Blurb:
Dua belas tahun yang lalu, Jaxon Thorne memberikan segalanya, hatinya, janjinya, masa depannya pada wanita dengan sepasang mata hijau yang indah, Scarlett Reed yang merubah namanya menjadi Scarlett Quinn.
Lalu, dia terbangun di dunia yang hancur, hanya disisakan secarik surat perpisahan yang melukai hatimya.
Sejak saat itu, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Thorne itu membangun benteng kokoh di sekeliling hatinya, dingin, berkuasa, dan tak tersentuh.
Kekayaannya melimpah, tetapi kebenciannya pada pengkhianatan lebih membara dari apapun hingga dia tak percaya lagi akan cinta sejati dan suka mempermainkan wanita.
Namun, takdir berkata lain.
Semuanya berubah saat Jaxon bertemu dengan Dash Quinn, seorang bocah jenius berusia dua belas tahun pemenang olimpiade sains yang mendapat beasiswa dari perusahaannya.
Ada sesuatu pada senyum dan sorot mata anak itu yang membuat dunia Jaxon berguncang, sebuah pengingat yang tak tertahankan akan masa lalu yang dikuburnya dalam-dalam.
Semakin dekat Jaxon dengan Dash, semakin banyak fakta yang terungkap. Rahasia gelap itu akhirnya terbuka.
Penghianatan terbesar bukan berasal dari gadis sederhana yang dulu dicintainya, melainkan dari lingkaran terdekatnya sendiri, yaitu keluarganya.
Sekarang, dihadapkan pada kebenaran yang pahit, Jaxon harus memilih, tetap menjadi pewaris yang terluka seperti yang diharapkan keluarganya, atau menjadi pejuang yang mengambil kembali segala sesuatu yang telah dicuri darinya.
Sebuah perjalanan untuk menuntut balas, memperbaiki kesalahan, dan meraih keluarga yang tak pernah dia sangka bisa dimilikinya, sebelum segalanya benar-benar terlambat.
Mana yang akan dipilih Jaxon? Keluarganya yang licik atau keluarga barunya yang baru dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak Lagi
Satu jam kemudian, setelah mandi dipaksakan dan dengan bantuan Lila yang cekatan, Scarlett berdiri di depan cermin panjang.
Dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun itu pas di tubuhnya seperti dibuat khusus. Potongannya sederhana tapi memperlihatkan lekuk tulang lehernya dan bahunya yang halus.
Rok pendek yang mengembang membuat kaki langsingnya terlihat panjang. Lila telah mendandani rambutnya yang berwarna kemerahan digelung dengan elegan, dan merias wajahnya dengan riasan natural yang justru menyorot kecantikannya, mata hijaunya yang besar, tulang pipinya yang tinggi, bibir yang penuh.
*
*
Jaxon menunggu di ruang tengah. Saat Scarlett muncul, napasnya tertahan sesaat. Matanya menyapu seluruh penampilannya, dan untuk sepersekian detik, semua kemarahan, lenyap, digantikan oleh kekaguman dan kerinduan yang sangat dalam.
Tapi itu cepat disembunyikannya.
"Kau terlihat cantik," ucapnya, ragu.
Scarlett mengabaikan pujian itu. "Ayo pergi. Aku ingin cepat bertemu Dash."
*
*
Perjalanan dengan mobil mewah yang dikemudikan sopir itu sangat sunyi. Jaxon duduk di sebelahnya, tapi terasa seperti ada tembok setebal satu meter di antara mereka.
Scarlett menatap keluar jendela, melihat kegelapan.
Mereka akhirnya memasuki gerbang sebuah resort tepi danau yang eksklusif. Cahayanya temaram, jalan setapak dihiasi lampu-lampu kecil.
Suara air mancur dan musik orkestra terdengar dari kejauhan. Jaxon membawanya melewati lobi yang megah, menuju area kolam renang yang terlihat menyatu dengan danau di bawahnya.
“Dash di sini? Dengan siapa?” tanya Scarlett.
“Liam.”
“Liam? Sepupumu, kan?”
“Hmm … kau masih ingat rupanya.”
“Ck, bagaimana tidak ingat. Dulu dia menyatakan cintanya padaku saat kita berlibur ke Texas.”
Jaxon berhenti melangkah dan menoleh pada Scarlett. “What?” keningnya mengernyit.
“Dia sangat playboy, kau tahu itu. Dan dia juga melancarkan serangan playboy nya padaku.”
‘Akan kubalas kau nanti, Liam,’ batin Jaxon geram.
Lalu mereka kembali berjalan menuju ke area kolam
*
*
Suasana di sini tidak seperti area resort biasa. Ada banyak orang. Tamu-tamu berpakaian resmi berdiri dalam beberapa kelompok, berbincang dengan gelas anggur di tangan.
Bunga-bunga yang dominan warna putih menghiasi setiap tiang dan lengkungan. Ada sebuah panggung kecil di dekat tepi kolam, dipenuhi karangan bunga yang indah, dan di depannya ada sebuah podium kecil sederhana yang dihiasi kain putih dan bunga.
Jantung Scarlett berdebar kencang. Ini bukan sekadar makan malam. Ini pesta.
"Tunggu, apa yang terjadi di sini?" tanyanya, mencengkeram lengan Jaxon tanpa sadar.
Sebelum Jaxon menjawab, sebuah suara yang paling dinantikan dan paling dikhawatirkan memanggil dari kejauhan. "Mommy!"
Dash berlari menghampiri mereka, wajahnya bersinar seperti biasanya. Dia mengenakan setelan jas hitam juga dengan dasi kupu-kupu sama seperti Jaxon, rambutnya telah ditata rapi, sangat klimis. Dia langsung memeluk Scarlett erat-erat.
"Oh, Dash, mommy sangat merindukanmu," bisik Scarlett, menahan isakan, mencium kepala sang anak.
Scarlett memeriksanya dari kepala hingga kaki. "Kau baik-baik saja? Dia memperlakukanmu baik?"
"Daddy Jaxon keren, Mom! Dia mengajakku berpetualang dan—"
“Wait! Apa maksudmu memanggil dia daddy?” potong Scarlett.
“Ya, daddy mengangkatku jadi anaknya. Keren, bukan?”
“Apa??” Scarlett menoleh pada Jaxon dan menatapnya tajam.
Kemudian, dengan mata berbinar-binar, Dash mengambil sebuah kotak beludru hitam kecil dari sakunya. "Ini untukmu, Mom. Uncle Liam bilang aku yang harus memberikannya padamu."
Scarlett kembali menoleh pada Dash dan mengernyit ketika menerima kotak itu.
Scarlett menatap Jaxon lagi, yang masih terlihat datar tapi mencurigakan, lalu kembali pada Dash yang penuh harap.
Dengan ragu, dia membuka kotaknya.
Di dalamnya, di atas bantalan sutra, ada dua cincin. Sebuah cincin dengan berlian yang memukau, dan sebuah cincin polos dari platinum.
Scarlett membeku dan terpaku. "Dash ... apa ... apa ini?" tanyanya, suaranya berbisik.
"Selamat, Mom!" seru Dash, melompat-lompat kegirangan. "Mommy dan daddy akan menikah! Malam ini! Aku sangat senang akhirnya kita akan menjadi keluarga! Aku yang memilih musiknya. Dan itu adalah musik favorit mommy!"