Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Benih-Benih Baru
Sementara gemuruh angin laut Kanto mengibarkan panji-panji perang di puncak Gunung Ishigaki dan meruntuhkan sisa-sisa keberanian klan Hojo di dalam tembok Odawara, perkemahan utama klan Tokugawa di sektor selatan berdiri dalam hening yang anggun.
Perkemahan itu tidak dihiasi pameran kemewahan atau deretan obor raksasa seperti markas Hideyoshi. Di sini, di bawah naungan tiang-tiang kayu berlapis tirai kain biru dengan lambang tiga daun aoi, suasana terasa sangat teratur, tertib, dan dingin. Ribuan prajurit Mikawa berpatroli tanpa suara, memeriksa barisan tombak dan merawat kuda-kuda tempur mereka dengan disiplin besi.
Di dalam tenda komando utama yang diterangi oleh sebatang pelita minyak bersumbu pendek, Tokugawa Ieyasu duduk bersila di atas tatami tipis. Pria berbadan gempal itu mengenakan kimono katun kusam berwarna kelabu, memegang sebuah kuas bulu kecil yang sesekali diteteskan ke dalam wadah tinta hitam.
Di hadapannya membentang gulungan kertas washi tebal—sebuah peta rahasia wilayah Kanto dan utara yang tidak berisi jalur benteng atau posisi parit musuh, melainkan daftar nama-nama daimyo klan kecil.
Di samping nama klan Sano dari Shimotsuke, klan Satake dari Hitachi, klan Sawatari dari Shinano, hingga klan klan kecil di sekitar wilayah Oshu, terukir catatan-catatan kecil berbentuk kode rahasia: jumlah prajurit yang tewas, jumlah pasokan beras yang dipangkas oleh Kanbei, serta tingkat kekecewaan kepala klan mereka terhadap istana Kyoto.
"Tuan," sebuah suara yang tak lebih keras dari desir angin malam menyela dari sudut paling gelap di dalam tenda.
Hattori Hanzo muncul dari balik bayangan tirai. Pakaian shinobi hitamnya yang tipis tidak menimbulkan suara sedikit pun saat ia berlutut dengan satu kaki di atas lantai kayu. Di jemarinya, ia menggenggam dua gulungan sutra kecil yang disegel dengan lilin berwarna kelabu.
Ieyasu tidak menghentikan goresan kuasnya. "Lakukan laporannya, Hanzo."
"Penyaluran pasokan beras rahasia dan obat-obatan dari gudang Mikawa ke perkemahan klan Sano dan klan Satake telah selesai lusa lalu," laporkan Hanzo rendah. "Para komandan mereka menerima bantuan tersebut dengan rasa haru yang amat dalam. Kepala klan Sano, Fusatsuna-dono, bahkan secara terbuka mengutuk nama Kuroda Kanbei di depan para pengawalnya dan menyebut bahwa klan Tokugawa adalah satu-satunya pelindung sejati klan-klan kecil di Kanto."
Ieyasu menghentikan kuasnya sejenak. Sebuah senyuman tipis, sangat halus hingga hampir tak terlihat, terukir di bibirnya.
"Kanbei adalah ahli strategi yang jenius, Hanzo," tutur Ieyasu tenang, meratakan tinta di atas kertasnya. "Namun dia terlalu percaya pada kehebatan papan caturnya. Dia lupa bahwa kepingan-kepingan kayu kecil yang dia korbankan demi efisiensi adalah manusia yang bernapas, memiliki keluarga, dan memiliki rasa benci."
Ieyasu mencelupkan kuasnya kembali. "Kanbei memberi mereka luka dan kelaparan... kita memberi mereka obat dan beras. Ketika Hideyoshi kelak tidak ada lagi di dunia ini, klan-klan kecil itulah yang akan menjadi benteng pertama yang berdiri membentengi klan Tokugawa dari murka para sekutu Toyotomi."
"Kebijaksanaan yang sangat jauh ke depan, Ieyasu-sama," sahut Hanzo membungkuk tipis. "Peta ini sudah mencakup delapan puluh persen klan kecil di wilayah Kanto."
"Gunakan seluruh jaringan shinobi Iga yang tersisa di barisan belakang untuk terus mencatat kebutuhan mereka," perintah Ieyasu. "Jangan pernah meminta imbalan apa pun dari mereka sekarang. Biarkan rasa utang budi itu mengendap dan membusuk di dalam dada mereka sampai waktunya kita menagihnya."
"Hamba mengerti."
Ieyasu menyandarkan punggungnya pada bantalan kayu, menatap gulungan sutra kedua yang masih berada di tangan Hanzo. Tatapan mata Ieyasu yang tadinya dipenuhi kalkulasi politik dingin mendadak berubah menjadi lebih dalam dan berbobot.
"Bagaimana dengan gulungan kedua?" tanyakan Ieyasu, suaranya merendah satu tingkat. "Kabar dari Gunung Kurama?"
