Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Sidik Jari Licin
Udara di dalam kantor logistik pagi ini terasa seperti masuk ke dalam ruang pendingin mayat yang disamarkan dengan aroma pengharum ruangan lemon sintetik. Arlan berjalan melewati pintu kaca otomatis yang terbuka tanpa suara, bahkan tanpa derit gesekan yang biasanya ia dengar. Ia melirik ke arah meja resepsionis, di mana seorang wanita yang sudah tiga tahun bekerja di sana duduk dengan posisi punggung yang terlalu tegak.
"Selamat pagi, Arlan. Anda terlambat tiga menit dari jadwal sinkronisasi logistik," sapa wanita itu. Suaranya datar, kehilangan intonasi ceria yang biasanya terselip saat ia membicarakan diskon belanjaan di akhir pekan.
Arlan berhenti sejenak, meraba tali tas kurirnya yang terasa kasar—satu-satunya tekstur yang memberinya kepastian di tengah ruangan yang mendadak terasa terlalu halus. "Ada kendala di jalur basement apartemenku semalam. Hanya masalah teknis kecil."
"Masalah teknis harus dilaporkan dalam bentuk data digital, bukan kata-kata," balas wanita itu tanpa menoleh. Matanya menatap layar monitor dengan kedipan yang sangat jarang, menciptakan jeda napas manual yang membuat Arlan merinding.
Arlan melangkah menuju meja kerjanya. Ia menyentuh permukaan meja kayu ek yang biasanya memiliki serat-serat kecil yang bisa ia rasakan dengan ujung jari. Namun, pagi ini, meja itu terasa seperti kaca yang dipoles sempurna. Sangat licin. Sangat asing. Ia teringat pada foto ayahnya yang ia temukan di dalam botol biru di dasar got kemarin; wajah yang terhapus itu kini seolah menjelma menjadi dunia yang kehilangan detailnya.
"Kau terlihat pucat, Arlan. Apakah ozon di Sektor Tujuh merusak sistem pernapasanmu?" sebuah suara berat menginterupsi pikirannya.
Arlan menoleh dan menemukan Johan, rekan kurir seniornya, berdiri di dekat mesin kopi. Johan sedang memegang cangkir keramik, namun Arlan menyadari sesuatu yang janggal: cangkir itu tidak mengeluarkan uap panas, meski mesin kopi baru saja berbunyi.
"Aku hanya kurang tidur, Jo. Bau kabel terbakar dari tetangga sebelah membuatku terjaga semalam," jawab Arlan, mencoba memancing reaksi emosional tentang insiden peniru yang mendatangi rumahnya.
"Bau terbakar adalah indikasi pemborosan energi. Seharusnya kau mematikan sirkuitnya," kata Johan sambil menyesap kopinya. Arlan melihat tenggorokan Johan bergerak, namun tidak ada aroma kopi yang tercium. Yang tercium justru aroma samar besi berkarat.
"Sejak kapan kau tidak suka aroma kopi Robusta, Jo? Bukankah kau selalu mengeluh jika kantor ini kekurangan stok biji kopi asli?" Arlan melangkah mendekat, matanya terkunci pada tangan Johan yang memegang cangkir.
Johan berhenti sejenak. Ada jeda dua detik—lag frekuensi yang sama dengan bayangan di cermin yang pernah dilihat Arlan. "Rasa adalah anomali yang tidak efisien. Data menunjukkan bahwa kafein cair lebih baik diserap tanpa gangguan sensorik aroma."
"Data? Kau bicara seperti mesin penghancur kertas yang ada di sudut ruangan itu," bisik Arlan.
"Kita semua adalah bagian dari distribusi, Arlan. Jangan biarkan residu emosional memperlambat pengantaranmu hari ini. Bos ingin bertemu denganmu di ruangan pendingin arsip."
"Bos? Untuk apa?"
"Mungkin untuk mengaudit sidik jarimu. Laporan logistikmu semalam menunjukkan ada jeda transmisi yang tidak wajar."
