NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GULAI KEPALA IKAN KAKAP DI WARUNG PADANG PINGGIR JALAN

Perjalanan menuju arah Pelabuhan Teluk Bayur Padang memakan waktu lama.

Pick-up kijang plat B hijau tua milik Ali Bin Rais Payobadar, Uwo Ali, melaju pelan di atas jalan lintas Sumatera yang berdebu, berbatu, dan becek di beberapa tikungan. Jalan tahun 1977 itu belum diaspal mulus seperti sekarang. Masih banyak lobang, masih banyak tanah merah. Setiap kali pick-up itu masuk lobang, dong... guduk... dong... bak belakang yang diberi tikar pandan itu berguncang keras.

Di bak belakang, di atas tikar pandan baru, duduk dua orang anak muda Pande Sikek.

Andi Rajo Alam Sikumbang, 19 tahun, calon mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia di Salemba. Ia duduk bersila, memeluk erat amplop cokelat besar berisi surat lulus UMPTN Fakultas Hukum UI dan ijazah NEM 52 aslinya. Kemeja putih barunya sudah berdebu sedikit karena debu jalan lintas. Jam Seiko di tangannya berdetak tik... tik...

Di sebelahnya, Arya Arsyad Sikumbang, 12 tahun, Danem 42 di atas rata-rata, calon pewaris bengkel karoseri Cakung 30 karyawan. Ia duduk memeluk erat truk kayu surian kecil pemberian Arlan Rasyad Sikumbang kakaknya yang kemarin ngambek main truk kayu di teras. Jam Seiko kebesarannya yang diikat karet gelang berdetak sama, tik... tik... Di pangkuannya ada rantang seng berisi bekal gulai ayam dari ibunya, Siti Aminah Sikumbang, yang belum dibuka sama sekali.

Di depan, di kabin pick-up, Uwo Ali yang menyetir sendiri, dengan Etek Upik di sebelahnya. Etek Upik sesekali menoleh ke belakang lewat kaca kecil di belakang kabin, melihat kedua kemenakannya.

Sudah tiga jam perjalanan sejak berangkat dari halaman becek Pande Sikek jam enam pagi tadi. Matahari sudah naik tinggi, jam sudah menunjukkan jam sembilan pagi. Gunung Singgalang sudah tidak terlihat lagi, berganti dengan hutan karet dan sawit yang luas di sepanjang jalan lintas menuju Padang.

Pick-up itu terus melaju, dong... dong... dong... Asap solar hitam mengepul.

Di dalam kabin, Etek Upik berbisik pelan ke suaminya.

"Bang Ali... Uwo... cubo Uwo caliak ka belakang... si Uda Andi jo Buyuang Arya tu dari tadi diam se... dari Pande Sikek tadi pagi inyo alun makan lai... Siti, adiak ipar kito, masak nasi banyak-banyak tadi subuh jam tigo pagi, tapi inyo indak sempat makan karano sibuk manangih waktu perpisahan di halaman becek tadi... rantang seng tu masih tatutuik di pangkuan si Buyuang Arya..."

Uwo Ali, Ali Bin Rais Payobadar, yang dari tadi fokus menyetir menghindari lobang-lobang besar di jalan lintas, langsung menoleh sekilas lewat kaca spion dalam yang kecil, yang memantulkan wajah Andi dan Arya di bak belakang.

Benar. Andi dan Arya duduk diam, menunduk, memeluk barang masing-masing. Wajah mereka pucat, bukan karena mabuk darat, tapi karena lapar dan karena masih sedih meninggalkan ayah dan ibu di Pande Sikek. Sejak jam tiga pagi Siti Aminah memasak, mereka belum sarapan. Perpisahan yang mengharukan di halaman becek tadi membuat nasi yang sudah terhidang tidak sempat dimakan.

Uwo Ali mengangguk, ia paham. Hati seorang Uwo, hati seorang ayah yang tidak punya anak laki-laki, langsung terenyuh.

"Astaga... iyo bana... Uwo lupo... adiak denai Abdullah jo adiak ipar Siti masak banyak-banyak tadi subuh, tapi anak-anak indak sempat makan karano manangih..." kata Uwo Ali pelan, logat Jakartanya hilang, jadi logat Minang Agam asli.

Uwo Ali lalu mengurangi gas pick-upnya, dong... dong... melambat. Di depan, di pinggir jalan lintas Sumatera yang berdebu itu, ada sebuah rumah makan Padang yang cukup besar, rumah makan permanen dari kayu dan semen, bukan warung tendaan. Atapnya seng, tapi halamannya luas dan ada tulisan besar dengan cat putih yang sudah agak pudar: RUMAH MAKAN PADANG MURAH - SARI RASA - GULAI KAPALO IKAN KAKAP MERAH KHAS PAINAN.

