Follow IG @Lala_Syalala13
Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban Tabrak Lari
Ashela segera menyalakan kipas angin kecil yang ia beli bekas di pinggir jalan tadi. Ia duduk di lantai, mengusap peluh di dahi putranya.
Rasa lelah yang luar biasa menghantamnya. Selama tiga minggu ini, ia terus berada dalam mode siaga, takut ketahuan, takut Leo tidak selamat, dan takut akan biaya.
Kini, meski Leo sudah selamat, tantangan baru muncul. ibu kota sangat mahal. Sisa uangnya hanya cukup untuk makan sederhana dan biaya transportasi ke rumah sakit untuk kontrol minggu depan. Ia harus sangat berhemat.
"Mama, Leo haus." bisik Leo.
Ashela segera mengambil botol air mineral. Saat ia memberikan minum pada Leo.
Ashela berdiri, menutup pintu kayu kontrakannya yang sedikit reyot dan menguncinya dari dalam. Ia merasa seperti buronan yang sedang bersembunyi. Di tengah hiruk pikuk ibu kota yang tak pernah tidur, di dalam petakan sempit ini, ia berusaha menjaga harta paling berharganya.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah botol obat sirup untuk Leo. Ia membaca aturan pakainya dengan teliti. Ia harus memastikan Leo pulih sempurna. Hanya dengan begitu, mereka bisa segera menghilang dari kota ini dan kembali ke Sukabumi, tempat di mana tidak ada yang mengenali wajah Leo, tempat di mana rahasia ini bisa terkubur selamanya.
Malam mulai turun menyelimuti ibu kota yang tak pernah tidur. Di dalam kontrakan sempit itu, Ashela memeluk Leo erat-erat. Suara bising knalpot motor dan hiruk pikuk warga gang terdengar jelas, namun di telinga Ashela, detak jantung Leo yang kini stabil dan kuat adalah satu-satunya suara yang bermakna.
"Tidurlah, sayang. Mama akan selalu jagain Leo," bisiknya.
Ia tidak tahu bahwa di sebuah rumah mewah di pusat kota, seorang wanita paruh baya sedang tidak bisa tidur karena terus terbayang wajah anaknya yang ia lihat pada diri seorang bocah bernama Leo. Dan ia juga tidak tahu, bahwa Elvano yaitu pria yang paling ia hindari sedang menatap catatan medis Leo di tabletnya, merasa ada kekosongan aneh di hatinya sejak bocah itu meninggalkan rumah sakit.
Badai yang sesungguhnya belum benar-benar reda tapi ia hanya sedang berputar, bersiap untuk kembali menghantam dengan kekuatan yang jauh lebih besar, meruntuhkan dinding-dinding persembunyian yang telah Ashela bangun dengan susah payah.
...****************...
Jakarta siang itu terasa seperti tungku raksasa yang membara. Debu jalanan dan asap kendaraan bercampur menjadi satu, menciptakan udara yang menyesakkan dada. Namun, bagi Ashela, panas matahari bukanlah halangan.
Di dalam tas kainnya, terselip beberapa lembar fotokopi KTP dan ijazah SMA yang sudah mulai lecek. Ia harus bergerak. Sisa uang di dompetnya sudah sangat menipis, sementara biaya hidup di ibu kota jauh lebih kejam daripada yang ia bayangkan.
Setelah memastikan Leo tertidur lelap di bawah pengawasan tetangga sebelah kontrakan yaitu seorang nenek tua baik hati bernama Nek Sumi yang ia bayar dengan sebungkus nasi rames Ashela melangkah menyusuri trotoar. Ia mendatangi warung makan, toko kelontong, hingga jasa pencucian baju, menanyakan apakah mereka butuh tenaga tambahan.
"Maaf, Mbak, kami sudah penuh." adalah kalimat yang paling sering ia dengar.
Langkah kaki Ashela membawanya ke area yang sedikit lebih tertata di pinggiran kawasan hunian elit. Ia berharap di sini ada lowongan untuk asisten rumah tangga harian atau sekadar tukang cuci piring di kafe kecil. Namun, setelah tiga jam berkeliling, hasilnya nihil. Keringat membasahi pelipisnya, dan rambutnya terasa berat oleh debu.