Arlan merasakan jantungnya berdegup kencang, sebuah pengingat bahwa ia masih memiliki darah murni yang mengalir di balik kulitnya. Ia meraba saku celananya, merasakan koin perak yang ia ambil dari saku baju satpam yang sudah dihapus tempo hari. Koin itu terasa panas, kontras dengan suhu ruangan yang menurut sensor batinnya kini menyentuh sepuluh derajat Celsius.
"Arlan, apakah kau sedang menahan napas secara manual? Frekuensi dadamu tidak sinkron dengan pendingin udara ruangan ini," Johan melangkah selangkah lebih dekat. Kulit wajahnya tampak mengilap di bawah lampu neon, tanpa pori-pori, tanpa cacat sedikit pun.
"Aku hanya sedang berpikir, Jo. Bukankah itu yang membedakan kita dengan paket yang kita antar?" Arlan mundur selangkah, menjaga jarak amannya.
"Berpikir adalah proses yang melelahkan. Biarkan sistem yang melakukannya untukmu. Segeralah ke ruangan Bos. Dia tidak suka menunggu sesuatu yang belum disinkronkan."
Arlan mengangguk kaku. Ia berjalan menuju ruang arsip pusat di lantai dua. Sepanjang lorong, ia melihat rekan-rekan kerjanya duduk di depan komputer. Tidak ada suara ketikan papan ketik, tidak ada gumaman, tidak ada tawa. Mereka hanya diam, menatap layar dengan kecepatan mata yang bergerak tidak manusiawi. Saat ia melewati meja admin, ia melihat seorang rekan sedang memegang lembaran kertas arsip tua. Dengan gerakan mekanis, rekan itu menyobek pinggiran kertas dan memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya pelan tanpa ekspresi, seolah sedang mencerna sejarah yang ingin dihapuskan.
Arlan menelan ludah. Ia sampai di depan pintu perunggu berat ruangan Bos. Ia tidak mengetuk. Ia tahu di dalam sana, privasi sudah lama mati. Begitu pintu terbuka, hawa beku langsung menyapu wajahnya.
"Masuk, Arlan. Tutup pintunya agar stabilitas endotermik di sini tidak terganggu oleh udara kotor dari luar," suara Bos terdengar dari balik meja besar yang terbuat dari marmer hitam pekat.
Arlan melangkah masuk, kakinya terasa berat di atas lantai yang sangat halus. "Anda memanggil saya, Pak?"
"Saya sedang melihat manifes pengiriman Anda tahun dua ribu dua belas. Ada satu paket yang tidak pernah sampai ke tujuannya. Sebuah botol kaca biru dengan label logistik lama," Bos berdiri. Ia mengenakan setelan jas yang sangat rapi, tanpa satu pun kerutan.
"Itu arsip lama, Pak. Saya rasa kebakaran besar di apartemen saya dulu sudah menghanguskan semua datanya," Arlan mencoba tetap tenang, meski ia tahu botol itu kini ada di dalam tasnya.
"Kebakaran adalah cara kuno untuk menghapus kesalahan. Di era sekarang, kita hanya perlu menimpanya dengan salinan yang lebih baik," Bos berjalan mengitari meja. "Berikan tanganmu, Arlan. Saya perlu melakukan otentikasi fisik untuk akses ke sektor logistik yang baru."
Arlan membeku. Ia tahu jika ia menyentuh pemindai itu, atau jika Bos menyentuh tangannya, perbedaan tekstur kulit mereka akan segera memicu alarm sistem. "Kenapa tidak menggunakan kartu akses seperti biasanya?"
"Kartu bisa dicuri. Identitas biometrik adalah satu-satunya hal yang tersisa untuk memastikan bahwa kau adalah Arlan yang asli, atau setidaknya... Arlan yang kita inginkan," Bos mengulurkan tangannya yang putih pucat.
Arlan melihat tangan itu. Sangat mulus. Di bawah cahaya lampu meja, tangan Bos tidak memiliki garis-garis sidik jari. Permukaan kulit di ujung jarinya licin sempurna, seolah-olah identitasnya telah diamplas habis oleh algoritma.
