Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Identitas yang Terkunci
Perjalanan menuju rumah Zea terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan bagi Zea. Ia terus menutupi lehernya dengan rambut dan syal tipis yang ia temukan di tasnya, sementara Antares tetap tenang di balik kemudi Tesla-nya.
"Pak—maksud aku, Antar," panggil Zea kaku. "Kenapa kamu nggak mau orang tahu kalau kamu itu Bagaskara? Kalau kamu pakai nama itu, Papa pasti bakal lebih segan. Nama keluarga kamu kan punya pengaruh besar di dunia medis dan bisnis."
Antares melirik Zea sekilas dari balik kacamata hitamnya. Rahangnya mengeras. "Saya menghabiskan sepuluh tahun untuk membangun nama saya sendiri di bidang astronomi tanpa bantuan sepeser pun dari ayah saya. Nama Bagaskara bagi mereka adalah uang, tapi bagi saya itu adalah rantai. Saya tidak mau menikahi kamu karena saya 'mampu' secara finansial sebagai pewaris, tapi karena saya bertanggung jawab sebagai pria."
Zea terdiam. Ia baru menyadari bahwa Antares yang ia kenal di kampus—dosen yang jarang ganti mobil, yang jam kerjanya lebih lama dari siapa pun, dan yang tinggal di apartemen hasil jerih payahnya sendiri—adalah pria yang sedang melarikan diri dari kemewahan yang menyesakkan.
Di Depan Gerbang Neraka
Rumah keluarga Virel tampak sunyi, tapi bagi Zea, itu adalah kesunyian sebelum badai. Begitu mereka masuk ke ruang tamu, Pak Bram sudah duduk di sana. Wajahnya merah padam, tangannya mengepal di atas meja kayu jati.
"Bagus. Berani juga kamu pulang, Zea," suara Pak Bram menggelegar. Matanya langsung tertuju pada Antares. "Dan kamu... dosen macam apa yang membawa mahasiswinya menginap di hotel?"
Zea gemetar, ia hampir saja menangis kalau Antares tidak langsung berdiri di depannya, menghalangi pandangan tajam Pak Bram.
"Saya Antares Bagaskara," ucapnya tegas. Ia sengaja tidak menyebutkan embel-embel 'putra pemilik Bagaskara Health Group'. "Saya ke sini untuk mengakui kesalahan saya dan memohon restu Bapak untuk menikahi Zea."
"Menikah?!" Pak Bram berdiri, tingginya hampir menyamai Antares. "Kamu pikir anak saya barang dagangan? Kamu sudah merusak masa depannya! Kamu tahu apa soal tanggung jawab? Kamu cuma dosen dengan gaji tetap!"
Antares tidak gentar sedikit pun. Ia mengeluarkan sebuah map berisi dokumen legal. "Saya memang 'hanya' seorang dosen dan peneliti, tapi saya memiliki tabungan pribadi dan properti yang cukup untuk menjamin Zea tetap bisa melanjutkan mimpinya sebagai arsitek tanpa kekurangan satu hal pun. Saya tidak akan membawa Zea ke dalam kemewahan keluarga saya, tapi saya menjamin dia akan hidup terhormat di samping saya."
Zea melihat ayahnya ragu. Pak Bram adalah pria yang menjunjung tinggi harga diri. Melihat Antares yang tidak menjual nama besarnya (meskipun Pak Bram mungkin curiga dengan nama belakangnya) membuat kemarahan pria tua itu sedikit mereda, berganti dengan tuntutan yang lebih berat.
"Kalau kamu memang jantan," tantang Pak Bram, "besok pagi kalian menikah secara siri dulu untuk menghalalkan apa yang sudah kamu nodai. Dan saya mau kamu tetap merahasiakan ini dari kampus sampai Zea lulus. Saya tidak mau nama baik keluarga saya hancur karena gosip murahan."
Antares mengangguk tanpa ragu. "Saya setuju. Zea akan menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya mulai besok pagi."
Zea menatap Antares dengan perasaan campur aduk. Pria ini baru saja memilih jalan tersulit: menikahinya secara rahasia, menyembunyikan identitas aslinya, dan siap menjadi "pelindung" di tengah badai yang mereka buat sendiri.
Apartemen dan Batasan yang Kabur
Setelah akad nikah siri yang sangat sederhana dan tertutup, Antares membawa Zea ke apartemennya. Apartemen yang maskulin, rapi, dan terasa "dingin"—persis seperti pemiliknya.
"Ini kamar kamu," ucap Antares sambil menaruh koper Zea di sebuah kamar luas yang pemandangannya langsung menghadap langit Jakarta.
"Terus Bapak—eh, kamu tidur di mana?" tanya Zea canggung.
Antares menatap Zea, matanya menelusuri wajah Zea yang masih tampak pucat namun cantik. Ia mendekat, mengunci Zea di antara tubuhnya dan pintu kamar. Aroma maskulin Antares kembali menyerang indra penciuman Zea, memicu memori panas semalam yang membuat kaki Zea mendadak lemas.
"Secara hukum agama, kamu istri saya, Zea. Tapi saya tahu kamu masih takut karena kejadian semalam," bisik Antares, suaranya rendah dan serak. "Saya akan memberi kamu ruang. Tapi jangan berharap saya bisa menahan diri terlalu lama kalau kamu terus menatap saya seperti itu."
Antares mengecup kening Zea dengan lembut—sebuah sentuhan green flag yang sangat kontras dengan keganasannya semalam. Namun, saat ia menjauh, Zea bisa melihat kilat posesif di mata Antares yang seolah berkata: Kamu milikku sekarang, dan tidak ada satu bintang pun di langit yang bisa mengambilmu dariku.