NovelToon NovelToon
Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.

Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.

*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Naura yang Mencoba Berjuang

Pagi itu Naura bangun dengan tekad berbeda. Dia menatap pantulan dirinya dicermin, mata bengkak abis nangis semalam, rambut berantakan, wajah pucat, dia terlihat kayak mayat hidup.

Tapi hari ini dia mau berubah.

Ini suaminya kan, meski cuma kontrak tapi secara legal Nathan masih suami Naura untuk dua tahun kedepan, dia gabisa nyerah gampang aja, gabisa biarkan Mahira ngerebut Nathan tanpa perlawanan.

"Aku harus berjuang" Naura berbisik pada bayangannya sendiri, "Aku gabisa nyerah, belum saatnya."

Naura ngabisin waktu dua jam buat bersiap, dia makeup dengan lebih hati hati dari biasanya, pake foundation yang bagus supaya wajah pucatnya ketutupin, eyeshadow coklat natural yang bikin matanya terlihat lebih hidup meski dalemnya mati, lipstick pink muda yang bikin bibir terlihat seger.

Rambut dia keritingkan sedikit pake catokan biar ga lurus gitu gitu aja, pake dress cream yang simple tapi elegan, yang bikin tubuhnya keliatan lebih berisi meski sebenernya dia udah kurus banget karena jarang makan.

Pas turun ke bawah, Bi Ijah sampe kaget liatnya.

"Nyonya.. Nyonya cantik sekali hari ini!"

Naura tersenyum tipis, "Makasih Bi."

"Mau kemana Nyonya?"

"Ga kemana mana Bi, cuma.. cuma pengen dandan aja.." Naura duduk dimeja makan, Nathan belom turun, biasanya Nathan turun jam tujuh.

Jam tujuh lewat sepuluh menit Nathan turun dengan kemeja biru navy dan celana bahan hitam, rambut rapi kesamping wangi cologne menyebar saat dia lewat.

Nathan berhenti sebentar pas liat Naura, matanya ngeliatin Naura dari atas ke bawah, ada sesuatu diekspresinya tapi cepet hilang

"Kamu.. kamu mau kemana?" Nathan bertanya, pertama kalinya dia inisiatif nanya?

Jantung Naura berdebar, "Ga kemana mana, cuma.. cuma dirumah aja kok."

Nathan ngangguk pelan terus duduk dimeja makan, jauh dari Naura kayak biasa.

Mereka sarapan dalam diam, Nathan baca koran sambil makan roti panggang, Naura cuma ngaduk aduk oatmealnya tanpa dimakan.

"Nathan.." Naura memberanikan diri, "Malem ini.. malem ini aku mau masak buat kamu, kamu pulang ya?"

Nathan ngangkat muka dari koran, menatap Naura dengan tatapan yang sulit dibaca "Aku ada meeting sampe malem."

"Jam berapa selesainya? aku bisa tunggu kok."

"Naura.." Nathan mendesah panjang, "Ga usah repot repot, aku pasti makan diluar."

"Tapi Nathan aku pengen."

"Aku bilang ga usah" Nathan motong tegas, dia bangkit dari kursi "Aku berangkat."

Dan Nathan pergi ninggalin Naura yang masih duduk disitu dengan oatmeal yang udah dingin dan hati yang makin remuk.

Tapi Naura ga menyerah.

***

Siang itu Naura pergi ke supermarket besar yang fancy, yang biasa dikunjungin orang orang kaya, dia beli bahan bahan makanan premium, daging sapi import buat steak, sayuran organik, bumbu bumbu mahal.

Bi Ijah nemenin Naura belanja sambil sesekali menyarankan ini itu "Tuan Nathan suka daging yang medium rare Nyonya, jangan terlalu mateng."

"Oke Bi, aku catat" Naura nulis semua saran Bi Ijah dibuku kecil.

Sampe rumah Naura langsung masuk dapur, mulai masak dari jam dua siang, dia masak steak dengan mashed potato dan salad sayur, plus sup krim jamur kesukaan Nathan yang Bi Ijah bilang Nathan suka banget waktu masih kecil.