"Kenapa tangan Anda terlihat begitu... bersih, Pak?" tanya Arlan, suaranya sedikit bergetar.
"Kebersihan adalah martabat baru, Kurir. Kehidupan yang kau jalani selama ini terlalu penuh dengan noda organik yang tidak perlu. Sidik jari hanya akan meninggalkan bekas di dunia yang seharusnya tetap murni. Sekarang, letakkan tanganmu di atas meja ini."
Arlan melirik ke arah botol toner printer yang sengaja ia letakkan di pinggir meja saat ia masuk tadi. Dengan gerakan yang tampak seperti kecerobohan yang tidak sengaja, ia menyenggol botol itu hingga isinya—bubuk karbon hitam pekat—tumpah menutupi permukaan meja marmer dan sebagian tangan Bos.
"Sial, maafkan saya, Pak! Saya benar-benar ceroboh," Arlan segera meraih kain lap dari saku celananya, namun matanya tetap tajam mengawasi.
Bos tidak bereaksi terhadap tumpahan itu. Ia tidak terkejut, tidak marah. Ia hanya menatap bubuk hitam yang menutupi kulitnya. Saat Bos mengangkat tangannya, bubuk karbon itu meluncur jatuh begitu saja, tidak ada satu pun partikel hitam yang tersangkut di pori-pori kulitnya. Karena memang tidak ada pori-pori di sana. Tidak ada pola melingkar, tidak ada garis lengkung yang mendefinisikan seorang manusia.
"Lihat, Arlan? Bahkan kotoran pun tidak ingin menempel pada sesuatu yang sudah sempurna," kata Bos datar.
Arlan merasakan perutnya mual. Ia melihat tangan Bos yang kini benar-benar bersih, seolah-olah bubuk karbon itu hanyalah air yang melewati kaca. "Anda tidak punya sidik jari."
"Dan sebentar lagi, kau juga tidak akan membutuhkannya. Dunia di atas sana sedang bersiap untuk menjadi selicin meja ini, Arlan. Tanpa gesekan, tanpa konflik, tanpa memori yang menyakitkan."
"Itu bukan kesempurnaan, Pak. Itu adalah kekosongan," tegas Arlan, tangannya diam-diam meraba koin perak di sakunya, mencari kekuatan dari berat logam yang masih terasa nyata.
"Kekosongan lebih baik daripada penderitaan yang kau bawa di dalam tasmu itu. Aku tahu kau membawa beban dari masa lalu yang sudah seharusnya dihapus. Kenapa kau begitu keras kepala mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak memiliki wajah lagi?" Bos melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Suhu di ruangan itu terasa jatuh ke titik beku, membuat napas Arlan berubah menjadi uap putih yang pekat.
"Karena wajah yang terhapus itu adalah ayah saya. Dan saya lebih memilih mati dengan sidik jari yang kotor daripada hidup sebagai salinan yang tidak memiliki sentuhan," Arlan menatap langsung ke lubang gelap di mata Bos yang tidak memiliki binar kehidupan.
"Pilihan yang sangat emosional. Dan emosi, Arlan, adalah anomali pertama yang harus dibersihkan dari sistem logistik kita."
Bos melangkah mendekat, gerakan tubuhnya begitu simetris hingga terlihat seperti rangkaian gambar yang diputar dengan kecepatan yang terlalu presisi. Arlan mundur hingga punggungnya membentur rak arsip logam yang dingin. Getaran koin perak di sakunya semakin menjadi, seolah logam itu bereaksi terhadap kehadiran entitas di depannya yang sama sekali tidak memiliki resonansi kemanusiaan.
"Kau tahu, Arlan, menjadi manusia adalah kesalahan logistik terbesar di kota ini. Kalian terlalu banyak meninggalkan jejak. Keringat di gagang pintu, minyak di layar ponsel, dan keraguan di dalam suara," ucap Bos sambil menatap tangannya yang baru saja dibersihkan dari bubuk karbon.