Rumah makan itu ramai, banyak truk-truk besar pengangkut cengkeh dan kayu surian yang parkir di halamannya, sopir-sopirnya sedang makan.

Uwo Ali membanting setir sedikit, pick-up plat B hijau tua itu berbelok masuk ke halaman rumah makan Padang itu, berhenti dengan rem yang berdecit, cit... Debu mengepul.

Di bak belakang, Andi dan Arya terkejut, mereka memegang erat-erat koper kayu mereka takut jatuh.

Uwo Ali dan Etek Upik turun dari kabin. Uwo Ali dengan kemeja batiknya yang sudah berdebu, Etek Upik dengan baju kurung tenunnya, berjalan ke bak belakang.

"Uda Andi... Buyuang Arya... turunlah dulu, Nak..." kata Uwo Ali dengan suara lembut, suara seorang Uwo yang menyayangi kemenakannya seperti anak kandung sendiri. "Uwo liat dari tadi kalian diam se di ateh tikar pandan tu... kalian alun sarapan dari pagi... rantang dari ibu kalian, Etek Siti, masih tatutuik..."

Andi Rajo Alam yang 19 tahun langsung menjawab dengan malu-malu, bahasa Indonesianya sopan, bahasa anak SMA yang baru lulus NEM 52 tertinggi.

"Indak usah, Uwo Ali... kami indak lapar, Uwo... masih kenyang... tadi pagi lah minum teh... bekal dari ibu masih ado di rantang..."

Arya yang 12 tahun yang jam Seikonya kebesaran juga mengangguk malu-malu, menunduk. Ia belum berani menatap mata Uwo Ali yang gagah, pengusaha bengkel 30 karyawan di Cakung itu. Ia masih merasa malu, masih merasa sebagai anak kampung Pande Sikek yang baru pertama kali keluar dari Gunung Singgalang.

Etek Upik yang dari tadi diam, langsung naik ke bak belakang, duduk di samping Arya dan mengusap kepala Arya yang masih kecil.

"Buyuang Arya... Uda Andi... jan malu-malu ka Uwo Ali jo Etek... kalian adalah anak-anak Uwo jo Etek kini... di Pande Sikek tadi pagi kalian adalah anak Abdullah jo Siti... tapi mulai dari pick-up ko bajalan dari halaman becek tadi, kalian adalah anak-anak Uwo Ali jo Etek Upik di Cakung... kalau anak lapar, Uwo dan Etek harus ma agiah makan... itu adaik kito..."

Uwo Ali tersenyum, senyum lebar pengusaha Cakung.

"Iyo, Uda Andi, Buyuang Arya... turunlah... Uwo tau kalian malu-malu ka Uwo jo Etek... tapi Uwo jo Etek indak akan makan kalau kalian indak makan... Uwo jo Etek lah sarapan di rumah Abdullah tadi pagi jam limo, tapi kalian alun... ayolah... di rumah makan Padang pinggir jalan ko ado menu istimewa... Gulai Kapalo Ikan Kakap Merah... Rendang Daging... Paragede Kentang... menu nan indak ado di Pande Sikek..."

Mendengar kata-kata Gulai Kapalo Ikan Kakap Merah dan Rendang Daging, perut Andi dan Arya yang dari tadi kosong sejak jam tiga pagi, langsung berbunyi pelan, krucuk... krucuk... Tapi mereka masih malu-malu.

Akhirnya, dengan dipapah oleh Etek Upik, Andi Rajo Alam dan Arya Arsyad Sikumbang turun dari bak belakang pick-up plat B hijau tua itu. Kaki mereka kesemutan karena duduk bersila tiga jam di atas tikar pandan. Mereka masih memegang koper kayu dan amplop cokelat dan truk kayu surian mereka erat-erat.

Mereka berempat masuk ke dalam rumah makan Padang Sari Rasa itu. Rumah makan itu luas, lantainya semen, meja-mejanya dari kayu, dindingnya penuh dengan foto-foto kapal dan foto Presiden Soeharto. Bau masakan Padang yang kuat langsung menyergap hidung, bau gulai, bau rendang, bau sambal, bau yang tidak pernah ada di rumah papan Pande Sikek yang hanya bau gulai ayam kampung saja.

Seorang pelayan, seorang pemuda Minang dengan baju putih dan peci hitam, langsung datang.

"Silakan, Pak... silakan duduk... mau pesan apa, Pak?"

Uwo Ali, Ali Bin Rais Payobadar, yang sudah 17 tahun merantau di Jakarta dan sudah biasa makan di rumah makan Padang besar di Jakarta, duduk dengan gagahnya. Ia adalah Uwo, ia yang akan membayar.

Dengan suara lantang khas pengusaha Cakung, Uwo Ali memesan.

