NovelToon NovelToon
Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Ruang Ajaib
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author:

Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….

14

Suasana di rumah kayu itu perlahan berubah sejak kedatangan pengacara dari kota. Jika sebelumnya udara terasa berat oleh kepasrahan, kini ada api kecil yang menyala di mata setiap penghuninya. Anjeli tahu, semangat saja tidak cukup. Ia membutuhkan fondasi fisik yang kuat untuk ayah dan adiknya agar mereka tidak tampak lemah di mata hukum.

Malam itu, di bawah temaram lampu minyak, Anjeli mengeluarkan bungkusan kain kecil yang ia bawa dari Ruang Ajaib. Di dalamnya terdapat butiran-butiran beras yang unik, bentuknya lebih panjang dari beras biasa dan warnanya tidak putih bersih, melainkan kuning gading dengan kilau samar seperti mutiara. Itulah hasil panen perdana Padi Emas Surgawi.

"Kak, itu beras apa? Kok warnanya bagus sekali?" tanya Aris yang sedang merapikan buku gambarnya di meja makan.

Anjeli tersenyum, jemarinya mengelus butiran beras itu. "Ini beras pemberian kakek tua yang dulu pernah Kakak tolong, Ris. Katanya ini beras kesehatan. Malam ini, kita masak ini ya?"

Anjeli mencuci beras itu dengan sangat hati-hati. Ia tidak membuang air cucian pertamanya; ia menyimpannya di sebuah botol untuk disiramkan ke tanaman mawar di pagar. Di atas tungku batu, nasi itu mulai matang. Aroma yang keluar dari kukusan bambu benar-benar luar biasa—harum seperti perpaduan pandan segar dan madu hutan.

Saat nasi itu dihidangkan di meja, Pak Burhan yang baru saja selesai berlatih berdiri di kamar, mencium aromanya hingga ke ruang tengah.

"Nak, bau apa ini? Wangi sekali sampai ke kamar Ayah. Apa yang kamu masak, Nak?!” ujar Pak Burhan sambil menggerakkan kursi rodanya perlahan.

"Ini nasi kesehatan, Pak. Ayo, kita makan selagi hangat," jawab Anjeli. Ia menyendokkan nasi itu ke piring ayah dan adiknya.

Begitu suapan pertama masuk ke mulut, Aris langsung berseru, "Enak sekali, Kak! Rasanya manis, tidak perlu pakai lauk banyak-banyak sudah enak!"

Pak Burhan pun tertegun. Saat nasi itu tertelan, ia merasakan kehangatan yang menjalar dari perut ke seluruh ujung sarafnya. Rasa lelah akibat latihan berdiri tadi sore seolah hilang seketika. Tubuhnya yang biasanya terasa dingin dan berat, mendadak menjadi ringan.

"Beras ini sungguh luar biasa, Nak. Bapak merasa ada tenaga baru yang mengalir," bisik Pak Burhan heran.

Anjeli hanya tersenyum simpul sambil menyuap nasinya sendiri. Ia merasakan hal yang sama. Pikirannya yang tadi kalut memikirkan pengacara, kini menjadi jauh lebih jernih dan tenang. Inilah keajaiban Padi Emas, ia tidak hanya mengenyangkan perut, tapi juga memberi ketangguhan pada jiwa.

Keesokan harinya, Anjeli kembali ke kebun belakang. Berkat nutrisi dari kompos Rohani dan air cucian beras emas tadi pagi, tanah petak kecilnya kini tampak sangat hitam dan berminyak, tanda bahwa kesuburannya telah kembali pulih sepenuhnya.

Ia melihat tanaman buncis dan selada keriting yang ia tanam beberapa hari lalu. Karena ia menanamnya secara alami di dunia nyata dan hanya bibitnya saja yang direndam Air Rohani, pertumbuhannya tidak secepat tomat ajaib tempo hari, namun kualitasnya tetap di atas rata-rata.

