"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Kepulangan yang Menyakitkan
Gong perunggu di atas Gerbang Wijaya dipukul tujuh kali. Tujuh kali berarti Raja pulang dari medan.
Tetapi tidak ada sorak-sorai yang menyambut.
Ratusan pasang mata di sepanjang jalan batu menuju Balai Depan hanya menatap. Para abdi dalem yang berbaris di kiri-kanan jalan lupa menyembah. Para pedagang yang dipanggil untuk menyambut rombongan memegang keranjang bunga mereka tanpa melemparkannya. Kelopak-kelopak melati jatuh sendiri dari jemari yang lupa bergerak.
Yang mereka lihat adalah tandu perang kayu nangka, beratap kain berumbai emas yang kini kusam oleh debu tanah merah. Di atasnya, Prabu Hayam Vira bersandar pada bantal sutra. Bahunya terbalut kain jarik yang sudah kaku dan hitam oleh darah kering. Wajahnya pucat, tulang pipinya menonjol.
Dan di sampingnya, di dalam lingkaran lengan kanannya, duduk seorang perempuan dengan kaki terbalut kain, rambut kusut, dan kemben hijau yang robek di beberapa tempat.
Seorang selir. Di atas tandu Raja.
***
Dyah Ayu bisa merasakan bisikan-bisikan itu bahkan sebelum mendengarnya.
Bisikan itu menjalar dari barisan abdi dalem ke barisan prajurit, dari prajurit ke para pejabat yang berdiri di undakan Balai Depan. Seperti angin yang merambat di atas padang alang-alang kering. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu kata apa yang paling sering diulang.
Watugaluh.
Ia mencoba bergeser menjauh, memberi jarak di antara tubuhnya dan tubuh Raja. Lengan di pinggangnya mengencang, menahannya di tempat.
"Jangan," gumam Hayam Vira tanpa menoleh. Bibirnya hampir tidak bergerak. "Biarkan mereka melihat."
"Gusti merusak adat di depan seluruh ibu kota."
"Aku Raja. Adat adalah apa yang kulakukan hari ini dan ditulis para pujangga besok pagi."
Di belakang tandu, derap kuda Sayap Utara terdengar teratur dan berat. Dyah Ayu tidak menoleh ke belakang. Tetapi ia tahu persis kuda mana yang berjalan paling dekat dengan tandu, dan siapa yang menungganginya.
***
Balai Depan keraton Kagendra dibangun untuk membuat orang merasa kecil.
Tiang-tiangnya dari kayu jati utuh, masing-masing sebesar pelukan tiga orang dewasa, dilapisi prada emas yang berkilau di bawah matahari siang. Lantainya batu andesit hitam yang dipoles sampai memantulkan langit. Atapnya bertingkat tiga, dengan ukiran naga yang menggigit ekornya sendiri di setiap sudut.
Di undakan teratas, di bawah payung kebesaran berwarna hijau zamrud, Gusti Prabaswari sudah menunggu.
Ia mengenakan kemben sutra putih gading berhias benang perak. Warna duka. Warna istri yang mengira suaminya tidak akan pulang. Mahkota kelopak bunganya berkilau. Di sampingnya, berdiri seorang anak lelaki berusia tujuh tahun dalam busana pangeran mini, tangannya digenggam erat oleh ibunya.
Di belakangnya, para selir senior berbaris dalam busana warna-warni. Selir Ratna Kanigara berdiri paling depan, perban di pahanya kini sudah diganti dengan kain berhias renda. Nyi Ageng Rukmi dan dua belas Prajurit Estri berjajar di sisi kanan.
Di sisi kiri, Rakryan Wiradipa berdiri bersama para menteri. Janggut putihnya tersisir rapi. Kedua tangannya terlipat di depan perut, menyembunyikan jemarinya di dalam lengan baju yang lebar.
Dan di barisan dayang Permaisuri, di belakang semua orang, Dyah Ayu melihat Ratih.
Dayang itu menunduk seperti yang lain. Tetapi di balik telinga kirinya, terselip sekuntum melati yang masih kuncup.
Dyah Ayu melepaskan napas yang tanpa sadar ia tahan sejak meninggalkan Hutan Kancana. Pelan. Panjang.
Kuncup melati di telinga kiri. Tiga kalimat yang ia bisikkan di dalam tenda. Arya selamat. Dan apa pun yang diselipkan ke bilik tahanannya semalam, kini sudah berada di tangan Ki Bongkok.
Di barisan menteri, jemari Rakryan Wiradipa bergerak sedikit di dalam lengan bajunya. Wajahnya tidak berubah. Tetapi bibirnya terkatup lebih rapat dari yang wajar untuk seorang lelaki tua yang sedang menyambut rajanya.