"Uniak, tolong hidangkan nan istimewa untuak kemenakan-kemenakan ambo nan baru datang dari Pande Sikek, nan ka barangkek ka Jakarta ka Fakultas Hukum UI Salemba dan ka STM Mesin Cakung..."

"Bawakan ciek Gulai Kapalo Ikan Kakap Merah nan gadang, nan baru masak, kapalo nan utuh... bawakan duo porsi Rendang Daging nan hitam dan lamak... bawakan ampek Paragede Kentang nan garing... bawakan Gulai Ayam, Gulai Tunjang, Sambal Lado Cengkeh, Sayua Nangka, dan nasi putiah nan banyak, nan angek..."

Pelayan itu mengangguk dan berlari ke dapur.

Andi dan Arya yang duduk di meja kayu itu, masih malu-malu, menunduk. Mereka belum pernah makan di rumah makan Padang sebesar ini di pinggir jalan lintas. Di Pande Sikek, mereka hanya makan di tikar pandan dengan piring seng.

Tidak lama kemudian, makanan datang. Satu per satu, piring-piring besar datang di atas nampan aluminium besar.

Yang pertama datang adalah Gulai Kepala Ikan Kakap Merah yang istimewa. Kepala ikan kakap merah yang besar, hampir sebesar kepala anak kecil, masih utuh dengan matanya, dengan insangnya, disiram kuah gulai kuning kental yang berminyak dan penuh dengan cabai merah dan kunyit. Baunya harum sekali, bau laut dan bau gulai.

Lalu datang Rendang Daging yang hitam pekat, daging sapi yang dimasak 8 jam dengan santan kental, berminyak, pedas, dan lembut. Lalu datang Perkedel Kentang yang bulat-bulat besar, kuning keemasan, garing di luar lembut di dalam. Lalu datang Gulai Tunjang, Gulai Ayam, Sayur Nangka, dan nasi putih yang mengepul banyak, dalam bakul besar.

Meja kayu itu penuh sesak dengan makanan, seperti meja pesta.

Andi dan Arya yang awalnya malu-malu kepada Sang Uwo Ali Bin Rais Payobadar dan istrinya Etek Upik, yang duduk dengan tegak dan sopan, kini tidak bisa lagi menahan. Bau Gulai Kepala Ikan Kakap Merah itu terlalu harum, bau Rendang Daging itu terlalu menggoda untuk anak kampung yang baru 12 tahun dan 19 tahun yang seumur hidup hanya makan gulai ayam kampung dan sambal lado cengkeh di bawah petromaks.

Uwo Ali melihat kemenakannya masih malu-malu, ia tersenyum dan langsung mengambil sendok besar, menyendokkan kuah Gulai Kepala Ikan Kakap Merah itu ke piring Andi dan Arya.

"Uda Andi... Buyuang Arya... makanlah... jan malu-malu... makan nan banyak... perjalanan kito ka Teluk Bayur masih jauah, masih 6 jam lai... kapal feri ka Jakarta masih malam jam 8... kalau indak makan banyak, beko di ateh kapal feri beko kalian mabuk lautan..."

Etek Upik juga menyendokkan Rendang Daging dan Perkedel Kentang ke piring mereka.

"Makanlah, Nak... makan... anggap se rumah makan ko rumah kito di Cakung..."

Melihat Uwo Ali dan Etek Upik yang begitu baik dan tulus, yang menyendokkan makanan dengan tangan mereka sendiri, rasa malu Andi dan Arya perlahan hilang. Andi Rajo Alam yang 19 tahun calon mahasiswa Hukum UI itu akhirnya tersenyum, senyum pertama sejak perpisahan mengharukan di halaman becek tadi pagi. Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun juga tersenyum, senyum lebar anak kecil yang melihat makanan enak.

"Bismillah..." kata Andi pelan.

Mereka berdua pun mulai makan.

Awalnya pelan, suapan kecil, malu-malu. Tapi setelah suapan pertama Gulai Kepala Ikan Kakap Merah yang lembut dan pedas dan gurih itu masuk ke mulut, setelah suapan pertama Rendang Daging yang hitam dan lembut itu masuk, mata mereka berbinar.

Enak sekali. Jauh lebih enak dari gulai ayam kampung di Pande Sikek.

Andi dan Arya yang awalnya malu-malu, akhirnya makan banyak, makan lahap, seperti anak rantau yang baru pertama kali merasakan makanan istimewa di rumah makan Padang pinggir jalan. Mereka menghabiskan semua pesanan makanan yang mereka pesan. Kepala Ikan Kakap Merah yang besar itu mereka habiskan berdua, mereka congkel matanya, mereka hisap insangnya. Rendang Daging dua porsi habis, Perkedel Kentang empat buah habis, nasi putih satu bakul besar habis. Tangan mereka belepotan kuah gulai kuning.

