Kehidupan Lambok yang memutuskan menduda setelah kepergian sang istri, Tiana Kartika. Dia akan fokus merawat anak-anaknya buah cinta dengan Tia.
Adik iparnya, Nindi yang belum juga menikah karena belum mendapatkan jodoh seperti keinginannya. Dia juga berat jika harus meninggalkan keponakannya.
Atala dan Twins yang tumbuh besar tanpa seorang Mama tetapi tak pernah kurang kasih sayang Mama karena Auntie Nindi yang menyayangi mereka seperti Mama.
Atala yang tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan, membuat banyak wanita yang tergila-gila padanya tak terkecuali dengan Vita yang diam-diam menyukai Kakaknya.
Terkuaknya status Atala, membuat Atala terpukul dan mulai mencari Orangtua kandungnya.
Bagaimana kisah cinta Nindi selanjutnya? Apakah dia akan mendapatkan pendamping seperti Lambok?
Bagaimana usaha Atala yang mencari orangtua kandungnya, akankah berhasil?
Seseorang yang berasal dari masa lalu akan datang lagi, Siapakah dia?
Selamat membaca novel edisi kedua dari 🌷"Derita, Akankah Berakhir?"🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Fath, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Pernikahan Nindi
"Bisa tolong dijelaskan Kakakku tersayang?" Nindi sedikit kesal dengan Lambok.
"Aku tanya, Kamu mau nikah sama Marcel aktor atau Marcel cintamu?" Lambok balik bertanya.
"Kak! Aku nanya kenapa Kakak balik bertanya?" Nindi makin kesal.
"Kalau Kakak gak buat drama ini, Kekasihmu ini tak akan kesini." Kata Lambok sambil merengkuh bahu Marcel Cinta Nindi.
"Buat apa Kakak bawa dia kesini, kalau cuma bikin sakit hati Aku aja!" Nindi terlihat sedih.
Marcel yang tak mengerti apa yang diucapkan Nindi hanya melongo melihat raut wajah Nindi yang tiba-tiba sedih.
"Kalau Kakak cerita sekarang akan panjang. Nanti kekasihmu ini akan berubah pikiran." Kata Lambok.
"Tapi kan dia tak mau menuruti persyaratanku?" Tegas Nindi.
"What do you say, honey?" Tanya Marcel pada Nindi.
"You want to marry me but didn't want to pass my term, then why are you here?!" Nindi kesal pada Marcel kekasihnya. Nindi membalikan badannya ingin segera beranjak dari tempat itu. Kepalanya rasa mau pecah.
Tiba-tiba....
"Bismillaahirrahmaanirrahiim.... Asyhadu anlaa ilaaha illallaahu... Wa asyhadu annaa muhammaddarrasullullaahu...." Marcel mengucapkan dua kalimat syahadat.
Nindi terpaku. Nindi menghentikan langkahnya. Mata Nindi sudah berkaca-kaca... Nindi memutar tubuhnya. Airmatanya sudah mengalir membasahi pipinya. Melunturkan make up nya.
Nindi tak percaya dengan pendengarannya.
Marcel mendekat pada Nindi. "Aku sangat mencintaimu makanya Aku meluluskan permintaanmu. Aku ingin membangun rumah tangga denganmu, Sayaaang..." Marcel memohon.
Nindi tertawa disela-sela tangisnya. "Huk... huk... huk... kenapa lama sekali...? Kamu biarkan Aku tersiksa sendiri disini. Kamu biarkan Aku menunggumu.. Huk... huk... huk..." Nindi langsung memeluk tubuh Marcel.
"I'm So sorry..." Kata Marcel yang juga memeluk Nindi.
"I Love You.... I Love You so much..." Kata Nindi.
"Eiiittsss... Belum..." Tiar yang ingin melerai pelukan Marcel dan Nindi dicegah Lambok.
"Biarkan saja... Nindi sangat merindukan kekasihnya..." Pinta Lambok.
"Assalamu alaikum.... Maaf..... Apa Saya terlambat?" Tiba-tiba seseorang datang memberi salam.
Tiar dan Lambok juga semua yang ada disana menoleh ke arah suara.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Mereka.
