"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Duel di Menara Latihan
Koridor utama menuju Paviliun Tinta Utama tidak pernah sesunyi ini saat jam istirahat. Kerumunan murid berbaju abu-abu perak berkumpul, membentuk lingkaran yang memisahkan hierarki antara mereka yang "berharga" dan mereka yang "hanya menumpang". Di tengah lingkaran itu, Bai Feng berdiri dengan keanggunan seorang singa muda yang sedang mengawasi mangsanya.
"Kabarnya kau mendapat akses ke Perpustakaan Tua," suara Bai Feng membelah udara, membawa nada sarkasme yang disambut tawa kecil dari para pengikutnya. "Seorang murid luar yang buta merayap di antara gulungan suci. Apakah Penatua Han begitu putus asa mencari hiburan?"
Guiren berhenti melangkah. Tongkat bambunya mengetuk lantai pualam sekali. Di sampingnya, Xiaolian tidak menunduk, matanya yang tajam menatap kelompok murid yang mengepung mereka. Ia merasakan penghinaan itu bukan untuk dirinya, tapi untuk martabat kakaknya. Tangannya mengepal di samping tubuh, menahan diri agar tidak meledak.
"Aku hanya menjalankan tugas," sahut Guiren datar.
"Tugasmu adalah menggiling tinta, bukan bermimpi tentang kultivasi," Bai Feng melangkah maju, memangkas jarak. Popularitasnya di sekte bukan tanpa alasan, ia adalah juara bertahan di turnamen murid baru tahun lalu, jenius yang digadang-gadang akan menjadi murid inti sebelum musim gugur berakhir. "Aku menantangmu di Menara Latihan. Sekarang. Jika kau punya sisa harga diri, kau akan datang."
"Hajar dia, Kakak Bai!" seru seorang murid berjidat lebar di barisan belakang. "Tunjukkan pada pengemis ini di mana tempatnya!"
Guiren merasakan riak emosi Xiaolian sebuah kombinasi antara kecemasan dan amarah yang murni. Ia menepuk tangan adiknya, sebuah gestur kecil untuk menenangkannya. "Aku akan datang," ucap Guiren meski pandangan adiknya seketika berpindah ke wajahnya seolah apa yang dia putuskan adalah sesuatu yang tidak perlu.
Menara Latihan adalah bangunan berbentuk oktagon dengan langit-langit tinggi yang menggema. Di tengah arena batu, Bai Feng sudah menunggu, memutar-mutar pedang kayunya dengan kecepatan yang menciptakan suara siulan angin.
Murid-murid memenuhi balkon penonton, menciptakan atmosfer yang menekan. Xiaolian berdiri di pinggir arena, matanya tidak sedetik pun lepas dari sosok kakaknya. Ia tahu Guiren lelah, ia tahu kakaknya bertarung dengan kegelapan, namun ia juga tahu bahwa di balik kain penutup mata itu, terdapat tekad yang tidak bisa dipatahkan oleh pedang asli sekalipun.
"Mulai!"
Bai Feng melesat. Ia adalah kilatan abu-abu perak. Teknik Langkah Awan miliknya membuat tubuhnya seolah tidak berbobot. Dalam sekejap, pedang kayunya menghujam ke arah ulu hati Guiren.
Guiren tidak bergerak hingga ujung pedang itu tinggal satu jengkal. Ia mengangkat Kuas Bulu Serigala Roh-nya, bukan untuk menangkis, melainkan untuk melukis sebuah garis diagonal di udara tipis.
Qi dingin mengalir dari wadah tintanya. Melalui Visi Qi, Guiren melihat dunia sebagai rajutan garis energi. Dengan kuasnya, ia menarik satu benang persepsi.
Bai Feng merasa pedangnya menembus sesuatu, namun saat ia yakin serangannya masuk, ujung pedangnya justru menghantam lantai batu di samping kaki Guiren. Bai Feng tertegun. Matanya melihat dadanya Guiren tepat di depannya, namun tangannya merasakan jarak yang jauh berbeda.
