Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Perbandingan
"Raden, ini Ndoro Putri menelfon." Ujar Rama, Asisten pribadi Raden Daksa sembari menyerahkan ponselnya pada Raden Daksa.
"Halo, Ibu." Sapa Raden Daksa,
"Raden Daksa! Dimana Sasa? Kenapa tidak ada di rumah dan tidak diantar ke rumah utama? Harusnya hari ini dia belajar disini." Tanya Marini, Ibu Raden Daksa.
"Sasa sedang bersama Astri, Bu." Jawab Raden Daksa.
"Kenapa bisa bersama Astri?"
"Tadi Sasa ikut denganku dan Astri, kemudian saat aku mengajaknya pulang, ia merengek ingin ikut dengan Astri. Maka dari itu aku izinkan Sasa ikut dengan Astri karena Astri juga merasa tidak direpotkan." Jawab Raden Daksa.
"Kamu ini bagaimana to, Raden Daksa? Kamu tidak memikirkan pendidikan putrimu? Harusnya dia belajar etika dan tata krama hari ini, apa kamu lupa?" Cerocos Marini.
"Kulo mboten kesupen, Ibu (Aku tidak lupa, Ibu). Dilewatkan sehari juga gak apa-apa, kan. Lagi pula, Sasa baru kali ini melewatkan pelajarannya." Ujar Raden Daksa.
"Kamu ini ya, Raden Daksa. Baru beberapa minggu bersama Astri, kamu sudah mulai ketularan sifat Kartawidjaja yang suka membangkang. Bisa-bisa anakmu itu juga nanti diajarkan membangkang." Kata Marini.
"Ibu, jangan bicara seperti itu. Astri tidak pernah menularkan hal-hal yang buruk." Sergah Raden Daksa.
"Halah! Kamu ini tidak percaya dengan ibu. Ibu tau benar bagaimana Ningmas Danastri dan para wanita Kartawidjaja yang sulit diatur itu. Kamu mau, putrimu menjadi sulit diatur juga?" Cicit Marini yang terus menjelekkan Kartawidjaja.
"Ibu, keluarga Kartawidjaja tidak seburuk yang ibu pikirkan. Selama ini, Ibu hanya menilai buruknya saja. Wanita Kartawidjaja bukan sulit diatur, mereka hanya bebas mengemukakan pandangannya saja." Kata Raden Daksa yang berusaha memberi pengertian pada Ibunya.
"Tuh kan, kamu belum menikah saja udah terus-terusan membela Astri. Bagaimana nanti setelah menikah? Ingat, wanita itu harus tunduk pada suaminya." Kata Marini yang memang sejak dulu tak menyukai Astri dan keluarganya.
"Terserah kamu saja, Raden Daksa. Yang penting Ibu sudah mengingatkan kamu. Jangan sampai nantinya putrimu menjadi wanita pembangkang dan keras kepala seperti Ibu sambungnya itu." Imbuh Marini sebelum menyudahi panggilan telfon itu.
Raden Daksa hanya bisa menghela nafas, ia kemudian mengembalikan ponsel milik Rama. Entah mengapa Ibunya bisa sebenci itu dengan Astri dan keluarganya. Padahal, selama ini, sejauh yang ia lihat, Astri dan Keluarganya itu selalu bersikap baik pada Ibunya.
Meski begitu, Raden Daksa tak terlalu memikirkan omelan ibunya. Ia tau bagaimana perangai ibunya yang memang sensitif pada keluarga-keluarga yang berusaha menyaingi Trah Soeradiningrat.
...****************...
"Den Ayu, Ada Raden Mas Daksa, didepan." Ujar salah satu ART Ningmas Danastri yang menghampirinya.
Astri mengangguk. Ia kemudain segera menuju ke ruang tamu rumahnya untuk menghampiri Raden Daksa yang menunggu disana.
"Sudah dari tadi, Mas?" Tanya Astri saat melihat Raden Daksa sedang duduk sendirian di ruang tamu.
"Barusan, Dek Ayu." Jawab Raden Daksa.
"Bapak dan Ibu dimana, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa kemudian.
"Bapak sama Ibu sedang bersama Sasmaya di kebun belakang rumah, Mas." Jawab Astri sambil tersenyum.
"Sasa tidak merepotkan, kan?" Tanya Raden Daksa.
"Mboten, Mas. Sasa manut sanget. Meniko Bapak kalean Ibu remen ameng-ameng kalih Sasa. (Tidak, Mas. Sasa nurut banget. Itu Bapak dan Ibu senang bermain-main dengan Sasa.)" Jawab Astri.
"Alhamdulillah." Ujar Raden Daksa karena senang putrinya bisa diterima dengan baik oleh keluarga calon istrinya.
"Mas mau bertemu dengan Sasa sekarang?" Tanya Astri.
"Tidak, nanti saja, Dek Ayu. Aku ingin mengobrol denganmu dulu." Jawab Raden Daksa.