"Jejak itu disebut bukti keberadaan, Pak. Jika tidak ada bekas yang kita tinggalkan, bagaimana kita tahu kalau kita pernah hidup?" Arlan mencoba mengatur napasnya agar tidak terlihat memburu, meski paru-parunya mulai terasa sakit karena udara endotermik yang membeku.
"Hidup hanyalah masalah transmisi data. Jika datanya sudah tersalin dengan sempurna di pusat, keberadaan fisikmu yang asli hanyalah sampah yang menghabiskan ruang penyimpanan. Seperti Sektor Tujuh yang perlahan mulai memudar dari peta."
"Anda menghapus rumah orang-orang hanya karena mereka tidak sesuai dengan algoritma Anda?"
"Kami menggantinya dengan yang lebih stabil. Sekarang, berikan tas kurir itu padaku. Aku tahu botol itu ada di sana. Barang itu adalah residu ilegal dari tahun dua ribu dua belas yang seharusnya sudah musnah bersama pemiliknya."
Arlan memeluk tasnya erat-erat. "Barang ini memiliki label kurir resmi. Sebagai Kurir Barang Hilang, tugas saya adalah mengantarkannya ke alamat yang benar, bukan menyerahkannya pada sistem yang ingin melenyapkannya."
"Alamat itu sudah tidak ada, Arlan. Ayahmu sudah tidak ada."
"Dia ada! Saya melihat wajahnya kemarin. Walaupun hanya sebentar, dia lebih nyata daripada Anda yang berdiri di sini tanpa sidik jari!" teriak Arlan. Suaranya bergema di ruangan itu, namun segera ditelan oleh Hampa Akustik yang membuat gema itu mati secara mendadak.
Bos berhenti bergerak. Matanya yang gelap menatap Arlan dengan intensitas yang mengerikan. "Kau menggunakan koin itu untuk memicu frekuensi yang dilarang. Itu adalah tindakan subversif. Kau bukan lagi sekadar kurir yang tidak efisien, kau adalah anomali tingkat tinggi."
Tiba-tiba, Bos mengulurkan tangannya dengan kecepatan yang mustahil. Jari-jarinya yang pucat mencengkeram pergelangan tangan Arlan. Arlan tersentak; sentuhan itu tidak terasa seperti kulit manusia. Rasanya seperti logam yang dilapisi lateks tipis, sangat dingin dan sangat keras. Tidak ada denyut nadi di pergelangan tangan Bos, tidak ada kehangatan darah yang mengalir.
"Lepaskan saya!" Arlan meronta, mencoba melepaskan cengkeraman yang terasa seperti catok besi itu.
"Diamlah. Aku hanya ingin merasakan seberapa jauh darah murnimu masih berfungsi sebelum kami menggantinya dengan perak cair yang lebih tenang," Bos menarik tangan Arlan mendekat ke arah lampu meja.
Arlan melihat kulitnya sendiri memerah di bawah tekanan jari-jari Bos. Perbedaan itu sangat nyata—kulit Arlan yang memiliki pori-pori, rambut halus, dan garis-garis hidup, beradu dengan kulit Bos yang selicin porselen. Arlan menyadari satu hal: Bos tidak sedang menyerangnya, dia sedang mempelajari "tekstur" yang tidak ia miliki.
"Begitu kasar. Begitu penuh dengan ketidaksempurnaan," gumam Bos, suaranya kini terdengar seperti gesekan statik radio.
Arlan menggunakan kaki kirinya untuk menendang kaki meja marmer, menciptakan guncangan yang membuat lampu meja terjatuh. Dalam kegelapan sesaat, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan bubuk karbon yang tersisa, melemparkannya tepat ke arah wajah Bos. Meskipun ia tahu itu tidak akan melukai secara fisik, gangguan visual sesaat itu cukup untuk membuat Bos melepaskan cengkeramannya.
Arlan segera berlari menuju pintu, namun Johan sudah berdiri di sana, menghalangi jalan keluar dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
"Ke mana kau akan pergi, Arlan? Jadwal pengantaranmu hari ini belum selesai," kata Johan.