Uwo Ali Bin Rais Payobadar dan Etek Upik yang melihat keponakan kesayangannya mau makan banyak dan menghabiskan semua pesanan makanan yang mereka pesan, tersenyum senang, senyum bahagia seorang Uwo dan Etek yang melihat anak-anaknya lahap makan. Etek Upik sampai menitikkan air mata haru melihat Arya yang 12 tahun makan dengan lahap, mulutnya penuh nasi.

"Alhamdulillah... makanlah nan banyak, Buyuang... makanlah nan banyak, Uda..." kata Etek Upik sambil mengusap kepala Arya.

Setelah semua perut terisi penuh, setelah piring-piring besar itu kosong dan hanya tinggal tulang-tulang kepala ikan kakap merah, pelayan datang membawa minuman pelengkap.

Es Teh Melati Manis.

Empat gelas besar, gelas kaca tebal, berisi teh manis dengan bunga melati, dengan es batu yang banyak, yang mengembun dan meneteskan air dingin di meja kayu. Minuman yang sangat mewah di tahun 1977 di pinggir jalan lintas Sumatera, minuman yang belum pernah diminum Andi dan Arya di Pande Sikek yang hanya minum air putih dari sumur dan teh pahit.

Andi dan Arya meminum Es Teh Melati Manis itu dengan lahap, tegukan besar. Dingin, manis, harum melati. Dahaga tiga jam di atas pick-up yang berdebu langsung hilang.

"Segar, Uwo..." kata Arya polos, pertama kalinya ia bicara keras sejak pagi, dengan mulut masih belepotan kuah gulai.

Uwo Ali tertawa terbahak-bahak, tawa pengusaha Cakung yang puas.

"Ha ha ha... segar, kan, Buyuang? Es Teh Melati Manis ko memang minuman istimewa di rumah makan pinggir jalan ko... di Jakarta beko banyak nan sarupo ko di Cakung..."

Setelah semua selesai, setelah perut kenyang dan hati senang, Uwo Ali membayar ke kasir dengan uang kertas yang banyak, uang dari bengkel karoseri Cakung.

Sebelum keluar dari rumah makan Padang itu, Uwo Ali Bin Rais Payobadar yang penyayang itu tidak lupa. Ia kembali ke kasir dan memesan lagi.

"Uniak, tolong bungkuskan duo plastik Es Teh Melati Manis nan gadang, nan manis, nan banyak es batunyo... untuak bekal di jalan..."

Pelayan membungkus dua plastik besar Es Teh Melati Manis, diikat dengan karet gelang, masih mengembun dingin.

Uwo Ali memberikan dua plastik Es Teh Melati Manis itu kepada Andi dan Arya yang sudah kembali duduk di bak belakang pick-up di atas tikar pandan.

"Nah, Uda Andi, Buyuang Arya... ko untuak kalian... duo plastik Es Teh Melati Manis untuak manamani panek kalian salamo perjalanan manuju ka arah Pelabuhan Teluk Bayur... kalau haus di jalan, minum... kalau panek, minum... kalau kangen Pande Sikek, minum... manisnyo sarupo kenangan di Pande Sikek..."

Andi dan Arya menerima dua plastik Es Teh Melati Manis itu dengan kedua tangan, dengan senyum senang, senyum malu-malu yang sudah hilang. Plastik itu dingin di tangan mereka yang masih belepotan kuah gulai.

Pick-up plat B hijau tua itu pun kembali melaju, dong... dong... dong... meninggalkan rumah makan Padang Sari Rasa di pinggir jalan lintas yang berdebu, menuju arah Pelabuhan Teluk Bayur yang masih 6 jam lagi, menuju lautan yang akan diseberangi malam nanti menuju Jakarta.

Di bak belakang, Andi Rajo Alam calon mahasiswa Fakultas Hukum UI dan Arya Arsyad Sikumbang calon pewaris bengkel karoseri Cakung, duduk bersandar di koper kayu cokelat mereka, perut kenyang, hati senang, meminum Es Teh Melati Manis dari plastik dengan sedotan, sambil melihat hutan karet dan sawit yang berlalu cepat di sepanjang jalan lintas Sumatera, sambil memegang erat truk kayu surian kecil pemberian Arlan.

Perjalanan baru mereka benar-benar telah bermula, dengan perut kenyang Gulai Kepala Ikan Kakap Merah dan Rendang Daging dan Perkedel Kentang, dan dengan dua plastik Es Teh Melati Manis dingin di tangan, pemberian dari Uwo Ali dan Etek Upik, Uwo dan Etek yang menyayangi mereka seperti anak kandung sendiri.

Di depan, di kabin, Uwo Ali menyetir sambil tersenyum, melihat dari kaca spion, kedua kemenakan kesayangannya yang tadi malu-malu, kini tersenyum senang sambil minum es teh manis di atas tikar pandan di bak belakang pick-up plat B hijau tuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!