Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26. Harapan Keluarga yang Tertinggal
Arnoldy yang tubuhnya kian melemah mengangkat tangan untuk memperbaiki posisi kacamatanya. Ia ingin memastikan penglihatannya tidak keliru saat menatap foto di layar laptop milik cucunya.
Perempuan dalam foto itu memiliki wajah yang begitu mirip dengan Alvara. Bentuk mata, garis wajah, bahkan ekspresi yang terpancar dari tatapannya mengingatkan Arnoldy pada seseorang yang telah lama hilang dari hidup mereka.
Alvara memperbesar foto tersebut, memastikan wajah Althea terlihat jelas di layar sebelum menggeser laptop sedikit ke arah sang kakek.
Ia ingin Arnoldy melihatnya dengan jelas.
Pria tua itu terdiam cukup lama. Jemarinya yang kurus menyentuh layar laptop, seolah ingin memastikan bahwa perempuan dalam foto itu benar-benar memiliki wajah yang begitu mirip dengan cucunya.
“Vara ...” Suaranya terdengar lirih dan bergetar. “Jangan-jangan dia kembaranmu?”
Air mata Alvara jatuh satu per satu. Ia mengangguk mantap, meskipun jauh di dalam hatinya masih ada ketakutan bahwa harapan yang baru tumbuh ini bisa saja berakhir dengan kekecewaan kembali.
“Aku juga memikirkan hal yang sama, Opa.”
Ia mengusap pipinya, berusaha mengendalikan perasaan yang sejak tadi bergejolak.
“Wajahnya ... benar-benar mirip denganku.”
Arnoldy kembali menatap foto itu. Untuk beberapa saat, pria tua tersebut seolah kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Ada sesuatu dalam kemiripan itu yang terlalu kuat untuk diabaikan, tetapi terlalu berharga untuk langsung dipercaya begitu saja.
Dua puluh tahun.
Selama itu, mereka hidup dengan keyakinan bahwa seorang anak telah hilang selamanya dalam tragedi yang merenggut keluarga mereka.
Kini, sebuah foto sederhana mengguncang keyakinan itu.
Arnoldy menghela napas panjang. Matanya masih tertuju pada wajah Althea ketika ia kembali bersuara.
“Kalau ternyata kembaranmu masih hidup, setidaknya Opa bisa pergi dengan lebih tenang.” Ia berhenti sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan apa yang selama ini mengganggu pikirannya.
“Opa sudah lama ingin menyusul Oma. Kalau nanti bertemu papa dan mamamu, Opa ingin memberi tahu mereka bahwa kalian akhirnya bisa bersama lagi.”
Alvara segera meraih tangan kurus kakeknya.
“Opa jangan bicara begitu. Jangan tinggalkan aku sendiri.” Suaranya mulai bergetar. “Di dunia ini, Opa satu-satunya keluarga yang selalu ada untukku.”
Arnoldy mengangkat tangan, lalu mengusap rambut panjang cucunya dengan lembut. Ia tersenyum tipis, meskipun kelelahan masih terlihat jelas di wajahnya.
“Semua orang punya waktunya masing-masing, Nak. Opa cuma ingin memastikan ada yang menemanimu di saat Opa tak sanggup lagi bertahan.”
“Opa harus tetap ada di sampingku, di samping kami jika Althea telah ditemukan. Aku bahkan belum tahu apakah dia itu benar-benar kembaranku.”
Alvara menunduk. Air matanya jatuh lagi, kali ini membasahi punggung tangan Arnoldy.
Pria tua itu membiarkannya menangis. Ia tahu cucunya telah menyimpan terlalu banyak kehilangan semenjak kecil. Selama bertahun-tahun, Alvara tumbuh dengan pertanyaan tentang saudara kembarnya, pertanyaan yang tak pernah benar-benar bisa mereka jawab.
Arnoldy mengusap rambutnya sekali lagi sebelum akhirnya berkata, “Ayo, kita kembali ke Indonesia.”
Alvara mengangkat wajah. “Ayo kita pulang, Opa?”
“Iya. Di sana, kamu masih punya Tante Tania saudara kembar papamu. Sebentar lagi dia pensiun, dan rumah sakit keluarga kita juga membutuhkan seseorang yang bisa meneruskan tanggung jawabnya.”
Alvara terdiam.
Selama ini, ia telah mengurus White Scalpel, organisasi yang ditinggalkan ayahnya. Di balik kesibukannya memimpin organisasi itu, ia juga terus memburu orang-orang yang bertanggung jawab atas tragedi yang menimpa keluarganya dua puluh tahun silam.
Saat kejadian itu berlangsung, usianya masih terlalu kecil untuk memahami mengapa ia terpisah dari saudara kembarnya. Ia hanya tahu bahwa setelah tragedi tersebut, hidupnya berubah selamanya.
Baru setelah dewasa, ia menemukan petunjuk yang membuatnya curiga bahwa kematian kedua orang tuanya dan perpisahan mereka bukanlah akibat kecelakaan biasa.
Sejak saat itu, pencarian terhadap dalang di balik tragedi tersebut menjadi salah satu tujuan hidupnya.
Kini, foto Althea menghadirkan sesuatu yang tak pernah berani ia harapkan sepenuhnya: bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk bertemu kembali dengan saudara kembarnya.
Alvara mengusap wajahnya, lalu kembali menatap foto di layar laptop.
“Kalau kita pulang, White Scalpel bisa mulai menyelidiki identitasnya lebih dekat. Kita juga bisa mencari tahu siapa yang membesarkannya selama ini.”
Arnoldy mengangguk.
“Tapi ingat, Vara. Kita harus memastikan semuanya terlebih dahulu. Jangan sampai kamu terlalu berharap, lalu berakhir dengan terluka lagi.”
Bersambung.
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella