NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:964
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.

Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.

Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?

"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepakatan Tanpa Cinta

Matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai, menyentuh permukaan meja kayu yang berkilau, namun tidak mampu menghangatkan ruangan yang terasa begitu dingin. Aku sudah terjaga sejak fajar menyingsing, duduk di tepi tempat tidur yang empuk namun asing, menatap bayanganku sendiri di cermin besar di sudut kamar. Wajahku tampak sama — mata yang sama, hidung yang sama, senyum yang sama — namun ada sesuatu yang berubah di baliknya. Sesuatu yang berat, yang menekan dadaku setiap kali aku menarik napas.

Hari ini adalah hari kami menyepakati semuanya. Bukan pernikahan itu sendiri — itu masih beberapa hari lagi — melainkan aturan, batasan, cara kami akan hidup bersama. Sebuah perjanjian di antara dua orang yang tidak saling mencintai, yang bahkan belum saling mengenal.

Aku mengenakan gaun berwarna krem lembut, kain yang tidak berkilau berlebihan, potongan sederhana yang menutupi tubuhku dengan sopan. Aku menyisir rambutku lurus ke bawah, mengikatnya setengah ke belakang dengan pita sederhana — cara yang selalu kulakukan, cara yang membuatku tetap merasa seperti diriku, meski tempat di sekelilingku berusaha mengubahku menjadi seseorang yang lain.

Ketika aku melangkah turun ke ruang tengah, Arga sudah ada di sana. Ia berdiri membelakangi pintu, menatap ke luar jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Punggungnya tegap, bahunya lebar, namun ada sesuatu yang kaku dalam caranya berdiri — seakan ia sedang menahan diri agar tidak bergerak, tidak berubah, tidak menunjukkan apa pun yang tersembunyi di dalam hatinya. Di meja di hadapannya terhampar selembar kertas panjang, tertulis rapi dengan tinta hitam, ditandatangani di bagian bawah dengan tanda tangan yang tegas dan tebal.

Suara langkah kakikku membuatnya berbalik perlahan. Matanya menatapku, tajam namun tanpa kemarahan, tanpa kehangatan — seakan ia sedang melihat sebuah dokumen lain yang harus ditandatangani, bukan seseorang yang akan berbagi hidup dengannya.

“Silakan duduk,” ucapnya, suaranya rendah dan tenang, tidak ada nada yang menyambut, tidak ada yang menolak. Hanya panggilan untuk memulai urusan.

Aku melangkah mendekat, duduk di kursi di seberangnya, menjaga jarak yang cukup lebar di antara kami. Kertas di meja itu terlihat tebal, penuh barisan tulisan yang rapi, dan sekilas saja aku tahu bahwa di sana tertulis segala hal yang mengatur hidup kami — tanpa menyebutkan kata cinta sedikit pun.

“Ini kesepakatannya,” kata Arga, menunjuk kertas itu dengan ujung pena yang belum ditancapkan ke tinta. “Kita berdua tahu alasan kita ada di sini. Bukan pilihan kita, bukan keinginan hati kita. Jadi mari kita buat ini jelas, agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari.”

Ia menarik napas pelan, lalu mulai membacakan poin demi poin, setiap kata diucapkan dengan tegas, seakan ia ingin memastikan tidak ada satu pun yang terlewat, tidak ada satu pun yang bisa diartikan berbeda.

Pertama: Pernikahan ini adalah pernikahan atas janji kedua ayah kami. Tidak ada tuntutan perasaan, tidak ada paksaan untuk saling mencintai. Kita hidup bersama sebagai suami istri dalam nama dan di mata dunia, namun masing-masing bebas menjaga hatinya sendiri.

Kedua: Kau akan tinggal di sini, di kediaman ini, menjalankan peran sebagai istriku di hadapan keluarga, tamu, dan semua orang yang datang. Di depan mereka, kita terlihat bahagia. Di balik pintu tertutup, kita bebas menjaga jarak. Kau punya kamarmu, aku punyaku. Kita tidak perlu berpura-pura jika tidak ada orang lain yang melihat.

Ketiga: Kau berhak mendapatkan penghormatan, perlindungan, dan segala kebutuhan hidup yang layak dari aku dan dari keluarga ini. Namun kau tidak akan mencampuri urusan pekerjaan, harta, maupun keputusan yang menyangkut masa depan keluarga Arganata. Itu ranahku.

Keempat: Kau bebas bergerak, berbicara, dan menjadi dirimu sendiri — sejauh tidak melanggar tata krama, tidak mempermalukan nama keluarga, dan tidak membawa hal-hal yang dapat merusak ketenangan di sini.