"Apa ada hal yang penting, Mas?" Tanya Astri yang dijawab gelengan oleh Raden Daksa.
"Lalu?" Astri menangkap seperti ada yang ingin disampaikan oleh Raden Daksa.
"Mas bicarakan saja jika ada yang ingin ditanyakan." Imbuh Astri.
"Aku hanya ingin menanyakan tentang Dwipa." Ujar Raden Daksa pada akhirnya.
"Apakah Dwipa masih mengganggumu?" Tanya Raden Daksa.
"Mmmm, sejujurnya Raden Dwipa masih beberapa kali berusaha menemuiku di Perusahaan. Namun, aku selalu menolak. Raden Dwipa juga masih sering menghubungiku, tetapi sama sekali ndak pernah aku tanggapi, Mas." Jawab Astri dengan jujur. Jawaban Astri itu, tentu membuat Raden Daksa sedikit lega.
Pasalnya, ada perasaan cemburu saat melihat adiknya masih terus berusaha menghubungi dan menemui calon istrinya. Raden Daksa sendiri tak bisa terang-terangan melarang Astri atau Raden Dwipa untuk tak lagi berhubungan.
Pasti masih ada sisa-sisa perasaan diantara keduanya saat ini, dan Raden Daksa tak ingin langsung membersihkan sisa perasaan itu. Ia takut jika nantinya Astri akan terluka jika ia memaksa untuk membuang sisa rasa itu dengan paksa.
"Apa aku perlu memblokir nomor Raden Dwipa, Mas?" Tanya Astri yang membuyarkan lamunan Raden Daksa.
"Terserah kamu saja, Dek Ayu. Aku percaya denganmu." Jawab Raden Daksa sambil tersenyum.
Astri dan Raden Daksa melanjutkan obrolan mereka yang berkaitan dengan rencana pernikahan dan juga membahas tentang pekerjaan. Saat sedang membahas pekerjaan, keduanya seperti partner yang kompak dalam bekerjasama.
Setelah selesai dengan obrolan mereka, Astri dan Raden Daksa kemudian menyusul Sasmaya yang berada di kebun belakang rumah Astri. Tentu saja yang dimaksud bukanlah kebun yang rimbun dengan semak belukar.
Kebun belakang rumah Astri memiliki sebuah pendopo terbuka yang berukuran cukup besar. Di sebelahnya ada taman bunga milik Ibunya yang sangat terawat. Selain itu, disana juga ada kolam ikan Koi dan beberapa pohon buah, salah satunya adalah pohon anggur yang sedang berbuah lebat.
Dari kejauhan, Raden Daksa bisa melihat Sasmaya sedang duduk di tepi Pendopo. Ia sedang duduk bersama Bapak dan Ibu Astri.
Kedua orang tua Astri itu tampak tersenyum-senyum saat memperhatikan Sasmaya berceloteh. Sesekali, tawa mereka juga pecah ketika mendengar ucapan lucu Sasmaya.
"Assalamualaikum, Pak, Bu." Sapa Raden Daksa ketika menghampiri.
"Waalaikumsalam." Jawab kedua orang tua Astri bersamaan.
Raden Daksa pun menyalami kedua orang tua Astri dengan sopan. Tak lupa, ia juga menyalami putrinya yang duduk ditengah-tengah orang tua Astri.
"Ayah kapan datang?" Tanya Sasmaya.
"Belum lama, Nduk." Jawab Raden Daksa.
"Ayah, tadi Sasa makan banyak buah-buahan. Mbah Kung ambilkan banyak buah yang manis-manis. Sasa suka sekali disini. Mbah Kung dan Mbah Ti sayang dengan Sasa. Mbah Ti juga tidak cerewet seperti Eyang Putri." Cerocos Sasmaya yang membuat mereka semua tersenyum canggung karena kalimat terakhir yang disampaikan Sasmaya.
"Maafkan Sasa, Pak, Bu. Sasa memang suka ceplas-ceplos." Ujar Raden Daksa.
"Tidak apa-apa. Namanya juga anak kecil." Jawab Raden Tedjo.
"Nduk, Cah Ayu..." Suara Ratri mengalihkan perhatian mereka. Rati merengkuh bahu kecil Sasmaya dengan sebelah tangannya. Sementara tangan yang lain ia gunakan untuk memegang lembut dagu Sasmaya agar menatap kearahnya.
"Lain kali, Sasa ndak boleh membandingkan orang lain, apa lagi itu keluarga Sasa sendiri ya, Nduk, itu ndak baik. Eyang Putri begitu pasti karena menyayangi Sasa. Eyang Putri ndak mau kalau sampai Sasa kenapa-napa." Ujar Ratri.
"Njih, Mbah Ti. Sasa akan ingat pesan Mbah Ti." Jawab Sasa sambil tersenyum.
🤔🤔
othor kie...🤣😄