Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
.
Hari-hari berlalu, dan situasi di RA Corp berubah menjadi neraka bagi Raditya. Setelah beredarnya video perselingkuhannya dengan Sofia dan juga video pertengkaran antara dia dan Anindya, Pria itu harus bekerja keras memeras otak siang dan malam hanya untuk menahan agar perusahaan tidak ambruk.
Penyebabnya? Apalagi jika bukan karena Anindya yang telah angkat tangan sepenuhnya dari urusan perusahaan.
*
*
*
Di saat Raditya sedang kelimpungan, Anindya malah terlihat begitu santai duduk manis di rumahnya bersandar pada sofa yang empuk menikmati secangkir teh dan sepiring cemilan. Namun, di balik ketenangannya itu, otaknya bekerja sangat cepat. menyusun strategi, dan membangun benteng pertahanan untuk dirinya sendiri.
"Sayangnya aku belum ingin memutuskan sekarang..." gumam Anindya pelan sambil menatap layar ponsel yang menampilkan berita keuangan perusahaan yang mulai goyah.
"Aku ingin menunggu sampai Sofia melahirkan baru membuat perusahaan itu benar-benar bangkrut. Biar Raditya yang terlalu percaya diri itu, dan selingkuhannya, serta mereka semua yang telah menghianati aku bisa merasakan, punya anak tapi tak punya uang bahkan untuk sekedar makan. Apakah kehadiran anak itu akan tetap membahagiakan untuk mereka?” batinnya tersenyum sinis penuh perhitungan.
*
Malam itu, Raditya pulang dengan wajah lelah dan kacau. Tubuhnya terasa lemas seolah habis mengangkat beban seberat gunung, akibat masalah yang tak kunjung selesai.
Ibu dan Ayah Raditya yang kebetulan ada di sana sejak siang untuk menemani Sofia yang sedang hamil besar dan makin mendekati waktu persalinan, langsung menyadari ada yang tidak beres dengan wajah anak laki-lakinya. Wajah yang biasanya tampak percaya diri dan penuh semangat kini berubah kusut.
"Kamu ada apa sih, Dit? Kok wajahmu kucel gitu? Apa ada masalah di kantor?" tanya Bu Anita sambil berjalan mendekat, tangannya terulur menyentuh lengan Raditya.
Raditya hanya menghela napas panjang, lalu duduk lemas di sofa sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Semuanya kacau, Bu. Benar-benar kacau," jawabnya sambil memijat pelipisnya dengan mata terpejam.
“Memangnya Apa yang terjadi?” tanya pak Bowo yang kemudian mengambil tempat duduk di sofa yang berhadapan dengan Radit. “Bukankah perusahaan itu sudah berjalan dengan lancar selama ini? Apa yang terjadi?" tanyanya lagi.
"Kondisi perusahaan benar-benar rumit, Bu, Yah..." keluh Raditya sambil mengacak rambutnya frustrasi. "Anindya masih marah dan mendiamkan semuanya. Terpaksa aku yang memegang segalanya sendirian. Padahal banyak hal yang biasanya diurus oleh dia. Aku jadi kewalahan!"
Mendengar penuturan anaknya, wajah Bu Anita berubah kesal. "Lihat kan? Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengar kata-kata ibu. Bukankah dulu Ibu tidak merestui hubungan kalian? Kamu saja yang ngeyel.”
Wanita tua itu mungkin lupa jika yang menjadi istri Radit bukan Anin, belum tentu peruntungan Radit akan seperti sekarang.
“Nanti Ibu dan Ayah akan bicara dengannya, Ibu akan mengajari dia apa itu arti tanggung jawab sebagai istri dan pendamping hidup," ucap Ibu mertua dengan nada yakin bisa membuat Anindya menuruti kehendak mereka.
Raditya hanya mengangguk lemah, berharap ucapan ibunya itu benar-benar bisa mengubah keadaan. "Terima kasih, Bu... Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi kalau begini terus. Aku harap dia mau kembali membantu seperti dulu," ucapnya putus asa.
*
Anindya sedang asyik membaca berita di ponselnya ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Anin mengangkat wajahnya dan terlihat wajah Ibu dan Ayah mertuanya yang masam. Tidak peduli, Anin kembali fokus pada ponselnya, bahkan tidak mempersilakan duduk.
"Anin..." Suara ibu mertua terdengar memanggil.
Anin mematikan ponselnya dan kembali mengangkat wajah tanpa suara. Hanya menatap dengan raut datar.
