NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Ketika Obsesi Berubah Menjadi Aksi

Mobil hitam melaju menembus gerbang besar dengan ukiran besi mewah, memasuki halaman luas yang dipenuhi taman geometris sempurna tidak ada satu helai rumput pun yang berani tumbuh miring.

Mansion itu berdiri megah di tengah, tiga lantai dengan arsitektur modern minimalis, jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya bulan. Rumah yang terlalu besar untuk satu orang. Rumah yang terlalu sunyi untuk disebut rumah.

Arkan turun dari mobil dengan langkah berat jas sudah ia lepas sejak di perjalanan, lengan kemejanya digulung hingga siku, tatapannya kosong.

Bagas yang mengikuti di belakang membawa tas kerja Arkan dengan ekspresi hati-hati seperti sedang berjalan di ladang ranjau. Pintu mansion terbuka otomatis. Arkan masuk tanpa menoleh ke kanan atau kiri, langsung menuju ruang kerjanya di lantai dua.

Bagas mengikuti dengan langkah lebih pelan.

Begitu sampai di ruang kerja ruangan luas dengan rak buku dari lantai hingga plafon, meja kayu jati besar, dan jendela menghadap ke taman belakang Arkan langsung berjalan ke meja bar di sudut ruangan, menuang whisky ke gelas kristal tanpa es.

Bagas berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk lebih jauh.

"Pak…" panggilnya pelan.

Arkan meneguk whisky-nya dalam satu tegukan lalu menuang lagi. "Bicara."

Bagas menarik napas. "Apakah… Bapak ingin saya siapkan sesuatu? Makan malam? Atau..."

"Aku tidak lapar."

"Baik. Kalau begitu… saya permisi dulu, Pak. Kalau ada yang dibutuhkan "

"Bagas."

Bagas berhenti. "Ya, Pak?"

Arkan menatap gelas whisky di tangannya tidak mengangkat kepala. "Kau tadi dengar… apa yang Yura bilang?"

Bagas terdiam sejenak. "…tentang Inspektur Adrian?"

Arkan tersenyum tipis pahit. "Dia bilang… Adrian adalah tunangannya."

Bagas tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk pelan.

Arkan akhirnya mengangkat kepala menatap Bagas dengan tatapan gelap, penuh kemarahan yang tertahan.

"Kau percaya?" tanyanya pelan.

Bagas menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Itu… pasti hanya..."

"Akal-akalan," potong Arkan dingin. "Dia hanya… mencari alasan agar aku menjauh."

Arkan berjalan ke jendela besar, menatap taman belakang yang gelap.

"Tapi… entah itu bohong atau bukan…" lanjutnya pelan, suaranya bergetar antara marah dan sakit. "…aku tidak tahan melihatnya bersama pria itu."

Bagas terdiam tidak berani bicara.

Arkan meneguk whisky-nya lagi, lalu menatap langit malam dengan tatapan kosong.

"Aku sudah menunggu terlalu lama, Bagas," ucapnya pelan. "Aku sudah mencoba… dengan cara halus. Aku datang ke tokonya. Aku ngobrol. Aku cerita soal masa laluku. Aku bahkan… memperlihatkan sisi lemahku."

Ia menutup matanya sejenak menarik napas dalam.

"Tapi dia tetap tidak mau melihatku. Dia tetap… lari."

Ia membuka matanya tatapannya semakin gelap.

"Dan sekarang… dia bahkan bilang dia punya tunangan. Pria yang sama yang selalu menghalangiku. Pria yang sama yang membuatnya merasa… aman."

Arkan berbalik menatap Bagas dengan tatapan penuh tekad.

"Aku tidak akan menunggu lagi."

Bagas menegang. "Pak… maksud Bapak…?"

Arkan berjalan ke mejanya, membuka laptop dengan gerakan cepat.

"Kau sudah mulai selidiki Adrian?" tanyanya tanpa menatap Bagas.

Bagas mengangguk cepat. "Sudah, Pak. Tim investigasi sedang bekerja. Besok pagi hasilnya akan siap."

