Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.
Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.
Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.
Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.
Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.
Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.
Mereka belum tahu…
perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Sarapan Bareng Keluarga Tercinta
Pagi itu, suasana ruang makan keluarga Rendra tampak ramai. Semua anggota keluarga berkumpul mengelilingi meja makan, menikmati hidangan yang telah disiapkan Bi Lilis. Canda dan obrolan ringan terdengar bersahutan, menciptakan suasana hangat yang seolah tak menyisakan sedikit pun ruang bagi seseorang yang tidak berada di tengah-tengah mereka.
Tantya tidak terlihat di sana. Namun, anehnya, ketidakhadiran perempuan itu sama sekali tidak mengusik siapa pun. Mereka tetap menikmati sarapan dengan santai, seakan-akan Tantya memang bukan bagian dari keluarga tersebut. Bahkan Rendra, laki-laki yang berstatus sebagai suaminya, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengetahui keberadaan istrinya.
Rendra sibuk menikmati sarapannya sambil sesekali menanggapi obrolan anggota keluarganya. Tak sekali pun ia melirik ke arah pintu, berharap Tantya muncul dan bergabung bersama mereka. Seolah-olah, ada atau tidaknya perempuan itu di meja makan tidak membawa perbedaan apa pun baginya.
Bi Lilis yang sejak tadi mondar-mandir melayani mereka akhirnya menyadari ada satu orang yang belum terlihat. Perempuan itu menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh ke arah Rendra.
"Lho, kok Mbak Tya nggak ikut sarapan, ya? Apa sebaiknya dipanggil dulu, Mas Rendra?" tanyanya, mencoba mengingatkan.
Rendra mengangkat wajah sekilas, lalu kembali menyendokkan makanan ke mulutnya. Ekspresinya datar, sama sekali tidak memperlihatkan kekhawatiran.
"Kalau lapar, ya pasti gabung ke sini," jawabnya enteng.
Jawaban itu membuat Bi Lilis terdiam sesaat. Ia sebenarnya hanya ingin memastikan Tantya tidak melewatkan sarapan, tetapi jawaban Rendra terdengar begitu acuh, seolah-olah urusan istrinya bukan lagi sesuatu yang perlu dipikirkannya.
"Iya, biarkan aja, Bi. Belagu banget, pakai dipanggil-panggil segala. Nggak usah, Bi," sahut Farah.
Tak ada yang membantah. Tak ada pula yang merasa perlu membela Tantya atau sekadar mengingatkan bahwa perempuan itu tetaplah istri Rendra, yang seharusnya mendapatkan perhatian dari suaminya sendiri.
Bi Lilis hanya bisa menghela napas pelan. Ia memilih melanjutkan pekerjaannya tanpa berkata apa-apa lagi. Sebagai orang yang dianggap miskin dan sering dimintai bekerja di rumah kakaknya tersebut, ia tahu dirinya tidak memiliki banyak ruang untuk ikut campur dalam urusan keluarga itu.
Sementara itu, sarapan kembali berlangsung seperti biasa. Tawa dan obrolan terdengar lagi, seolah percakapan tentang Tantya tadi tak pernah terjadi.
Mereka tidak tahu, atau mungkin memang tidak peduli, bahwa di tempat lain Tantya sedang menata hatinya yang terluka. Perempuan itu telah terlalu sering merasa diabaikan, tetapi pagi ini, sikap keluarga suaminya kembali menegaskan satu hal yang menyakitkan: di rumah itu, keberadaannya bahkan tidak cukup penting untuk sekadar ditanyakan.
Sementara itu, Tantya sudah memasuki kawasan desanya. Mobil yang dikemudikannya melaju dengan santai menyusuri jalanan yang cukup familier baginya. Pepohonan di sepanjang jalan, rumah-rumah penduduk, serta suasana desa yang masih terasa tenang membuat pikirannya sedikit lebih rileks.
Meski demikian, pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang belum menemukan jawaban. Ia belum tahu apa yang harus dilakukannya setelah ini. Bertahan di rumah keluarga Rendra hanya akan membuatnya semakin terluka, sementara pulang ke rumah ibunya setidaknya bisa memberinya sedikit ketenangan.
Sudahlah, untuk sementara aku ingin menenangkan diri dulu. Aku juga butuh waktu untuk memikirkan semuanya, batinnya.