"Ibu tahu kamu pasti marah dengan perbuatan Raditya. Tapi membiarkan perusahaan terbengkalai juga bukan solusi, kan?"
Anin tidak terkejut. Maksud kedatangan mereka sudah diduga olehnya.
"Perusahaan itu hasil keringat kalian berdua? Apa kamu tega membiarkannya hancur hanya karena masalah hati?" Ayah mertua ikut menyela.
"Raditya itu hanya melakukan kesalahan yang biasa dilakukan para laki-laki, Anin. Kalian sudah menikah lama dan tidak punya anak. Wajar saja kan kalau Raditya ingin punya keturunan? Malah seharusnya kamu berterima kasih pada Sofia! Kamu tidak perlu susah-susah melahirkan, tapi kamu bisa mengambil anak Sofia sebagai anakmu,” lanjut bu Anita dengan suaranya yang bijak.
"Lagi pula kan kamu yatim piatu. Tidak punya sanak saudara lain selain keluarga kami. Nanti kalau kamu sudah tua dan sakit-sakitan, siapa lagi yang akan merawatmu kalau bukan anak-anak Sofia? Seharusnya kamu bersyukur!"
Anindya hanya tersenyum tipis. Ia tidak memotong pembicaraan, hanya bersedekap santai sambil menyandarkan punggungnya, mendengarkan omelan dengan wajah datar.
Melihat Anindya hanya diam, Ibu mertua mengira wanita itu sudah luluh atau takut, akhirnya ia berhenti bicara.
"Apa kalian sudah selesai?" tanya Anindya pelan namun terdengar dingin, membuat mertuanya saling pandang.
"Ibu benar-benar hebat ya," ucap Anindya perlahan. "Jadi menurut Ibu, aku harus berbesar hati menerima apa yang dilakukan Radit begitu?"
"Tentu saja! Itu baru namanya istri yang baik dan bijaksana," jawab Ibu mertua tersenyum bangga.
Prok… Prok… Prok… !
Anindya bertepuk tangan kecil.
"Hebat sekali pemikiran Ibu," ejek Anindya. "Kalau begitu, Ibu mertua, seandainya Ayah mertua melakukan hal yang sama persis seperti yang Raditya lakukan sekarang... apa Ibu juga akan berbesar hati dan berterima kasih?"
BRAK!
Ibu mertua langsung berdiri setelah menggebrak meja. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam dan menunjuk tepat ke wajah Anindya.
"Menantu kurang ajar! Apa kamu sedang menyumpahi aku?!" teriaknya emosi.
Anindya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Aku kan hanya bertanya. Kenapa marah?" ucapnya enteng.
"Lagi pula, kalau cuma cari perawat atau pengurus, aku bisa mengadopsi anak dari panti asuhan. Mereka pasti lebih tahu balas budi daripada anak hasil selingkuh."
"Tentu saja tidak sama!" potong Ibu mertua. “Darah daging sendiri jelas lebih baik dari anak adopsi!"
Anindya menatap tajam ke arah wanita tua itu."Memangnya kenapa kalau anak panti? Aku juga anak panti. Tapi aku bisa membantu anakmu membangun kerajaan bisnis sampai sebesar ini!"
"Halah, apa gunanya bisa membangun perusahaan kalau tidak punya anak! Nanti mati harta mau diwariskan ke siapa?" serbu Ibu mertua lagi.
Anindya tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar menakutkan.
"Ibu mertua lupa ya? Kenapa kami tidak punya anak? Itu karena anakmu sendiri yang bilang ingin hidup berdua saja! Tapi apa? Setelah sukses dia malah cari wanita lain. Apa itu pantas?!"
"Dan Ibu jangan lupa pepatah lama... buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jika Raditya sekarang berselingkuh, bisa jadi itu karena dia meniru sifat Ayah mertua!"
BRAK!!
“Ngomong apa kamu?!” Ayah mertua berteriak dengan wajah merah padam.
Anindya menyipitkan matanya melihat wajah mertuanya yang terlihat marah sekaligus gugup.
“Ada yang tidak beres dengan pria tua ini. Sepertinya setelah ini aku harus menyuruh orang untuk mencari informasi,'" batinnya curiga.
Orng lain aja tau spa yg lbih pntr,tp dia msih bs songong tnpa tau kl dia ga bsa apa2 tnpa anin.....
heraaaannn....sbnrnya pas pmbgian otak,dia kbgian ga sihhhh?????🤣🤣🤣