Tidak semua raja menaklukkan dunia dengan pedang .
Sebagian cukup hanya dengan meninggalkan jejak pedang nya.
Nama Prabu Munding Jayananta mencuat melebihi puncak gunung.
Di jaman para raja berkuasa,nama itu membuat darah bergejolak.
Para raja datang ke hadapan nya , ada yang menantang banyak pula yang memohon perlindungan.
Jejak Sang Raja adalah kisah tentang penaklukkan dengan sedikit perang, bagaimana kekuatan di tangan orang yang tepat membawa keberkahan.
Kekuatan yang menjadi legenda tanpa diminta. sebab Legenda itu adalah keyakinan...
Jejak sang raja juga seri ke tiga, lanjutan dari 2 kisah sebelumnya ;
Tahta berdarah sang pangeran
Pendekar mesum berambut perak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lintang88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah pendekar
Gunung gora kembali erupsi tepat saat tengah malam
Tidak kencang, erupsi seperti biasa.
Gunung ini memang sering kali erupsi kecil, seperti raksasa yang sedang batuk saja.
Seiring dengan erupsi itu Disaksikan mata telanjang banyak orang, untuk sesaat , puncak gora bersinar terang, seperti ada yang menyoroti dengan senter dari atas langit nya.
Ratusan orang sudah mendaki gunung gora, sebagian malah sudah ada yang sampai puncak nya.
Ternyata puncak gunung gora ini datar, seperti lapangan bola ! Luas dan rata.
Saat terjadi goncangan, orang orang sama sekali tidak panik, saat muncul nya cahaya lah yang malahan membuat semua orang orang disini panik.
Semua meningkatkan kewaspadaan, mata dibuka lebar lebar, kuping di pasang kiri kanan, berkonsentrasi menangkap segala jenis suara yang datang.
Sesaat Keheningan total menyelimuti puncak gunung gora...
Tak lama kemudian, tanpa ada yang mengkomando, orang orang mulai bergerak, berpencar ke segala arah , pencarian pusaka gunung gora di mulai..!!
***
Di lereng gunung gora, tepat nya di kampung Wates, Nawang, Parwati dan nyai gendis sudah berada di sini.
Kehadiran putri Nawang sudah cukup membuat para pendekar menunduk, wajah Nawang tentu tidak asing , empat tahun pagelaran beladiri antar kerajaan sudah cukup membuat wajah Nawang terkenal se antero dunia persilatan.
Mereka tidak berani lama lama di kampung Wates, mereka segera mendaki gunung gora.
Prajurit Dolopo tersenyum bangga, percaya diri meningkat drastis,
" apa itu Gumarang... ayo..kita perang..!!" begitu kira kira bisik hati mereka.
Dua hari kemudian, kampung Wates gempar, mereka kedatangan pasukan elite majayan, bukan sembarang elite...ini super elite ..Parwati saja belum masuk kategori super elite ini.
Prajurit ini hanya seratus orang, tapi.....seratus orang ini sama dengan kekuatan seratus ribu pasukan pendobrak atau sepuluh ribu pasukan berkuda..!!
Prajurit super ini bernama "Jatayu"
Karir puncak pasukan Jatayu adalah menjadi pasukan bayangan kerajaan... kekuatan militer terkuat di suatu negri.
Seratus orang pasukan Jatayu sekarang ada di kampung Wates, yang bertanggung jawab disini tentu saja putri Nawang.
Komandan Sanjaya begitu takjub, sebagai seorang militer dia sangat paham perbedaan pasukannya, termasuk dirinya dengan pasukan Jatayu ini.
" Hahaha....siapa yang berani sekarang...ayo.. Gumarang...cepat lah datang...Hahaha..." komandan Sanjaya malah berharap Gumarang datang, dia tidak sabar ingin melihat aksi pasukan Jatayu ini...
***
Tiga orang muncul dari undakan terakhir, berjalan masuk taman istana majayan yang memang terbuka untuk umum.
" wuedan.... sungguh edan...istana apaan ini !
" paman Patih, Ki Martani...dari sini saja kita sudah jauh tertinggal ya..."
" benar nakmas prabu... majayan memang luar biasa...!!"
Tiga orang berjalan, menghadap punggawa Istana, melaporkan maksud kedatangan mereka.
Punggawa tidak banyak bertanya, dia masuk ke dalam istana.
" mohon melaporkan kedatangan tamu Gusti prabu.." hulubalang istana datang, menghadap prabu munding .
" ya... laporkan.."
" Tiga orang dari negri Gumarang,salah satunya adalah Patih Kerajaan bernama Wijaya mohon menghadap.."
" Gumarang???... hmppp menarik....baik... persilahkan mereka masuk...,
" Ama , kakek Qin dan kalian semua , apapun yang nanti kalian lihat , jangan ada yang bertindak, ,..aku merasakan aura kuat milik seorang raja,
" baik Nanda prabu......!""
Tiga orang masuk , diantar hulubalang,sambil berjalan mata ketiga orang ini jelalatan ke sana kemari, mengagumi kemegahan di dalam istana majayan .
Tiga orang masih berdiri mematung, mereka baru sadar, setelah punggawa yang mengantar berkata.