Hanzo menyerahkan gulungan sutra kedua itu dengan kedua tangannya secara amat terhormat.
"Pesan dari Tanba Momochi dan Biksu Tenkai, Tuan," terang Hanzo. "Setelah penumpasan unit Suppa milik Kanbei di Celah Ohara, Gunung Kurama kini sepenuhnya aman dari pengawasan intelijen Toyotomi. Kanbei telah menghapus nama gunung itu dari peta pengawasannya, meyakini bahwa tempat itu dilindungi oleh kekuasaan gaib yang tak layak diusik sebelum Odawara runtuh."
Ieyasu membuka segel lilin kelabu pada gulungan sutra tersebut, membaca baris demi baris tulisan tangan yang terukir di atasnya dengan ketelitian penuh.
"Bagaimana dengan perkembangan anak itu?" tanya Ieyasu.
"Mumei bertumbuh dengan luar biasa, Ieyasu-sama," jawab Hanzo, ada nada takjub yang samar dalam suaranya yang biasa dingin. "Biksu Tenkai telah memulihkan ketenangan jiwanya. Anak itu kini tidak hanya menguasai teknik pergerakan sunyi klan Iga dari Ogen dan Tanba, tetapi juga mulai belajar mengendalikan denyut energi dari segel Sojobo di dalam jiwanya."
Hanzo jeda sejenak, menatap lantai tatami. "Tenkai melaporkan bahwa dalam meditasi subuhnya beberapa minggu lalu, Mumei-sama bahkan sanggup merasakan gejolak spiritual jauh di wilayah Mimasaka—tempat lahirnya benih-benih baru di barat."
Ieyasu manggut-manggut perlahan. Ia menggulung kembali kain sutra itu, lalu membakarnya di atas nyala lilin kecil hingga berubah menjadi abu hitam yang hancur di atas piringan porselen.
"Darah Nobunaga-sama dan kekuatan raja Tengu Kurama..." gumam Ieyasu pelan, menatap lidah api yang melahap kain sutra tersebut. "Mumei bukan sekadar anak kecil yang kita sembunyikan dari Hideyoshi, Hanzo. Dia adalah takdir yang disimpan oleh Langit untuk menjadi penyeimbang ketika zaman bertukar rupa."
Ieyasu berdiri dari duduknya, berjalan perlahan menuju pintu belakang tendanya yang menghadap ke arah utara—ke arah Gunung Ishigaki dan garis pantai Kanto yang membentang luas.
"Hideyoshi akan segera menundukkan Odawara," kata Ieyasu, jemarinya mengelus kain pengikat baju zirahnya. "Dan sesuai perjanjian rahasia kita di Osaka, setelah klan Hojo musnah, Hideyoshi akan memindahkan wilayah kekuasaanku dari Mikawa ke Kanto ini."
"Memindahkan Anda ke tanah Kanto yang baru saja hancur oleh perang?" tanya Hanzo. "Apakah itu bukan cara Hideyoshi untuk menjauhkan Anda dari Kyoto dan mengurung kekuatan klan Tokugawa?"
Ieyasu terkekeh pelan—sebuah kekehan dalam yang penuh dengan kesabaran raksasa.
"Hideyoshi berpikir dia sedang membuangku ke tanah buangan di timur," ujar Ieyasu, matanya menatap ke arah dataran luas Kanto yang terbentang di balik kegelapan malam. "Dia tidak sadar bahwa dengan memindahkanku ke Kanto, dia sedang menyerahkan seluruh kunci masa depan tanah Jepang ke dalam tanganku. Di tanah Kanto inilah aku akan membangun kota baru..."
Ieyasu berpaling kembali menatap Hanzo.
"Tetap jaga ketat jalur komunikasi ke Kurama," perintah Ieyasu dengan kepastian yang tak tergoyahkan. "Selama Pengepungan Odawara berakhir dan proses pemindahan klan kita ke Kanto berlangsung, biarkan Mumei tetap berada di bawah naungan kabut suci Kurama dan bimbingan Tenkai. Ketika Kanto telah sepenuhnya berada dalam genggamanku, dan saat dunia kembali berguncang... putri dari bayangan Oda itu akan melangkah keluar menyambut takdirnya."
"Hamba siap mempertaruhkan nyawa demi menjalankan perintah ini, Ieyasu-sama," sahut Hanzo membungkuk sangat dalam, sebelum sosoknya meluncur mundur dan menyatu kembali dengan kepekatan malam perkemahan Mikawa.
Ieyasu berdiri sendirian di dalam tendanya, menatap abu kain sutra dari Kurama yang telah padam total. Di luar sana, terompet kayu klan Toyotomi membahana dari puncak Gunung Ishigaki, menandai dimulainya babak akhir dari keruntuhan klan Hojo di Odawara, sementara klan Tokugawa terus menenun benang-benang kekuasaannya dalam diam yang tak teraba oleh siapa pun.