Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Kak Ethan ...," bisikku lirih, menatap sayu ke arah pria yang berdiri di samping brankarku.
Pandanganku yang semula kabur perlahan mulai menjernih. Bau obat-obatan yang menyengat langsung menusuk indra penciumanku, disusul oleh suara ritmis alat medis yang berbunyi teratur di dekat telingaku.
Ini di rumah sakit? Dan ... aku masih hidup? Apa yang sebenarnya terjadi? ucapku pelan dalam hati.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan serba putih yang asing ini. Ingatanku berputar balik pada momen mengerikan di ruang makan saat dadaku dihantam rasa sakit luar biasa dan darah menyembur dari mulutku. Seharusnya aku sudah mati, tetapi takdir tampaknya punya rencana lain. Di sudut ruangan, aku melihat Kak Ethan sempat berjalan kembali ke sofa dan membuka laptopnya, berpura-pura sibuk bekerja demi menutupi kecemasan yang berkecamuk di dalam dadanya.
Namun, begitu menyadari sepasang mataku telah terbuka sepenuhnya, Kak Ethan langsung tertegun. Ia menetralkan debaran di dadanya yang sempat berdegup liar, lalu mengembuskan napas panjang penuh kelegaan. Dengan gerakan cepat, ia menutup laptopnya, meletakkannya di atas sofa, lalu melangkah lebar menghampiri tempat tidurku.
"Kamu sudah bangun?" tanya Kak Ethan. Nada suaranya yang biasa sedingin es kini terdengar sedikit bergetar. "Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?"
Pria itu mengulurkan tangan. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun berlalu, ia menyentuhku dengan lembut. Kak Ethan membantuku menyandarkan tubuh dengan perlahan agar posisi dudukku terasa nyaman, lalu jemarinya bergerak merapikan selimut yang membungkus tubuh ringkihku.
Aku hanya bisa terdiam membeku. Sentuhan hangat dan rentetan pertanyaan penuh perhatian dari Kak Ethan ini terasa begitu asing, hingga membuat dadaku mendadak kembali sesak oleh rasa haru yang tak terbendung.
"Apa yang terjadi padaku, Kak?" tanyaku pelan, memecah keheningan yang sempat merayap di antara kami. Mataku menatap wajah Kak Ethan, menuntut sebuah kejelasan yang sudah belasan tahun disembunyikan dariku.
Namun, Kak Ethan tampak enggan menjawab. Sorot mata elangnya yang tadi sempat melembut, kini kembali ditarik datar, seolah mengunci rapat rahasia mistis tentang garis kematian yang hampir mencabut nyawaku. Bukannya memberikan penjelasan, ia justru buru-buru memalingkan muka dan mengalihkan pembicaraan.
"Tunggu sebentar di sini. Aku ambil air dulu. Kamu jangan banyak bergerak," potong Kak Ethan cepat dengan nada baritonnya yang kaku.
Tanpa menunggu balasan dariku, ia langsung berbalik dan melangkah lebar menuju dispenser di sudut ruangan. Pria itu mengambil segelas air minum, lalu berjalan kembali ke samping brankarku. Dengan gerakan yang teramat hati-hati—seolah takut tubuh ringkihku akan hancur jika tersentuh kasar—ia mengulurkan gelas itu kepadaku.
Aku menerima gelas tersebut, membiarkan kehangatan airnya meresap ke telapak tanganku yang masih sedingin es. "Terima kasih banyak, Kak," ucapku tulus setelah meneguk air minum itu perlahan, membasahi tenggorokanku yang terasa sekering padang pasir.
Kak Ethan hanya mengangguk samar, berdiri menjulang di samping tempat tidurku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan kembali melanda ruang ICU yang sunyi ini. Di balik wajahnya yang kembali kaku seperti batu, aku tahu, ada dinding rahasia besar yang kini sedang kami sembunyikan satu sama lain.
"Apa kamu butuh sesuatu? Atau ... kamu mau aku ambilkan sesuatu?" tanya Kak Ethan kaku. Nada suaranya terdengar canggung, seolah ia belum terbiasa menawarkan perhatian padaku.
Aku memberikan senyuman tipis yang teramat samar. "Tidak, Kak. Aku tidak butuh apa-apa saat ini," ucapku pelan.
"Kalau begitu, tunggu di sini. Aku pergi sebentar untuk memanggil dokter untukmu," ucap Kak Ethan. Tanpa menunggu jawabanku lagi, ia langsung berbalik dan melangkah lebar keluar dari ruangan.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar ICU kembali terbuka. Kak Ethan masuk bersama seorang dokter paruh baya yang langsung berjalan mendekat untuk memeriksa kondisiku. Dokter itu mengecek denyut nadiku, menyenter kedua pupil mataku, dan memeriksa grafik di mesin monitor dengan saksama.
"Pak Ethan, kondisi Nona Besar sudah stabil," ucap dokter itu setelah menyelesaikan pemeriksaannya, lalu berbalik menatap Kak Ethan. "Namun, selama ini beliau menderita kurang gizi parah dan juga memiliki penyakit lambung kronis. Beliau harus beristirahat total di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan."
