NovelToon NovelToon
KIAMAT TIBA: BAWA KRISTAL INTI UNTUK SEWA KAMAR (APOCALYPSE LANDLORD SYSTEM)

KIAMAT TIBA: BAWA KRISTAL INTI UNTUK SEWA KAMAR (APOCALYPSE LANDLORD SYSTEM)

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat / Fantasi Wanita
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Dibuang dan dijadikan pelayan oleh keluarga angkatnya, Lin Yue tidak menyangka bahwa seminggu sebelum kiamat ia mengaktifkan Sistem Suaka di rumah tua neneknya.

​Saat Virus Genesis meletus, manusia, hewan, dan tumbuhan bermutasi menjadi monster berelemen. Di tengah kiamat yang mengerikan, rumah tua Lin Yue diubah oleh Sistem menjadi zona aman mutlak!

​Aturan Lin Yue sangat sederhana: "Mau makanan hangat, listrik, dan perlindungan? Bayar sewa pakai Kristal Inti di kepala zombie!"

​Dari kos-kosan 4 kamar sederhana, Lin Yue membangun perumahan elit hingga kota suaka terbesar di dunia, memaksa keluarga angkat yang dulu menyiksanya berlutut memohon perlindungan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: PENGAMATAN DARI BALIK JENDELA

BAB 4: Pengamatan dari Balik Jendela

Hari ketiga kiamat tiba dengan keheningan yang begitu pekat hingga terasa seperti memekakkan telinga. Angin dingin meniupkan debu-debu hitam berbau hangus di sepanjang jalanan pinggiran Kota Jiangcheng. Di luar sana, deretan toko kelontong yang biasanya ramai oleh gelak tawa dan riuh tawar-menawar warga kini berada dalam kondisi hancur berantakan. Pintu-pintu besi rolling door jebol terhantam sesuatu yang berat, kaca-kaca jendela pecah berkeping-keping di atas trotoar, dan jalanan dipenuhi bercak darah yang telah mengering menjadi noda kehitaman yang lengket.

Lin Yue berdiri bergeming di sudut lantai dua rumah tua milik neneknya. Tubuhnya tersembunyi rapat di balik lipatan tirai kain kusam yang ditarik sedikit saja—hanya menyisakan celah sekecil dua jari untuk matanya mengamati area luar tanpa risiko terlihat dari bawah.

Di tangan kirinya, ia memegang sebuah buku catatan bergaris dengan sampul kulit sintetis yang sudah mengelupas, sementara tangan kanannya menggenggam pena berujung runcing. Setiap kali ada pergerakan sekecil apa pun di bawah sana, jemarinya dengan cekatan mencatat setiap detail perilaku mahluk-mahluk yang kini telah merampas takhta manusia sebagai penguasa bumi.

[Catatan Observasi Lin Yue - Hari ke-3 Kiamat]

Sensitivitas Pendengaran: Sangat Tinggi dan Dominan. Zombie Level 0 merespons suara sekecil apa pun dalam radius 15 hingga 20 meter. Gesekan ringan langkah kaki di atas pecahan kaca atau derit engsel pintu yang aus bisa langsung memancing perhatian beberapa mahluk sekaligus dalam hitungan detik.

Penglihatan: Buruk dan Terbatas. Lapisan selaput putih keruh yang menutupi kornea mata mereka membuat kemampuan visual mereka sangat terdegradasi. Mereka tidak dapat membedakan detail wajah atau warna, hanya mampu menangkap gerakan cepat atau siluet kasar di siang hari. Jika kondisi sekeliling benar-benar hening dan tak ada bau darah segar, mereka cenderung diam membeku seperti patung atau berkeliaran tanpa arah.

Pola Gerakan & Daya Tahan: Kaku, Lambat, Namun Tanpa Lelah. Kecepatan jalan mereka dalam kondisi santai hanya sekitar setengah dari kecepatan jalan manusia normal. Namun, sistem saraf mereka yang terinfeksi tidak mengirimkan sinyal kelelahan atau rasa sakit. Begitu target terkunci, mereka akan terus bergerak dengan konsistensi yang mengerikan sampai mangsa tersebut berhasil dicabik-cabik atau menghilang sepenuhnya dari jangkauan indra mereka.