Lambok tersenyum. "Sekarang Lo lerai pelukan Nindi dan Marcel." Kata Lambok pada Tiar setengah berbisik.
Tiar langsung menghampiri Nindi dan Marcel. "Sudah yaahh... Kalian belum sah menjadi suami-istri."
Marcel melerai pelukannya. "Maaf Pak." Kata Marcel.
"Ini Abangku.. Bang Tiar." Nindi memperkenalkan Tiar Pada Marcel. Kemudian Nindi membawa Marcel berkeliling memperkenalkan seluruh keluarganya pada Marcel.
"Pak Penghulu...." Lambok tersenyum.
"Sudah ramai yaa? Apa Saya terlambat? Maaf tadi ban motor Saya bocor. Saya mendorongnya mencari tambal ban." Pak penghulu terlihat lelah dan kucel.
"Tenang Pak, Di surat pengajuannya kan jam 11. Sekarang baru jam 10." Kata Lambok.
"Kalau begitu boleh Saya mengganti pakaian Saya dulu?" Pinta Pak Penghulu.
"Oohh... Boleh Pak. Mari Pak, Saya antar." Kata Lambok yang mempersilahkan Pak Penghulu masuk.
"Yang... Tolong Nindi dan Marcel dipersiapkan. Pak penghulunya sudah datang." Pinta Lambok pada Tia.
Tia hanya bengong mendengar perkataan Suaminya. "Tapi itu...." Tia menunjuk penghulu yang tadi.
"Sudah ikuti saja. Nanti Aku jelaskan semua setelah akad Nikah." Lambok mengedipkan matanya pada Tia.
Tia bergegas menghampiri Nindi yang sedang mengenalkan Marcel pada Ibu. Ibu tak henti-hentinya mengelus lengan Marcel. Ibu bahagia akhirnya cinta pertama Nindi datang juga.
"Dek... Marcel.... Ayo ikut Kakak.... Kalian rapih-rapih dulu yah. Pak penghulunya sudah datang." Kata Tia.
"Loh yang itu?" Tunjuk Nindi bingung.
"Sudah ikuti saja... Tadi Kak Lambok bilang begitu. Ayo cepat..." Ajak Tia.
"Bu... Kak Mia, Nindi dan Marcel rapih-rapih dulu ya." Pamit Nindi.
Ibu dan Kak Mia mengangguk. Ibu tersenyum, Kak Mia bingung.
Fitri kembali menghapus make up Nindi yang sudah berantakan. Kemudian Dia meriasnya kembali.
Sedangkan Marcel dibantu oleh Fahmi dan Feri mengganti pakaiannya dengan Baju Koko putih yang memang sudah disiapkan Tia.
Pak penghulu sudah bersiap. Lambok mengantarnya kembali ke acara Akad. "Pak silahkan duduk dulu." Lambok mempersilahkan Pak penghulu.
Kemudian Lambok meminta para Kru Film membantunya merapihkan tempat Ijab Qabul. Dengan bergegas mereka menuruti perintah Lambok.
Dengan cepat tempat Ijab Qabul sudah rapih. Para Undangan dari Kru Film juga sudah duduk di tempat yang telah ditentukan.
Tak lama datang para Undangan yang sebenarnya, yang ingin menghadiri Ijab Qabul Nindi-Marcel.
Pak penghulu menempati tempatnya. Feri dan Tiar kembali ke tempat Ijab Qabul.
"Siapa yang akan menjadi Wali Nikahnya?" Tanya Pak Penghulu pada Feri dan Tiar.
"Saya Pak." Kata Feri.
"Apa bisa mengucapkannya dalam bahasa inggris?" Tanya Pak penghulu.
"Insya Allah bisa Pak." Kata Feri mantab.
"Alhamdulillaah... Kalau begitu akan cepat selesai ya." Pak penghulu tersenyum.
"Insyaa Allah Pak." Kata Feri dan Tiar yang menghela nafas mengingat kejadian tadi.
Lambok segera ke kamar rias. "Apa sudah selesai? Mana Marcel?" Tanya Lambok.
