Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: MISTERI MEJA OTOPSI NOMOR TIGA
BAB 15: MISTERI MEJA OTOPSI NOMOR TIGA
Pagi yang tenang di markas VPCI tak bertahan lama. Baru saja cangkir kopi hitam di meja Reno berhenti memancarkan uap panasnya, sirine darurat bernada ganda mendadak memecah keheningan lantai dua gedung agensi.
Pendar lampu indikator merah berkedip ritmis di sepanjang koridor, menandakan panggilan prioritas utama dari Polda Metro Jaya.
Dion 'Zero' Prasetya menerobos masuk ke ruang kerja Reno tanpa mengetuk pintu. Napasnya terengah-engah, jemarinya memegang tablet yang menampilkan peta GPS serta rekaman video beresolusi tinggi dari tim polisi lapangan.
"Ren! Dokter Sara! Kita dapat panggilan dari Direktur Reskrimum!" seru Dion dengan raut wajah tegang.
"Ada penemuan mayat misterius di dalam bangkai kapal kargo tua yang karam di pesisir Kepulauan Seribu!"
dr. Sara yang masih berdiri di samping meja kerja Reno langsung meletakkan cangkir kopinya. Tangannya secara refleks membenahi posisi tas medis forensik yang selalu siap di dekat pintu.
"Bagaimana kondisi korban, Dion? Ada petunjuk identitas?"
"Itu masalah utamanya, Dok," jawab Dion seraya mengusap layar tabletnya dan memperlihatkan foto TKP awal.
"Tidak ada tanda-tanda pembusukan biasa meski kapal itu sudah terbengkalai berbulan-bulan. Korban adalah seorang wanita paruh baya, terbaring kaku di atas meja logam bekas laboratorium kapal. Dan yang bikin merinding... kondisi jasadnya utuh seperti awetan, tapi seluruh sidik jarinya telah dirusak secara kimiawi!"
Reno melangkah mendekati tablet Dion. Matanya memicing tajam saat memandangi rincian foto tersebut. Di atas dada mayat wanita itu, tergeletak sebuah koin perak kuno berukir simbol timbangan hukum yang patah.
"Siapkan helikopter operasional, Dion," perintah Reno dingin, suaranya sarat akan konsentrasi penuh.
"Bara dan Widya ikut dengan kita. Kasus ini bukan pembunuhan biasa."
Tiga puluh menit kemudian, helikopter taktis VPCI membelah langit pesisir utara Jakarta yang tertutup awan mendung tebal. Deru baling-baling beradu dengan deburan ombak besar yang menghantam lambung kapal kargo berkarat MV Samudra Kelana yang terdampar di antara karang terjal.
Reno, dr. Sara, dan Bara melompat turun ke geladak kapal yang licin oleh lumut dan air laut.
Aroma garam bercampur bau besi berkarat menyengat hidung. Dengan berbekal senter taktis berdaya tinggi, mereka menyusuri lorong-lorong gelap di dalam lambung kapal menuju ruang laboratorium darurat yang tersembunyi di lantai dasar.
Suasana di dalam laboratorium kapal itu luar biasa senyap. Udara di dalam ruangan terasa sangat dingin dan kering secara tidak wajar.
Di tengah ruangan, di atas meja besi stainless steel yang berkarat di pinggirannya, jasad wanita misterius itu terbaring kaku. Kulit wajahnya pucat bagaikan porselen, matanya terpejam rapat, dan pakaian gaun hitamnya tampak rapi tanpa ada noda lumpur sedikit pun.
dr. Sara mendekati meja otopsi darurat tersebut, memasang sarung tangan latex-nya dengan gerakan cepat dan terampil. Ia menyalakan lampu pemeriksaan portabel dan mengarahkannya ke wajah korban.
"Suhu tubuhnya sangat rendah, tapi tidak ada tanda-tanda rigor mortis atau kaku mayat yang wajar," analisis dr. Sara seraya memeriksa kelopak mata dan rongga mulut korban.
