NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - Ceroboh

Siang ini hujan turun. Udara berubah menjadi dingin. Lama sekali Giselle hanya termenung sembari menatap hujan, tangannya terulur menadah tetesan air yang turun. Dia suka hujan, tetapi tidak berani bermain di bawah guyuran hujan. Ibunya pasti akan marah. Membuat ibunya marah adalah hal yang tidak pernah ingin Giselle lakukan. Itu menyeramkan.

Lelah berdiri, akhirnya Giselle memilih duduk di undakan teratas teras rumahnya. Tak peduli pada tetesan air yang lama-kelamaan membuat celananya basah.

Otak kecilnya sedang sibuk berpikir. Hujan selalu kembali meski jatuh berjuta-juta kali. Memang seperti itulah harusnya. Sama seperti kehidupan. Meski kita jatuh berkali-kali, tidak ada alasan untuk menyerah. Menyerah berarti kalah dan Giselle tak ingin kalah.

Menengok ke dalam rumah, gadis itu sama sekali tidak melihat ibunya. Mungkin ibunya sedang berada di kamar atau di dapur, entahlah. Mengulum senyum, Giselle perlahan maju, duduk di undakan terakhir yang tidak tertutup oleh atap. Hanya perlu waktu beberapa detik saja tubuh Giselle sudah basah kuyup. Gadis itu merentangkan kedua tangannya. Menikmati tetesan air hujan yang mengguyur tubuhnya. Rasanya nyaman.

Di rumah tetangga, seorang pemuda berdiri di teras sembari menatap Giselle dengan khawatir. Dia tahu, Giselle tidak bisa kehujanan meskipun dirinya menyukai hujan. Ia pasti akan langsung sakit keesokan harinya. Berdecak kesal, pemuda itu lebih memilih untuk menegurnya secara langsung.

"Pen, ngapain hujan-hujanan? Masuk sana!"

Teriakan itu berhasil mengalihkan perhatian Giselle. Gadis itu menatap Libra dengan senyuman lebar. Tanpa banyak kata, Giselle bangkit dan berlari ke rumah Libra yang berada persis di sebelah rumahnya.

Tetapi, belum sampai di depan Libra, gadis itu tiba-tiba....

Braakk

"Aaaaa...."

Giselle terpeleset tepat beberapa langkah di depan rumah Libra.

Bukannya menolong, Libra justru tertawa terbahak-bahak. Giselle itu ceroboh. Sudah tahu sedang hujan, tanahnya licin, tetapi gadis itu nekat berlari tanpa alas kaki.

Libra menghentikan tawanya kemudian meringis menatap Giselle yang duduk di atas tanah. Merasa kasihan melihat wajah Giselle yang sedang cemberut. Bisa dipastikan gadis itu tengah menangis. Lututnya berdarah.

Merasa tidak tega, akhirnya mau tak mau Libra berjalan menghampiri Giselle yang sudah basah kuyup. Ketika sudah sampai di samping Giselle, pemuda itu langsung menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ya, rumahnya. Bukan rumah Giselle.

Giselle melingkarkan kedua tangannya ke leher Libra. Sesekali pemuda itu mendengar suara isakan lirih dari Giselle.

"Sakit, hm? Makanya lain kali hati-hati. Lo tuh kebiasaan deh, ceroboh banget!" omel Libra setelah mendengus kesal.

"Iya, maaf," lirih Giselle. Suaranya terdengar serak. Ia sedang menahan perih di lututnya yang terkena air hujan.

"Besok-besok diulangi lagi ya. Sekalian tuh lari-lari keliling komplek, itung-itung olahraga," ujar Libra dengan enteng.

"Ish, enggak!"

Libra terkekeh pelan. Pemuda itu menurunkan Giselle di atas sofa. Setelah mengambil kotak P3K, dia berjongkok di depan gadis itu. Dengan telaten Libra mengobati lututnya yang terluka tanpa peduli pada tubuhnya sendiri yang sama basahnya seperti Giselle. Sedangkan Giselle hanya mampu menatap Libra dalam diam. Sebenarnya ia tengah kedinginan, tetapi tidak berani mengatakannya pada Libra. Takut pemuda itu semakin marah.

Lagi-lagi Libra mengobatinya. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya Giselle terjatuh. Dan Libra selalu menjadi dokter pribadi saat dirinya terluka. Bukan hanya luka fisik, tetapi luka hati dan batinnya juga.

Libra memang orang yang sangat baik. Bahkan terlalu baik untuk Giselle. Ia beruntung memiliki sahabat sebaik dia.

...***...

16 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!