"Sedikit lagi Kak. Marcel dikamar sebelah bersama Fahmi." Kata Fitri.
"Ya sudah. Cepat yah." Pinta Lambok yang tersenyum jail pada Nindi.
"Awas ya Kak, Kakak masih utang penjelasan denganku." Canda Nindi.
Lambok terkekeh. Lambok senang melihat wajah adik bungsunya kembali ceria.
Lambok ke kamar sebelah menjemput Marcel. "Sudah selesai, Fahmi?"
"Sudah... Nih..." Kata Fahmi yang memutar tubuh Marcel ke hadapan Lambok.
"Kamu sudah siap, Marcel?" Tanya Lambok sambil tersenyum.
"Insyaa Allah..." Kata Marcel.
"Alhamdulillaah..." Kata Fahmi dan Lambok.
Lambok dan Fahmi membawa calon pengantin pria ke tempat ijab Qabul.
"Ini Pak penghulu pengantin Pria nya." Kata Lambok sambil mempersilahkan Marcel untuk duduk.
"Sudah siap ya semua? Mas kawinnya?" Tanya Pak penghulu pada Marcel.
"Astaghfirullaah... Kak, Mas kawinnya ada di koper ku." Kata Marcel pada Lambok.
Lambok tersenyum. "Kamu tunggu disini biar Aku ambilkan. Gak apa Aku membukanya?" Tanya Lambok.
"Gak apa Kak. Kita keluarga sekarang." Kata Marcel tersenyum. "Kak... Ini kuncinya." Kata Marcel yang menyerahkan kunci pada Lambok dan memberikan kodenya.
Lambok mengangguk dan bergegas ke kamar ganti pengantin pria untuk mengambil Mas Kawin.
Lambok sudah membuka koper Marcel. Lambok tersenyum melihat Mahar yang sudah disiapkan oleh Marcel. Marcel mengemasnya dengan sangat baik. Lambok bergegas kembali.
Lambok mendongak ke kamar rias. "Kalian sudah selesai?" Tanya Lambok.
"Sudah Kak." Kata Fitri.
"Ya sudah... Nindi bersiap ya." Pinta Lambok.
Nindi mengangguk. "Kak..." panggil Nindi.
"Ya..." Jawab Lambok.
"Terima kasih yah." Kata Nindi tersenyum senang.
Lambok mengedipkan sebelah matanya. Dan segera berlalu.
"Kak Tia... Apa Kak Lambok selalu genit begitu?" Canda Fitri.
Tia terkekeh... "Kakakmu memang suka becanda Fitri. Dia sangat pandai menghibur hati orang." Kata Tia memuji suaminya.
Pak penghulu memberi sedikit wejangan tentang pernikahan. Tiar menterjemahkan pada Marcel apa yang disampaikan oleh Pak penghulu.
Marcel manggut-manggut tanda mengerti.
Kemudian Seorang Qori melantunkan ayat-ayat suci Al Quran.
Kemudian Ijab Qabulpun dilaksanakan.
Feri mengucapkan Ijab menikahkan Nindi pada Marcel. Kemudian Marcel menjawabnya:
🌷I Received The Marriage and The Marriage Of Nindiana Binti Bapak Arif Budiman With a Dowry, A Set Of Prayer Tools and Gold Jewelry, PAID In CASH🌷
"Bagaimana para saksi? Saaahhh..???!"
"SAAAHHH.....!!"
"Alhamdulillaah...." Pak penghulu membaca doa-doa untuk kedua mempelai.
"Sekarang Istrimu boleh mendampingimu." Kata Pak Penghulu.
Tia dan Fitri yang mendengar kata SAH, segera membawa Nindi keluar dan mendudukan Nindi disebelah Marcel.
Nindi mencium punggung telapak tangan Marcel. Marcel mencium kening Nindi. Marcel menyematkan cincin pada Jari manis Nindi. Nindi pun melakukan hal yang sama.
Marcel menyerahkan Mas Kawin pada Nindi.
Awak media tak melewatkan moment ini sedikitpun. Mereka terus mengabadikan acara demi acara.
Nindi dan Marcel pun mengadakan sungkeman pada Ibu dan Kakak-kakak Nindi.