Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ancaman Kinan membuat Bima memerintahkan Betrand dan yang lain memberi jalan pada akhirnya.
Bima sendiri melihat mobil yang dikemudikan oleh Bella itu menjauh darinya. Bima melihat mobil itu dengan tatapan datar, selanjutnya masalahnya dengan Kinan akan sangat rumit.
"Tuan..."
"Pesan tiket pulang sekarang juga..." Bima menjeda ucapannya, dia berpikir kalau mungkin saja Agnes sudah tidak bisa tinggal di tempat ini lagi. Bella sudah membawa masalah ini sampai tahap yang sangat serius. Mungkin tinggal menunggu waktu saja sampai pihak imigrasi setempat menahan Agnes dan di deportasi karena semua bukti yang mereka miliki.
"Dua tiket!" lanjut Bima.
Bertrand mengangguk paham.
Bima masuk ke dalam villa, mengejar Kinan sekarang juga tidak akan bisa membuat istrinya itu bicara padanya. Dia sudah mengaku salah, dia memang saat ini merasa bersalah. Tapi, di sisi lain dia juga tidak mungkin meninggalkan Agnes.
"Bima"
Begitu melihat Bima masuk ke dalam villa. Agnes segera menghampiri Bima, dan lagi-lagi dengan jurus andalannya bergelayut manja di lengan Bima. Agnes menunjukkan air matanya yang tiba-tiba saja sudah bisa langsung membanjiri wajahnya.
"Mereka benar-benar akan membuka kasusnya? apa aku akan dipenjara? Bima, aku sungguh tidak sengaja... aku panik waktu itu. Bima, kamu paling mengenalku kan? aku benar-benar tidak sengaja, tolong bantu aku... Bima"
Suaranya dibuat-buat, seperti orang yang sudah tidak punya harapan dan kesempatan hidup lagi. Kalau Bella yang mendengar suara dan tingkah Agnez sekarang, yang ada pasti akan dijambaknya lagi wanita itu. Sayangnya Bima yang memang punya hubungan lama, dan merasa berhutang budi pada Agnes malah mengusap lembut tangan Agnes itu.
"Kamu tidak akan di penjara! aku sudah berjanji padamu kan? pada ayahmu juga, aku akan melindungi mu!"
"Bima, aku tahu kamu yang paling baik!"
"Sekarang rapikan barang mu! kita akan kembali!"
Mata Agnes melebar, kembali? kenapa harus kembali? dia sangat nyaman tinggal di tempat ini. Bisa belanja sepuasnya, bisa jalan-jalan tanpa ada yang mengganggu nya. Tidak ada yang mengenalnya, membuatnya hidup sangat nyaman dengan semua fasilitas dan yang saku dari Bima. Villa ini bahkan jauh lebih besar dari rumah ayahnya.
"Tapi kenapa?"
"Bella Tanisa sudah membawa kasus ini ke ranah hukum. Mungkin mereka sudah mendapatkan semua buktinya. Kamu tidak aman tinggal di sini! mungkin pihak imigrasi akan segera menahan kamu dan di deportasi" jelas Bima.
"Kalau di sana, bukannya mereka akan semakin mudah membuatku di penjara? Bima, apa tidak bisa pindah ke negara lain saja? aku sangat takut!"
Ucapannya seperti benar-benar ketakutan. Padahal, dia hanya tidak ingin hidup nyamannya berakhir.
"Aku tidak bisa bolak-balik ke luar negeri, Agnes. Lagipula dimana pun kamu, karena mereka sudah tahu kamu bebas. Mereka pasti akan mencari kamu. Aku akan coba selesaikan dulu masalah ini. Kamu berkemas dengan cepat. Satu jam lagi penerbangan kita akan berangkat!"
Bima segera keluar dari villa itu lagi, meminta supaya Betrand mengambil barangnya yang ada di hotel.
Sedangkan di tempat berbeda, Kinan dan yang lain juga sudah berada di bandara. Mereka juga akan pulang malam ini. Urusan mereka sudah selesai, semakin celah mereka kembali, maka kasus ini akan semakin cepat di buka. Pesawat mereka juga akan berangkat setengah jam lagi.