"Apa?" gumam Bai Feng. Ia memutar tubuh, mengirimkan rentetan tebasan cepat.
Setiap tebasan Bai Feng selalu meleset beberapa inci. Baginya, Guiren tampak bergoyang-goyang seperti bayangan di dalam air yang beriak. Ilusi jarak yang diciptakan Guiren memanipulasi persepsi visual Bai Feng. Saat Bai Feng merasa sudah dekat, Guiren sebenarnya berada satu langkah lebih jauh. Saat Bai Feng mencoba mengoreksi jarak, ruang di antara mereka seolah menyusut secara paksa.
Kuas Guiren terus menari, meninggalkan jejak-jejak tinta transparan di udara yang membengkokkan cahaya.
"Berhenti bermain trik murahan, dasar SAMPAH!" teriak Bai Feng, emosinya meledak. Ia melepaskan seluruh simpanan Qi-nya, membuat pedang kayunya berpendar biru tajam. Ia melompat tinggi, melakukan teknik Tebasan Langit Runtuh.
Guiren mendongak. Ia melihat titik tumpu energi Bai Feng di udara, sebuah momen di mana lawan tidak bisa mengubah arah. Guiren tidak menghindar. Ia menarik garis horizontal yang tajam di udara, tepat di jalur jatuh Bai Feng.
Secara mendadak, distorsi ruang yang dibuat Guiren "pecah". Efeknya seperti kaca yang hancur. Bai Feng, yang terbiasa dengan persepsi jarak yang salah selama duel, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan ruang yang normal kembali secara instan. Otaknya tidak mampu memproses perubahan mendadak itu.
Kaki Bai Feng mendarat di posisi yang salah. Keseimbangannya hilang.
Bai Feng jatuh tersungkur, debu arena mengepul di sekitarnya. Sebelum ia sempat bangkit, ia merasakan sesuatu yang dingin dan tajam menyentuh lekuk lehernya. Ujung Kuas Serigala milik Guiren.
Seluruh Menara Latihan mendadak sunyi senyap. Tawa dan ejekan di balkon membeku.
Bai Feng menatap ujung kuas itu dengan mata membelalak. Keringat bercucuran di pelipisnya. Ia tidak merasakan luka fisik, tapi egonya hancur berkeping-keping. Ia dikalahkan oleh seorang murid luar yang buta, bukan dengan kekuatan yang lebih besar, tapi karena ia tertipu oleh kecerdasan yang tidak ia pahami.
"Kau terlalu percaya pada matamu," ucap Guiren pelan, suaranya tidak mengandung nada sombong, hanya kebenaran yang dingin. "Dunia ini jauh lebih luas daripada apa yang bisa dilihat oleh pupil matamu."
Guiren menarik kembali kuasnya dan menyimpannya di balik jubah. Ia terhuyung sedikit, manipulasi ruang menguras Qi-nya hingga batas terakhir. Kepalanya berdenyut hebat.
Xiaolian segera berlari ke tengah arena. Ia tidak peduli pada tatapan ratusan mata yang menatap mereka dengan ngeri atau iri. Ia merangkul pinggang Guiren, menahan beban kakaknya agar tidak jatuh di depan umum.
"Ayo, Kak," bisik Xiaolian, suaranya bergetar karena bangga. "Kita pulang."
Mereka berjalan keluar dari menara, melewati kerumunan murid yang kini membelah diri seperti air yang dibelah batu, memberikan jalan dengan rasa hormat yang dipaksakan oleh rasa takut.
Bai Feng masih terduduk di arena, tinjunya menghantam lantai batu hingga berdarah. Di matanya, sosok Guiren yang menjauh bukan lagi seorang pengemis, melainkan sebuah bayangan hitam yang mulai menelan seluruh reputasi yang telah ia bangun. Rasa iri di dadanya kini telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih beracun.
Di balik bayang-bayang pilar lantai atas, seorang penatua mengamati dengan senyum misterius, mencatat setiap detail dari "Niat Tinta" yang baru saja diperlihatkan.