"Aku harus mulai mengumpulkan uang lebih banyak," gumam Anjeli. "Jika kasus hak asuh Aris sampai ke meja hijau, aku butuh biaya untuk membayar pengacara yang jujur."

Ia mengambil kartu nama Pak Hendra dari saku bajunya. Dengan langkah mantap, ia berjalan menuju telepon umum di depan balai desa. Ia memberanikan diri menelepon pria kota itu.

"Halo, Pak Hendra? Ini Anjeli. Saya punya beberapa sayuran baru. Selada keriting dan buncis manis. Apakah Bapak berminat?"

"Anjeli! Tentu saja! Saya akan ke desamu sore ini. Kebetulan ada rekan saya, pemilik restoran organik, yang ingin ikut melihat," jawab suara di seberang telepon dengan antusias.

Sambil menunggu Pak Hendra, Anjeli kembali ke rumah dan menemukan Pak Burhan sedang berada di kebun belakang. Ayahnya tidak duduk di kursi roda, melainkan berdiri sambil memegang pagar bambu, mencoba melangkah satu-satu dengan sangat perlahan.

"Ayah! Jangan dipaksakan dulu," seru Anjeli cemas.

Pak Burhan menoleh, keringat bercucuran di dahi namun wajahnya tampak bahagia. "Njel, lihat. Ayah sudah bisa melangkah tiga kali tanpa jatuh. Beras dan minyak yang kamu berikan itu benar-benar bekerja. Ayah tidak mau Aris dibawa pergi hanya karena Ayah dianggap tidak bisa menjaganya."

Aris berlari membawakan handuk kecil untuk ayahnya. "Ayah hebat! Ayah nanti bisa ajari Aris main bola kan?"

"Tentu, jagoan. Ayah janji," sahut Pak Burhan sambil mengacak rambut adiknya.

Melihat pemandangan itu, Anjeli merasa semua peluhnya terbayar. Interaksi kecil di kebun belakang yang sederhana itu adalah benteng pertahanan terkuat mereka. Tidak peduli seberapa mewah kamar yang dijanjikan ibunya di kota, kenyamanan sejati ada di sini, di bawah pohon jati dan di atas tanah yang mereka rawat dengan cinta.

Sore itu, mobil Pak Hendra datang. Namun, kali ini Anjeli menyadari sesuatu. Di belakang mobil Pak Hendra, ada sebuah mobil lain yang mengintai dari kejauhan. Sebuah mobil sedan berwarna gelap yang tampak familiar.

Anjeli menyipitkan mata. “Apakah pengacara itu kembali? Ataukah ada orang lain yang mulai tertarik dengan rahasia kebun kecilnya?”

"Tenang, Anjeli. Tetap tenang," bisiknya pada diri sendiri sambil meraba cincin di jarinya.

1
Wanita Aries
mampir thorr
@Mita🥰
wah kasihan ya rumah Anjeli baru di bangun
Andira Rahmawati
lanjutttt makin seruuu💪💪💪
Lala Kusumah
semangat Anjeli, kamu pasti bisa 💪💪💪
Lala Kusumah
good job Anjeli 💪💪💪👍👍👍😍😍
@Mita🥰
semangat Anjeli
@Mita🥰
semoga sukses selalu thor
@Mita🥰
lanjut thor
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
mantaaap 👍👍👍
@Mita🥰
ini ruang ajaib nya bukan di cincin itu ya thor kok lewat pintu
@Mita🥰
bagus ceritanya
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
sukses selalu untuk Anjeli ya 🙏🙏🙏
Aretha Shanum
lanjut, suka ceritanya
Putri Hasan
suka ceritanya /Smile/
semangat updatenya 💪💪
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut
Evi Lusiana
sedih thor,cerita anjelibkin aku tertampar betapa sringny aku lalai tuk bersyukur atasa nikmat Tuhan
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Evi Lusiana
bagus thor,cm msih ad typo dikit²,ttp semangat thor
Lala lala
author pelan2 aja nulisnya dan hrs ingat alurnya..
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!