara penuh kasih sayang.
"Ngapain, sih ma kan salah dia ngapain balapan hampir kena ka aura loh! " Cetus aira tidak terima "heh!, kamu tidak boleh kayak gitu aira!. Bagaimanapun orang itu telah baik, sama kaka! " Tegur aura aira hanya, menyengir kuda mendengarnya.