Naura ga jago masak, tangannya berkali kali keiris pisau, jarinya kepanasan kena kompor, dapur berantakan kemana mana tapi dia ga peduli.

Yang penting dia bisa bikin Nathan senang, bisa bikin Nathan liat usahanya, bisa bikin Nathan.. liat Naura.

Jam tujuh malem semua makanan udah siap, Naura nata dimeja makan dengan cantik, pake taplak meja putih bersih, lilin lilin kecil dimeja, piring dan gelas kristal yang bagus.

Keliatan romantis, kayak dinner date beneran.

Naura duduk dimeja sambil nunggu, jam tujuh lewat tiga puluh Nathan belum pulang, jam delapan belum juga, jam sembilan masih belum.

Naura kirim pesan: "Nathan kamu pulang jam berapa? makanan udah siap."

Ga dibalas.

Naura nelpon, ga diangkat.

Jam sepuluh Naura masih nunggu, makanannya udah dingin, lilin lilin udah setengah meleleh, tapi dia masih nunggu.

Jam sebelas Nathan akhirnya pulang.

Naura langsung berdiri, senyum lebar meski matanya udah ngantuk banget "Nathan! akhirnya pulang! aku udah masakin."

Nathan lirik meja makan yang penuh makanan, ekspresinya.. datar "Aku udah makan diluar Naura."

Senyum Naura memudar, "Tapi.. tapi aku udah masak dari siang Nathan, aku masak steak kesukaan kamu, ada sup krim jamur juga."

"Aku bilang kan tadi pagi ga usah repot repot" Nathan melepaskan dasinya "Aku capek, aku mau tidur."

"Nathan tunggu.." Naura ngejar Nathan yang udah mau naek tangga "Coba aja dulu, sesuap aja, please."

Nathan berhenti, berbalik menatap Naura dengan tatapan lelah "Naura aku bener bener capek, aku gabisa makan lagi, perutku udah kenyang."

"Tapi Nathan."

"SUDAH!" Nathan naikin suaranya "Berhenti maksa aku! aku ga minta kamu masak! aku ga minta kamu tunggu! kenapa kamu ga ngerti ngerti?!"

Air mata Naura langsung jatuh, "Aku cuma pengen bikin kamu seneng."

"Kamu gabisa bikin aku seneng Naura, kamu gabisa ganti posisi dia, jadi berhenti coba coba kayak gini, capek lihatnya." Nathan bilang kejam terus naik ke atas, masuk kamar dan tutup pintu.

Naura berdiri sendirian ditangga, nangis sambil tangan nutup mulut.

Bi Ijah keluar dari dapur, matanya berkaca kaca liat Naura "Nyonya." suaranya lembut.

Naura berbalik, masih nangis "Bi, aku gagal ya."

Bi Ijah meluk Naura, mengelus punggungnya pelan "Nyonya udah berusaha, Nyonya udah coba yang terbaik."

"Tapi dia ga appreciate sama sekali Bi, dia bahkan ga mau nyoba makanan yang udah aku masak berjam jam." Naura nangis dipundak Bi Ijah.

"Tuan Nathan lagi bingung Nyonya, dia."

"Dia masih cinta sama Mahira, aku tau Bi, aku tau tapi aku tetep berharap, aku tetep bodohnya berharap dia bisa lihat aku." Naura tersedu-sedu.

Mereka berdiri disitu beberapa menit, Bi Ijah membiarkan Naura nangis sampe puas.

Setelah tangisannya mereda, Naura ngelap air matanya "Bi.. buang aja semua makanan ini."

"Tapi Nyonya sayang, ini masih bagus, Nyonya kerja keras."

"Buang Bi," Naura bilang tegas sambil menatap meja makan yang penuh makanan "Aku ga mau liat lagi, ngingetin aku betapa bodohnya aku."

Bi Ijah mengangguk sedih, mulai beresin meja makan sementara Naura naik ke kamar.

Dikamer Naura ngeliat pantulan dirinya dicermin lagi, makeup yang tadi pagi dia usahain berjam jam sekarang luntur karena nangis, dress creamnya ada noda saus tomat dari masak tadi, rambutnya udah ga rapi lagi.

