Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Janji
~Flash back on~
"Congrats sayang, sudah berhasil melalui perjalan kulian S1 yang penuh dengan lika-liku kehidupan ini."
"Terimakasih, kamu juga selamat ya sayang. Akhirnya kita lulus bareng." Glen memeluk Amira dengan bahagia. Setelah perjalanan panjang mereka selama kuliah, mereka bisa menyelesaikan S1 nya dengan tepat waktu.
"Sekarang kamu harus menepati janji mu." Ucap Amira menggoda.
"Janji?."
"Iya, kamu lupa?." Amira menatap Glen sedikit kesal. "Kamu janji akan segera menikah dengan ku, hem." Cetusnya.
"Iya aku ingat janjiku sayang."
"Jadi gimana?." Tanya nya menyenggol lengan Glen.
Glen diam sejenak, dia masih ragu akan janjinya. Bukan karena tidak mau menikahi Amira, akan tetapi dia belum siap karena akhir-akhir ini sebuah impian timbul didalam benaknya. Dia memiliki mimpi untuk melanjutkan S2 dan akan mengembangkan sebuah bisnis yang sudah dia rancang beberapa tahun terakhir.
Selain itu, hubungannya dengan Amira yang sudah berlangsung selama empat tahun masih belum dapat restu dari Mama nya Glen. Jadi dia masih butuh waktu untuk itu. Untuk menyakinkan Mama nya menerima Amira sebagai pacarnya.
"Kenapa melamun, sayang?." Tanya Amira bingung menatap Glen.
"Sebenarnya, E-em." Glen sedikit tidak enak mengatakannya kepada Amira karena khawatir Amira akan memberikan respon yang tidak mengenakkan mereka berdua.
"Kenapa Glen?."
"Aku belum mau menikah, Mir." Ucap nya spontan.
Amira terdiam menatap Glen.
"Maksud ku, aku tidak mau terlalu buru-buru menikahi mu Amira. Aku harus memersiapkan diri lebih matang lagi untuk kebaikan hidup kita nantinya setelah menikah. Aku tidak mau kalau kamu nanti kekurangan kalau kita sudah menikah. Dan sekarang umur kita masih dua puluh empat tahun, dan menurutku kita masih punya waktu untuk mempersiapkan segalanya sebelum menikah." Tuturnya melihat Amira canggung.
"Hahaha," Amira tertawa melihat ketegangan Glen.
"Kenapa?." Tanya Glen bingung lalu ikut tertawa.
"Aku tahu, sayang. Lagian untuk menikah kita masih terlalu muda. Aku cuman bercanda, nge tes apakah kamu masih ingat kata-kata mu satu tahun lalu. Tenang saja sayang, aku tidak menuntut kamu kok. Aku percaya padamu."
Akhirnya Glen merasa lega mendengar hal itu. "Aku mencintai mu, Amira." Ucapnya lalu mencium pipi Amira dan membuat amira tersipu.
"Aku juga mencintaimu, sayang." Balasnya.
"Em, Amira. Aku mau mengatakan sesuatu."
"Apa?." Amira menatap Glen yang terlihat kaku.
"Sebenarnya, setelah memikirikan cukup lama. Aku ingin lanjut kuliah S2." Ucapnya
"Wah, bagus dong, sayang. Aku dukung kamu." Ucap Amira senang mendengarnya.
"Tapi, aku lanjut S2 di Eropa, sayang." Ucapnya tidak enak.
Amira sontak terdiam mendengar itu, hatinya terasa berat mendengarnya karena itu artinya mereka akan berjauhan diwaktu yang cukup panjang. Amira menatap Glen serius, berharap Glen hanya bercanda.
"Amira, aku keterima Beasiswa full di Eropa, jadi aku merasa sayang kalau tidak diambil. Dan ini jadi jalan lebar untuk aku mencapai impian ku. Selain itu Mamah sudah memastikan kalau aku harus mengambil kesempatan baik ini."
Amira menundukkan kepalanya. Dia tidak boleh egois dengan melarang Glen mencapai impiannya. Dia harus berusaha mendukung keputusan Glen kalau itu memang yang terbaik buat mereka.
"Kapan kamu akan pergi?."
"Dua bulan lagi, aku berangkat kesana. Jadi sebelum aku kesana kita masih punya banyak waktu untuk menghabiskan waktu bersama."
"Baik lah, lakukan apa yang membuat mu merasa bahagia Glen. Oh iya berapa lama kamu akan di Eropa?."
"Makasih, sayang. Aku di Eropa sepertinya dua tahun. Dan aku berjanji setelah itu aku akan kembali menemui mu dan segera mengurus pernikahan kita ya, Aku janji!." Ucapnya serius memengang tangan Amira penuh harapan.