Srett... krek...

Suara gesekan kayu yang sangat pelan dari arah pagar luar membuat Lin Yue menahan napas seketika. Matanya menyempit, bergeser perlahan melirik ke bawah jendela.

Seekor zombie wanita yang mengenakan daster merah muda robek bertebaran noda hitam sedang melangkah seret di sepanjang batas pagar luar area Suaka. Sebelah kakinya terkilir parah hingga membentuk sudut yang tidak wajar, menyeret telapak kakinya yang tanpa alas di atas kerikil tajam. Mahluk itu berhenti tepat dua meter di depan dinding udara transparan yang menandai batas kubah pelindung Suaka.

Zombie itu mendongakkan kepalanya yang terkulai miring, mengendus-endus udara sore yang dingin. Hidungnya yang setengah membusuk bergerak-gerak kram, mencoba menangkap hawa kehidupan. Namun, meskipun Lin Yue berdiri hanya belasan meter di atasnya, mahluk itu tidak menunjukkan reaksi agresif sama sekali. Ia hanya berputar-putar bingung sebelum akhirnya kembali melangkah seret menjauhi pagar.

Fungsi Isolasi Suaka benar-benar sempurna, batin Lin Yue dengan rasa kagum yang membuncah di dadanya.

Sistem pelindung ini tidak sekadar menciptakan benteng fisik transparan yang mampu menahan serangan materi atau benturan keras dari luar. Lebih dari itu, kubah energi Suaka mengisolasi secara total seluruh jejak keberadaan biologis di dalamnya: bau tubuh manusia, pancaran panas radiasi termal, hingga getaran suara frekuensi rendah dari langkah kaki di dalam rumah. Bagi ribuan mayat hidup yang berkeliaran di luar sana, rumah tua nenek Lin Yue tidak berbeda dari seonggok batu jalanan atau bangunan runtuh yang mati dan tak bernyawa.

Tiba-tiba, ketika Lin Yue masih fokus mengamati pergerakan zombie daster merah itu, rasa hangat yang sangat kuat melingkupi seluruh persendian dan rongga dadanya. Cahaya biru tipis yang berkilau halus seperti benang sutra berpendar dari pergelangan tangan kirinya, merayap cepat menyusuri pembuluh darah hingga mengalir ke punggung, leher, dan seluruh ekstremitas tubuhnya.

[Bip! Modul Restorasi Pasif Hari ke-3 Selesai Dilaksanakan.]

 [Tingkat Regenerasi Sel Tulang dan Otot: 50%.]

[Peningkatan Kepadatan Tulang Terdeteksi secara Signifikan. Gejala Anemia Berat dan Trauma Fisik Lama Telah Teratasi Sepenuhnya.]

[Peringatan Efek Samping: Peningkatan Metabolisme Selular Tubuh (Memicu Rasa Lapar Tingkat Tinggi).]

Gruk... kruk...

Perut Lin Yue berbunyi sangat nyaring, diiringi rasa perih yang melilit di lambungnya. Sebuah rasa lapar yang luar biasa dahsyat tiba-tiba menyergap rongga dadanya, seolah-olah seluruh organ dalam tubuhnya menjerit menuntut pasokan nutrisi instan.

Namun, Lin Yue tahu betul ini bukanlah rasa lapar penyakitan seperti yang kerap ia rasakan saat disiksa dan dikurung di gudang bawah tanah oleh keluarga Zhou Mei. Ini adalah rasa lapar biologis yang sehat—sebuah tanda bahwa Sistem sedang bekerja keras merekonstruksi jaringan selnya, membentuk massa otot baru, dan menyerap kalsium serta zat besi untuk memperkuat struktur tulang jemarinya yang dulu rapuh.

