Satu foto. Terkirim ke orang yang salah. Dengan sengaja.
Kirana Adiwijaya punya satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia berpacaran dengan Bram Kusuma, dan tak seorang pun di keluarganya boleh tahu. Tapi malam itu, sebuah pesan panas yang ia niatkan untuk sang kekasih justru mendarat di layar ponsel pria yang paling tak boleh ia sentuh—Krisna Kusuma. Kakak Bram. Tunangan kakaknya sendiri.
Krisna tak membalas. Ia hanya menyimpannya. Dan sejak saat itu, garis antara "terlarang" dan "menginginkan" mulai kabur.
Krisna dingin, penuh perhitungan, terbiasa memiliki apa pun yang ia mau. Kirana pandai berpura-pura polos, padahal setiap langkahnya sudah ia rencanakan. Di antara pesta keluarga, ruang kerja bertirai kaca, dan perjalanan mewah yang jauh dari mata orang, keduanya memainkan permainan berbahaya yang tak boleh ketahuan siapa pun—terutama oleh dua orang yang paling mereka khianati.
Tapi rahasia punya harga. Dan ketika kebenaran mulai retak satu per satu—tentang masa lalu Kirana yang ia kubur dalam-dalam, tentang alasan sesungguhnya semua ini bermula—pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan tertangkap.
Melainkan: seberapa jauh keduanya rela jatuh, saat menyadari bahwa yang paling terlarang justru adalah yang paling mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ophelia Blaire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter-015
Bab 15: Satu Detak Terlambat
Selama sebulan, Kirana menepati janjinya pada Krisna. Itu lebih mudah daripada memutuskan apa yang harus dilakukannya soal Bram.
Ia pulang dari Singapura. Ia membiarkan Bram menjemputnya di bandara dengan mawar dan terlalu banyak permintaan maaf. Ia menciumnya lebih dulu agar Bram tak menyadari jeda sesaat sebelum ia melakukannya.
Bram bercerita tentang sinyal yang buruk, seorang teman yang membutuhkannya, dan penerbangan yang tertunda yang tak ia sebutkan karena tahu Kirana akan kecewa.
Kirana membiarkannya selesai, lalu berkata ia mengerti. Ia toh sulit mengeluh soal apa yang telah dilakukan Bram, mengingat apa yang ia lakukan sendiri di Singapura.
Sudah selesai. Itu yang penting. Ketika ia terbangun sambil memikirkan Krisna, ia berbaring diam sampai sanggup meraih pesan selamat pagi dari Bram.
Ia tak mengirim pesan pada Krisna. Krisna juga tak mengiriminya pesan.
Kirana pergi kuliah, menghadiri makan malam keluarga yang tak bisa ia hindari, dan melamar magang berikutnya, kali ini di sebuah jaringan televisi berita nasional.
Ia akhirnya menceritakan soal Bram pada Wanda. Ibunya menanggapinya lebih baik dari dugaannya, meski ia sempat bertanya apakah Bram punya rencana lain selain menyelesaikan kuliah arsitekturnya.
Lalu Wanda Adiwijaya memutuskan Kirana harus menemaninya ke gala Yayasan Anak Aurelia karena "kakakmu tidak bisa dibiarkan mewakili keluarga sendirian, dan ayahmu punya kepribadian seperti pintu yang tertutup."
Kirana memilih gaun biru muda. Tangannya sempat terulur melewati gaun putih itu tanpa mengambilnya dari gantungan.
Gala itu menempati dua lantai teratas sebuah klub pribadi. Wanda berhenti sejenak di bawah deretan lukisan potret untuk memindai ruangan, lalu menuntun Kirana ke arah sekelompok donatur.
Ibunya tak melepaskan sikunya sejak mereka tiba.
"Jangan terlalu banyak tersenyum ke pelayan," bisiknya. "Terkesan tidak serius."
"Mungkin para pelayan lebih menarik daripada para donatur."
"Yang menarik tidak menyumbang sayap rumah sakit."
"Menyedihkan."
Wanda mengeratkan cengkeramannya. Kirana berhenti membantah dan tersenyum sepatutnya pada istri seorang anggota dewan, menerima air soda, dan meyakinkan dirinya bahwa ia bisa bertahan di ruangan mana pun asal ia tahu aturannya.
