Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
3 Tahun Kemudian..
Lampu kristal di ballroom mewah itu kembali menjadi saksi bisu. Ini adalah pesta amal tahunan, tiga tahun setelah insiden di universitas. Kini, Queen Elara Alexandra dan Adrian Alistair telah bertransformasi menjadi dua penguasa baru di dunia bisnis. Namun, luka masa lalu dan rahasia yang mereka simpan membuat mereka harus memainkan peran paling melelahkan dalam hidup mereka, menjadi musuh bebuyutan.
Musuh Dibalik Cahaya, kekasih Dibalik Bayangan.
Queen berdiri di tengah kerumunan, mengenakan gaun sutra berwarna Hitam yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Di tangannya, segelas sampanye dipegang dengan anggun, meski matanya setajam belati saat melihat Adrian Alistair melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang memancarkan aura kegelapan yang pekat.
"Lihatlah," bisik salah satu kolega di samping Queen.
"Alistair datang. Kupikir setelah skandal saham bulan lalu, kau tidak ingin berada di satu ruangan dengannya, Queen."
Queen tersenyum tipis, senyuman yang penuh dengan racun. "Aku tidak akan membiarkan seorang Alistair mengusirku dari pestaku sendiri."
Adrian mendekat, membelah kerumunan. Saat mereka berhadapan, udara di sekitar seolah membeku. Ketegangan itu begitu nyata hingga orang-orang di sekitar menahan napas, menantikan ledakan.
"Ms. Alexandra," suara Adrian berat dan dingin, seolah tiap kata adalah serangan. "Kudengar kau baru saja kehilangan proyek di pelabuhan utara. Apakah kau butuh pinjaman? Aku punya banyak sisa untuk perusahaan yang hampir tenggelam."
Queen tertawa renyah, tawa yang merendahkan. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma sandalwood yang sangat ia rindukan. "Simpan uangmu untuk menyuap para jaksa, Adrian. Aku lebih suka bangkrut daripada menerima sepeser pun dari tangan yang berlumuran darah seperti keluargamu itu."
Adrian menyipitkan mata, rahangnya mengeras. Ia mencondongkan tubuh, berbisik tepat di telinga Queen, cukup keras untuk didengar orang terdekat. "Kau sombong sekali untuk seseorang yang ayahnya membusuk di sel besi. Hati-hati, Queen. Mahkotamu sudah miring."
Queen membalas dengan tatapan kebencian yang begitu meyakinkan, hingga Clarissa yang berdiri tak jauh dari sana tersenyum puas melihat keduanya masih saling membenci. Queen lalu berbalik dan berjalan menuju koridor belakang, menuju balkon yang sepi, meninggalkan Adrian yang menatap punggungnya dengan penuh amarah yang dibuat-buat.
Begitu pintu balkon tertutup dan Queen memastikan tidak ada kamera atau mata-mata Thomas Alistair, ia segera masuk ke dalam ruang perpustakaan pribadi yang gelap di balik koridor. Detik berikutnya, pintu itu terbuka dan sosok tinggi Adrian menerjang masuk.
Dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya bulan dari jendela, sandiwara itu runtuh.
Tanpa sepatah kata, Adrian menarik pinggang Queen dengan kasar, membenturkannya perlahan ke pintu kayu yang kokoh. Queen tidak melawan, ia justru menarik kerah jas Adrian, menghirup aroma pria itu yang telah ia tahan sejak tadi di lantai pesta.
"Kau keterlaluan menyebut soal ayahku di depan mereka," bisik Queen terengah, suaranya bukan lagi dingin, melainkan penuh gairah yang tertahan.
"Dan kau tampak sangat cantik saat membenciku tadi, Elara," jawab Adrian dengan suara parau.
Adrian menunduk, mencumbu leher Queen dengan lembut, membuat wanita itu mendongak dan mengerang pelan. Setiap sentuhan adalah kompensasi dari jarak yang harus mereka jaga di depan publik. Bibir Adrian kemudian menemukan bibir Queen—sebuah ciuman yang haus, menuntut, dan penuh kerinduan. Ini bukan lagi tentang saham atau dendam, ini adalah tentang dua jiwa yang tercekik oleh rahasia mereka sendiri.
Queen membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, tangannya merayap masuk ke rambut Adrian, menariknya lebih dekat seolah ingin menyatu. Cumbuan mereka terasa seperti pelarian yang berbahaya. Di sela-sela napas yang memburu, Adrian mencium sudut bibir Queen, lalu membisikkan kata-kata yang tidak akan pernah ia ucapkan di luar ruangan ini.
"Ayahku mulai curiga," bisik Adrian di antara cumbuan tipis di rahang Queen. "Dia bertanya kenapa aku selalu berada di tempat yang sama denganmu."
Queen menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. "Maka kita harus lebih kejam lagi besok. Aku akan menuntut perusahaanmu atas pencemaran nama baik. Itu akan membuatnya tenang."
Adrian menarik diri sedikit, menatap mata Queen yang berkaca-kaca di kegelapan. Ia mengusap bibir Queen yang sedikit bengkak akibat ciuman mereka dengan ibu jarinya. "Aku benci harus menghinamu di depan mereka, Elara. Setiap kata yang keluar dari mulutku terasa seperti duri yang menusuk jantungku sendiri."
Queen tersenyum sedih, menyentuh pipi Adrian. "Itu harga yang harus kita bayar agar kita bisa terus bertemu seperti ini, Adrian. Selama dunia menganggap kita musuh, kita aman."
Mereka kembali bertukar ciuman singkat namun dalam—sebuah janji dalam kegelapan sebelum mereka harus memakai topeng masing-masing kembali.
Beberapa menit kemudian, Queen keluar lebih dulu. Ia merapikan gaunnya, memastikan lipstiknya kembali sempurna, dan memasang kembali wajah dinginnya. Tak lama kemudian, Adrian keluar dengan ekspresi datar yang tak terbaca.
Di depan pintu utama, mereka berpapasan lagi.
"Ingat kata-kataku, Ms. Alexandra," ucap Adrian dengan suara keras yang kembali penuh kebencian. "Pertemuan kita selanjutnya akan terjadi di pengadilan."
Queen menatapnya dengan dagu terangkat, matanya memancarkan api persaingan yang sempurna. "Aku akan menunggumu di sana, Mr. Alistair. Dan kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Mereka berjalan berlawanan arah. Di mata dunia, mereka adalah dua kutub yang tak akan pernah bersatu. Namun di bawah kulit mereka, detak jantung keduanya masih berirama sama—sebuah melodi rahasia yang hanya dimiliki oleh dua musuh yang paling saling mencintai di dunia.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading😍