Lin Yue segera mundur tiga langkah dari jendela, melangkah mantap menuju meja kayu tua di pojok kamar. Ia menyambar satu bungkus besar biskuit gandum gizi tinggi berkalsium dan dengan cepat merobek kemasannya. Tanpa membuang waktu, ia mengunyah biskuit renyah itu seraya meneguk setengah botol air mineral.

Setiap kali makanan dan air masuk meresap ke dalam tenggorokannya, Lin Yue bisa merasakan sensasi hangat yang sangat nyata menyebar dari perutnya ke seluruh pelosok tubuh. Lengannya yang dulu hanya tampak seperti ranting kering terbungkus kulit pucat kini mulai terisi oleh lapisan otot tipis yang padat, kenyal, dan bertenaga. Kulit wajahnya yang dulunya kusam, kekuningan, dan penuh memar samar akibat pukulan sepupunya kini berubah menjadi putih bersih, halus, serta bersemu merah segar penuh vitalitas.

Ia meletakkan botol airnya, lalu meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara.

Krak! Krak! Krak!

Suara letupan renyah terdengar dari persendian bahu, siku, dan jemari tangannya. Rasa lemas dan pegal yang biasanya selalu menggelayuti tubuhnya selama bertahun-tahun kini hilang tanpa bekas, digantikan oleh ledakan stamina yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

Lin Yue mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat. Ia bisa merasakan tekanan otot di telapak tangannya yang kini begitu kokoh.

"Luar biasa..." gumam Lin Yue dengan suara bergetar pelan. Matanya berbinar menatap pantulan dirinya di cermin rias tua yang berdebu di sudut kamar. "Hanya dalam waktu tiga hari... kondisi fisiku sudah jauh melampaui masa-masa terbaikku sewaktu masih diperbudak oleh keluarga Zhou Mei."

Rasa percaya diri yang membara mulai tumbuh di dalam dadanya. Kendati demikian, Lin Yue bukanlah tipe orang yang gampang mabuk oleh sedikit kemajuan. Pengalaman pahit dianiaya, dikhianati, dan diinjak-injak selama belasan tahun telah menempa mentalnya menjadi sangat waspada dan penuh perhitungan. Ia menekan rapat-rapat rasa jumawa yang mencoba menyusup ke pikirannya.

Tubuh yang sehat hanyalah modal awal. Tanpa keterampilan bertarung, refleks yang tajam, dan ketenangan jiwa di bawah tekanan, kekuatan fisik ini hanya akan menjadi santapan lezat bagi mahluk-mahluk di luar sana, batinnya mengingatkan diri sendiri.

Setelah menyelesaikan porsi makan malamnya, Lin Yue tidak langsung beristirahat. Ia membersihkan area tengah kamar lantai dua, menggeser kasur tua dan meja ke tepi dinding untuk menciptakan ruang kosong seluas tiga kali tiga meter.

Di ruang terbuka itulah, Lin Yue mulai menjalankan rangkaian latihan fisik mandiri. Ia melakukan push-up dengan postur tubuh yang lurus sempurna, merasai kontraksi otot dadanya yang kini merespons dengan cepat. Ia melanjutkan dengan latihan squat untuk memperkuat otot paha dan betisnya, memastikan kaki-kakinya memiliki tumpuan yang kokoh saat harus melakukan manuver menghindar nanti.

Setelah keringat tipis membasahi kening dan lehernya, Lin Yue menyambar tombak rakitannya yang bersandar di dinding.

Tombak itu dibuat dari pisau dapur daging berbahan baja tahan karat yang tebal dan tajam, diikat sangat kencang menggunakan bilah kawat baja berlapis-lapis ke ujung gagang sapu kayu jati yang keras. Meskipun tampilannya sangat sederhana dan terkesan kasar, bobot serta keseimbangannya telah disesuaikan Lin Yue agar nyaman digenggam dengan kedua tangan.

Ia mengambil posisi kuda-kuda rendah. Kaki kirinya di depan, kaki kanannya menopang di belakang, dan kedua tangannya menggenggam erat batang kayu tombak setinggi dada.

Srett... TUSUK!

Mata pisau di ujung tombak membelah udara kosong dengan suara angin tipis yang tajam.

