Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
****
Udara siang di kebun anggur Tuscany berembus tenang, membawa wangi tanah basah dan dedaunan yang hangat. Namun, ketenangan itu tak sedikit pun sanggup meredakan gemuruh di dalam dada Lyn. Setelah insiden kecil di meja sarapan tadi pagi, Wiliam memutuskan untuk membawa Lyn keluar dari area villa utama demi "menghirup udara segar" dan menenangkan pikiran.
Tanpa mengajak Clara yang sedang sibuk dengan panggilan bisnisnya, Wiliam mengemudikan sendiri sebuah sedan klasik beratap terbuka menyusuri jalanan privat perbukitan milik keluarganya. Lyn duduk di samping kursi kemudi, meremas jemari tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan.
"Kamu masih tegang, Little Lady," suara berat Wiliam memecah keheningan yang tebal di antara mereka. Pria paruh baya itu memutar setir dengan satu tangan yang santai namun tegas, sementara matanya sesekali melirikLyn melalui balik kacamata hitamnya.
Lyn menunduk pelan, menggigit bibir bawahnya. "Saya... saya hanya masih merasa tidak enak pada Clara, Tuan Wiliam. Dan saya takut mantan saya masih berkeliaran di sekitar sini."
"Pertama, aku sudah menyuruhmu memanggil namaku jika hanya ada kita berdua," tegur Wiliam pelan namun bernada mutlak. "Kedua, tidak ada yang perlu kamu takutkan selama kamu bersamaku. Pria tak berguna itu tidak akan berani menyentuh sehelai rambutmu pun."
Wiliam membelokkan mobil ke sebuah area terpencil di tepi tebing kecil yang menghadap langsung ke hamparan kebun anggur luas milik keluarga Wiliam. Sebuah gazebo tua bergaya Eropa klasik berdiri megah di bawah naungan pohon pino yang rindang, terlindung dari pandangan jalan utama.
"Turunlah. Udara di sini jauh lebih segar," perintah Wiliam seraya mematikan mesin mobil.
Lyn menuruti perintah itu. Ia melangkah keluar, menghirup udara perbukitan yang dingin. Angin lembut menerpa gaun merah muda yang dikenakannya, menyibak rambut panjangnya hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus.
Namun, sebelum Lyn sempat menikmati ketenangan itu, suara langkah kaki tergesa-gesa yang menginjak dedaunan kering terdengar dari balik semak-semak tak jauh dari gazebo.
"Lyn! Akhirnya aku menemukanmu!"
Lyn tersentak kaget. Tubuhnya membeku seketika saat melihat sosok pria muda berantakan muncul dari balik pepohonan. Pria itu adalah mantannya—pria yang baru kemarin berciuman mesra dengan wanita lain di atas pesawat!
"Kamu... bagaimana bisa kamu ada di sini?!" cicit Lyn dengan suara bergetar karena panik dan emosi.
"Aku mengikutimu sejak keluar dari gerbang villa tadi! Lyn, tolong dengarkan aku dulu!" seru pria itu seraya melangkah maju dengan wajah penuh permohonan yang dibuat-buat. "Soal di pesawat kemarin, itu hanya salah paham! Wanita itu yang menggoda dan menjebakku! Aku hanya mencintaimu, Lyn!"
"Bohong!" pekik Lyn, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Kamu memeluknya dan bilang aku membosankan! Jangan mendekat!"
Pria muda itu tampak kehilangan kesabaran. Wajahnya mengeras dan ia menerjang maju, hendak mencengkeram pergelangan tangan Lyn. "Kamu harus ikut aku pulang ke Indonesia sekarang, Lyn! Jangan bertingkah konyol dan bersembunyi di rumah orang asing—"
BAM!
Sebelum jemari pria itu sempat menyentuh kulit Lyn, sebuah cengkeraman tangan yang luar biasa kuat menyambar pergelangan tangan pria muda itu di udara, memutarnya ke belakang dengan gerakan yang sangat cepat dan telak.
"Aaghh!" jerit pria muda itu kesakitan saat tubuhnya terdorong kasar hingga berlutut di tanah kotor.
Wiliam berdiri menjulang di atasnya. Kacamata hitamnya sudah dilepas, memperlihatkan mata sehitam jelaga yang memancarkan aura membunuh yang teramat dingin dan mengerikan. Pria paruh baya itu mencengkeram bahu sang mantan dengan tekanan yang sanggup meremukkan tulang.
"T-Tuan... siapa Anda?! Lepaskan saya!" ringis pria muda itu panik saat menyadari siapa pria berwibawa di hadapannya.
Wiliam menunduk sedikit, menatap pria di bawahnya dengan tatapan merendahkan seolah-olah sedang melihat serangga menjijikkan. "Kamu baru saja mencoba meletakkan tangan kotor itu pada milikku," bisik Wiliam dengan suara yang sangat rendah, berat, dan dipenuhi ancaman mutlak.
"Milik Anda?! Dia kekasih saya!" teriak pria itu nekad.
CRAK!
