Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Pelayanan Ekstra
"Nenek, kenapa bibi Keyla dan paman Dom belum pulang juga? Zoey kangen," rengek Zoey sembari menyandarkan kepalanya dengan manja di pelukan Elise. Wajah mungil itu nampak ditekuk, bibirnya mengerucut sebal. "Tahu begini, tadi Zoey ikut Bibi saja. Pasti tidak akan bosan sepelti ini."
Zoey menjejakkan kakinya ke lantai dengan kesal. Baru saja ia merasa memiliki teman bermain yang seru, tapi sekarang sudah ditinggal pergi lagi.
"Bibimu itu sedang fokus membuat bayi, Zoey. Biarkan saja dulu mereka berduaan, jangan diganggu. Bukankah kau ingin punya adik lagi?" celetuk Diego santai sembari menoleh ke arah istrinya
Elise langsung memberikan lirikan tajam yang sanggup menembus mata Diegi.
Elise memang selalu melarang Diego membicarakan soal proses pembuatan bayi pada Zoey karena imajinasi bocah ini sering kali melampaui batas kewarasan orang dewasa.
"Memangnya buat bayi harus di apaltemen? Kan bisa buat dede bayi di lumah ini saja. Zoey bica temani meleka kok pas lagi buatnya, bica bantu jagain!" sahut Zoey dengan nada sangat polos.
Uhuk! Uhuk!
Diego hampir saja tersedak kopi hitam yang baru saja disesapnya. Ia terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah, sementara Elise memijat pelipisnya perlahan.
"Lihat akibat ucapanmu yang asal-asalan? Sekarang imajinasinya jadi ke mana-mana!" tegur Elise dengan berbisik pada suaminya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku pikir cucu kita masih sangat polos dan tidak tahu apa-apa," balas Diego dengan penuh penyesalan.
Elise kembali menoleh pada cucunya, mencoba tersenyum sealami mungkin. "Tenang saja, Sayang. Zoey akan segera mendapatkan adik lucu dari paman Dom. Tapi membuatnya butuh ketenangan, jadi mereka harus pergi sebentar."
"Benalkah? Holeee! Zoey mau punya adik! Nanti Zoey ajak main bola, ajak main boneka, ajak lali-lali!" Zoey berteriak riang sambil melompat-lompat di atas sofa, melupakan kekesalannya dalam sekejap.
Diego mendengus kecil melihat kegembiraan cucunya. "Cih! Kenapa dia tidak minta saja papanya untuk membuatkan adik? Kenapa malah mendesak pamannya yang sedang sibuk?" ejek Diego pelan.
Elise hanya geleng-geleng kepala. Ia tahu hubungan Diego dengan putra sulungnya memang tidak terlalu akur. Mereka sering berbeda pendapat tentang banyak hal, berbeda dengan Dominic yang lebih mdnurut meskipun keras kepala.
Tiba-tiba, sosok asisten kepercayaan Dominic muncul di pintu depan. "Marco, tunggu sebentar!" panggil Elise saat melihat pria itu masuk dengan tubuh yang masih sedikit basah kuyup karena hujan di luar.
Elise mendudukkan Zoey kembali di sofa lalu bergegas menghampiri Marco ke dekat koridor.
"Bagaimana? Kau sudah memberikannya?" tanya Elise dengan suara sangat pelan, memastikan Diego dan Zoey tidak mendengar.
Marco mengangguk antusias, meski ada raut cemas di wajahnya. "Sudah, Nyonya. Semua beres! Tuan Dom sendiri yang memberikan obatnya pada nona Keyla. Tapi, saya takut jika tuan Dom tahu itu ramuan dari Nyonya, bisa-bisa kepala saya hilang dari tempatnya besok pagi."
Elise terkekeh pelan. "Tidak akan. Mana ada kucing yang menolak diberikan ikan segar yang sangat menggiurkan? Kalau Dominic marah, berarti dia bodoh! Sudah seharusnya dia menikmati masa-masa pengantin baru yang sesungguhnya."
"Lalu bagaimana dengan nona model? Em, maksud saya nona Clara?" tanya Marco hati-hati.
Wajah Elise mendadak berubah datar saat nama menantu pertamanya disebut. "Biarkan Dominic nanti yang memilih. Aku tidak mau ikut campur soal Clara. Sejak awal aku tidak pernah setuju Dominic menikah dengannya, tapi anak itu tetap memaksa. Jadi, biarkan saja dia merasakan akibat dari pilihannya sendiri."
Sejak pertama kali melihat Clara, Elise sudah merasakan firasat buruk. Feeling seorang ibu jarang meleset.