"Terima kasih, Dokter," jawab Kak Ethan, suaranya terdengar berat dan sarat akan penyesalan yang tertahan.
"Mulai hari ini, makanannya harus dipantau dengan ketat. Berikanlah makanan yang bergizi tinggi supaya hal seperti ini tidak terulang lagi," ucap dokter itu lagi. Matanya beralih menatapku dengan pandangan penuh keprihatinan, seolah heran mengapa putri sulung dari keluarga sekaya Adipta bisa mengalami malnutrisi parah.
"Baik, Dok. Saya akan mengingatnya," ucap Kak Ethan tegas, mengunci pandangannya pada tubuh ringkihku yang masih terbaring lemah.
"Saya permisi dulu. Kalau ada hal lain yang dibutuhkan, panggil saya saja," ucap sang dokter dengan senyum ramah sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruanganku.
Pintu kayu yang tebal itu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang kembali merayap di antara aku dan Kak Ethan. Suara ritmis dari mesin bedside monitor kembali menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian di dalam kamar rawat ini.
Aku melirik Kak Ethan dari sudut mataku. Pria itu berdiri diam di tempatnya, menatap lurus ke arah brankarku dengan jalinan emosi yang begitu rumit di matanya. Instruksi dari dokter tentang kondisiku yang kurang gizi parah dan penyakit lambung menahun akibat dikurung di gudang lantai tiga, tampaknya benar-benar telah menampar kesadaran kakak sulungku itu.
Setelah pintu tertutup rapat, Kak Ethan tidak langsung bergerak. Ia sempat mematung selama beberapa detik, menatap lantai semen yang bersih seolah sedang mencerna setiap kata dari dokter tadi. Namun kemudian, ia menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang terdengar begitu berat, seolah melepaskan sebagian beban tak kasatmata yang menggelayuti pundaknya.
Ia melangkah mendekat, lalu menarik kursi besi yang berada di samping tempat tidurku. Suara derit kaki kursi yang bergesekan dengan lantai terdengar nyaring di dalam ruangan yang sunyi ini.
Kak Ethan mendudukkan dirinya di sana. Jarak di antara kami kini begitu dekat, sebuah posisi yang tidak pernah terjadi selama dua puluh dua tahun hidupku.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tangan Kak Ethan yang kekar terulur untuk mengambil mangkuk bubur hangat yang tadi diletakkan di atas meja nakas. Dengan sangat telaten, ia mengaduk bubur itu perlahan, meniupnya beberapa kali agar uap panasnya berkurang, lalu menyendoknya sedikit.
Ia mengarahkan sendok itu tepat di depan bibirku.
Aku tertegun, menatap sendok itu dan wajah Kak Ethan secara bergantian dengan perasaan linglung. Lidahku mendadak kelu. Pria di hadapanku ini adalah sosok yang sama dengan pria yang membentakku di koridor lantai dua, pria yang mengunci takdirku di gudang lantai tiga, dan pria yang selalu menatapku seolah aku adalah monster pembawa petaka. Namun kini, dia sedang duduk di sini, menyuapiku dengan gerakan yang teramat lembut seolah aku adalah barang pecah belah yang sangat berharga.
"Buka mulutmu. Dokter bilang kamu harus segera makan," ucap Kak Ethan lirih, memecah keheningan di antara kami. Nada suaranya tetap terdengar kaku, tetapi tidak ada lagi kebekuan atau kebencian di sana.
Aku menelan ludah pelan, lalu perlahan membuka mulutku dan menerima suapan pertama darinya.
Kami melewati momen itu dalam diam yang teramat panjang. Tidak ada obrolan, tidak ada penjelasan tentang kutukan garis kematian yang hilang, dan tidak ada kata maaf yang terucap dari bibirnya. Namun, di dalam sunyinya ruang rawat ini, kunyahan bubur yang hambar itu mendadak terasa begitu hangat di dadaku. Di bawah temaram lampu ICU, suapan demi suapan dari Kak Ethan seolah menjadi jembatan bisu yang perlahan mulai mengikis jarak belasan tahun di antara kami.
Sambil menerima suapan bubur dari Kak Ethan, aku memanfaatkan celah gerakan tangannya untuk diam-diam menurunkan pandangan. Mataku melirik cepat ke arah telapak tangan kiriku yang terkulai di atas selimut.
Jantungku seketika berdesir aneh.
Kulit telapak tanganku kini bersih. Garis ghaib berwarna hitam pekat yang selama ini berdenyut menyiksa batin, serta barisan angka angka misterius yang dengan jelas tertulis "20 Juni" di sana, sudah benar-benar lenyap tak berbekas.
Sudah hilang? batinku linglung.
Rasa tidak percaya bercampur ngeri seketika berkecamuk di dalam dadaku. Tanggal kemarin seharusnya menjadi batas akhir napasku di dunia ini. Kutukan itu tidak pernah salah. Garis kematian yang kulihat pada Kakek, Papa, dan Mama selalu menjemput mereka tepat pada waktunya tanpa meleset sedetik pun. Namun sekarang, melihat telapak tanganku yang polos tanpa tanda apa pun, aku merasa seolah-olah telah mencuri waktu dari malaikat maut.