Kelima: Jika suatu hari, di masa depan, salah satu dari kita menemukan orang yang benar-benar dicintai, atau jika ada jalan yang memungkinkan kita berpisah tanpa melanggar janji yang telah diucapkan, kita akan membicarakannya dengan jujur dan terbuka. Tidak ada dendam, tidak ada paksaan untuk tetap bersama.

Ia berhenti menatap kertas itu, lalu menatap lurus ke mataku. “Itu semua. Tidak ada yang tersembunyi. Tidak ada yang dipaksakan. Setuju?”

Aku duduk diam, mendengarkan setiap kata yang jatuh ke udara seperti butiran batu yang dingin. Tidak ada cinta. Tidak ada harapan. Tidak ada janji untuk berusaha saling menyayangi. Hanya aturan, batasan, kewajiban. Dan kebebasan untuk pergi jika suatu hari nanti bisa.

Di satu sisi, kata-kata itu jujur. Tidak ada kepura-puraan yang menyakitkan. Ia tidak menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ia berikan. Namun di sisi lain, dadaku terasa sesak. Apakah ini benar-benar hidup yang akan kujalani? Menjadi istri seseorang yang tidak menginginkanku, berdiri di sampingnya namun tetap sendirian, tersenyum di hadapan orang lain sambil menahan kesepian di dalam hati?

Aku menunduk, menatap tanganku yang saling meremas di pangkuan. “Dan jika aku tidak setuju?” tanyaku pelan, suaraku hampir tak terdengar.

Arga terdiam sejenak. “Kau bebas pergi. Tidak ada yang akan menahanmu. Tapi kau tahu konsekuensinya — janji kedua ayah kita putus. Persatuan yang diharapkan tidak terjadi. Dan mungkin ada hal lain yang akan hancur, hal yang belum kita ketahui sepenuhnya.”

Aku mengangkat wajah, menatapnya. “Apakah kau setuju dengan semua ini, Arga? Atau kau hanya menerimanya karena kau merasa tidak punya pilihan lain?”

Ia terdiam lebih lama kali ini. Matanya bergeser sedikit, seakan ada sesuatu yang ingin ia ucapkan lalu tertahan di tenggorokan. “Aku tidak punya pilihan,” jawabnya akhirnya, datar, tanpa emosi. “Dan aku sudah belajar sejak kecil bahwa tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita miliki. Sama seperti tidak semua hal yang kita benci bisa kita hindari.”

Kata-katanya terasa begitu pahit, begitu penuh kepasrahan yang sedih. Tiba-tiba aku menyadari — ia tidak lebih bebas dariku. Ia pewaris semua kemewahan ini, namun ia juga tawanan janji yang diucapkan sebelum ia lahir. Ia tidak memilih hidupnya, tidak memilih siapa yang akan mendampinginya, tidak memilih jalan yang akan ditempuhnya. Sama sepertiku.

Kami berdua sama — dua orang yang berdiri di persimpangan yang tidak kami pilih, dipaksa melangkah ke jalan yang belum pernah kami lihat, memikul beban yang terlalu berat untuk pundak kami yang masih muda.

Aku menarik napas panjang, mengumpulkan semua keberanian yang kupunya, lalu berkata perlahan, “Saya setuju dengan poin pertama sampai keempat. Tapi poin kelima… biarkan waktu yang menjawab. Saya tidak mau berjanji untuk pergi sebelum saya bahkan mencoba untuk tinggal.”

Arga menatapku terkejut, seakan tidak menyangka aku akan berani menawar sesuatu. “Kau yakin?”

“Saya tidak meminta kau mencintaiku,” jawabku jujur, menatapnya lurus tanpa menunduk. “Saya hanya meminta kesempatan untuk mengenalmu. Bukan sebagai istri yang dijanjikan, tapi sebagai manusia. Jika nanti kita memang tidak bisa bersama, kita akan tahu itu dengan jujur. Tanpa terburu-buru.”

Ia diam, menatapku lama, begitu lama hingga aku merasa detak jantungku semakin cepat. Ada sesuatu yang berubah di tatapannya — sedikit kelembutan, sedikit keraguan, seakan kata-katanya menyentuh sesuatu yang sudah lama ia kunci rapat-rapat di dalam dirinya.

“Baik,” jawabnya akhirnya, pelan. “Poin kelima dihapus. Kita lihat saja nanti.”

Ia menggeser kertas itu ke arahku, lalu menyodorkan pena. “Tanda tanganmu di sini.”

Tangan gemetarku menyentuh pena itu. Tinta hitam menunggu di ujungnya, siap untuk menuliskan namaku di atas perjanjian yang akan mengubah sisa hidupku. Aku menatap namaku yang akan tertulis — Lia — dan di sampingnya, ruang kosong tempat namanya akan berdiri, Arga. Dua nama yang tidak seharusnya bertemu, kini diikat oleh tinta dan janji orang-orang yang telah tiada.