***
Tandu diturunkan di kaki undakan.
Seluruh balai bersujud. Ratusan dahi menyentuh batu andesit. Bunyi kain bergesekan dengan lantai terdengar seperti ombak kecil.
Hanya Permaisuri yang tetap berdiri tegak, karena adat mengizinkannya. Ia menatap ke bawah. Ke arah tandu. Ke arah lengan sang Raja yang masih melingkari pinggang seorang perempuan dari tanah taklukan.
Matanya berkilat. Hanya sekejap. Lalu senyumnya kembali, sempurna.
Ia menuruni undakan dengan langkah anggun, sutra putih gadingnya berdesir di atas batu. Ia berhenti tiga langkah dari tandu dan berlutut dengan sangat indah, seperti bunga teratai yang melipat kelopaknya.
"Sinuwun." Suaranya bergetar, cukup keras untuk didengar seluruh balai. "Seluruh Keputren berdoa sepanjang malam. Hamba sudah menyalakan seratus dupa di candi leluhur."
"Aku masih hidup, Prabaswari. Dupamu bisa dipadamkan."
Beberapa menteri muda menahan napas.
Permaisuri mengangkat wajahnya. Matanya basah, berkaca-kaca dengan sempurna. Lalu pandangannya bergeser perlahan ke arah Dyah Ayu, dan basah di mata itu berubah menjadi sesuatu yang lain.
"Dan hamba bersyukur, Sinuwun. Sangat bersyukur." Ia berdiri. "Tetapi hamba juga tidak bisa diam. Sebagai pengatur adat Keputren, sebagai ibu dari Putra Mahkota Kagendra, hamba wajib menyampaikan apa yang telah hamba ketahui."
Ia berbalik, menghadap seluruh balai.
"Anak-anak panah yang menembus bahu Sinuwun adalah anak panah berbulu merak hutan timur. Bulu yang hanya dipakai para pemanah dari pesisir timur." Suaranya meninggi, jernih, menggema di antara tiang-tiang emas. "Tenda Selir Utama berada di Sektor Selatan, terpisah dari seluruh pengawalan. Para pembunuh datang ke tendanya lebih dulu. Lalu, entah bagaimana, Sinuwun dibelokkan dari jalur perburuan dan dipancing ke sana."
Ia menunjuk Dyah Ayu dengan telapak tangan terbuka. Tidak dengan telunjuk. Gerakan yang halus, nyaris penuh belas kasih.
"Hamba tidak menuduh. Hamba hanya bertanya. Bagaimana mungkin seorang putri pemberontak yang kadipatennya dibakar Sinuwun, tiba-tiba menjadi satu-satunya orang yang berada di sisi Sinuwun saat anak panah dari tanah timur itu dilepaskan?"
Bisik-bisik meledak di seluruh balai.
***
Dyah Ayu turun dari tandu.
Kakinya yang terluka menapak batu andesit yang panas oleh matahari. Perihnya menjalar sampai ke lutut. Ia tidak meringis. Ia berlutut di depan tandu Raja, lalu merogoh ke dalam lipatan setagennya yang compang-camping.
Ia mengeluarkan selembar lontar yang tergulung. Ujungnya hangus sedikit, terbakar saat tenda terbakar. Tetapi segel lilin merahnya masih utuh.
"Hamba mohon izin menyerahkan ini kepada Sinuwun."
Hayam Vira mengulurkan tangannya yang tidak terluka. Ia membuka gulungan itu, membacanya sekilas. Lalu ia mengangkatnya tinggi-tinggi, sehingga segel lilin merah itu terlihat oleh seluruh barisan menteri di undakan.
Segel teratai dan mahkota. Segel Gusti Permaisuri.
"Perintah penempatan tenda Selir Utama di Sektor Selatan," ucap sang Raja, datar. Ia membacakannya dengan suara keras. "Demi ketenangan Gusti Selir yang baru pulih dari sakit. Jauh dari keramaian dan bising."
Ia menurunkan lontar itu.
"Selir Utama tidak meminta tenda di Sektor Selatan, Prabaswari. Kau yang menempatkannya di sana. Dengan tanganmu sendiri. Di bawah segelmu sendiri."
Bisik-bisik di balai berhenti seketika.
Wajah Prabaswari tidak berubah. Tetapi Dyah Ayu, yang masih berlutut di bawahnya, melihat ujung kain sutra putih di sisi kanan Permaisuri bergetar sedikit. Jemari di baliknya sedang meremas kain itu.
"Sinuwun," ucap Permaisuri lembut. "Hamba hanya menjalankan adat demi kebaikan..."