"Iya, aku percaya kamu. Lagipula kamu tidak bisa jauh dariku lama-lama, benarkan?." Tanya Amira percaya diri.
"Hem, tepat sekali. Hidupku akan hampa tanpa kamu, sayang. Makanya aku harus menikah dengan mu."
"Hahaha, aku percaya itu."
~Flash back off~
Di apartemen, Glen terus memikirkan Amira, dia tersenyum akhirnya Amira bisa mempercayainya dan dia yakin dengan cepat dia akan bisa mendapatkan Amira kembali, dan akan segera menikahinya.
Glen berjanji tidak akan menyia-nyiakan Amira lagi, karena dia sadar selama ini dia sudah sangat bersalah kepada Amira, dan dia ingin memperbaiki hubungan mereka menjadi lebih baik.
Kini dia tidak peduli lagi dengan orang-orang yang tidak menyukai hubungan mereka termasuk Mama nya sendiri. Sekarang dia punya prinsip sendiri untuk hidupnya, dan hidupnya sekarang adalah Amira.
"Aku berjanji Amira, akan selalu membuat mu bahagi setelah kita bersama. Tidak ada orang lain, hanya kita berdua." Janjinya pada dirinya.
Tidak lama Hp nya yang diatas tempat tidur berdering, Glen yang menyadari nya pun segera mengambil Hp nya dan melihat siapa yang menelpon.
Setelah melihat siapa yang menghubunginya, Keningnya berkerut seperti tidak senang.
"Ngapain dia menghubungiku lagi?." Ketusnya kesal. Glen tidak ingin mengangkatnya dan segera mematikan.
Tapi lagi-lagi telponnya berdering.
"Sial!" Dengan kesal dia menjawab telponnya.
"Katakan!." Ucap Glen datar.
"Kenapa lama mengangkat telpon ku?."
"Langsung ke intinya saja, apa lagi yang kamu mau?."
"Ya ampun Glen, apa kamu tidak merindukan ku sama sekali? setelah sekian lama kamu pergi?."
"Tidak!."
"tapi kenapa, Glen?."
"Bukan urusan mu, kalau tidak ada yang penting aku matikan telponnya." Tegasnya.
"Tunggu dulu, jangan buru-buru. Aku hanya ingin memastikan lagi, apa kamu benar-benar memberikan perusahaan itu padaku?."
"bukan kah itu yang kamu mau?, ambillah itu untuk mu dan jangan hubungi aku lagi."
"Itu perusahaan yang berusaha kamu kembangkan selama ini lo, apa kamu tidak keberatan?."
"Tidak!" Ucapnya singkat.
"Baik lah kalau begitu, aku akan mengambil hak atasnya. Dan aku berharap kamu tidak menyesali hal ini ya. Tapi kalau kamu menyesalinya, kamu bisa datang dan memintanya padaku tapi dengan satu syarat, kembali lah padaku Glen!." Ucapnya menggoda dari balik telepon.
"Gila!." Dengan cepat Glen mematikan Hp nya dan melemparkannya keatas tempat tidurnya.
**
Beberapa hari kemudian, Amira sibuk mempersiapkan jamuan untuk acara yang akan di lakukan keluarga Alvero di Cafe nya. Dia harus memastikan semuanya berjalan dengan lancar dan tidak membiarkan sedikit pun pelayan mereka memberikan kesan buruk untuk seluruh tamu nantinya. Sebagai Owner dia harus terus menaikkan reputasi Cafenya.
"Amira."
Seketika Amira kaget, seseorang memanggil dan memegang bahunya tiba-tiba ketika dia sedang mengecek buku list persiapan apa saja yang telah selesai.
"Glen?."
"Hai." Glen menyapanya dengan melambaikan tangan dan tersenyum.
Entah kenapa hati Amira tiba-tiba terasa diremas ketika melihat senyuman Glen yang terlihat manis. Namun dia berusaha biasa saja tidak ingin membuat Glen berpikir lebih karena ekspresinya.
"Kenapa kamu kesini?." Tanya nya sambil melanjutkan mengecek buku itu.
"Emang tidak bisa?, aku berhak tahu sejauh apa persiapan acara ini sudah selesai."
"Hem, baik lah Tuan Glen Anggara." Ketusnya menatap Glen.
"Hahaha, aku kesini bersama dia, bos abal-abal ku." Ucapnya menunjuk Alvero yang berjalan menuju mereka.
"Eh, hai! Amira." Alvero menyapa setelah sampai didekat mereka. "Senang bertemu dengan mu lagi."
"Hai," Jawabnya tersenyum.
"Oh iya, desainnya bagus. Aku suka sekali." Puji Alvero setelah mengecek semua persiapan.
"Pasti dong, Amira memang selalu terbaik dalam melakukan banyak hal." Jawab Glen memuji kehebatan Amira.