Di sisi lain jalan, sebuah mobil mewah tampak terparkir di depan sebuah minimarket yang cukup besar. Mama Zoya keluar dari sana dengan wajah masygul. Ia baru saja meminta sopirnya berhenti karena ingin membeli sebotol air mineral dingin dan tisu basah tetapi kepalanya masih terasa pening memikirkan pertemuan singkatnya dengan bocah laki-laki di rumah sakit tempo hari.
"Sopir payah, malah parkir di seberang jalan." gerutu Mama Zoya sambil menenteng kantong plastik kecil.
Tanpa menunggu sopirnya menjemput, Mama Zoya melangkah menuju tepi jalan. Pikirannya sedang melayang, membayangkan lesung pipit bocah bernama Leo itu, hingga ia tidak menyadari ada sebuah sepeda motor yang melaju kencang dari arah tikungan, mencoba menyalip angkutan umum yang sedang berhenti mendadak.
Ckiiiiiiit! Bruakk!
"Aakh!" jerit Mama Zoya.
Stang motor itu menyenggol bahunya dengan keras, membuat tubuh ringkih wanita paruh baya itu terpelanting ke atas trotoar semen yang kasar.
Pengendara motor itu, yang ketakutan melihat pakaian mewah korbannya, bukannya berhenti malah memacu gasnya dan menghilang di antara kerumunan kendaraan.
Ashela, yang kebetulan sedang berdiri hanya beberapa meter dari lokasi kejadian, tersentak. Instingnya sebagai seseorang yang terbiasa hidup menolong di kampung langsung bekerja. Tanpa memedulikan rasa lelahnya, ia berlari menghampiri wanita yang tersungkur itu.
"Ibu! Ibu tidak apa-apa?!" suara Ashela terdengar penuh kecemasan.
Mama Zoya merintih kesakitan. Lengannya tergores semen, dan pergelangan kakinya terasa seperti terkilir hebat. Topi lebarnya terlepas, menyingkap wajahnya yang kini tampak pucat dan penuh peluh.
Ashela berlutut di samping wanita itu. Ia belum pernah melihat wajah Mama Zoya secara langsung dalam jarak dekat dan ia hanya mengenali nama Narendra dari papan yayasan di rumah sakit.
Baginya, wanita di depannya ini hanyalah seorang ibu yang malang, seorang korban tabrak lari yang butuh pertolongan segera.
"Sakit sekali..." rintih Mama Zoya, matanya terpejam menahan nyeri.
"Sabar ya, Bu. Tarik napas pelan-pelan," ucap Ashela dengan nada yang sangat lembut, nada yang biasa ia gunakan untuk menenangkan Leo saat sedang sesak napas.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Ashela meletakkan tas kainnya sebagai bantal darurat di bawah kepala Mama Zoya. Ia melihat luka lecet di siku wanita itu yang mulai mengeluarkan darah.
Tanpa ragu, Ashela mengambil sebotol air mineral yang baru saja ia beli untuk dirinya sendiri, lalu menyobek sedikit kain bersih dari dalam tasnya yaitu kain sisa yang seharusnya ia gunakan untuk melamar kerja.
"Maaf ya, Bu, saya bersihkan sedikit lukanya agar tidak infeksi," bisik Ashela.
Tangan Ashela yang kasar namun cekatan mulai membersihkan luka di siku Mama Zoya. Sentuhannya begitu ringan, seolah-olah ia sedang memegang barang pecah belah.
Mama Zoya perlahan membuka matanya. Di tengah pandangannya yang masih agak kabur karena syok, ia melihat wajah seorang wanita muda yang begitu cantik dan memiliki mata yang sangat bening dan meneduhkan.
"Terima kasih, Nak..." suara Mama Zoya melemah.
"Sama-sama, Bu. Ibu jangan banyak gerak dulu, ya. Kaki Ibu sepertinya terkilir. Saya bantu pijat sedikit untuk mengurangi bengkaknya, boleh?" tanya Ashela sopan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kamu bisa masuk ke rumah sakit dan yayasan disana banyak pasien anak langsung dibawa pengawasan kamu dan elvano
udah vano., tutup pintu rapat2 vuat may may., dia berbahaya., mau menjatuhkan istrimu., prilakunya tidak menghargai kamu sebagai orang terdekat mu selama ini..