Hayam Vira mengangkat tangannya.
Ia memaksa tubuhnya bangkit dari bantal tandu. Bahunya yang terluka merembeskan merah segar ke balutan yang kaku. Seorang tabib berlari mendekat, tetapi Raja itu mengibaskan tangannya, menyuruhnya mundur.
Ia berdiri di atas tandunya, setinggi para menteri di undakan teratas. Pucat. Gemetar. Tetapi tegak.
"Dengarkan aku. Semuanya."
Suaranya tidak keras. Tetapi seluruh balai mendengarnya.
"Selir Utama Dyah Ayu menarik anak panah beracun dari bahuku dengan tangannya sendiri. Ia menyedot racunnya dengan mulutnya sendiri. Ia menyeretku menuruni tebing saat setiap prajurit yang seharusnya menjagaku tersesat di Sektor Utara." Matanya menyapu barisan menteri. Berhenti sesaat di wajah Rakryan Wiradipa. "Mengikuti penunjuk jalan yang hingga pagi ini tidak bisa ditemukan di mana pun."
Rakryan Wiradipa menundukkan kepala lebih dalam. Janggut putihnya menyentuh dada.
"Mulai hari ini, siapa pun yang menyentuh Selir Utama tanpa izinku, menginterogasinya tanpa izinku, atau menuduhnya tanpa bukti tertulis yang disahkan Dewan Tujuh, akan diperlakukan sebagai pengkhianat terhadap takhta Kagendra."
Ia berhenti.
"Siapa pun. Tanpa terkecuali."
Ia tidak menoleh ke arah Permaisuri ketika mengucapkannya. Ia tidak perlu.
***
Para tabib membawa Raja masuk ke Kedaton Dalam. Hayam Vira tidak lagi menolak. Kakinya tersandung di anak tangga kedua, dan dua tabib langsung menyangga lengannya.
Ia menoleh sekali ke belakang. Ke arah Dyah Ayu yang masih berlutut di kaki undakan. Lalu ke arah kuda-kuda Sayap Utara di belakang tandu, tempat seorang Senopati muda masih duduk di pelananya tanpa bergerak.
Lalu ia menghilang di balik pintu jati berukir.
Balai mulai bubar. Para menteri berjalan berkelompok, bergumam. Para selir mengikuti Permaisuri, sutra-sutra mereka berdesir di atas batu andesit. Selir Ratna menoleh dua kali ke arah Dyah Ayu, wajahnya penuh perhitungan, lalu buru-buru menyusul yang lain.
Dyah Ayu berdiri perlahan. Kakinya hampir tidak bisa menahan berat tubuhnya.
Ia berdiri sendirian di tengah lantai andesit yang luas, dikelilingi tiang-tiang emas yang menjulang. Kemben hijaunya robek, rambutnya kusut, darah kering menempel di telapak tangannya.
Langkah kaki mendekat dari belakang. Ringan. Berirama. Berbau melati dan kenanga.
Gusti Prabaswari berhenti tepat di sampingnya. Begitu dekat, sampai lengan sutra putih gadingnya hampir menyentuh lengan Dyah Ayu yang kotor oleh debu dan darah. Dari kejauhan, mereka akan terlihat seperti dua perempuan yang sedang berbagi kelegaan.
Permaisuri tersenyum ke arah balai yang mulai kosong. Bibirnya hampir tidak bergerak.
"Kau pintar, Adik," bisiknya. "Kau menyimpan lontarku. Kau menyelamatkan nyawa suamiku. Kau bahkan berhasil membuat ayahku kembali dari Balai Wiyata dengan tangan kosong."
Dyah Ayu tidak menjawab. Ia merasakan dingin merayap di tengkuknya, meskipun matahari siang membakar ubun-ubun.
"Watugaluh terbakar dalam satu malam, bukan? Satu malam, lalu selesai." Prabaswari merapikan sehelai rambut kusut di pelipis Dyah Ayu dengan ujung jarinya. Kuku-kukunya dingin. Salah satunya, yang dulu retak di lengan singgasana, kini dibalut cincin emas. "Keputren tidak terbakar dalam satu malam. Keputren membakar perlahan. Tahun demi tahun. Sampai kau sendiri yang memohon pada api untuk segera menyelesaikannya."
Jari itu turun ke dagu Dyah Ayu. Mengangkatnya sedikit.
"Kau sudah kehilangan rumahmu, ayahmu, ibumu. Dan sekarang kau mengira kau sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan." Senyum Permaisuri melebar, indah dan tanpa cela. "Selamat datang di rumah barumu, Adik. Aku akan menunjukkan padamu betapa salahnya kau."
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..