Tak lama kemudian, mobilnya memasuki halaman rumah sang ibu. Dari balik kaca mobil, Tantya melihat ibunya sedang menyiram tanaman di halaman. Perempuan paruh baya itu tampak terkejut ketika menyadari mobil putrinya berhenti di depan rumah.
Kemarin Tantya memang sudah mengatakan akan berkunjung, tetapi ibunya mengira putrinya baru akan datang menjelang siang. Karena itulah, melihat Tantya sudah tiba sepagi ini membuatnya spontan menghentikan aktivitasnya.
"Hai, Tya! Ya ampun, Ibu kira kamu nggak akan sepagi ini datang ke rumah," seru ibunya sambil meletakkan gembor penyiram tanaman di dekat pot.
Tantya keluar dari mobil dengan senyum yang berusaha ia pertahankan. Ia menghampiri ibunya, lalu mencium tangan perempuan yang selalu menjadi tempatnya pulang itu.
"Iya, Bu. Tadinya memang mau siang. Tapi ternyata aku kangen sarapan yang Ibu persiapkan," jawabnya ringan.
Wajah ibunya langsung berbinar. Mendengar putrinya merindukan masakannya saja sudah cukup membuat hatinya senang.
"Oh, kalau itu dengan senang hati! Kebetulan Ibu sama Tara juga belum sarapan."
"Alhamdulillah. Asyik dong!" Tantya berseru dengan wajah ceria.
Untuk sesaat, senyumnya terasa lebih tulus. Ada kehangatan yang berbeda ketika ia berada di rumah ibunya. Di tempat ini, kedatangannya disambut dengan sukacita, bukan dengan tatapan sinis atau sikap seolah-olah keberadaannya tidak berarti.
Namun, ibunya kemudian teringat sesuatu. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar mobil, seolah berharap ada orang lain yang akan menyusul putrinya turun.
"Ngomong-ngomong, mana suamimu? Kok nggak ikut?"
Senyum Tantya sedikit memudar, meskipun ia segera berusaha menyembunyikannya.
"Iya, nggak ikut, Bu. Lagi sibuk dia."
"Oh, nggak apa-apa. Lagian, kemarin kan sudah ketemu juga."
"Iya, Bu," jawab Tantya singkat.
Ibunya mengangguk, tetapi kemudian kembali bertanya dengan nada hati-hati.
"Tapi keluarga suamimu nggak apa-apa kamu ke sini, di saat yang lain sibuk mempersiapkan lamaran Sellina?"
Tantya menatap ibunya. Kali ini, ia tidak berusaha menutupi rasa kesalnya.
"Aku udah nggak peduli, Bu. Mau marah juga nggak apa-apa."
Ibunya terdiam sejenak. Ia cukup mengenal putrinya untuk menyadari bahwa jawaban sesingkat itu menyimpan sesuatu yang tidak sederhana. Tantya bukan tipe orang yang tiba-tiba bersikap tidak peduli tanpa alasan. Apalagi jika menyangkut keluarga suaminya.
Perempuan itu mendekati putrinya, lalu memperhatikan wajahnya dengan saksama. "Kamu lagi ada masalah sama suamimu, ya?"
Tantya mengembuskan napas pelan. Pertanyaan itu tepat mengenai bagian hatinya yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.
"Iya, Bu. Nanti aku cerita, ya."
Ibunya tidak mendesak. Ia hanya mengangguk lembut, kemudian mengusap lengan putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Nak. Nanti kalau kamu sudah siap, cerita sama Ibu. Sekarang masuk dulu, sarapan. Kamu pasti capek di jalan."
Tantya mengangguk. Entah mengapa, mendengar ibunya berkata demikian saja membuat dadanya terasa sedikit lega. Setidaknya, di rumah ini ia tidak harus menjelaskan semuanya sekarang juga untuk bisa mendapatkan perhatian.
Tiba-tiba, ibunya menoleh ke arah pintu rumah, lalu memanggil dengan suara cukup lantang.
"Taraaa! Ini Kakakmu datang. Tolong bantuin bawaannya diturunin dari mobil!"
"Iya, Bu!" terdengar jawaban dari dalam rumah.
Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki berusia belasan tahun muncul dari pintu depan. Begitu melihat Tantya berdiri di samping mobil, wajahnya langsung cerah. Ia bergegas menghampiri sang kakak dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Mbak Tya, mau nginep di sini?"