Kinan membawakan minuman hangat untuk Bella yang sedang duduk bicara dengan pamannya. Sedangkan Rudi juga datang membawa minuman hangat untuk pengacara Gustaf.
"Terima kasih!" kata Bella.
Kinan tersenyum. Dia lalu duduk di samping Bella.
"Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu. Tanpa kamu, mana bisa kasus ibuku ada harapan di buka kembali"
Bella menepuk tangan Kinan perlahan.
"Ibumu juga ibuku, aku juga tidak akan membiarkan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kepergian ibu Mela, hidup tenang tanpa dihukum sepadan. Lima tahun itu saja sudah sangat ringan, malah bisa-bisanya pria brengsekk itu membuatnya bebas dan hidup nyaman begitu!" Bella jadi emosi lagi.
Kinan mengangguk setuju, pengacara Gustaf yang tadi sudah menghubungi anak buahnya yang berada di dalam negeri. Mendapatkan kabar, jika mereka juga sudah menyiapkan semua berkas yang di perlukan.
"Kinan, Bella. Besok pagi jam 9, kita sudah bisa mengajukan pembukaan kembali kasus kecelakaan nyonya Mela!" kata pengacara Gustaf memberitahu.
Kinan menghela nafas lega. Ibunya akan mendapatkan keadilan pada akhirnya.
**
Setelah 10 jam penerbangan, Kinan dan Bella kembali ke rumah Bella. Sampai di rumah sudah jam 8 pagi. Mereka hanya berganti pakaian dan pergi ke instansi terkait. Setelah menyerahkan semua bukti, pengacara Gustaf pada akhirnya harus bicara dnegan beberapa petugas penting di tempat itu.
"Aku dengar kasusnya baru akan dibuka satu bulan paling cepat?" tanya Kinan cemas.
Kasus di tempat ini kan memang cukup banyak. Jadi butuh waktu bagi para petugas melakukan verifikasi dan semacamnya. Satu bulan sudah termasuk cepat.
Bella menepuk bahu Kinan perlahan.
"Itulah kenapa paman Gustaf bicara dnegan mereka! kasus ini sudah jelas, semua bukti kongkrit. Paman pasti akan mengusahakan yang terbaik!"
Kinan mengangguk.
Dan beberapa waktu kemudian, pengacara Gustaf dan Rudi kembali.
"Paman, bagaimana?"
"Butuh satu minggu Bella, itu sudah paling cepat. Setelah itu baru surat pemanggilan akan di kirimkan pada tergugat!"
Bella mengangguk paham. Kinan juga menghela nafas lega. Sudah sangat bagus, yang tadinya harus satu bulan jadi hanya satu minggu. Satu minggu itu juga tidak akan lama.
Mereka pun akhirnya kembali, pengacara Gustaf juga sudah mengatakan pada Kinan. Kalau surat gugatan perceraian juga sudah di daftarkan. Sore nanti, surat pemberitahuan dari pengadilan akan sampai di kantor Bima.
"Minum dulu Kinan, semua akan berjalan baik pelan-pelan!"
Bella memberikan segelas jus pada Kinan. Kinan menerima gelas itu, dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Dia sedang hamil, dan beberapa hari ini begitu melelahkan.
"Kandunganmu baik-baik saja, atau mau aku antar ke rumah sakit?" tanya Bella.
"Aku baik-baik saja. Anak ini sangat baik, dia seperti mengerti!" Kinan mengusap perutnya yang masih rata sambil tersenyum.
Bella juga tersenyum, dia juga sudah minta penjagaan lebih ketat di sekitar rumahnya ini. Dia tahu, Bima tidak akan menyerah dengan mudah. Itulah kenapa mereka langsung menempuh jalur gugatan, bukan membuat perjanjian perceraian baik-baik. Karena pria itu tidak akan setuju cerai baik-baik dengan Kinan. Enak saja, sudah salah, sudah berkhianat, sudah menipu, masih tidak mau cerai.
***
Bersambung...