Dia terlihat seperti badut.

Badut yang berusaha menghibur penonton yang ga peduli.

Naura melepas dress itu, melempar sembarangan ke lantai, makeup dihapus kasar sampe wajahnya merah, rambut diiket asal asalan.

Terus berbaring dikasur sambil ngeliatin langit langit kamar yang putih bersih tapi terasa dingin banget.

"Kenapa aku masih berusaha?" dia berbisik sendiri "Kenapa aku masih berharap dia bakal lihat aku? Nathan udah bilang berkali kali dia gak akan pernah cinta sama aku, kenapa aku keras kepala?"

Tapi hati Naura ga bisa dikontrol pake logika.

Cinta ga pernah rasional.

Cinta itu bodoh, egois, keras kepala.

Dan Naura.. Naura udah terlanjur cinta sama Nathan, terlanjur dalam, terlanjur sakit.

Air matanya ngalir lagi, kali ini dalam diam, ga ada isakan, ga ada suara, cuma air mata yang terus mengalir membasahi bantal.

***

Hari hari berikutnya Naura masih mencoba dengan cara lain.

Dia bangun lebih pagi, nyiapin sarapan Nathan sendiri, nulis catatan kecil manis diatas piring Nathan "Semangat kerja hari ini!" dengan gambar hati kecil.

Nathan baca catetan itu, wajahnya ga berubah, terus dia makan dalam diam tanpa komentar apapun.

Naura coba tunggu Nathan pulang dengan teh hangat dan cemilan favorit Nathan yang Bi Ijah kasih tau.

Nathan terima tehnya, minum sedikit, terus naik ke kamar tanpa ngomong makasih.

Naura coba ajak Nathan nonton film bareng diruang home theater yang ga pernah dipake.

Nathan bilang dia ada kerjaan, gak bisa.

Setiap usaha Naura ditolak dengan halus tapi menyakitkan.

Setiap harapan Naura hancur satu persatu.

Sampai akhirnya seminggu kemudian, Naura capek.

Capek berusaha sendirian.

Capek berharap sendirian.

Capek jatuh cinta sendirian.

Pagi itu dia ga dandan cantik lagi, ga masak sarapan istimewa, ga nulis catetan manis.

Dia cuma bangun, mandi seadanya, pake kaos dan celana jeans biasa, turun sarapan dengan oatmeal polos.

Nathan turun dan liat Naura yang udah beda dari seminggu kemarin, tapi dia ga komen apa apa, mungkin dia lebih suka Naura yang kayak gini, yang ga berusaha, yang ga berharap.

Mereka sarapan dalam diam seperti biasa

Dan kehidupan kembali ke rutinitas yang menyakitkan.

Nathan pergi pagi pulang larut.

Naura sendirian dirumah besar yang dingin.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada kehangatan.

Hanya dua orang asing yang kebetulan tinggal dibawah atap yang sama.

Malam itu Naura duduk dibalkon kamarnya sambil memeluk lutut, menatap bintang bintang dilangit yang berkilauan.

"Ibu pernah bilang, kalau kita berusaha keras, hasilnya pasti baik" Naura berbisik pada bintang bintang itu "Tapi kenapa usaha aku ga pernah cukup? kenapa cinta aku ga pernah dilihat?"

Bintang ga jawab, cuma diam berkilau ditempat mereka

Sama kayak hati Naura yang perlahan mati.

Kehilangan cahaya.

Kehilangan harapan.

Kehilangan segalanya.

1
Masitoh Masitoh
semoga Naura baik2 saja..pergi mulakan hidup baru..buat nathan menyesal
Leoruna: jangan bertahan dengan laki2 seperti Nathan ya kak🤭
total 1 replies
kalea rizuky
pergi jauh naura
Esma Sihombing
cerita kehidupan yg sangat menarik
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
Fitri Yani
pergi aza Naura untuk menjaga kewarasan mu,dan bayi mu, buat Nathan menyesal
kalea rizuky
minta cerai aja dan pergi jauh biarkan penghianat bersatu nanti jg karma Tuhan yg berjalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!