Tarik... TUSUK!

Lin Yue mengulang gerakan menusuk lurus itu beratus-ratus kali tanpa henti. Keringat deras mulai menetes dari dagunya, membasahi lantai kayu tua di bawah kakinya, namun matanya tidak pernah kehilangan fokus. Setiap kali ia melontarkan serangan tombaknya, pandangannya terkunci rapat pada satu titik imajiner setinggi satu setengah meter di udara—posisi tepat di mana mata, pelipis, atau rongga mulut zombie berada.

Ia tahu betul dari catatan observasinya dan pengetahuan dasar sistem: zombie tidak akan pernah mati hanya karena dadanya ditusuk atau tangannya ditebas. Jantung mereka sudah berhenti berdetak, dan darah mereka telah membeku. Satu-satunya cara untuk melumpuhkan dan membunuh mahluk-mahluk itu secara instan adalah dengan menghancurkan jaringan batang otak yang menjadi pusat kendali motorik infeksi virus.

"Satu... dua... tiga... fokus pada sasaran... TUSUK!" seru Lin Yue dalam hati, menyalurkan seluruh dorongan tenaga dari pinggul hingga ke ujung mata pisaunya.

Latihan yang intensif itu berlanjut hingga larut malam. Setiap kali lengannya mulai terasa pegal, pendaran cahaya hangat dari modul restorasi pasif Suaka kembali bekerja lembut, memulihkan mikro-robekan pada sel ototnya dan membuatnya bisa terus berlatih tanpa risiko cedera berat.

Ketika malam benar-benar telah larut dan kegelapan pekat membungkus Kota Jiangcheng, hujan deras mulai mengguyur bumi dengan sangat lebat. Suara gemuruh petir menyambar-nyambar di langit merah keunguan, memantulkan bayangan-bayangan mengerikan di atas dinding kamar. Air hujan yang turun deras menyapu jalanan berdebu di luar, mengikis noda-noda darah yang mengering, namun justru membuat bau busuk bangkai menyeruak makin pekat menembus udara malam.

Dari celah jendela lantai dua yang terlindungi, Lin Yue menyaksikan pemandangan mencekam di bawah guyuran hujan. Beberapa bayangan hitam berukuran besar tampak saling dorong dan bergulat di tengah jalanan banjir, berebut bangkai seekor anjing liar yang tewas mengenaskan. Suara geraman mematikan dan kecipak air bercampur darah terdengar begitu jelas, menjadi musik latar malam kiamat yang mengerikan.

Lin Yue meletakkan tombaknya di sisi tempat tidur. Ia duduk bersila di atas kasur tua neneknya, memejamkan mata seraya mengatur napasnya yang teratur.

Garis pelindung kubah energi di sekeliling rumah pudar menjadi pendaran cahaya keemasan yang lembut dan menenangkan, menciptakan kontras yang sangat kontras antara neraka di luar dan surga kecil di dalam.

Empat hari tersisa dari minggu pertama persiapan. Tubuhnya kini terus beregenerasi dengan kecepatan luar biasa, logistik makanannya masih melimpah, dan pemahaman taktisnya terhadap medan serta karakter musuh makin matang dari jam ke jam.

Lin Yue mengelus batang kayu tombaknya yang terasa dingin. Matanya terbuka pelan, memancarkan kilatan tekad yang tak tergoyahkan di dalam kegelapan kamar.

"Nikmatilah pesta kalian malam ini," bisik Lin Yue pelan pada kegelapan di luar jendela. "Begitu minggu kedua tiba dan status Suaka ini terbuka... aku sendiri yang akan turun untuk berburu."

Bersambung......

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Alvaro Sebastian
overall ceritanya udah bagus banget ,menurut ku pribadi
masijacoke021205: Halo kak Alvaro, terima kasih banyak ya buat penilaian dan bintang 5-nya! ❤️ Glad to know kamu suka sama jalan ceritanya. Dukungan kaya gini bikin makin semangat lanjutin petualangan Lin Yue! Pantau terus kelanjutannya yaaa~ ✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!