" silahkan...kalian sudah dihadapan prabu munding...!!"
" oh..oh..iya..iya.. terimakasih...!"
Tiga orang memberikan penghormatan pendahuluan ,salah satu nya berkata
" Sebelum nya mohon dimaafkan jika kedatangan kami menggangu waktu Gusti prabu...saya Patih Wijaya, ini Ki Martani dan ini panglima perang kami, buwana ! Kami berasal dari Gumarang..
Tiga orang membungkuk hormat, prabu munding mengangkat tangan dan berdiri dari singgasana nya .
" Ah... Tidak ..sama sekali tidak menggangu ...saya ucapkan selamat datang di majayan ... ..silahkan duduk.."
" terimakasih Gusti prabu..."
" paman Patih...ada kabar apa ya jauh jauh menyempatkan datang ..? Tanya prabu munding setelah tamu tamu nya duduk...
" enggg....ini maaf Gusti prabu...ini soal Dolopo dan Gumarang...dan juga titah dari raja kami..."
Patih Wijaya berdiri, dia menyerahkan surat pada seorang abdi yang datang mendekati nya .
Ketika prabu munding membuka gulungan surat itu, ruangan mendadak sunyi...
Prabu jaya buwana memperhatikan sosok prabu munding, darah nya bergejolak ...dia bisa merasakan aura kuat...sangat kuat dari raja majayan ini..
Wajah prabu jaya buwana memerah saking semangatnya ...
Dia tidak sabar..dia seperti seorang pelaut yang bertahun-tahun tidak bertemu wanita...!!
Tanpa dia sadari..dia kelepasan, aura nya menguar , menekan ke arah prabu munding !
Prabu munding yang sedang membaca surat sedikit tertegun, setelahnya dia tersenyum tipis...
" aishhh..." prabu munding menghela nafas...aura yang mencoba menekannya langsung buyar..
Di tempat duduk nya,tubuh prabu jaya buwana bergetar halus.dia menyeringai,. pertandingan sudah bisa dimulai.
" Terima salam ku...".dia mengirim pesan , sekaligus mengirim serangan..
Serangan tak kasat mata, tapi bisa di rasa oleh orang orang di sekitarnya, mereka saling berpandangan, seolah mengerti, mereka menjauh..!!
Sekarang hanya ada prabu munding dan prabu jaya buana yang duduk berseberangan.
" Aihh ..apakah saya sedang berhadapan dengan raja Gumarang?? Mohon di maafkan....jika saya lalai, tidak mengenal..
Prabu munding membalas, sekaligus kembali menghancurkan serangan prabu jaya buwana "blar...!!"
Tubuh prabu jaya buwana terguncang, sekarang lebih keras nyata terlihat semua orang.
" ahhh...tak ada yang bisa disembunyikan dari Rai prabu... bolehkah saya memanggil begitu??"
Prabu jaya buwana berdiri, sambil sedikit membungkuk kan badan,dia menjura hormat, ,
" Wusshhh..." semburat angin melesat cepat dari tangan nya.
"Ohh tentu boleh kakang prabu.. ..???"
Prabu munding membalas hormat dengan cara yang sama, semburat angin juga keluar dari sela tangan nya .
" jlegarrrrr...!"
Dua angin pukulan bertabrakan satu depa dari prabu munding ,
Tubuh prabu jaya buwana terguncang hebat sementara prabu munding tidak terpengaruh sedikitpun.
" Ahhh...tak kusangka...rai prabu begitu kuat ..saya jaya buwana Rai... salam kenal.."
Prabu jaya buwana membetulkan posisi berdiri nya, dia kembali membungkuk kan badan, kali ini lebih dalam .., tidak lagi berani melancarkan serangan.
prabu munding ikut berdiri, dia turun dari singgasana nya, mengulurkan tangan mengajak prabu jaya buwana bersalaman.
" ahhh .. selamat datang kakang Buwana...ini isi suratnya tidak salah..??" bisik prabu munding.
" Hehehe....maaf Rai...darahku bergejolak...ingin lebih kenal dengan Rai prabu... semoga saja diterima..."
" Hahaha......ya begini ini jika seorang raja juga seorang pendekar....saya yang muda jadi serba salah ...!!"
" Hahaha... bukankah Rai juga begitu??"
" iya juga sih...aku sudah lama tidak bertanding...
" Kalau begitu tunggu apa lagi??apa Rai prabu meremehkan Kakang?
" ...tidak .bukan begitu kakang .. ..."
Prabu jaya buwana menatap penuh harap.. "mupeng"
" aghhhh...susah dah ah. ketemu orang gila bertarung...jika begitu ayolah ..!! "
Prabu munding menggenggam tangan prabu jaya buwana, dengan santai dia menyeret nya, melangkah melewati sobekan ruang.
Dua raja menghilang begitu saja, orang orang istana majayan tidak kaget , berbeda dengan orang dari Gumarang...mereka kelabakan
" Gusti....Gusti prabu...!!!"
" aihhh... tenang lah...tidak apa apa ..paling paling mereka pergi untuk minum dawet...!!" sergah Ama Patih Nala yang disambut gelak tawa mereka semua.
nantikan kisah selanjutnya pd episode yg akan datang
SAMPAI JUMPA.....