Arlan melihat ke sekeliling. Ia terjepit di antara dua entitas yang tidak lagi ia kenali sebagai manusia. Ia teringat Third Option Strategy yang selalu diajarkan ayahnya dalam catatan lama: Jika jalan di depan dan di belakang tertutup, carilah jalan yang belum dianggap sebagai jalan oleh mereka.
Arlan melihat ke arah lubang pembuangan udara di langit-langit. "Saya punya paket darurat yang harus segera dikirimkan ke pusat arsip bawah tanah. Dan kalian bukan penerima yang sah!"
Arlan melompat ke atas meja marmer, mengabaikan hawa dingin yang menusuk telapak kakinya, lalu dengan sisa kekuatannya, ia menjebol jeruji ventilasi udara yang sudah mulai mendingin. Ia memanjat masuk ke dalam lorong sempit yang berbau debu dan logam, tepat saat tangan Johan mencoba menggapai pergelangan kakinya.
Di dalam saluran ventilasi yang sempit, Arlan merayap dengan napas yang tersenggal. Ia bisa mendengar suara gesekan di bawahnya, tanda bahwa mereka sedang melacak posisinya melalui sensor panas bangunan. Ia mengeluarkan koin perak dari sakunya, menggenggamnya kuat-kuat hingga pinggiran logam itu melukai telapak tangannya.
"Dante... kau bisa mendengarku?" bisik Arlan ke arah alat komunikasi kecil di telinganya.
Hanya statik yang menjawab, namun perlahan, sebuah suara sayup muncul di balik bising radio. "Arlan... menjauhlah dari pusat... sidik jari mereka... mereka sedang mengunci... gedung..."
Arlan terus merayap hingga ia sampai di sebuah celah yang menghadap ke ruang penyimpanan data biometrik. Di sana, ia melihat ribuan botol kecil berisi cairan perak yang dilabeli dengan nama-nama penduduk kota. Ia mencari satu nama: Arlan. Di rak paling ujung, terdapat sebuah botol yang masih kosong, namun sudah memiliki label dengan namanya.
"Mereka sudah menyiapkan wadah untukku," bisik Arlan dengan rasa ngeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia mengambil foto ayahnya dari tas, menatap wajah yang kini kembali putih kosong itu. Ia menyadari bahwa kantor ini bukan tempatnya bekerja, melainkan pabrik penghapusan identitas. Ia harus keluar dari sini sebelum ia berakhir menjadi cairan perak di dalam botol steril itu.
Arlan menemukan pintu keluar darurat di ujung saluran ventilasi yang menuju ke atap gedung. Saat ia mendorong pintu itu dan keluar ke udara terbuka, langit Lentera Hitam menyambutnya dengan warna hijau kebiruan yang semakin pucat. Ia melihat ke bawah, ke arah jalanan yang dipenuhi oleh orang-orang yang berjalan dengan ritme yang sama, tanpa ada satu pun yang menoleh atau tertawa.
Ia melihat ke telapak tangannya yang masih kotor oleh bubuk karbon. Garis-garis sidik jarinya terlihat jelas di balik noda hitam itu—sebuah peta identitas yang unik, sebuah martabat yang tidak akan pernah bisa disalin oleh mesin mana pun.
"Aku akan mencari pintu itu, Ayah. Pintu yang sidik jarinya tidak pernah berubah," janji Arlan pada dirinya sendiri.
Ia mulai menuruni tangga darurat di sisi gedung, menyadari bahwa mulai detik ini, ia tidak lagi memiliki tempat aman di kantor ini. Ia adalah kurir yang sedang membawa lari kenyataan dari tangan para pencurinya. Dan besok pagi, ia bukan lagi seorang karyawan, melainkan target utama yang harus dimusnahkan oleh sistem.
Arlan menghilang di balik bayangan gedung-gedung tinggi, meninggalkan kantor logistik yang kini terasa lebih dingin daripada es, membawa beban duka dan harapan yang beratnya melebihi logam apa pun di dunia ini.