Dan benar saja, selama lima tahun pernikahan, Clara menunjukkan sikap aslinya yang ambisius, boros, dan tidak mau memiliki keturunan demi karier.
"Baiklah kalau begitu, Nyonya. Malam ini saya harus segera berangkat ke Paris," pamit Marco.
"Untuk apa kau ke sana?"
"Tuan meminta saya mengawasi nona model secara ketat selama pemotretan di sana," jawab Marco.
"Kalau begitu hati-hati. Pastikan dia tidak membuat malu nama keluarga Frederick di sana."
****
Keesokan paginya...
"Huhu... sakiiit..." Keyla menangis sejadi-jadinya. Suaranya yang serak dan memelas memenuhi ruangan kamar.
Tubuhnya terasa seperti habis tertabrak truk kontainer. Pinggangnya nyeri dan bagian bawah tubuhnya terasa kebas sekaligus perih.
Tangisan Keyla yang cukup kencang membuat tidur Dominic terganggu. Pria itu menguap lebar, lalu mengerutkan kening saat menyadari sisi tempat tidur di sampingnya kosong.
Dom menoleh dan mendapati Keyla sedang duduk di lantai marmer di samping ranjang, mengenakan kemeja putihnya yang nampak sangat kebesaran.
"Kau sedang apa di situ? Sini, naik lagi!" titah Dominic dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Mau pipis tapi tidak bisa jalan! Sakit! Kau keterlaluan, Tuan! Kau jahat!" seru Keyla sembari mengusap air matanya dengan punggung tangan, menatap Dominic dengan tatapan yang menggemaskan.
Dominic mengernyit. Ia sedikit terkejut. Entah sejak kapan Keyla mulai berani memakinya dengan sebutan jahat dan keterlaluan.
Namun, alih-alih marah, Dominic justru merasa ada dorongan aneh yang membuatnya ingin tersenyum. Ia suka perlawanan kecil dari gadis ini.
"Mau kupanggilkan dokter?" tawar Dominic sembari beranjak duduk, memperlihatkan dada bidangnya yang penuh bekas cakaran kecil hasil pertempuran semalam.
"Dokter?" gumam Keyla, dan seketika langsung terdiam.
Pikirannya langsung berputar. Jika dokter yang datang adalah wanita, ia mungkin tidak masalah. Tapi kalau yang datang adalah dokter keluarga Frederick yang biasanya laki-laki dan harus mengecek keadaannya yang... begitu, ia pasti akan mati karena menanggung malu.
Keyla menggigit bibir bawahnya, tangisannya mendadak mereda karena rasa malu mulai mengalahkan rasa sakitnya.
"T–tidak perlu memanggil dokter! Aku bisa sendiri!" ucap Keyla tergagap, wajahnya kini memerah sempurna hingga ke telinga.
Dominic terkekeh. Ia turun dari ranjang, tanpa peduli bahwa ia hanya mengenakan bawahan minim, lalu berjalan menghampiri Keyla. "Tadi saja berteriak seperti habis disiksa, sekarang ditawari dokter malah takut. Sini, biar aku yang mengantarmu ke kamar mandi."
Tanpa menunggu persetujuan, Dominic menggendong Keyla ala bridal style.
Keyla hanya bisa pasrah, menyembunyikan wajahnya di dada Dominic. Ia sadar, dalam situasi ini, berdebat dengan suaminya yang satu ini hanya akan membuatnya semakin menderita.
"Pelan-pelan, Tuan... ini benar-benar sakit," bisik Keyla pelan.
"Iya, iya! Akan kupastikan setelah ini kau dapat pelayanan ekstra sebagai permintaan maaf ku," balas Dominic sembari mengecup puncak kepala Keyla.
"Apa maksudmu dengan pelayanan ekstra?" tanya Keyla dengan penuh curiga. Matanya yang sembap memicing, mencoba membaca pikiran pria yang sedang menggendongnya itu.
Dominic tidak langsung menjawab. Ia justru menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandi, lalu menunduk untuk menyejajarkan wajahnya dengan Keyla.
Sebuah seringai tipis terukir di bibirnya. Tatapan matanya yang tadi dingin kini berkilat nakal, memindai wajah Keyla.
Melihat ekspresi itu, imajinasi liar mulai memenuhi kepala Keyla. Entah apa lagi yang akan dilakukan pria me-sum ini padanya sebagai bentuk pelayanan.
"Tunggu dan lihat saja nanti," bisik Dom serak, membuat bulu kuduk Keyla berdiri sempurna.