"Bagus." Arkan duduk di kursinya, menatap layar laptop dengan ekspresi serius. "Aku mau tahu semua tentang dia. Kelemahan. Rahasia. Apapun yang bisa aku gunakan."

Bagas terdiam lalu bicara hati-hati. "Pak… kalau boleh saya bertanya… apa rencana Bapak selanjutnya?"

Arkan tidak langsung menjawab. Ia menatap layar laptop di sana, ada foto Yura yang ia ambil diam-diam beberapa hari lalu.

"Aku akan singkirkan Adrian dari hidupnya," ucapnya pelan tapi tegas. "Dengan cara apapun."

Bagas menelan ludah. "Dan… setelah itu, Pak?"

Arkan tersenyum tipis dingin, penuh kepastian.

"Setelah itu… dia tidak akan punya pilihan lain selain menerimaku."

Di Apartemen Yura ...

Malam itu, Adrian mengantarkan Yura pulang lalu meminta izin masuk sebentar untuk memastikan Yura baik-baik saja.

Yura duduk di sofa dengan selimut di bahu, menatap kosong ke depan. Adrian duduk di sampingnya dengan segelas air hangat di tangan.

"Yura," panggil Adrian pelan. "Minum dulu. Kamu belum minum apapun dari tadi."

Yura menerima gelas itu dengan tangan gemetar lalu minum sedikit.

Adrian menatapnya dengan ekspresi khawatir. "Kamu… yakin kamu baik-baik aja?"

Yura mengangguk pelan tapi matanya kosong. "Iya… aku… aku cuma lelah."

Adrian tidak percaya. Tapi ia tidak memaksa.

Keheningan jatuh di antara mereka hanya suara jam dinding yang berdetik pelan.

Lalu Yura bicara suaranya pelan, hampir berbisik.

"Adi… aku… aku minta maaf."

Adrian mengerutkan dahi. "Maaf? Buat apa?"

Yura menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku… aku bilang kamu tunangan aku tanpa izin kamu. Aku tau itu… egois. Aku cuma… aku panik. Aku tidak tahu harus bilang apa lagi."

Adrian tersenyum lembut lalu meraih tangan Yura dengan hati-hati.

"Yura… aku udah bilang tadi. Aku nggak keberatan. Malah… aku senang."

Yura menatapnya bingung.

Adrian menarik napas. "Tadi pagi aku bilang aku suka sama kamu. Dan itu bukan main-main. Aku… beneran suka sama kamu. Udah lama."

Yura terdiam dadanya sesak.

Adrian melanjutkan. "Jadi… kalau dengan jadi 'tunangan palsu' aku bisa lindungi kamu… aku rela. Bahkan kalau itu artinya… aku harus pura-pura jadi pacar kamu di depan Arkan."

Yura menatapnya lama lalu air matanya jatuh.

"Adi… kamu… terlalu baik sama aku," bisiknya pelan. "Aku… aku nggak pantas."

Adrian menggelengkan kepala cepat. "Jangan bilang gitu. Kamu pantas. Kamu pantas dapet yang terbaik. Dan aku… aku mau jadi orang yang bisa kasih itu."

Yura menangis lalu memeluk Adrian dengan erat.

Adrian memeluknya balik lembut, hangat.

"Kita akan hadapi ini bareng-bareng," bisik Adrian. "Aku janji."

Yura mengangguk pelan masih menangis di pelukan Adrian.

Tapi yang tidak mereka tahu…

Di luar apartemen, sebuah mobil hitam parkir di seberang jalan.

Dan Arkan… duduk di kursi belakang, menatap jendela apartemen Yura dengan tatapan gelap penuh kemarahan, penuh obsesi.

Ia melihat bayangan dua orang di dalam berpelukan.

Dan sesuatu di dalam dirinya… hancur.

Tangannya mengepal erat begitu erat sampai kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya.

"Kau pikir dengan berpelukan dengan dia… aku akan menyerah?" bisiknya pelan penuh amarah. "Kau salah besar, Yura."