Wiliam menekan persendian bahu pria itu lebih dalam hingga terdengar bunyi gemeletak tipis yang membuat pria muda itu menjerit histeris. Lyn menutup mulutnya dengan kedua tangan, gemetar hebat melihat pemandangan di depannya.
"Dengar baik-baik, anak muda," ucap Wiliam dengan nada suara yang begitu tenang namun mengintimidasi hingga ke tulang rusuk. "Dalam waktu dua puluh empat jam, seluruh aset bisnismu di Jakarta akan kubekukan. Rekening bankmu, fasilitas hukummu, dan semua nama keluargamu akan kuhancurkan sampai kamu tak punya sepeser pun uang bahkan hanya untuk membeli tiket pulang dari negara ini."
Mata pria muda itu membelalak horor. "A-apa?! Anda... Anda tidak bisa melakukan itu!"
"Aku bisa melakukannya hanya dengan satu panggilan telepon," potong Wiliam dingin. Wiliam lalu mengisyaratkan sesuatu ke arah jalanan. Dari balik pepohonan, dua orang pengawal pribadi berbadan tegap berseragam serba hitam muncul dengan cepat. "Bawa makhluk ini pergi. Pastikan dia tidak pernah bisa menginjakkan kaki di Eropa lagi. Jika dia mencoba menghubungi Lyn sekali lagi, selesaikan dengan cara yang lebih permanen."
"Baik, Tuan Besar," jawab para pengawal itu tegas, langsung menyeret sang mantan yang terus berteriak histeris dan memohon ampun hingga suaranya menghilang di kejauhan.
Keheningan seketika kembali menguasai tebing terpencil itu.
Lyn berdiri mematung di tempatnya, napasnya terengah-engah. Rasa syok, panik, dan keheranan berbaur menjadi satu di dalam dadanya. Ia baru saja menyaksikan betapa kejam dan berkuasanya sosok ayah dari sahabatnya sendiri.
Wiliam merapikan lengan kemejanya yang sedikit berkerut, lalu perlahan membalikkan badan menghadapi Lyn. Aura intimidasi yang tadi ditunjukkan pada sang mantan seketika berganti menjadi gelombang dominasi yang teramat posesif saat matanya mengunci sosok Lyn yang tampak begitu pasrah dan rapuh.
Wiliam melangkah mendekat. Setiap pijakan kakinya membuat jantung Lyn berdegup gila-gilaan.
"Kemari, Lyn," panggil Wiliam pelan.
Lyn tak mampu menggerakkan kakinya. Ia terlalu terpesona sekaligus takut. Namun, Wiliam tak memberinya ruang untuk melarikan diri. Pria paruh baya itu mengikis jarak, menarik pinggang ramping Lyn dengan satu sentakan lembut namun tegas, membawa tubuh mungil gadis itu menempel rapat pada dada bidangnya yang kokoh.
Lyn tercekik napasnya sendiri saat aroma sandalwood yang hangat dan mewah kembali mengurung seluruh indranya.
"W-Wiliam... ini tidak benar," bisik Lyn terbata-bata, tangannya menahan dada bidang Wiliam dengan lemas. "Clara... kamu adalah ayah dari sahabatku..."
Wiliam terkekeh pelan—sebuah tawa berat di dalam dada yang membuat tubuh Lyn ikut bergetar. Sebelah tangan besar Wiliam terangkat, jemarinya menyusup ke balik rambut tebal Lyn, memiringkan wajah cantik gadis 21 tahun itu agar menatap lurus ke dalam matanya yang tajam.
"Apakah kamu pikir aku peduli dengan batasan konyol itu, Little Lady?" bisik Wiliam di depan bibir Lyn yang gemetar. "Sejak detik pertama aku merengkuhmu di atas pesawat kemarin, aku sudah memutus takdirmu dari pria lain."
"Tapi... tapi saya..."
"Tatap mataku," potong Wiliam penuh penekanan yang mutlak. "Katakan padaku, apakah hatimu masih menginginkan pria tak berguna tadi, atau kamu menginginkan perlindungan dari pria yang berdiri di depanmu sekarang?"
Mata jernih Lyn berkaca-kaca. Kepolosannya beradu dengan gejolak perasaan asing yang membakar dadanya. Di satu sisi, rasa bersalah pada Clara menghantuinya; namun di sisi lain, sentuhan, kehangatan, dan dominasi dari pria matang ini membuatnya merasa begitu terlindungi dan diinginkan dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Lyn menundukkan pandangannya, membiarkan dahi dan napas hangatnya bersandar pada dada bidang Wiliam yang terbungkus sweter rajut mahal. "Saya... saya takut, Wiliam..." bisik Lyn pasrah.
Wiliam menyunggingkan senyum puas. Ia makin mempererat dekapan tangannya di pinggang Lyn, menyembunyikan tubuh kecil gadis itu di balik pelukan protektifnya di bawah naungan pohon pino yang sunyi.
"Jangan takut," bisik Wiliam tepat di pelipis Lyn, memberikan kecupan hangat yang lama di sana. "Selama kamu berada di bawah kendaliku, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang sanggup menyakiti dirimu lagi."
Bersambung...
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