"Pengawetan ini menggunakan larutan formalin konsentrasi tinggi yang disuntikkan langsung melalui pembuluh darah karotis... teknik yang sangat rapi dan hanya bisa dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman."
"Bagaimana dengan sidik jarinya, Dok?" tanya Bara yang berdiri siaga di dekat pintu dengan senapan angin taktisnya.
dr. Sara mengangkat kedua tangan korban secara perlahan. Sepuluh ujung jari wanita itu tampak melepuh dan menghitam akibat paparan asam sulfat pekat.
"Dihancurkan secara total dari luar. Pelaku sengaja menghilangkan semua jejak biometrik agar kita tidak bisa melacak identitasnya melalui database kependudukan."
Reno melangkah mendekati sisi kanan meja. Pandangannya tertuju pada koin perak kuno yang tergeletak di atas dada korban. Ia melepaskan sarung tangan kulitnya secara perlahan, membiarkan jemari bertelanjangnya menggantung di udara malam yang dingin.
"Reno," panggil dr. Sara pelan, menoleh menatap mitranya. "Ingat kondisi fisismu. Kamu baru saja pulih dari luka di rumah sakit kemarin."
"Aku tidak apa-apa, Sara," sahut Reno mantap.
"Seseorang sengaja menaruh jasad ini di sini untuk memancing kita. Koin perak ini adalah pintu masuknya."
Tanpa membuang waktu lagi, ujung jemari Reno menyentuh permukaan koin perak kuno yang dingin itu.
DEG!
Hantaman kilas balik psychometry meledak seketika di dalam ruang kesadaran Reno! Sensasi dingin yang membekukan meluncur cepat menyusuri saraf tangannya, melempar kesadarannya masuk ke dalam memori masa lalu benda tersebut.
Dunia di sekeliling Reno berubah menjadi ruang operasi yang temaram dua puluh empat jam lalu.
Suara dengung alat pacu jantung yang lemah terdengar berpacu dengan suara hembusan napas terengah-engah dari wanita gaun hitam tersebut. Wanita itu terikat di atas meja operasi.
Di sampingnya, berdiri sesosok pria berjas hitam rapi dengan sarung tangan kain putih. Pria itu memegang alat suntik otomatis berukuran besar.
"Kamu sudah memberikan semua informasi yang kubutuhkan tentang VPCI, Dokter..." ujar pria berjas hitam itu dengan suara berat yang terdistorsi halus.
Wanita di atas meja itu menangis ketakutan, suaranya gemetar parah. "Tolong... aku sudah melakukan semua perintahmu! Jangan bunuh aku!"
Pria berjas hitam itu tidak memedulikan jeritan sang korban. Dengan gerakan dingin, ia menekan pendorong alat suntik tersebut, mengalirkan larutan pengawet langsung ke leher wanita itu.
Tepat sebelum mata wanita itu tertutup selamanya, pria berjas hitam itu meletakkan koin perak kuno di atas dadanya, lalu memutar tubuhnya... menatap lurus ke arah sudut pandang Reno dalam bayangan tersebut!
Pria itu mengukir senyuman miring yang begitu dingin dan berbisik pelan:
"Kutautkan ingatan ini untukmu, Reno Devano. Selamat datang di permainan jaringan 'Mata Timbangan'..."
BRAK!
Reno tersentak hebat, menarik tangannya dari koin perak tersebut. Tubuhnya mundur dua langkah, dadanya naik turun memburu akibat kejutan memori yang baru saja diterimanya. Peluh dingin bercucuran di dahi dan pelipisnya.
dr. Sara dengan sigap menahan bahu Reno dari samping, memegang pergelangan tangan sang detektif untuk memeriksa denyut nadinya.
"Reno! Apa yang kamu lihat?!"
"Pembunuhnya bukan Frans... bukan juga dr. Vivin," bisik Reno dengan suara serak yang memendam keterkejutan luar biasa. "Ini adalah jaringan baru. Nama mereka 'Mata Timbangan'."
"Mata Timbangan?" ulang Bara dengan dahi berkerut tebal. "Nama organisasi macam apa itu?"