Aku mengunyah bubur di dalam mulutku dengan perlahan, merasakan hambar yang teramat sangat. Pikiranku berputar liar. Apakah karena panggilan telepon dari Kak Ethan tadi malam yang berhasil menggeser takdirku? Ataukah karena sisa rasa sayang yang terselip di balik kekejaman kakak-kakakku yang akhirnya memutus rantai kutukan ini?
"Kenapa melamun? Buka mulutmu lagi," teguran suara bariton Kak Ethan seketika memotong lamunan pendekku.
Aku tersentak, buru-buru menyembunyikan telapak tangan kiriku di balik lipatan selimut putih rumah sakit. Aku mendongak, menatap mata elang Kak Ethan yang kini sedang menyendok kembali bubur dari mangkuk. Di balik wajahnya yang kembali datar dan kaku, aku tahu, Kak Ethan pasti juga telah melihat tanda misterius itu saat aku tak sadarkan diri. Kebungkaman di antara kami berdua saat ini justru menjadi penegas bahwa ada rahasia besar yang sedang kami sembunyikan satu sama lain.
"Tanggal yang di telapak tanganmu itu ... adalah tanggal kemarin," Kak Ethan akhirnya membuka suara setelah suapan kelima selesai. Ia meletakkan mangkuk bubur itu kembali ke atas meja nakas, lalu menatapku dengan sorot mata yang teramat intens. Pria itu condong ke depan, bertanya dengan nada suara yang begitu serius dan berat, "Bella, sejak kapan kamu tahu tanggal kematianmu sendiri?"
Aku tersentak hebat hingga tubuhku menegang kaku di atas brankar. Sendok di dalam mulutku serasa mendadak menjelma menjadi es yang membekukan seluruh lidahku. Jantungku bertalu-talu dengan sangat liar, memompa rasa kaget dan ketakutan yang luar biasa ke seluruh dada."Kakak ... Kakak melihatnya?" tanyaku terbata-bata dengan suara yang nyaris habis. Pandanganku seketika terkunci pada mata elang Kak Ethan.
Rahasia yang selama belasan tahun ini kusembunyikan rapat-rapat di dalam kegelapan gudang lantai tiga, kini telah telanjang di depan kakak sulungku. Aku selalu mengira dialah yang paling membenciku karena menganggapku pembawa sial atas kematian Kakek, Papa, dan Mama. Namun sekarang, mengetahui bahwa dia telah melihat angka ghaib "20 Juni" di telapak tangan kiriku saat aku sekarat malam tadi, membuat seluruh duniaku serasa berputar balik.
Kak Ethan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Ia justru menurunkan matanya sejenak, menatap telapak tangan kiriku yang kini tersembunyi di balik selimut.
"Aku melihat semuanya, Bella," ucap Kak Ethan, suaranya terdengar serak, menyimpan badai penyesalan dan kepanikan yang teramat sangat. "Angka itu membara di kulitmu sebelum akhirnya menghilang saat kamu tersadar tadi. Jadi, jawab aku ... selama belasan tahun ini, apakah kamu menanggung semua siksaan rasa sakit dari kutukan ini sendirian tanpa ada satu pun dari kami yang tahu?"
Aku meremas pinggiran selimut, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Dengan suara yang masih bergetar, aku akhirnya membuka suara dan bertanya, "Kak ... apa Kakak melihat apa yang ada di tanganku?"
Kak Ethan terdiam sejenak, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Aku tidak bisa melihatnya semalam," jawab Kak Ethan, suaranya terdengar berat dan serak. "Hanya saja ... waktu kamu belum sadar tadi, aku merapikan selimutmu. Saat itulah aku melihat ada guratan merah di telapak tanganmu, seperti bekas luka bakar. Garisnya bisa sedikit terlihat jelas kalau diperhatikan dengan saksama."
Mendengar penuturan Kak Ethan, jantungku seketika bertalu hebat. Tanpa membuang waktu, aku langsung menarik tangan kiriku dari balik selimut dan menatap telapak tanganku sendiri dengan pandangan nanar. Kulitku memang sudah bersih dari tanda pekat, tetapi bekas kemerahan yang samar itu masih tertinggal di sana, membuktikan bahwa semua ini bukanlah mimpi.
Padahal tanggalnya sudah lewat ..., bisikku dalam hati dengan rasa tidak percaya yang amat sangat. Ternyata ini tanggal kemarin. Ternyata ... ternyata aku tidak jadi mati. Aku masih hidup.
Air mata haru dan bingung mendadak mendesak di sudut mataku. Sepanjang hidupku, garis kematian di telapak tangan kiriku selalu mutlak. Kutukan itu tidak pernah meleset dalam menjemput nyawa kakek, ayah, dan ibuku. Namun hari ini, melihat diriku sendiri masih bisa menghirup udara di ruang rumah sakit ini, aku sadar bahwa takdirku yang semula terkunci telah bergeser secara misterius.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~