Tantya menyambut tangan adiknya, lalu tersenyum sambil mengusap singkat kepalanya.
"Insya Allah."
"Asyiiikkk!" Tara berseru girang. Wajahnya tampak begitu bahagia, seolah kedatangan sang kakak merupakan kabar paling menyenangkan pagi itu.
Tantya terkekeh melihat tingkah adiknya. Keceriaan Tara sedikit banyak berhasil mengusir beban yang sejak tadi menggelayuti pikirannya.
"Kalau Sabtu sekolahmu libur, ya, Tar?" tanyanya.
"Iya, Mbak."
"Ya sudah, bantuin koperku diangkat ke dalam, ya, Tar!"
Tara langsung menegakkan tubuh, memasang sikap seperti seorang bawahan yang baru menerima perintah dari atasannya.
"Siap, Bos!"
Tantya tertawa kecil. "Nah, gitu dong. Adik yang bisa diandalkan!"
"Tenang aja, Mbak. Kalau urusan angkat koper, serahkan kepada ahlinya!" sahut Tara dengan gaya sok profesional.
"Iya, iya. Banyak gaya kamu!"
Mereka kembali tertawa, sementara ibu mereka menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya.
Pagi itu, di halaman rumah sederhana tersebut, Tantya kembali menemukan sesuatu yang belakangan terasa begitu jauh dari kehidupannya bersama keluarga Rendra: sambutan hangat, perhatian yang tulus, dan kebahagiaan sederhana karena kehadirannya dinantikan.
Untuk sementara, ia ingin menikmati semuanya.
Urusan rumah tangganya bisa dipikirkan nanti. Pagi ini, ia hanya ingin menjadi seorang anak yang pulang ke rumah ibunya, menikmati sarapan masakan rumahan, dan merasakan kembali bahwa dirinya masih memiliki tempat untuk bersandar.
Begitu masuk ke dalam rumah, Bu Afifah langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Beruntung, semua masakan sudah selesai sejak tadi. Ia hanya perlu menghangatkan sayur sebentar dan menyiapkan piring, sendok, serta gelas untuk mereka bertiga.
Pagi itu, menu sarapan mereka sebenarnya sangat sederhana. Ada nasi putih hangat, oseng kangkung, tempe goreng, ikan asin, sambal terasi yang aromanya menggugah selera, serta lalapan. Sebagai pelengkap, Bu Afifah juga mengeluarkan kerupuk dari dalam stoples.
Tidak ada makanan mewah seperti yang mungkin biasa tersaji di meja makan keluarga Rendra. Namun, bagi Tantya, aroma masakan rumahan itu justru terasa begitu istimewa. Sudah lama rasanya ia tidak menikmati sarapan dengan suasana sesantai ini, tanpa harus memikirkan bagaimana sikap orang-orang di sekelilingnya.
"Sudah, Tya. Duduk saja. Ibu ambilkan nasi," ujar Bu Afifah ketika melihat putrinya hendak membantu.
"Nggak usah, Bu. Aku bisa sendiri. Memangnya aku tamu, harus dilayani segala?" Tantya terkekeh sambil mengambil tempat duduk di dekat Tara.
"Lho, memang kamu tamu istimewa Ibu," sahut Bu Afifah, membuat Tara langsung tertawa.
"Betul, Mbak! Tamu VIP. Makanya harus dilayani!" timpal Tara dengan wajah jahil.
Tantya mencubit pelan lengan adiknya. "Dasar, kamu! Baru juga ketemu sudah mulai menggodaku."
"Kan kangen, Mbak. Kalau Mbak Tya di sini, rumah jadi ramai."
Mendengar ucapan itu, senyum Tantya mengembang. Ada perasaan hangat yang perlahan memenuhi dadanya. Kalimat sederhana dari adiknya itu membuatnya merasa bahwa kepulangannya memang dinantikan.
Tak lama kemudian, mereka mulai menikmati sarapan. Bu Afifah duduk di hadapan kedua putrinya, sesekali menambahkan nasi atau mengambilkan lauk untuk mereka.
Tantya menyendok oseng kangkung, lalu mengambil sepotong tempe goreng. Begitu mencicipinya, ia langsung mengangguk puas.
"Ya ampun, Bu. Tempe goreng Ibu memang nggak ada lawan!"
Bu Afifah tertawa kecil. "Tempe goreng begitu saja, Tya. Memangnya di rumah sana nggak ada tempe?"
