Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Aku?
Mendengar pertanyaan tersebut, Kanaya nyaris tersedak napasnya sendiri, pertanyaan itu begitu tiba-tiba dan dilontarkan dengan nada datar, namun dengan tatapan yang seolah mampu menguliti isi hatinya. Kanaya reflek meremas ujung lengan jaket Narendra yang kebesaran dan mencoba mencari pegangan di tengah rasa gugup yang mendera.
"Na-narendra... kenapa tiba-tiba tanya itu?" tanya Kanaya dengan suaranya yang sedikit bergetar.
"Pertanyaan itu sederhana, Kanaya. Jawabannya hanya butuh satu iya atau tidak," desak Narendra.
Narendra memajukan tubuhnya sedikit dan memperpendek jarak di antara mereka hingga aroma sandalwood dari tubuhnya kini beradu dengan aroma teh earl grey yang sudah mendingin.
Kanaya menunduk dan menghindari tatapan intens itu, "Tidak," jawab Kanaya.
Mendengar jawaban Kanaya, ketegangan di rahang Narendra tampak sedikit mengendur. Ada kilatan kepuasan yang tertangkap di matanya, ia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi dengan gerakan yang lebih rileks, namun tetap terlihat dominan.
"Bagus," gumam Narendra.
"Apanya yang bagus?" tanya Kanaya.
"Bukan apa-apa," jawab Narendra.
Narendra hanya menanggapi dengan gumaman singkat dan kembali ke mode khasnya yang irit bicara, meskipun wajahnya tetap sedatar papan tulis, ada kilatan cahaya di matanya yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya dan mengetahui tidak ada pria lain dalam hidup Kanaya memberikan rasa puas tersendiri bagi Narendra.
"Setelah ini aku ingin ke perpustakaan dekat sini," ucap Narendra.
Sikap Narendra memang tidak berubah drastis menjadi hangat atau romantis seperti pria di drama-drama, ia tetap Narendra yang kaku, dingin dan cuek.
Namun, Kanaya mulai menyadari perubahan kecil pada tindakan pria itu, saat pelayan datang membawa air mineral tambahan, Narendra langsung membukakan tutup botolnya dan meletakkannya tepat di depan Kanaya tanpa diminta.
Bahkan, ia beberapa kali menggeser posisi piring Kanaya agar lebih mudah dijangkau dan perhatian-perhatian kecil yang tanpa kata itu justru terasa lebih berbahaya bagi jantung Kanaya.
"Sudah selesai? Kita pergi ya," ucap Narendra dan diangguki Kanaya.
Setelah itu, Narendra melepaskan genggaman tangannya hanya untuk beranjak menuju kasir dam setelah menyelesaikan pembayaran tanpa membiarkan Kanaya mengeluarkan sepeser pun, ia kembali dan secara alami merangkul bahu Kanaya, membimbingnya keluar dari kafe menuju mobil.
"Ayo," ajak Narendra.
Mobil mewah itu meluncur tenang menyusuri jalanan pegunungan yang asri, tak butuh waktu lama, mereka sampai di sebuah bangunan bergaya kolonial modern, Kanaya terkesiap melihat bangunan yang tampak sangat megah dengan jendela-jendela kaca tinggi yang memperlihatkan rak-rak buku menjulang hingga ke langit-langit.
"Ini... perpustakaan baru itu? Aku sering dengar dari Arin, tapi belum sempat ke sini," gumam Kanaya kagum.
"Ayo masuk," ajak Narendra singkat sambil membukakan pintu mobil untuk Kanaya.
Begitu masuk ke dalam, aroma buku tua dan kertas baru yang khas langsung menyapa indra penciuman mereka. Narendra tidak langsung menuju rak buku medis, ia justru membawa Kanaya ke area buku sastra dan pengembangan diri.
"Pilihkan buku yang menurutmu menarik untuk dibaca di akhir pekan," pinta Narendra.
"Kenapa aku?" tanya Kanaya
"Karena seleramu biasanya lebih manusiawi daripada seleraku yang isinya hanya jurnal dan materi kedokteran," jawab Narendra jujur.
Saat Kanaya mulai menelusuri rak, Narendra berdiri tepat di belakangnya dan memberikan jarak yang sangat tipis hingga Kanaya bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu.