Ia mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan ke Bagas:

Arkan:

Percepat investigasi Adrian. Aku butuh hasilnya besok pagi. Dan siapkan Rencana B.

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

Bagas:

Baik, Pak. Akan saya kerjakan malam ini.

Arkan memasukkan ponselnya kembali lalu menatap jendela apartemen Yura lagi dengan senyum dingin.

"Nikmati malam ini, Inspektur Adrian," bisiknya pelan penuh ancaman. "Karena ini… akan jadi malam terakhirmu bersama dia."

Keesokan Pagi Kantor Arkan...

Pagi itu, Arkan sudah duduk di ruang kerjanya sejak jam 6 pagi tidak tidur semalaman.

Di mejanya, ada tumpukan dokumen hasil investigasi tentang Adrian.

Bagas berdiri di depan meja dengan ekspresi serius mata sedikit merah karena begadang.

"Pak… ini hasil investigasi lengkap tentang Inspektur Adrian Mahesa," ucap Bagas sambil menyerahkan folder tebal.

Arkan membuka folder itu membaca dengan cepat.

Adrian Mahesa

Usia: 26 tahun

Pekerjaan: Inspektur Polisi Divisi Investigasi Kriminal

Status: Belum Menikah

Keluarga: Ayah (almarhum), Ibu (pensiunan guru), Adik perempuan (mahasiswa)

Arkan menggulir lebih dalam membaca riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, rekening bank.

"Tidak ada hutang. Tidak ada skandal. Tidak ada… kelemahan yang jelas," gumam Arkan pelan.

Bagas mengangguk. "Inspektur Adrian… hidup sangat bersih, Pak. Tidak ada yang bisa kita gunakan untuk… tekanan."

Arkan menutup folder itu dengan keras lalu menatap Bagas dengan tatapan dingin.

"Kalau begitu… kita buat kelemahannya sendiri."

Bagas menegang. "Pak… maksud Bapak…?"

Arkan berdiri berjalan ke jendela, menatap gedung polisi di kejauhan. "Adrian adalah polisi. Polisi yang baik. Polisi yang bersih," ucapnya pelan. "Tapi… bagaimana kalau… dia terlihat tidak bersih?"

Bagas menelan ludah. "Bapak… tidak bermaksud untuk.."

"Aku tidak akan menyakitinya secara fisik," potong Arkan cepat. "Aku hanya… akan membuat karirnya runtuh. Perlahan. Halus. Sampai dia tidak punya waktu atau kemampuan untuk melindungi Yura."

Bagas terdiam tidak tahu harus bilang apa.

Arkan berbalik menatap Bagas dengan tatapan serius.

"Hubungi orang kita di kepolisian. Aku mau… laporan palsu dibuat. Laporan yang membuat Adrian terlihat… korup. Atau… menerima suap. Apapun yang bisa merusak reputasinya."

Bagas menatap bosnya dengan ekspresi tidak percaya. "Pak… itu… itu bisa menghancurkan hidupnya."

Arkan tersenyum tipis dingin. "Aku tahu. Tapi aku tidak peduli." Ia berjalan kembali ke mejanya duduk dengan tenang. "Lakukan sekarang. Aku mau hasilnya minggu depan."

Bagas terdiam lama lalu mengangguk pelan. "…baik, Pak."

Saat Bagas keluar dari ruangan, Arkan duduk sendirian menatap foto Yura di layar laptopnya.

"Maafkan aku, Yura," bisiknya pelan penuh obsesi yang gelap. "Tapi aku tidak punya pilihan lain."

"Kalau aku tidak bisa memilikimu dengan cara baik…""Maka aku akan memilikimu… dengan cara apapun."

1
Nur Halida
ngeri ngeri sedep nih si arkan🙀
Bunga
suka
NR: Makasih banyak ya sudah baca dan suka sama ceritanya 🥺✨
Seneng banget tau kalian menikmati perjalanan Yura & Arkan.
Doain aku bisa konsisten update dan kasih cerita yang makin berasa 🤍
total 1 replies
Bunga
cerita yang menàrik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!