"Ada, Bu. Tapi rasanya beda."
"Bedanya di mana?" tanya Tara penasaran.
Tantya melirik adiknya sambil tersenyum tipis. "Kalau di sini, makannya sambil ngobrol sama Ibu dan kamu. Jadi lebih enak."
Tara mengangguk-angguk seolah memahami penjelasan itu. "Oh, berarti kalau aku makan tempe di rumah Mbak Tya, rasanya juga beda, dong?"
"Ya, belum tentu. Tergantung siapa yang masak."
"Yah, berarti aku harus belajar masak dulu, nih!"
"Bagus. Malahan chef terkenal itu kebanyakan laki-laki."
"Iya sih."
Obrolan ringan itu berlanjut selama mereka makan. Tara bercerita tentang sekolahnya, tentang seorang teman yang selalu datang terlambat, juga tentang tugas kelompok yang membuatnya kesal karena ada satu anggota yang tidak mau bekerja.
Tantya mendengarkan sambil sesekali menanggapi. Ia bahkan sempat menggoda adiknya ketika Tara bercerita tentang seorang teman cewek yang sering meminjam catatannya.
"Wah, jangan-jangan dia sengaja pinjam catatan supaya bisa dekat sama kamu," goda Tantya.
"Ih, apaan, sih, Mbak! Dia memang malas mencatat!"
"Alasan klasik," sahut Tantya, membuat Tara mendengus kesal.
"Bu, nih, Mbak Tya malah menggodaku!"
Bu Afifah hanya tersenyum sambil melanjutkan makannya. Ia senang melihat kedua anaknya bercanda seperti itu. Sudah lama rasanya ia tidak melihat Tantya tertawa selepas pagi ini.
Namun, di sela-sela obrolan, perhatian Bu Afifah kembali tertuju pada putri sulungnya. Sejak tadi Tantya memang terlihat ceria, tetapi sesekali senyumnya menghilang ketika pikirannya seperti melayang entah ke mana.
Sebagai seorang ibu, Bu Afifah bisa merasakan ada sesuatu yang sedang mengganggu hati anaknya.
"Tya," panggilnya lembut.
Tantya yang sedang mengambil kerupuk menoleh. "Iya, Bu?"
"Kamu di sini saja dulu, ya. Nggak usah buru-buru pulang."
Tangan Tantya terhenti sejenak. Ia memandang ibunya, sedikit terkejut mendengar kalimat itu.
"Memangnya Ibu keberatan kalau aku lama-lama di sini?"
"Lho, kok malah tanya begitu?" Bu Afifah mengernyit. "Justru Ibu senang kalau kamu di sini. Rumah ini juga rumahmu, Nak. Kamu nggak perlu merasa harus meminta izin untuk tinggal di rumah sendiri."
Tantya terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa terasa menyesakkan. Selama ini, ia berusaha keras menyesuaikan diri dengan keluarga suaminya, berharap bisa diterima dan dianggap sebagai bagian dari mereka. Namun, pagi ini, justru di rumah ibunya sendiri, ia kembali diingatkan bahwa ada tempat di mana dirinya tidak perlu berjuang untuk mendapatkan penerimaan.
"Iya, Bu," jawabnya lirih. "Aku memang pengin di sini dulu."
"Ya sudah. Tinggal saja. Nanti kalau ada yang perlu dibicarakan, kita bicarakan baik-baik."
Tantya mengangguk, lalu kembali menyendok nasi ke piringnya. Ia tidak ingin suasana hangat itu berubah menjadi pembicaraan serius yang membuatnya kembali memikirkan masalah rumah tangganya.
Sarapan mereka pun berlanjut dengan obrolan ringan. Sesekali terdengar tawa Tara, disusul teguran pura-pura dari Tantya, sementara Bu Afifah menikmati kebersamaan kedua anaknya.
Di atas meja makan yang sederhana itu, hanya ada nasi hangat, oseng kangkung, tempe goreng, sambal, lalapan, dan kerupuk. Namun, bagi Tantya, pagi itu terasa jauh lebih nikmat daripada sarapan mewah yang pernah ia santap dalam suasana penuh kepura-puraan.
Sebab ternyata, makanan sederhana bisa terasa begitu istimewa ketika disantap bersama orang-orang yang membuat kita merasa diterima, tanpa harus membuktikan apa pun untuk layak disayangi.