Setiap kali Kanaya hendak mengambil buku di rak yang agak tinggi, Narendra dengan sigap mengulurkan tangannya yang panjang dan mengambilkan buku tersebut lalu memberikannya kepada Kanaya.
"Yang ini?" tanya Narendra dengan suara rendah tepat di samping telinga Kanaya.
"I-iya," jawab Kanaya singkat.
Tangan Kanaya sedikit bergetar saat menerima buku itu, perhatian kecil Narendra seperti menjaga jarak agar orang lain tidak menyenggol Kanaya di lorong yang sempit atau sekadar merapikan rambut Kanaya yang berantakan terkena angin tadi, benar-benar membuat pertahanan hati Kanaya goyah.
Narendra yang semula fokus menatap deretan judul buku di rak tinggi, ia baru menyadari betapa dekatnya posisi mereka saat ujung hidungnya nyaris menyentuh pelipis Kanaya ketika ia menunduk untuk menyerahkan buku.
Narendra bisa mencium aroma sampo stroberi yang manis dari rambut Kanaya, berpadu dengan wangi jaket bombernya yang kini membungkus tubuh mungil gadis itu.
Suasana di lorong perpustakaan yang tadinya hanya diisi suara kertas yang dibalik, mendadak terasa begitu sunyi dan mencekam. Kanaya mematung dan menahan napas dengan buku yang masih ia dekap di dada, sementara Narendra tetap pada posisinya, satu tangannya masih bertumpu pada rak buku di belakang kepala Kanaya, seolah sedang mengurung gadis itu.
Narendra berdehem pelan, sebuah reaksi fisik yang jarang ia tunjukkan kecuali saat sedang gugup. Meskipun wajahnya tetap menunjukkan ekspresi datar dan matanya menatap tajam ke arah lain, detak jantungnya yang berdentum keras di balik kemeja polonya seolah sedang mengkhianati topeng dinginnya.
"Maaf," ucap Narendra dengan suara serak yang ia usahakan tetap terdengar cuek.
"I-iya," jawab Kanaya gugup.
Narendra menarik tangannya dan mundur selangkah dan memberi ruang bagi Kanaya untuk bernapas, Narendra berbalik membelakangi Kanaya dan pura-pura meneliti sebuah buku filsafat yang sebenarnya bahkan tidak ia baca judulnya. Tangannya yang masuk ke saku celana mengepal kuat, berusaha menekan sensasi aneh yang baru saja menyerangnya.
"Sudah? Kalau sudah, kita bayar dan pergi dari sini," ajak Narendra tanpa menoleh, langkahnya terkesan sedikit lebih cepat menuju kasir.
Setelah menyelesaikan urusan di perpustakaan dengan beberapa buku pilihan Kanaya di tangan Narendra, mereka kembali ke mobil. Namun, Narendra tidak langsung mengarahkan mobilnya pulang ke arah kos Kanaya. Narendra memutar kemudi menuju pusat kota, ke sebuah area terbuka hijau yang dikenal sebagai Taman Bunga Kota B.
Begitu mereka sampai, matahari mulai bergerak turun dan menciptakan semburat warna oranye yang cantik di langit. Taman itu sangat ramai, karena ini hari Sabtu, banyak pasangan muda-mudi yang duduk bersantai di atas rumput atau berjalan-jalan sambil bergandengan tangan.
Mereka pun duduk di kursi yang ada di taman, "Dingin?" tanya Narendra.
"Nggak kok, kan udah ada jaket dari kamu," ucap Kanaya dan diangguki Narendra.
"Besok kamu kemana?" tanya Narendra.
"Besok Minggu ya, kayaknya aku harus pergi sama Arin deh," jawab Kanaya dan tentu saja bohong.
Kanaya sebenarnya tidak memiliki jadwal, hanya saja ia terlalu gugup dan canggung untuk bertemu dengan Narendra.
"Kemana?" tanya Narendra.
"Kayaknya ke rumah Arin, dia habis putus sama pacarnya. Jadi, aku mau tenangin dia," ucap Kanaya.
"Rumahnya Arin jauh dari tempatmu?" tanya Narendra.
"Nggak terlalu sih," jawab Kanaya.
"Jam berapa perginya?" tanya Narendra.
"Jam 11 mungkin," jawab Kanaya asal dan diangguki Narendra.
.
.
.
Bersambung.....