Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Keadaan Sang Kusir kereta
Setelah selesai berbicara dengan Kael dan Aeron, Isabella segera berjalan menuju kereta kuda. Setelah pertarungan panjang tadi, Kael dan Aeron bahkan tidak melihat sedikit pun tanda-tanda kelelahan di wajah Isabella. Seolah-olah pertarungan melawan lima belas bandit tadi hanyalah hal kecil baginya. Namun, begitu hendak menaiki kereta, Isabella tiba-tiba berhenti.
Matanya tertuju pada sang kusir, pria itu terlihat sangat pucat. Wajahnya bahkan seperti kehilangan seluruh warna, yang lebih parah tubuhnya gemetar hebat.
Tangannya yang memegang tali kekang bergetar tanpa henti.
Isabella mengernyitkan keningnya bingung, sebenarnya ada apa dengan kusir itu. Kenapa wajahnya se pucat itu, apakah dia sedang sakit, pikir Isabella.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Isabella sambil menatap lekat Sang kusir seolah memastikan bahwa dia benar-benar baik-baik saja.
Sang kusir menatap Isabella dengan mata membulat, dia terkejut Isabella sudah ada di sampingnya. Dia bahkan melihat Isabella seperti sedang melihat hantu, sampai wajahnya berubah semakin pucat pasi. Kael dan Aeron hanya tersenyum melihat itu, mereka tau alasan di balik Sang kusir menjadi pucat seperti itu. Mereka yang binatang magic saja terkejut melihat pertarungan Isabella, apalagi Sang kusir yang hanya manusia biasa. Sedangkan Isabella sama sekali tidak peka, jika Sang kusir pucat bukan karena sakit tapi karena ketakutan melihat dirinya.
"Hey, kau baik-baik saja?" Isabella kembali bertanya, sedangkan kael dan Aeron nyaris saja tertawa melihat itu tapi tatapan Isabella membuat mereka menciut.
Mendengar pertanyaan Isabella, Sang kusir sebenarnya ingin menjawab. Tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, hingga akhirnya dia hanya menggelengkan kepalanya.
Isabella semakin bingung.
"Kau sakit?"
Sang kusir kembali menggeleng, lalu dia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bertanya dengan suara gemetar.
"N-Nona..."
"Hm?"
"Apakah... Anda seorang Sword Master?" Tanya Sang Kusir dengan suara bergetar.
Isabella terdiam, sword master? Menurutnya dia hanyalah wanita biasa.
Kael dan Aeron yang berada tidak jauh dari sana langsung menoleh.
Sword Master? Mereka juga sempat berpikir seperti itu tadi. Isabella mungkin seorang sword master, melihat dari kemampuan Isabella bertarung menggunakan pedang.
Namun, Isabella hanya menggelengkan kepalanya.
"Bukan."
Sang kusir tampak sedikit bingung, karena kemampuan bertarung Isabella tadi seperti seorang yang sudah terbiasa bertarung.
"Aku hanya wanita desa biasa." Jawab Isabella santai, karena dia merasa dia memang hanya seorang wanita desa biasa, ibu dari 3 orang anak dan mantan ratu yang di asingkan akibat fitnah dari selir mantan suaminya, dia bahkan di cap sebagai sampah di seluruh kerajaan.
"..."
Sang kusir langsung terdiam.
Wanita desa biasa?
Dalam hati, dia ingin berteriak.
Wanita desa biasa mana yang bisa mengalahkan lima belas bandit sendirian?!
Dia bahkan melihat sendiri bagaimana Isabella menjatuhkan mereka satu per satu. Tidak menggunakan sihir, tidak meminta bantuan, bahkan tidak terlihat kesulitan, tetapi Isabella justru mengatakan dirinya hanya wanita desa biasa.
Kael yang mendengar jawaban itu sampai memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum.
Aeron juga hanya menghela napas, sepertinya mereka sudah mulai terbiasa dengan jawaban Isabella yang tidak masuk akal.
Isabella kemudian menunjuk ke arah kereta.
"Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan."
Sang kusir mengangguk cepat.
"Baik, Nona."
Dia kemudian turun dari kereta untuk memeriksa keadaan kudanya.
Namun, baru beberapa langkah...
Tatapannya kembali jatuh pada lima belas bandit yang tergeletak di tanah. Wajahnya langsung kembali pucat, tubuhnya semakin gemetar. Dia buru-buru memalingkan wajah, lima belas orang dan semuanya dikalahkan oleh satu wanita.
Sang kusir menelan ludah, dia tidak ingin membayangkan bagaimana jadinya jika wanita itu menjadi musuhnya.
Dengan langkah terburu-buru, dia kembali menaiki kereta.
"Berangkat!"
Kuda mulai berjalan, kereta perlahan meninggalkan hutan itu.
Isabella duduk dengan tenang di dalam kereta, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu, sang kusir terus memegang kendali dengan kedua tangannya.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Namun, dia berusaha tidak menunjukkannya.
Tujuan mereka adalah Desa Sylvester.
Dan perjalanan mereka akhirnya kembali dilanjutkan.
Tetapi sejak hari itu, sang kusir memiliki satu cerita yang tidak akan pernah dia lupakan.
Dia pernah mengantar seorang wanita yang mengaku sebagai...
"wanita desa biasa."
Padahal wanita itu mampu mengalahkan lima belas bandit seorang diri.
Bersambung