"Mereka adalah sindikat kejahatan medis internasional yang menjual identitas baru dan racun tak terdeteksi untuk para buronan kelas atas," jawab Reno seraya mengusap wajahnya yang basah oleh keringat.
"Dan wanita ini... dia adalah salah satu mantan informan mereka yang dibunuh karena membocorkan rahasia jaringan itu."
dr. Sara mengambil koin perak itu menggunakan pinset steril, memasukkannya ke dalam kantong spesimen akrilik. Matanya menatap Reno dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.
"Jika mereka mengira bisa bersembunyi di balik racun dan pengawetan kimia, mereka salah besar," ujar dr. Sara dingin seraya menutup ritsleting kantong jenazah korban.
"Kita bawa jasad ini ke markas VPCI sekarang. Saya akan membongkar seluruh komposisi larutan kimia di tubuhnya di atas meja otopsi kita!"
Dua jam kemudian, di dalam laboratorium utama VPCI.
Lampu otopsi bersinar terang menyoroti jasad wanita misterius yang kini terbaring di atas Meja Otopsi 01. dr. Sara bekerja dengan kepresisian tingkat tinggi, menggunakan spektrometer massa untuk menganalisis sampel jaringan yang diambil dari pembuluh darah korban.
Di ruang kendali, Dion dan Widya sibuk meneliti pola grafis pada koin perak kuno tersebut.
"Gue dapet sesuatu!" seru Dion mendadak dari balik monitornya.
"Simbol timbangan patah di koin perak ini punya ukiran mikro kode nuklir di bagian pinggirannya! Kode ini terhubung ke sebuah rekening penampungan rahasia di Bank Swiss yang baru saja mengalirkan dana sebesar sepuluh juta dolar ke sebuah klinik swasta di Jakarta Pusat!"
"Klinik swasta?" tanya Reno seraya melangkah mendekati meja kerja Dion. "Klinik apa?"
"Klinik Medika Utama Pesisir," jawab Widya membaca data perusahaan.
"Klinik rekayasa estetika dan bedah plastik terlindung yang pemilik utamanya terdaftar atas nama... dr. Fransisca, spesialis rekonstruksi wajah!"
Tepat saat itu, pintu laboratorium terbuka. dr. Sara melangkah keluar dengan melepaskan masker mediknya, membawa selembar kertas analisis laboratorium yang masih hangat dari mesin cetak.
"Analisis toksikologi selesai," kata dr. Sara dengan suara mantap.
"Larutan pengawet yang dipakai pelaku mengandung isotop radioaktif tingkat rendah yang hanya diproduksi oleh satu laboratorium farmasi di kota ini Laboratorium Klinik Medika Utama Pesisir."
Reno, dr. Sara, Bara, Widya, dan Dion saling pandang. Kepingan teka-teki dari kasus baru ini mendadak menyatu dalam hitungan jam.
Pembunuhan wanita misterius di kapal kargo tersebut bukanlah akhir, melainkan sebuah petunjuk berdarah yang sengaja ditinggalkan untuk menyeret VPCI ke dalam pusaran kejahatan medis yang jauh lebih besar.
Reno mengambil mantel hitamnya dari sandaran kursi, menyampirkannya di bahu dengan gerakan tegas. Sensasi pusing bekas psychometry di kepalanya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh fokus yang amat tajam.
"Bara, siapkan kendaraan taktis," perintah Reno penuh keyakinan.
"Sara, bawa peralatan penawar racun medis tingkat tinggi. Malam ini, kita akan mendatangi Klinik Medika Utama dan menutup jaringan 'Mata Timbangan' ini sampai ke akar-akarnya."
dr. Sara menyambar tas mediknya, menatap Reno dengan senyuman percaya yang membaja.
"Saya siap, Detektif."
Di bawah naungan malam ibu kota yang dingin, tim VPCI kembali bergerak maju menembus kegelapan siap membongkar setiap misteri kejahatan di atas meja otopsi demi menegakkan keadilan yang tak tergoyahkan.