Aku menandatangani kertas itu. Tinta itu basah sebentar, lalu mengering, permanen, tak bisa dihapus lagi. Arga menandatangani namanya di sebelahku — tegas, rapi, tanpa goresan yang tidak perlu. Ketika ia meletakkan penanya, keheningan menyelimuti ruangan itu, berat namun tenang, seakan sebuah babak telah selesai, dan babak lain baru saja dimulai.

“Mulai hari ini,” katanya pelan, “kau adalah bagian dari keluarga ini. Bukan sekadar tamu. Ingat itu.”

“Dan kau?” tanyaku. “Apakah kau akan menganggapku bagian dari hidupmu?”

Ia terdiam, menatap ke luar jendela di mana cahaya matahari mulai menyinari halaman. “Aku akan berusaha,” jawabnya perlahan, pelan sekali, seakan kata itu asing di lidahnya. “Itu saja yang bisa kujanjikan.”

Kata itu sederhana, jauh dari indah, jauh dari sempurna, namun itu adalah kata yang paling tulus yang pernah ia ucapkan kepadaku sejak pertama kali kita bertemu. Aku mengangguk pelan. “Saya juga.”

Hari itu berlanjut dengan urusan-urusan lain — pakaian, jadwal, pertemuan singkat dengan beberapa kerabat jauh yang datang berkunjung, menyapa mereka dengan senyum yang masih kaku, berdiri di sampingnya dengan jarak yang sedikit berkurang namun masih terasa jelas. Di mata orang lain, kami tampak pasangan yang serasi — dia tampan dan berwibawa, aku tenang dan sopan. Tidak ada yang tahu bahwa di antara kami terbentang jarak yang jauh, bahwa kami baru saja menandatangani perjanjian tanpa satu kata cinta pun di dalamnya.

Sore harinya, setelah semua tamu pulang dan rumah kembali tenang, aku duduk di bangku kayu di sudut kebun, tempat yang sama di mana aku melihatnya kemarin. Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga yang harum namun samar. Aku memegang selembar kertas kecil di tanganku — salinan perjanjian itu, yang kusimpan rapi di saku, seakan memegang bukti bahwa semua ini benar-benar terjadi.

Suara langkah kaki terdengar mendekat. Aku tidak menoleh, tahu siapa itu dari caranya melangkah — tenang, terukur, tanpa suara yang berlebihan. Ia berhenti di sampingku, tidak duduk, hanya berdiri memandang ke arah taman yang mulai gelap.

“Kau tidak menyesal?” tanyanya tiba-tiba, tanpa menatapku.

Aku berpikir sejenak. “Menyesal meninggalkan rumahku, meninggalkan Ibu — ya, setiap hari. Menyesal memilih tetap di sini… belum. Setidaknya belum.”

Ia mengangguk pelan, seakan jawaban itu cukup baginya. “Aku tidak akan mudah, Lia. Aku tahu itu.”

“Saya juga tidak sempurna,” jawabku lembut. “Saya mungkin tidak mengerti cara bicara dengan orang-orang penting, tidak tahu aturan-aturan yang rumit. Tapi saya jujur. Dan saya setia. Itu saja yang saya punya.”

Ia menoleh sedikit, menatapku dari sudut matanya. “Itu lebih dari yang kebanyakan orang miliki di tempat ini.”

Kalimat itu diucapkan begitu pelan, hampir hilang terbawa angin, namun aku mendengarnya. Dan untuk pertama kalinya sejak aku datang, aku merasa — hanya merasa, belum yakin — bahwa mungkin, mungkin saja, dinding dingin di antara kami tidak setebal yang kukira.

Malam itu, sebelum masuk ke kamarnya, ia berhenti di pintu, menoleh ke arahku yang berdiri di lorong. “Istirahatlah, Lia. Besok akan panjang.”

“Kau juga, Arga,” jawabku.

Ia mengangguk, lalu masuk, menutup pintu perlahan. Tidak ada pelukan, tidak ada kehangatan, tidak ada janji cinta. Namun ada sesuatu yang lain — pengakuan diam-diam bahwa kami berdua sedang berjalan di jalan yang sama, beriringan, meski belum berpegangan tangan.

Kesepakatan tanpa cinta telah ditandatangani. Namun perjalanan untuk menemukan apa yang tersembunyi di balik kata-kata itu baru saja dimulai. Dan entah berapa lama lagi, entah ke mana arahnya — aku sudah melangkah masuk. Tidak ada jalan kembali yang mudah sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!