Lalu Kirana melihat Rosalia dalam gaun perak, rambutnya disanggul rapi menjauhi lehernya. Ia sedang menggandeng lengan Krisna.
Kirana salah melangkah. Ibunya melirik ke arahnya, dan ia berpura-pura membetulkan sepatunya.
Krisna mengenakan tuksedo hitam, menyimak sesuatu yang sedang dikatakan Rosalia. Kirana menatap tangan Krisna yang tergantung di sisinya dan teringat tangan itu di rahangnya.
Cincin Rosalia menangkap cahaya. Kirana memalingkan pandangan. Wanda sudah tersenyum sebelum Kirana ingat caranya.
"Rosalia. Krisna."
Rosalia berpaling, wajahnya langsung menghangat. "Mama. Kirana, kamu datang."
"Kamu membuatnya terdengar mustahil."
"Ini gala amal," kata Rosalia. "Kamu pernah menyebutnya situasi penyanderaan yang diresmikan."
"Waktu itu aku masih lebih muda."
"Itu bulan Maret."
Kirana tertawa, lalu melirik Krisna. Ia ingin Krisna menatapnya dengan benar, meski hanya untuk memperingatkannya agar tak bicara terlalu banyak.
"Rosalia," katanya, lalu, satu detak terlambat, "Pak Krisna."
Ia tak memanggilnya begitu di Singapura. Krisna menatapnya seolah ia sudah lupa.
"Kirana," ucapnya.
Ia mengangguk singkat. Lalu ia kembali menghadap Wanda dan bertanya tentang hibah perluasan rumah sakit dengan nada terukur yang sama seperti saat ia mungkin menanyakan apakah penitipan mantel berjalan efisien.
Inilah yang ia minta. Tak seorang pun yang mengamati mereka akan mencurigai apa pun.
Ia tak menyangka Krisna akan merasa semudah itu. Kirana tersenyum lebih lebar.
Rosalia menyentuh lengan tuksedo Krisna sambil bicara pada Wanda, santai dan akrab. Krisna sedikit menundukkan kepala untuk mendengarnya. Tak seorang pun akan meragukan minat Krisna pada Rosalia. Rupanya ia bisa penuh perhatian kalau mau. Kirana teringat panggilan yang Krisna berikan padanya di Singapura, lalu menunduk menatap gelasnya.
"Kirana?"
Ia mengerjap. Wanda sedang mengawasinya.
"Ya?"
"Ibu bilang, kakakmu beruntung," ujar Wanda. "Melegakan mengetahui dia akan menikah dengan orang yang bisa kita andalkan."
Kirana nyaris tersedak airnya.
Rosalia tertawa pelan. "Mama."
"Ibu serius," kata Wanda. "Siapa yang kamu nikahi itu penting. Kamu akan menghargainya nanti."
Tatapan Krisna beralih ke Kirana. Kali ini, Kirana menjaga air mukanya tetap menyenangkan.
"Akan kucoba mengingatnya waktu aku berbelanja nanti," kata Kirana.
Rosalia tertawa lagi. Wanda tidak.
Ia tersenyum pada Kirana. "Sebenarnya, itu mengingatkan Ibu. Ada seseorang yang ingin Ibu kenalkan padamu malam ini."
Perut Kirana melesak.
"Mama."
"Jangan pasang wajah begitu. Dia lulusan sekolah bisnis di luar negeri, keluarganya duduk di dewan Yayasan Aurelia, dan tidak seperti Bram, dia mengerti soal jadwal."
Alis Rosalia terangkat. Krisna memalingkan pandang. Kirana berharap ia tak sedang mengamati reaksi pria itu.
"Bram itu pacarku," katanya ringan.
"Bram tidak ada di sini," balas Wanda.
Di hadapannya, Krisna menerima segelas sampanye dari seorang pramusaji yang lewat dan tak berkata apa-apa. Kirana mengangkat dagunya.
"Baik," katanya. "Kenalkan aku."
Senyum Wanda merekah penuh kemenangan. Kirana balas tersenyum.
Ia melirik Krisna sekali lagi. Kalau memang Krisna berniat mengabaikannya sepanjang malam, ia sekalian saja mencari kesibukan lain.